Kamis, 06 Oktober 2016

Memaafkan Kenangan

"Pada langit yang kau tatap, ada rindu yang kutitip," - Fiersa Besari

Musik dan buku, termasuk dua hal yang selalu berjodoh dalam kehidupan saya. Seperti halnya hujan dan secangkir cappuccino hangat. Tak lengkap rasanya jika salah satunya absen. Pun membaca buku tanpa iringan musik, bagi saya, seperti film kehilangan soundtrack-nya.

Saya bertemu kedua hal itu lewat karya Fiersa Besari; Garis Waktu. Sebuah buku yang baru-baru ini menarik sebagian besar rasa penasaran saya.

(Imam Rahmanto)

Perhatian saya, yang sebelumnya merunut bacaan lain, tak segan kepada buku bersampul putih itu. Ia baru berumur sekira dua hari berjejer di rak koleksi buku saya. Tak begitu tebal. Tetapi karena saya sudah mengenal Fiersa Besari sebagai salah satu penyanyi lagu pop-indie - dan menyukai beberapa judul lagu-lagunya - hati saya tergerak untuk menamatkan salah satu karyanya itu.

Ide dasarnya, ada pada dua hal itu (lagi). Membaca buku sambil mendengarkan lagu Fiersa sekaligus. Toh, saya punya dua albumnya, sebagai hasil pencarian dari layanan musik streaming. Cobalah Spotify! Dua album; Tempat Aku Pulang dan Konspirasi Alam Semesta jadi soundtrack khusus untuk keseluruhan buku ini. Meskipun tak ada petunjuk khusus bahwa menikmati buku ini harus dengan mendengarkan seluruh lagu milik Fiersa. Saya tetap menyumbat telinga dengan earphone. Nah, seperti apa rasanya?

Benar saja, saya dibuat terhanyut selama dua jam.

Garis Waktu adalah buku yang sederhana. Putih. Tak banyak hal yang mencolok dari buku setebal 216 halaman ini. Lembaran sebanyak itu pun jika dipadatkan tidak akan sebanyak (dan semenakutkan) yang dipikirkan. Terkadang orang-orang jengah membaca buku yang sangat tebal. Tulisan setiap bab dibuat cukup singkat.

Tulisan singkat itu justru menjadi senjata "ampuh" bagi Fiersa untuk menarik pembaca ke dasar perasaannya. Tak butuh kalimat-kalimat panjang untuk penyanyi yang pernah berpetualang ke Makassar ini merangkai cerita yang indah. Tak butuh sampai puluhan paragraf. Cukup segelas patah hati, kenangan, dan ramuan perasaan yang disusun dalam segaris waktu ingatannya.

Yah, isinya memang lebih condong pada curahan hati si tokoh "aku". Kita mungkin bisa menebaknya sebagai Fiersa Besari. Ada perempuan, sebagai "kamu", yang pernah sangat berharga dalam hari-harinya. Perempuan yang sekaligus jadi titik balik bagi kehidupannya. Perempuan yang selalu mengundang ulas senyumnya. Hanya saja, perempuan itu pula yang menorehkan luka baginya.

"Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa." - Fiersa Besari

Ini salah satu cara Fiersa untuk berdamai dengan kenangannya (pada mantan).

Saya juga suka dengan kedalaman bahasa yang disajikan Fiersa dalam buku ini. Sebagai penyanyi, Fiersa nampaknya sudah paham bagaimana merangkai kata-kata yang sangat indah nan bermakna. Saking banyaknya, saya jadi agak bingung mau mengutip potongan kalimat (indah) yang mana. Para pecinta patah hati barangkali bisa menjadikan buku ini sebagai pedoman membangkitkan semangat. Bisa dibilang, "curhatan" ini cukup renyah tanpa merengek.

Bagi penikmat lagu Fiersa Besari, membaca buku ini seperti menikmati lagu-lagunya secara lebih mendalam. Meskipun kisah yang diumbar di dalamnya tak begitu detail, namun beberapa tulisan tetap terikat dengan lagunya.

Saya teringat dengan salah satu buku karya Dewi "Dee" Lestari; Rectoverso. Buku itu juga sebagai penggambaran utuh dari masing-masing lagu Dewi Lestari. Bedanya, Dee menyalinnya sebagai kisah cerpen. Sementara Fiersa, bisa dibilang, hanya memperluas jangkauan lirik lagu ke dalam sebuah surat untuk si "kamu". Bahkan, dua-tiga potongan cerita di dalam Garis Waktu bisa merupakan "jelmaan" satu judul lagu.

Karena ingin menghubungkan lirik lagu itu dengan isi cerita, saya terkadang harus membaca ulang beberapa tulisan. Ada kata-kata khas di setiap tulisan yang menghubungkannya dengan beberapa lagu. Pun, sebenarnya saya hanya familiar dengan beberapa lagu, khususnya di album Tempat Aku Pulang. Sisanya, saya dengarkan saja lagunya sampai tuntas dan membekas. Untuk selanjutnya biarkan kepala yang menarik hubungan dari tulisan mana yang telah terlewat. Ini seperti kuis mencocok-cocokkan lagu dengan tulisan.

Oleh karena itu, ada baiknya jika Fiersa menyematkan semacam petunjuk untuk membaca bukunya ini dengan "soundtrack"nya masing-masing. Itu terasa lebih sempurna dan bernyawa.

"Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong dan bisa digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepasmu" - Fiersa Besari

(Imam Rahmanto)
--Imam Rahmanto--



-----
PS: Dari buku ini, saya juga terpacu untuk melanjutkan proyek "pengumpulan-tulisan" yang jauh hari sempat terkubur. #Yosh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar