Senin, 24 Oktober 2016

Tempat Melarikan Diri

Hidup memang terlalu berat untuk dijalani ala kadarnya. Pun, tak semudah nasehat berapi-api Mario Teguh di layar tivi. Setegar-tegarnya karang, bisa habis juga jika terus dihempas gelombang.

Manusia tak pernah tahu seberapa keras Tuhan berusaha menghempaskannya. Padahal, itu hanya untuk melatih kekuatan di atas rata-rata. Nasehat ustadz, Tuhan takkan pernah memberikan cobaan melebihi kekuatan hambaNya. Selepas melalui ujian itu, hidup akan seumpama kupu-kupu yang siap terbang lebih tinggi dibanding sekadar merayap di ranting-ranting pohon.

Saya percaya, kesulitan tak pernah menetap lama dalam kepala. Rasa jenuhlah yang lebih sering menjajah senja kehidupan. Berkolaborasi dengan sedikit penat dan lelah. Semacam bosan, yang punya hak paten atas kebiasaan malas. Kalau sudah bersenyawa dengan sejumlah aktivitas lainnya, duh, mendung dan temaram bakal menggelayut "manja" hampir setiap saat.

Seandainya dunia para peri dan kurcaci ada, mungkin itu bisa jadi pilihan kita untuk sejenak melepas penat. Menepi ke dunia itu, hanya untuk menyepi dari pongahnya kehidupan. Termasuk obat paling ampuh untuk membunuh rasa jenuh yang terlanjur menghantui rutinitas setiap hari.

Akan tetapi, sadarkah kita? Sejatinya, jalan ke dunia “pelarian” itu terbuka lebar. Di dunia nyata, ada banyak cara (atau alat) yang bisa mengantarkan kesana. Beberapa jenis dunia itu, bahkan bisa dicoba untuk mengatasi kejenuhan dari kehidupan nyata.

#Masa Lalu

Ini tempat paling jauh. Sebagaimana kata Imam Al Ghazali, tak ada yang sanggup kembali dan menjangkau masa lalu. Bahkan sedetik yang lalu tak mampu dijangkau dalam hitungan beberapa jam. Jaraknya tak terukur dalam bentangan prakiraan absolut.

Akan tetapi, tak butuh alat super canggih untuk bisa menggapai masa lalu. Asalkan hidung masih kembang-kempis, jantung masih berdebar (ketika dekat dengan wanita cantik), darah masih pekat merah (bukan darah biru ataupun darah muda).

Kita hanya butuh satu alat: ingatan. Untuk menyusur masa lalu, tak ada mesin waktu yang bisa tercipta begitu lugas selain memory dalam labirin kepala. Jika ingin melarikan penat kesana, merenunglah. Ada kenangan yang terselip satu-satu.

#Negeri Antah Berantah

Setiap kali akan memulai atau mengakhiri rutinitas deadline, saya pasti akan mengencangkan earphone di telinga. Mendengarkan musik bisa melegakan sedikit beban atau memompa darah ke ubun-ubun kepala. Darah segar itu bisa pula mampir sejenak di sekeliling alur lengkung bibir saya.

Cara itu; menyumpal telinga dengan musik, jadi mesin paling keren untuk berteleportasi ke negeri antah berantah. Kalau ingatan di kepala adalah mesin waktu ke arah masa lalu, maka kepungan musik di telinga bisa jadi mesin alternatif ke negeri antah berantah.

Tak ada yang bisa menyela. Di tengah keramaian, saya bisa merasa sunyi. Ibarat bepergian ke dunia antah berantah. Bukankah kita memang selalu butuh tempat sunyi untuk melarikan diri? Sembari menikmati dentuman musiknya, saya akan menyimak liriknya dengan seksama. Bisa dengan mencocok-cocokkannya dengan perjalanan hidup.

Saya paling suka melakukannya di atas motor yang melaju. Itu sama sekali tak mengganggu konsentrasi saya di tengah riuh klakson jalan raya. Pun, jika tersenyum-senyum sendiri, bersiul-siul kecil, hanya akan menjadi kilas asal lewat bagi pengendara lain. Dan dunia seolah hanya seluas daun kelor telinga.

(Imam Rahmanto)

#Dimensi Paralel

Buku? Oh ya, itu untuk tempat yang lebih nyata. Beberapa buku menggambarkan lokasi-lokasi real sebagai alur ceritanya. Bagi saya, itu menjadi semacam dimensi paralel; kondisi lain dari tempat yang menjadi muasal penggambarannya. Membaca buku, seolah membawa saya menjauh dari kerumunan hiruk pikuk dunia nyata. Saya "menonton film" tanpa dibatasi durasi dan imajinasi.

Tahu kan, kenapa membaca buku disebut-sebut sebagai cara untuk menggandakan kehidupan? Lewat buku, siapa pun bisa menyelami atau mengalami kisah di dalamnya, mendatangi tempatnya sekaligus. Tempat nyata maupun dunia-dunia fiktif yang tak terbayangkan oleh logika.

Tak jarang, saya bisa menemukan puing-puing semangat dari beberapa bacaan itu. Cara belajar paling baik, tentu saja dari buku, lewat alam dimensi paralelnya. Saya juga tergolong penggila buku. Punya beberapa koleksi kesayangan di kamar yang saya sebut sebagai "Kamar Imaji".

“Books are a uniquely portable magic,” --Stephen King

This is what I called Kamar Imaji. (Imam Rahmanto)

#Dunia Akhirat

Ini agak religius sih. Salah satu instrumen teleportasinya adalah shalat. Saat penat seolah ingin merontokkan segala saraf dan mencabut tulang dari badan, merendahkan kening ke lantai adalah cara terbaik.

"Shalatlah, bukan karena sekadar kewajiban. tetapi itu cara bersyukur kepada Tuhanmu, dengan merendah dan bersujud padanya. Urusan diterima atau tidak, biarkan menjadi rahasia-Nya dan para malaikat yang berjaga," kata khatib di shalat Jumatan, yang saya juga tak tahu siapa namanya.

Sejak kecil, kita sudah disodorkan cara shalat yang baik oleh guru-guru agama. Bacaannya sudah khatam di luar kepala, meski hanya 20-an hafalan surah yang tersisa saat beranjak dewasa. Ternyata, sadar atau tidak, ini jadi salah satu momen terbaik untuk melarikan diri dari dunia nyata. Alamnya juga punya kasta lebih tinggi. Di dalamnya sudah terpapar bonus: pahala.

#Kahyangan

Bertemulah dengan orang-orang tersayang untuk bisa melepas penat. Jodoh bisa membantu. Cari bahu untuk bersandar. Uhukk!!

Bagi kami lelaki, sekali bertemu dengan perempuan kesayangan (atau odo-odo), bisa sesegera mungkin dikirim terbang ke kahyangan. Satu-satunya bidadari yang akan ditemui adalah dia. Lantas, bagaimana caranya? Mintalah ia tersenyum. Senyum paling-teramat manis.

Maka…dunia sekitarmu akan melambat. Jantung berdetak lebih cepat. Teori relativitas Einstein bekerja sangat baik. Wajah beningnya membekas dalam ingatan. Suara sendunya melantun dalam bait-bait lagu bersemangat. Namanya jadi yang utama diselipkan dalam doa selepas shalat. Seolah ingin diabadikan dalam buku yang bertahtakan dua nama. Semua dunia, terpilin jadi satu.

Hanya butuh segaris lengkung bibirnya, agar kita bisa terbang ke dunia (semu). Semua penat rontok sekaligus. Kita akan dibawa ke dunia yang paling jauh dari kenyataan, meski si perempuan sejatinya dekat dalam kehidupan nyata.

#Dunia Maya

Saya tak menyarankan satu hal ini. Orang-orang hanya butuh seperangkat komputer atau smartphone yang terhubung ke jaringan data. Di zaman kekinian, anak-anak justru ikut mencicipinya. Saya jadi miris. Generasi-generasi yang seharusnya menyukai permainan engrang, petak umpet, layangan, atau kelereng di usianya, justru sudah prematur berbicara tentang “pacaran”. Apa-apaan ini?

Bagi saya, tenggelam dalam dunia maya adalah salah satu cara melarikan diri paling buruk. Bisingnya dunia nyata tak pernah seriuh jagat dunia maya. Orang-orang bisa tersesat disana. Informasi terlalu gegap gempita. Disaring bagaimana pun, selalu ada celah. Di dunia maya, waktu terasa begitu cepat berjalan. Namun terasa semu.

Secara berkala, saya lebih suka pulang ke “rumah” ini jika terpaksa mendarat di dunia maya.

#Alam Baka

Kebanyakan nonton film horor nih


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar