Selasa, 18 Oktober 2016

Calo(n) Perjalanan

Langit mulai berubah warna. Pohon bergantian menyapa dari tepian jalan. Kantuk juga sudah mulai mendera mata di tengah perjalanan. Masih belum percaya, saya sudah di atas minibus meninggalkan kota Semarang. Sayang, salah satu kota di Jawa itu hanya sempat menjadi transit bagi perjalanan singkat saya. Dalam kondisi yang terkantuk-kantuk pula.

Beberapa jam sebelumnya, saya telah merencanakan tumpangan bus dari terminal resmi Semarang, Terboyo. Pun, saya sudah sempat mengatakannya pada supir yang hendak mengantarkan saya, bersama rombongan wartawan ke arah Bandara Achmad Yani.

"Mending nunggu bus di pinggir jalan saja, Mas. Di dalam terminal belum tentu dapet. Banyak calo juga, mas," kata sang supir.

Gunung Ungaran di sela jalur perjalanan. (Imam Rahmanto)

Sebenarnya, saya agak ngeri juga. Perkataan sang supir seolah membenarkan beberapa postingan yang sempat saya baca melalui jelajah Google. Beberapa orang mengaku kerap menjadi korban calo, yang sampai menaikkan harga bus dua kali lipat. Meski tak begitu peduli, saya nyaris malah merasa tertantang untuk masuk ke area terminal. Sayang, tak enak merepotkan si bapak supir. Aku yo manut wae.

Seorang teman yang baru dikontak lewat twitter, Fira, pun menyarankan untuk nyari tumpangan mobil lewat jasa PO. Katanya lebih cepat dan tanpa kemungkinan calo. Yah, saya mana tahu lokasi PO di sekitar Semarang.

Niatnya menghindari calo, saya justru tetap saja dikerjai calo. Barangkali, wajah saya terlalu lugu untuk ukuran orang pribumi di tanah Jawa. Padahal, saya sudah ikut berbahasa Jawa meladeni pertanyaan-pertanyaan pembuka lelaki yang sempat nongkrong di warung pinggir jalan itu.

"Aku koh Kudus, Mas. Enek acara bulutangkise Djarum. Ape nang Jogja, numpak bus tah?" patah-patah, dengan dialek yang sudah dilebur (dan dikubur) tanah Bugis.

Minibus yang menjadi tumpangan saya diprakarsai oleh orang-tak-dikenal-yang-sebenarnya-saya-tahu-mau-jadi-calo itu. Toh, transaksi pembayaran biaya sewa mobil tetap pada orang-tak-dikenal-yang-sebenarnya-saya-tahu-mau-jadi-calo itu.

"85 ribu pasti kemahalan ya?? Bus aja kalau kena calo, cuma 70ribu doang," tulis saya lewat pesan WA ke seorang teman asal Semarang, Dian, yang kini bekerja di Jakarta. Sebelum berangkat, saya banyak bertanya tentang Semarang dkk padanya via WA.

"Iyaaaaa. Mahal astagaaa!!" balasnya segera.

"Yowislah. Anggap aku sedekah," balas saya, berusaha menghibur diri.

Padahal dalam hati sudah bersungut-sungut. Jarak perjalanan Semarang - Jogja, ditempuh selama 3-4 jam. Ukurannya, dari Makassar bisa sampai ke Parepare. Biaya perjalanan segitu ditaksir hanya sampai Rp40 atau Rp50 ribu sih. #plakk, ngerasa bodoh sendiri.

Benar kata orang kaya. Ukuran mahal atau murah, tak pernah setara. Relatif. Ia selalu bergantung pada penghasilan setiap orang. Setiap orang punya takaran mahal atau murahnya sendiri. Bagi saya, yang saat itu berbekal uang saku dari pihak sponsor, harga setinggi itu tak ada apa-apanya dibanding gejolak petualangan yang ingin saya lakukan. Anggaplah sebagai tantangan. Kalau ikhlas, bisa bernilai ibadah sekaligus sedekah. Masih berusaha menenangkan diri dalam kondisi mata merem-melek karena lantuk.

Lagipula, hal mengesalkan semacam itu dinikmati saja. Perjalanan mulus-mulus tak selalu jadi bahan cerita yang bagus. Kesalahan adalah tantangan. Bukan malah dianggap sebagai batu sandungan, atau malah halangan. Yowislah.

Kursi dalam minibus cukup lowong. Di barisan kursi saya, hanya ada satu orang yang merapat ke samping jendela. Kami dipisahkan oleh spasi lebar, yang masih muat untuk dua-tiga orang. Di belakang, ada dua penumpang lain. Semuanya laki-laki. Di depan lagi, hanya dua atau tiga orang, yang isinya laki-laki (juga). Pantas, aura-aura ngantuk saya tambah meletup-letup. Ditambah, lelaki di sebelah saya juga tergolong cukup cuek.

Betapa nasib mengantarkan perjalanan saya dengan sekumpulan lelaki. Sementara komunikasi sebagai "second google map" malah lewat perantara para gadis-gadis perkasa. Ehh. Duh, Tuhan. Bisakah di tengah perjalanan Engkau jatuhkan saja bidadari cantik? Hahahaha....

***

Di depan Terminal Jombor, selepas hujan. (Imam Rahmanto)

Aroma petrichor begitu kuat menusuk hidung memasuki gerbang Jogja. Hujan mengulur waktu dari ujung kota. Hanya lampu bangunan saja yang membuat saya tahu arah. Selain itu, "kompas" digital di genggaman masih aktif memutar-mutar GPS-nya. Mata saya tak pernah lepas dari Google Map setiap lima menit. Berusaha mematok-matok lokasi dengan keloknya yang signifikan. Tersesatkah saya? Atau justru telah sampai pada jalan yang benar?

Tanpa sadar, saya telah tiba di tempat tujuan, sesuai dengan yang disampaikan pada supir pada saya, "Waduh. Saya tidak sampai sana, dek. Paling mentok ya di (Terminal) Jombor. Disana saja nanti cari mobilnya."

Saya sempat bertanya, apakah tumpangannya bisa sampai pada kompleks perumahan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Seperti rencana, ada kostan teman kuliah disana. Mereka melanjutkan kuliah magister di salah satu kampus Jogja tersebut. Beruntung pula saya mendapatkan mereka rela bersusah payah ingin menjemput saya. Sedikit terharu.

Pasalnya, di Jogja tak banyak angkutan umum. Satu-dua tumpangan hanya bisa ditemukan di pangkalan ojek. Sisanya, orang-orang bepergian lewat taksi maupun bus Trans Jogja. Orang-orang terpaksa membekali diri dengan kendaraan pribadi. Belakangan, saya baru tahu, ada banyak penyewaan atau rental motor di kota budaya ini.

Hujan masih mengguyur saat saya memutuskan untuk berteduh di bawah minimarket samping flyover. Tiga jam lagi, orang-orang sudah berkemul malam. Di seberang minimarket ini, ada gerbang bertuliskan Terminal Gombor. Disanalah seharusnya saya mencari tumpangan kendaraan umum. Hanya saja, saya disarankan untuk menanti jemputan dari kedua teman itu. Lagipula, hujan deras juga memaksa puluhan orang berteduh di bawah flyover.

"Oke, saya otewe. Tapi masih hujan..."

Sungguh, nuansa hujan di kota lain selalu punya aroma berbeda. Sejuk. Atau bisa saja menusuk.

Sekilas ingatan begitu lucu melemparkan saya pada satu nama, lebih dari dua tahun silam. Bukan karena perempuan spesial itu berdiam di kota ini. Tidak. Justru nama lain yang kerap membuatnya malu-malu atau menampung pilu, teramat spesial baginya, yang berdiam di kota ini. Sebagian (besar) dari masa lalunya...

*to be continued


Jejak perjalanan sebelumnya:
1. Cool Itinerary
2. Runway
4. Berkawan

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar