Kamis, 27 Oktober 2016

Puing Ingatan

Oktober 27, 2016
Pemuda tanggung itu mengayuh sepedanya. Terengah-engah. Rumput liar sepanjang jalan diterabasnya dengan putaran ban ontel seadanya. Sandal jepit jadi tumpuan terkuatnya memutar pedal sepeda. Tujuannya hanya satu: rumah.

Dua kakaknya, sudah jauh mengulur jalan di depan. Mereka mengendarai motor milik kakaknya. Di zaman serba susah begitu, kakak lelakinya sudah punya motor sendiri. Hasil kerja kerasnya dari tak tamat SMA. Pun, dirinya, sengaja putus sekolah agar bisa dapat uang banyak seperti kakak lelakinya itu.

Kabar mengejutkan tiba pagi itu di desa Keting. Tak pernah disangka si pemuda, Suwarji. Bapaknya justru masih segar bugar tertawa di sampingnya tempo hari.

Bahkan bapaknya yang berwatak keras itu sangat berbahagia melihat salah satu putranya telah mengucap ijab-kabul di usia yang sebenarnya masih segar bersekolah. Orang-orang kota acap kali melabeli usianya itu dengan kata Inggris "sweet".

"Nak, bapakmu tiba-tiba sakit tadi malam. Ndak tau kenapa, tapi ini sudah payah. Semalam buang air besar di kamar, dan kayaknya ndak bisa ngapa-ngapain lagi," ujar seorang sanak saudara yang kelabakan dari balik gunung.

Yah, kampung halaman pemuda itu ada di balik gunung sana. Meski berada di kabupaten yang sama, tak bisa ditempuh dengan jalan kaki seadanya. Bisa pegal seluruh badan. Kaki lecet sejadi-jadinya. Di zaman tahun 1988, mana ada pedagang asongan yang akan menawarkan air kemasan Aqua. GoJek juga jangan ditanya. Sekadar ojek biasa pun belum punya pangkalan tetap.

Jadinya, kabar itu baru bisa diantarkan pagi harinya. Belum ada panggilan Telkomsel di pelosok desa. Tak ada sanak saudara yang berani menerobos malam di sepanjang jalan berliku hutan. Jika nekat, alamat bertemu perampok yang mabuk mencari mangsa.

Naik ontel berpuluh-puluh kilometer, Suwarji dibuat lelah bercucur keringat. Detak jantungnya kian menambah bukaan pori-pori untuk peluhnya. Pikirannya terlanjur kalut. Beruntung sang istri, Sulastia, ditinggal saja di rumah. Kalau diajak, anggapnya, bisa memperlambat kayuhannya yang sedang berlomba dengan detak jantungnya.

Kedua kakaknya sudah tak nampak lagi. Kelok jalan telah jauh memisahkan mereka. Ia patah arang. Kelelahan hingga kepayahan oleh jarak puluhan kilometer. Diparkirnya sepeda serampangan di depan rumah penduduk desa yang kebetulan dilaluinya.

"Pak, disini ada yang ngojek?" todongnya langsung pada sosok penduduk paruh baya.

"Wah, ndak ada, dek. Memangnya mau kemana?"

"Saya mau ke desa yang ada di balik gunung sana itu," tunjuknya, sembari mengusap peluh. Ia berharap satu dari sekian cucuran itu bisa membuktikan kesungguhan dan keseriusannya.

"Ohh...kalau begitu, coba tanya Pak Guru yang ada di rumah sana, dek. Dia punya motor, mungkin bisa mbantu ngojek kesana," jelas lelaki tua itu nampak kasihan.

Pemuda cabutan STM itu tak peduli lagi dengan sepeda yang ditumpanginya. Ia tergopoh-gopoh mendatangi Pak Guru yang dimaksud lelaki tua tadi. Sebagaimana skenario Tuhan yang tanpa cela, lelaki pengajar yang kerap disanjung dengan panggilan Pak Guru itu sedang duduk di depan teras rumah. Diberondong penjelasan, Pak Guru bersedia memboncengnya ke desa Maindu, tanah kelahiran pemuda itu.

Manusia memang tak pernah tahu garis nasibnya. Masa depan adalah hal paling rahasia dari kehidupan. Tuhan hanya bilang, berencanalah dan berusahalah. Urusan hasil, Tuhan yang ambil alih. Masa depan itu tak nampak. Tapi bayang-bayangnya selalu ada.

Maka urusan kematian juga jadi rahasia paling sakral dari singgasana Tuhan. Enam hari kemarin, Astrosiman baik-baik saja dan punya banyak tenaga demi membanggakan putra keduanya di atas pelaminan. Tepat di penutup bulan November 1988, lelaki perkasa itu telah mengembuskan napas terakhir.

***

"Tolong ya dijaga sekalian anakku ini. Diawasi. Soalnya aku pasti sudah tak bisa kesini lagi (desa Keting),"

"Begitu pesan terakhir kakekmu sama aku. Pas selesai nikahan dengan mak-mu (mamak). Aku, yo, masih ingat sekali, seolah-olah mbahmu itu sudah tahu ada yang mengganjal," kisah bapak, agak terbata-bata, tak ingin menangis di depan anak sulungnya.

Mendengar cerita bapak, tentu saja dalam bahasa Jawa, saya sengaja dibawa mengenal silsilah keluarga sendiri. Saya tak begitu kenal dengan kerabat dan keluarga dari pihak bapak ataupun ibu. Paling banter, saya hanya mengenal Bukde, Pakde yang masih segaris usianya dengan bapak dan ibu. Atau mereka yang kerap berbincang lewat sambungan telepon bapak. Atau kakek-nenek yang jadi orang tua angkat mamak di Keting. Disana pula kami biasanya bermukim jika punya kesempatan menjemput kenangan.

Ada bagian diri saya yang sangat senang mendengar cerita tentang keluarga itu. Serasa menyelami kenangan bapak. Barangkali, saya merasa dekat dan bisa sedikit memahami watak bapak. Sekeras-kerasnya orang tua, terkadang mereka memang senang mengungkit kembali masa lalunya. Itu bisa jadi pengganti dongeng yang tak pernah lunas dikabarkan di masa kecil.

Bapak dan mamak ketika muda. Lebih muda dari saya malah. Jurnal bapak. (Imam Rahmanto)

Tak menyangka, bapak juga menyimpan beberapa keping ingatannya itu di sebuah notes usang. Bukan buku diary, melainkan semacam buku pengingat saja. Tulisannya tak begitu indah, tetapi masih jelas terbaca. Dari catatan itu saya punya bahan untum melayangkan pertanyaan bagi cerita bapak.

Buku itu disimpan baik-baik berdempetan dengan buku nikah bapak. Kata bapak, ia memang sering mencatat hal-hal penting di masa mudanya dulu. Lengkap dengan tanggal dan harinya. Ia tak jarang menggenapi dengan penanggalan Jawa; Wage, Kliwon, Pahing, dan sebagainya.

Tanpa sengaja, saya menemukan jurnal itu saat sedang beres-beres dokumen kelengkapan surat pindah untuk keluarga. Bapak juga tak melarang saya melihat-lihat isi buku tipis bersampul hijaunya. Termasuk di dalamnya, tercatat tanggal kelahiran saya yang sesungguhnya.

"Akta kelahiranmu itu di-muda-kan beberapa bulan. Karena waktu itu, kita kena denda kalau pengurusan akta lahir terlambat," jelas bapak. Maklum, bapak dan mamak termasuk pendatang baru di tempat saya dilahirkan. Mereka baru terhitung dua tahun semenjak merantau untuk pertama kalinya ke Ujung Pandang (Makassar dahulunya).

Wajar jikalau saya pernah mendengar versi lain tanggal kelahiran itu dari mamak. Namun saat mengecek akta yang asli, tanggalnya justru berbeda. Hingga kini, tanggal lahir di akta resmi itu yang dipakai untuk keperluan administrasi, tak terkecuali semua jenis ijazah. Sementara, saya seharusnya lebih tua empat bulan dari data resmi itu.

Menemukan barang itu, serupa mendapatkan harta terpendam dari tumpukan jerami. Di dalamnya, saya seolah menyelami masa silam bapak dan keluarga. Meski tak mengisahkannya seperti diary, beberapa sematan tanggal jadi bukti otentik kejadian yang sempat dibukukannya. Pernikahan bapak. Kematian kakek. Perantauan pertama bapak. Pekerjaan pertama bapak. Resep bapak di perantauan. Nama kerabat dan keluarga.

Pada era kekuasaan Soeharto itu, bapak tak pernah kenal dunia jurnalis. Catatan hanya sekadar kunci pengingat masa lalunya. Naluri sebagai perantau. Belum ada facebook yang hampir setiap waktu bisa mengingatkan kenangan penggunanya. Buku dan pena masih jadi juaranya untuk mencatat sejarah.

Kebiasaan bapak ternyata mengakar untuk generasi berikutnya. Anak lelakinya sebetulnya ditunjuki jalan menjadi abdi pemerintah. Sudah bergelar Sarjana Pendidikan pula. Sayang, pekerjaannya kini justru mereinkarnasikan kebiasaannya mengabadikan sejarah. Padahal di masa itu, tak pernah terbersit dalam kepalanya bakal melahirkan anak yang meneruskan jurnal-jurnal untuk keabadian (baca: berita).

Apakah ini kebetulan? Entahlah. Saya tak pernah percaya namanya kebetulan. Segala hal yang ada pada diri kita, sejatinya gabungan dan kolaborasi masa lalu orang tua. Baik secara langsung maupun tak langsung.

Hal itu lantas mendorong saya kian bersemangat ingin mencari lebih banyak akar silsilah keluarga. Sejarah-sejarah masa silam itu seolah menjadi perekat saya dengan keluarga. Penyambung rindu. Seperti puing-puing yang berserakan, saya akan secara sukarela menyusunnya satu demi satu. Agar tahu siapa diri saya seutuhnya, untuk menganyam masa depan sehebat-hebatnya.

"Dengan sejarah, kita belajar jatuh cinta." --Kuntowijaya

Dan tersisa seminggu, saya akan lebih dalam menyelami kenangan bapak dan mamak di kampung halaman. Bersama adik saya, mereka akan menetap di kampung halaman yang sebenar-benarnya kampung halaman bagi kami. Tanah bapak dan mamak dilahirkan. Tanah keduanya mencumbu kasih orang tua. Tanah dimana keduanya dikelilingi kerabat dan keluarga besar. Tanah dimana sejarah kami bermula...


--Imam Rahmanto--

Senin, 24 Oktober 2016

Tempat Melarikan Diri

Oktober 24, 2016
Hidup memang terlalu berat untuk dijalani ala kadarnya. Pun, tak semudah nasehat berapi-api Mario Teguh di layar tivi. Setegar-tegarnya karang, bisa habis juga jika terus dihempas gelombang.

Manusia tak pernah tahu seberapa keras Tuhan berusaha menghempaskannya. Padahal, itu hanya untuk melatih kekuatan di atas rata-rata. Nasehat ustadz, Tuhan takkan pernah memberikan cobaan melebihi kekuatan hambaNya. Selepas melalui ujian itu, hidup akan seumpama kupu-kupu yang siap terbang lebih tinggi dibanding sekadar merayap di ranting-ranting pohon.

Saya percaya, kesulitan tak pernah menetap lama dalam kepala. Rasa jenuhlah yang lebih sering menjajah senja kehidupan. Berkolaborasi dengan sedikit penat dan lelah. Semacam bosan, yang punya hak paten atas kebiasaan malas. Kalau sudah bersenyawa dengan sejumlah aktivitas lainnya, duh, mendung dan temaram bakal menggelayut "manja" hampir setiap saat.

Seandainya dunia para peri dan kurcaci ada, mungkin itu bisa jadi pilihan kita untuk sejenak melepas penat. Menepi ke dunia itu, hanya untuk menyepi dari pongahnya kehidupan. Termasuk obat paling ampuh untuk membunuh rasa jenuh yang terlanjur menghantui rutinitas setiap hari.

Akan tetapi, sadarkah kita? Sejatinya, jalan ke dunia “pelarian” itu terbuka lebar. Di dunia nyata, ada banyak cara (atau alat) yang bisa mengantarkan kesana. Beberapa jenis dunia itu, bahkan bisa dicoba untuk mengatasi kejenuhan dari kehidupan nyata.

#Masa Lalu

Ini tempat paling jauh. Sebagaimana kata Imam Al Ghazali, tak ada yang sanggup kembali dan menjangkau masa lalu. Bahkan sedetik yang lalu tak mampu dijangkau dalam hitungan beberapa jam. Jaraknya tak terukur dalam bentangan prakiraan absolut.

Akan tetapi, tak butuh alat super canggih untuk bisa menggapai masa lalu. Asalkan hidung masih kembang-kempis, jantung masih berdebar (ketika dekat dengan wanita cantik), darah masih pekat merah (bukan darah biru ataupun darah muda).

Kita hanya butuh satu alat: ingatan. Untuk menyusur masa lalu, tak ada mesin waktu yang bisa tercipta begitu lugas selain memory dalam labirin kepala. Jika ingin melarikan penat kesana, merenunglah. Ada kenangan yang terselip satu-satu.

#Negeri Antah Berantah

Setiap kali akan memulai atau mengakhiri rutinitas deadline, saya pasti akan mengencangkan earphone di telinga. Mendengarkan musik bisa melegakan sedikit beban atau memompa darah ke ubun-ubun kepala. Darah segar itu bisa pula mampir sejenak di sekeliling alur lengkung bibir saya.

Cara itu; menyumpal telinga dengan musik, jadi mesin paling keren untuk berteleportasi ke negeri antah berantah. Kalau ingatan di kepala adalah mesin waktu ke arah masa lalu, maka kepungan musik di telinga bisa jadi mesin alternatif ke negeri antah berantah.

Tak ada yang bisa menyela. Di tengah keramaian, saya bisa merasa sunyi. Ibarat bepergian ke dunia antah berantah. Bukankah kita memang selalu butuh tempat sunyi untuk melarikan diri? Sembari menikmati dentuman musiknya, saya akan menyimak liriknya dengan seksama. Bisa dengan mencocok-cocokkannya dengan perjalanan hidup.

Saya paling suka melakukannya di atas motor yang melaju. Itu sama sekali tak mengganggu konsentrasi saya di tengah riuh klakson jalan raya. Pun, jika tersenyum-senyum sendiri, bersiul-siul kecil, hanya akan menjadi kilas asal lewat bagi pengendara lain. Dan dunia seolah hanya seluas daun kelor telinga.

(Imam Rahmanto)

#Dimensi Paralel

Buku? Oh ya, itu untuk tempat yang lebih nyata. Beberapa buku menggambarkan lokasi-lokasi real sebagai alur ceritanya. Bagi saya, itu menjadi semacam dimensi paralel; kondisi lain dari tempat yang menjadi muasal penggambarannya. Membaca buku, seolah membawa saya menjauh dari kerumunan hiruk pikuk dunia nyata. Saya "menonton film" tanpa dibatasi durasi dan imajinasi.

Tahu kan, kenapa membaca buku disebut-sebut sebagai cara untuk menggandakan kehidupan? Lewat buku, siapa pun bisa menyelami atau mengalami kisah di dalamnya, mendatangi tempatnya sekaligus. Tempat nyata maupun dunia-dunia fiktif yang tak terbayangkan oleh logika.

Tak jarang, saya bisa menemukan puing-puing semangat dari beberapa bacaan itu. Cara belajar paling baik, tentu saja dari buku, lewat alam dimensi paralelnya. Saya juga tergolong penggila buku. Punya beberapa koleksi kesayangan di kamar yang saya sebut sebagai "Kamar Imaji".

“Books are a uniquely portable magic,” --Stephen King

This is what I called Kamar Imaji. (Imam Rahmanto)

#Dunia Akhirat

Ini agak religius sih. Salah satu instrumen teleportasinya adalah shalat. Saat penat seolah ingin merontokkan segala saraf dan mencabut tulang dari badan, merendahkan kening ke lantai adalah cara terbaik.

"Shalatlah, bukan karena sekadar kewajiban. tetapi itu cara bersyukur kepada Tuhanmu, dengan merendah dan bersujud padanya. Urusan diterima atau tidak, biarkan menjadi rahasia-Nya dan para malaikat yang berjaga," kata khatib di shalat Jumatan, yang saya juga tak tahu siapa namanya.

Sejak kecil, kita sudah disodorkan cara shalat yang baik oleh guru-guru agama. Bacaannya sudah khatam di luar kepala, meski hanya 20-an hafalan surah yang tersisa saat beranjak dewasa. Ternyata, sadar atau tidak, ini jadi salah satu momen terbaik untuk melarikan diri dari dunia nyata. Alamnya juga punya kasta lebih tinggi. Di dalamnya sudah terpapar bonus: pahala.

#Kahyangan

Bertemulah dengan orang-orang tersayang untuk bisa melepas penat. Jodoh bisa membantu. Cari bahu untuk bersandar. Uhukk!!

Bagi kami lelaki, sekali bertemu dengan perempuan kesayangan (atau odo-odo), bisa sesegera mungkin dikirim terbang ke kahyangan. Satu-satunya bidadari yang akan ditemui adalah dia. Lantas, bagaimana caranya? Mintalah ia tersenyum. Senyum paling-teramat manis.

Maka…dunia sekitarmu akan melambat. Jantung berdetak lebih cepat. Teori relativitas Einstein bekerja sangat baik. Wajah beningnya membekas dalam ingatan. Suara sendunya melantun dalam bait-bait lagu bersemangat. Namanya jadi yang utama diselipkan dalam doa selepas shalat. Seolah ingin diabadikan dalam buku yang bertahtakan dua nama. Semua dunia, terpilin jadi satu.

Hanya butuh segaris lengkung bibirnya, agar kita bisa terbang ke dunia (semu). Semua penat rontok sekaligus. Kita akan dibawa ke dunia yang paling jauh dari kenyataan, meski si perempuan sejatinya dekat dalam kehidupan nyata.

#Dunia Maya

Saya tak menyarankan satu hal ini. Orang-orang hanya butuh seperangkat komputer atau smartphone yang terhubung ke jaringan data. Di zaman kekinian, anak-anak justru ikut mencicipinya. Saya jadi miris. Generasi-generasi yang seharusnya menyukai permainan engrang, petak umpet, layangan, atau kelereng di usianya, justru sudah prematur berbicara tentang “pacaran”. Apa-apaan ini?

Bagi saya, tenggelam dalam dunia maya adalah salah satu cara melarikan diri paling buruk. Bisingnya dunia nyata tak pernah seriuh jagat dunia maya. Orang-orang bisa tersesat disana. Informasi terlalu gegap gempita. Disaring bagaimana pun, selalu ada celah. Di dunia maya, waktu terasa begitu cepat berjalan. Namun terasa semu.

Secara berkala, saya lebih suka pulang ke “rumah” ini jika terpaksa mendarat di dunia maya.

#Alam Baka

Kebanyakan nonton film horor nih


--Imam Rahmanto--

Kamis, 20 Oktober 2016

Tempias yang Bias

Oktober 20, 2016

Kilasan itu hanya serupa tempias hujan. Melompat tak beraturan dari segala sisi. Saya paham dengan beberapa hal yang tak boleh dipaksakan. Let it flow, seperti genangan air yang coba menyusup lewat gorong-gorong di kota ini. Namun volumenya tentu berbeda dengan kadar genangan yang selalu tak tahu caranya pulang di kota kami. Meski punya wali kota berlabel arsitek, hujan selalu jadi bencana.

Bukankah, genangan dan kenangan berasal dari satu unsur yang sama; air hujan?

Kedatangan saya di kota ini untuk menikmati sesuatu yang telah lama bergantung di langit-langit kamar. ia tertanam begitu tenang di alam bawah sadar. Setidaknya tercermin dalam beberapa bacaan novel. Betapa Tuhan selalu punya

"Maaf, boleh bagi tethering hotspotnya, Mas?" ujar seorang perempuan di sebelah saya.

Hujan tak lagi gemuruh menerjang jalanan Jogja. Menyisakan tempias beserta genangannya. Rinai selembut kapas tak lagi menghalangi orang-orang dari tujuannya semula. Perlahan, teras minimarket juga sudah mulai sepi dari mereka yang menghindari hujan. Saya pun memilih duduk di sebuah bangku kosong, baru saja ditinggalkan.

Suara itu memaksa saya memalingkan wajah. Barangkali sejak tadi ia memang mengamati saya yang sedang sibuk mematut-matut layar gadget. Yah, komunikasi saya dengan teman di kota ini juga tak boleh putus. Selain mengandalkan Google Map, apliksi pesan instan juga jadi "kompas" kedua. Malam sudah nyaris larut, saya tentu tak boleh kehilangan arah (dan pedoman hidup).

"Ohya, mbak. Silakan," ujar saya, sembari mengubah settingan di smartphone berukuran 5 inchi. "Paswordnya ini," saya menodongkan hape untuk ditiru kombinasi hurufnya.

Aneh juga. Sejujurnya, baru kali ini saya mendapati perempuan-tak-dikenal meminta hal semacam itu pada saya. Biasanya, orang-orang malah terkesan gengsi atau malu-malu. Perempuan yang saya taksir usianya sama dengan saya itu tak sedikit pun menunjukkan rasa gengsinya. Asap rokok juga diembuskannya tanpa malu-malu.

Akan tetapi, saya terbiasa dengan hal semacam itu. Di kota kami, saya pernah terjun langsung ke dunia malam. Dunia yang penuh dengan asap rokok dan perempuan-perempuan berbaju ketat. Rok sepaha. Lekuk tubuh tak takut diraba. Pekerjaan sebagai pewarta juga banyak mengajarkan agar tak membangun sekat kolot diantara berbagai macam kepribadian. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

"Jadi wartawan itu takkan pernah membuatmu kaya. Tetapi, setidaknya kau bisa merasakan bagaimana menjadi kaya. Tak juga membuatmu populer. Paling tidak, mendekatkanmu pada banyak orang-orang populer," sebuah pesan terngiang begitu saja di kepala.

Tanpa segan, hujan mengantarkan kami pada beberapa obrolan hangat. "Mas, mau kemana emang?" hingga berlanjut pada perkenalan-perkenalan singkat.

Perempuan-yang-saya-lupa-namanya itu bekerja di tempat lain di seputar Jogja. Katanya, ia sedang menanti jemputan teman pulang ke rumah kontrakannya.

"Biasanya saya bawa motor sih, Mas. Tapi kebetulan dipinjam adik, jadi naik kendaraan umum, bus, ke tempat kerja," jelas perempuan berambut pendek itu. Seragamnya yang dibalut sweater juga sudah menjelaskan sedikit tentang apa pekerjaannya.

Waktu tunggu saya juga tak begitu membosankan dalam rentang puluhan menit itu. Saya coba membuang rasa was-was dari kepala. Toh, di sekitar tempat saya, masih ramai oleh beberapa orang; tukang parkir, teman tukang parkir, temannya teman tukang parkir, penjaja bakso yang mendorong pulang gerobaknya, penjaga minimarket, mahasiswa yang terjebak mogok selepas hujan, hingga perempuan lain di seberang jalan, yang juga sedang menanti jemputan.

"Kak Imaaam," seorang gadis dengan wajah familiar menyapa dari pinggir jalan. Motornya dibiarkan menderu. Ia menepikannya, disusul seorang teman di belakang.

"Hei....bagaimana kabar?" yang disusul dengan jabat erat dan pelukan hangat dari seorang kawan lama di kampus.

Pertanda saya harus minggat dan memutus koneksi dengan perempuan di depan minimarket itu. Dan, akh, sial, saya lupa menanyakan nama si mbak itu. Kalau beruntung, mungkin Tuhan bisa mengizinkan bersua di lain kesempatan.

*to be continued



--Imam Rahmanto--

Selasa, 18 Oktober 2016

Calo(n) Perjalanan

Oktober 18, 2016
Langit mulai berubah warna. Pohon bergantian menyapa dari tepian jalan. Kantuk juga sudah mulai mendera mata di tengah perjalanan. Masih belum percaya, saya sudah di atas minibus meninggalkan kota Semarang. Sayang, salah satu kota di Jawa itu hanya sempat menjadi transit bagi perjalanan singkat saya. Dalam kondisi yang terkantuk-kantuk pula.

Beberapa jam sebelumnya, saya telah merencanakan tumpangan bus dari terminal resmi Semarang, Terboyo. Pun, saya sudah sempat mengatakannya pada supir yang hendak mengantarkan saya, bersama rombongan wartawan ke arah Bandara Achmad Yani.

"Mending nunggu bus di pinggir jalan saja, Mas. Di dalam terminal belum tentu dapet. Banyak calo juga, mas," kata sang supir.

Gunung Ungaran di sela jalur perjalanan. (Imam Rahmanto)

Sebenarnya, saya agak ngeri juga. Perkataan sang supir seolah membenarkan beberapa postingan yang sempat saya baca melalui jelajah Google. Beberapa orang mengaku kerap menjadi korban calo, yang sampai menaikkan harga bus dua kali lipat. Meski tak begitu peduli, saya nyaris malah merasa tertantang untuk masuk ke area terminal. Sayang, tak enak merepotkan si bapak supir. Aku yo manut wae.

Seorang teman yang baru dikontak lewat twitter, Fira, pun menyarankan untuk nyari tumpangan mobil lewat jasa PO. Katanya lebih cepat dan tanpa kemungkinan calo. Yah, saya mana tahu lokasi PO di sekitar Semarang.

Niatnya menghindari calo, saya justru tetap saja dikerjai calo. Barangkali, wajah saya terlalu lugu untuk ukuran orang pribumi di tanah Jawa. Padahal, saya sudah ikut berbahasa Jawa meladeni pertanyaan-pertanyaan pembuka lelaki yang sempat nongkrong di warung pinggir jalan itu.

"Aku koh Kudus, Mas. Enek acara bulutangkise Djarum. Ape nang Jogja, numpak bus tah?" patah-patah, dengan dialek yang sudah dilebur (dan dikubur) tanah Bugis.

Minibus yang menjadi tumpangan saya diprakarsai oleh orang-tak-dikenal-yang-sebenarnya-saya-tahu-mau-jadi-calo itu. Toh, transaksi pembayaran biaya sewa mobil tetap pada orang-tak-dikenal-yang-sebenarnya-saya-tahu-mau-jadi-calo itu.

"85 ribu pasti kemahalan ya?? Bus aja kalau kena calo, cuma 70ribu doang," tulis saya lewat pesan WA ke seorang teman asal Semarang, Dian, yang kini bekerja di Jakarta. Sebelum berangkat, saya banyak bertanya tentang Semarang dkk padanya via WA.

"Iyaaaaa. Mahal astagaaa!!" balasnya segera.

"Yowislah. Anggap aku sedekah," balas saya, berusaha menghibur diri.

Padahal dalam hati sudah bersungut-sungut. Jarak perjalanan Semarang - Jogja, ditempuh selama 3-4 jam. Ukurannya, dari Makassar bisa sampai ke Parepare. Biaya perjalanan segitu ditaksir hanya sampai Rp40 atau Rp50 ribu sih. #plakk, ngerasa bodoh sendiri.

Benar kata orang kaya. Ukuran mahal atau murah, tak pernah setara. Relatif. Ia selalu bergantung pada penghasilan setiap orang. Setiap orang punya takaran mahal atau murahnya sendiri. Bagi saya, yang saat itu berbekal uang saku dari pihak sponsor, harga setinggi itu tak ada apa-apanya dibanding gejolak petualangan yang ingin saya lakukan. Anggaplah sebagai tantangan. Kalau ikhlas, bisa bernilai ibadah sekaligus sedekah. Masih berusaha menenangkan diri dalam kondisi mata merem-melek karena lantuk.

Lagipula, hal mengesalkan semacam itu dinikmati saja. Perjalanan mulus-mulus tak selalu jadi bahan cerita yang bagus. Kesalahan adalah tantangan. Bukan malah dianggap sebagai batu sandungan, atau malah halangan. Yowislah.

Kursi dalam minibus cukup lowong. Di barisan kursi saya, hanya ada satu orang yang merapat ke samping jendela. Kami dipisahkan oleh spasi lebar, yang masih muat untuk dua-tiga orang. Di belakang, ada dua penumpang lain. Semuanya laki-laki. Di depan lagi, hanya dua atau tiga orang, yang isinya laki-laki (juga). Pantas, aura-aura ngantuk saya tambah meletup-letup. Ditambah, lelaki di sebelah saya juga tergolong cukup cuek.

Betapa nasib mengantarkan perjalanan saya dengan sekumpulan lelaki. Sementara komunikasi sebagai "second google map" malah lewat perantara para gadis-gadis perkasa. Ehh. Duh, Tuhan. Bisakah di tengah perjalanan Engkau jatuhkan saja bidadari cantik? Hahahaha....

***

Di depan Terminal Jombor, selepas hujan. (Imam Rahmanto)

Aroma petrichor begitu kuat menusuk hidung memasuki gerbang Jogja. Hujan mengulur waktu dari ujung kota. Hanya lampu bangunan saja yang membuat saya tahu arah. Selain itu, "kompas" digital di genggaman masih aktif memutar-mutar GPS-nya. Mata saya tak pernah lepas dari Google Map setiap lima menit. Berusaha mematok-matok lokasi dengan keloknya yang signifikan. Tersesatkah saya? Atau justru telah sampai pada jalan yang benar?

Tanpa sadar, saya telah tiba di tempat tujuan, sesuai dengan yang disampaikan pada supir pada saya, "Waduh. Saya tidak sampai sana, dek. Paling mentok ya di (Terminal) Jombor. Disana saja nanti cari mobilnya."

Saya sempat bertanya, apakah tumpangannya bisa sampai pada kompleks perumahan kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Seperti rencana, ada kostan teman kuliah disana. Mereka melanjutkan kuliah magister di salah satu kampus Jogja tersebut. Beruntung pula saya mendapatkan mereka rela bersusah payah ingin menjemput saya. Sedikit terharu.

Pasalnya, di Jogja tak banyak angkutan umum. Satu-dua tumpangan hanya bisa ditemukan di pangkalan ojek. Sisanya, orang-orang bepergian lewat taksi maupun bus Trans Jogja. Orang-orang terpaksa membekali diri dengan kendaraan pribadi. Belakangan, saya baru tahu, ada banyak penyewaan atau rental motor di kota budaya ini.

Hujan masih mengguyur saat saya memutuskan untuk berteduh di bawah minimarket samping flyover. Tiga jam lagi, orang-orang sudah berkemul malam. Di seberang minimarket ini, ada gerbang bertuliskan Terminal Gombor. Disanalah seharusnya saya mencari tumpangan kendaraan umum. Hanya saja, saya disarankan untuk menanti jemputan dari kedua teman itu. Lagipula, hujan deras juga memaksa puluhan orang berteduh di bawah flyover.

"Oke, saya otewe. Tapi masih hujan..."

Sungguh, nuansa hujan di kota lain selalu punya aroma berbeda. Sejuk. Atau bisa saja menusuk.

Sekilas ingatan begitu lucu melemparkan saya pada satu nama, lebih dari dua tahun silam. Bukan karena perempuan spesial itu berdiam di kota ini. Tidak. Justru nama lain yang kerap membuatnya malu-malu atau menampung pilu, teramat spesial baginya, yang berdiam di kota ini. Sebagian (besar) dari masa lalunya...

*to be continued


Jejak perjalanan sebelumnya:
1. Cool Itinerary
2. Runway
4. Berkawan

--Imam Rahmanto--

Senin, 10 Oktober 2016

Berkawan

Oktober 10, 2016
Hal yang paling saya sukai dari pekerjaan sebagai wartawan adalah bisa mengenal banyak orang. Entah itu perkenalan disengaja (sebagai pewarta dan narasumber) ataupun sekadar perkenalan basa-basi.

Tak terhitung banyaknya karakter yang bisa saya jumpai. Keras, tegas, cuek bebek, baik hati, humoris, supel, kalem, hingga yang paling-ada-maunya. Meski demikian, saya juga banyak belajar dari beberapa karakter itu. Cara menempatkan diri juga menjadi hal paling utama dipahami sebagai seorang wartawan. Bahkan, karena terlalu kepo, saya tak jarang autodidak membaca dan menyelami karakter sebagian orang yang saya temui. Kalau yang satu ini cuma ilmu tambahan.

Itu menarik. Hidup saya tak hanya sekadar bertemu satu-dua orang saja. Setiap hari, neuron-neuron di sel saraf otak saya bisa bertambah jumlahnya. Hal-hal baru selalu muncul hampir tiap hari. Bonusnya, dari satu orang punya pengalaman yang berbeda. Jika beruntung, persahabatan bisa terjalin dari sana tanpa sekat yang menimbulkan rasa segan.

Itulah mengapa saya selalu antusias jika diserahi tugas liputan di luar kandang. Betapa girangnya jika sudah memegang tiket penerbangan dengan tujuan di luar kota. Seperti kota Kudus, jadi kota kesekian dari beberapa tempat yang pernah saya sambangi. Belajar dari pengalaman sebelumnya, saya tak ingin menyia-nyiakan waktu liburan liputan itu.

(Imam Rahmanto)

***

Mata saya seolah berkunang-kunang. Rasa muntahan yang asam masih tersisa dalam air liur. Takkan hilang dalam sisa beberapa jam ke depan. Perut yang kosong juga masih terasa nyeri dan tak mau diisi. Makanan yang dibagikan panitia sore ini, hanya dua jumput yang mampu ditelan. Baru kali ini saya agak sempoyongan gara-gara perjalanan jauh. Ketahanan diuji.

Ajakan "welcome dinner" dari panitia menimbulkan kegaduhan di grup WA yang didominasi para jurnalis media undangan. Katanya, ada acara makan enak, penyerahan bonus (lagi) secara simbolis kepada Owi-Butet, dan hiburan lainnya. Hiburan itu bisa diartikan foto bareng dengan bintang olahraga Indonesia.

Tak ada minat. Saya masih disibukkan untuk mengembalikan setengah kesadaran yang sempat menguap. Tidur sedikit, pikira saya, barangkali bisa memompa imun yang tersisa. Lagipula, kami, para wartawan, sudah mendapat kamar masing-masing untuk ongkang-ongkang kaki atau sekadar melunasi deadline dari kantor.

Tagihan kantor untuk media saya juga sudah lunas sejak beberapa jam lalu. Jadi, saya menganggap "welcome dinner" itu hanya untuk perkenalan semata. Mau cari bahan berita disana, deadline untuk naskah koran cetak sudah berakhir. Saya juga hanya diwajibkan satu naskah (penting dan utama). Oleh karena itu, saya hanya menghabiskan waktu (beristirahat) di dalam kamar dengan menyetel sembarang siaran televisi.

"Dimana, bang Imam?" sebuah pesan masuk di WhatsApp.

Saya baru ingat, sedang menunggu teman sekamar, Pandu, dari media kerabat di Kalimantan Timur (Kaltim). Ia bernasib sial, ketinggalan pesawat. Mau tak mau, ia harus mengatur ulang jadwalnya ke Kudus dan meminta bantuan untuk backup beberapa bahan berita untuk keperluan medianya.

"Saya masih di GOR ini mengetik berita. Tak tahu kapan pulang, disuguhi penampilan D'Masiv," tulisnya lagi, usai saya membalas pesannya.

Selain teman sekamar, saya cukup dibantu pula oleh perlengkapan fotografi Pandu. Di beberapa momen, kamera DSLR saya tak mampu menangkap gambar bagus untuk dikirimkan ke kantor. Terpaksa, kami berbagi tugas dan sesekali bertaruh pada pebulu tangkis yang mewakili daerah kami masing-masing. "Pasti wakilku yang banyak menang," ujarnya.

Selain Pandu, saya sempat mengenal beberapa wartawan lainnya. Yah, sebagian besar tentu berlogat tanah Jawa. Meski ada yang berbahasa daerah (Jawa), saya tetap paham. Lha wong saya ini asli keturunan Jawa. Mereka tak sadar saja, karena saya lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia berlogat tanah Sulawesi. Oh, ya, teman sekamar saya itu malah lancar berbahasa Jawa juga.

"Di tempat tinggal saya kebetulan daerah transmigran Jawa. Jadi kebanyakan obrolan memang berbau Jawa dan kental bahasanya," terangnya saat kami sedang rehat di kamar.

Tak heran jika sedang kesal, ia lebih sering mengumpat dalam istilah Jawa. Kami memulai keakraban dengan mengisi perut yang kosong di pinggir jalanan malam. "Makanan di GOR tadi habis, jadi saya tidak sempat makan," ucapnya. Saya juga kebetulan sudah mulai baikan untuk sekadar mengisi perut yang agak masam.

Hingga hari terakhir, saya mengumpulkan bahan untuk keperluan liputan di sekitar GOR Kudus itu. Selain tentang pertandingan yang tengah berlangsung, saya juga mencari bahan lain yang bisa "dibelokkan" untuk topik-topik tertentu. Termasuk mencari atlet binaan PB Djarum, yang merupakan asli putra daerah Sulsel. Saya mendapati tiga orang. Hanya saja, cuma dua yang sempat saya jumpai dan membangun obrolan terkait kiprah mereka.

Belakangan, saya merasa sangat terharu saat salah satu anak menelepon malam-malam hanya untuk mengucap, "Terima kasih, Kak," dengan senyum lebar dan mau-malu mengambang di ujung telepon. Hanya gara-gara keluarganya melihat profil atlet tersebut di media saya bekerja.

Meski anak-anak ini kandas berjuang, harus selalu ada senyum yang mengembang. (Imam Rahmanto)

Tak ada yang salah dengan mengenal orang lain. Perjalanan-perjalanan saya justru mengantarkan pada banyak perkenalan itu. Tak peduli jika terus berlanjut, atau hanya berhenti sebatas kebutuhan pewarta-narasumber. Toh, pasti selalu ada gunanya mengenal oranglain. Pun, hingga hari ini, sesekali saya masih menyambung silaturahmi dengan kawan sekamar itu. Apalagi saat kontingen Sulsel berhadapan dengan Kaltim dalam laga sepak bola Pekan Olahraga Nasional (PON), September kemarin.

"Jadi, hari ini kamu gak langsung ke bandara ya?" tanyanya.

"Iya. Mau numpang mobil panitia, turun di Semarang, nyari bus atau kendaraan buat ke Jogja,"jawab saya bersemangat. Sayangnya, saya lupa untuk mengabadikan foto dengan teman kocak satu itu.

Karena saya menyukai perjalanan itu beserta tantangan yang terpampang di hadapannya.

Senyum saya mengembang. Rencana mulai terkait satu sama lain. Akar perjalanan ke Jogja ternyata telah dimulai tanpa aba-aba...


*to be continued

Jejak perjalanan sebelumnya:
1. Cool Itinerary
2. Runway


***

Hal yang paling saya sukai dari pekerjaan sebagai pewarta adalah bisa mengenal banyak orang. Entah itu perkenalan disengaja (sebagai pewarta dan narasumber) ataupun sekadar perkenalan basa-basi. 

Mengapa? 

Karena kita tak pernah tahu, yang basa-basi bisa berujung pada jatuh hati... 



--Imam Rahmanto--

Kamis, 06 Oktober 2016

Memaafkan Kenangan

Oktober 06, 2016
"Pada langit yang kau tatap, ada rindu yang kutitip," - Fiersa Besari

Musik dan buku, termasuk dua hal yang selalu berjodoh dalam kehidupan saya. Seperti halnya hujan dan secangkir cappuccino hangat. Tak lengkap rasanya jika salah satunya absen. Pun membaca buku tanpa iringan musik, bagi saya, seperti film kehilangan soundtrack-nya.

Saya bertemu kedua hal itu lewat karya Fiersa Besari; Garis Waktu. Sebuah buku yang baru-baru ini menarik sebagian besar rasa penasaran saya.

(Imam Rahmanto)

Perhatian saya, yang sebelumnya merunut bacaan lain, tak segan kepada buku bersampul putih itu. Ia baru berumur sekira dua hari berjejer di rak koleksi buku saya. Tak begitu tebal. Tetapi karena saya sudah mengenal Fiersa Besari sebagai salah satu penyanyi lagu pop-indie - dan menyukai beberapa judul lagu-lagunya - hati saya tergerak untuk menamatkan salah satu karyanya itu.

Ide dasarnya, ada pada dua hal itu (lagi). Membaca buku sambil mendengarkan lagu Fiersa sekaligus. Toh, saya punya dua albumnya, sebagai hasil pencarian dari layanan musik streaming. Cobalah Spotify! Dua album; Tempat Aku Pulang dan Konspirasi Alam Semesta jadi soundtrack khusus untuk keseluruhan buku ini. Meskipun tak ada petunjuk khusus bahwa menikmati buku ini harus dengan mendengarkan seluruh lagu milik Fiersa. Saya tetap menyumbat telinga dengan earphone. Nah, seperti apa rasanya?

Benar saja, saya dibuat terhanyut selama dua jam.

Garis Waktu adalah buku yang sederhana. Putih. Tak banyak hal yang mencolok dari buku setebal 216 halaman ini. Lembaran sebanyak itu pun jika dipadatkan tidak akan sebanyak (dan semenakutkan) yang dipikirkan. Terkadang orang-orang jengah membaca buku yang sangat tebal. Tulisan setiap bab dibuat cukup singkat.

Tulisan singkat itu justru menjadi senjata "ampuh" bagi Fiersa untuk menarik pembaca ke dasar perasaannya. Tak butuh kalimat-kalimat panjang untuk penyanyi yang pernah berpetualang ke Makassar ini merangkai cerita yang indah. Tak butuh sampai puluhan paragraf. Cukup segelas patah hati, kenangan, dan ramuan perasaan yang disusun dalam segaris waktu ingatannya.

Yah, isinya memang lebih condong pada curahan hati si tokoh "aku". Kita mungkin bisa menebaknya sebagai Fiersa Besari. Ada perempuan, sebagai "kamu", yang pernah sangat berharga dalam hari-harinya. Perempuan yang sekaligus jadi titik balik bagi kehidupannya. Perempuan yang selalu mengundang ulas senyumnya. Hanya saja, perempuan itu pula yang menorehkan luka baginya.

"Pada sebuah garis waktu yang merangkak maju, akan ada saatnya kau bertemu dengan satu orang yang mengubah hidupmu untuk selamanya. Kemudian, satu orang tersebut akan menjadi bagian terbesar dalam agendamu. Dan hatimu takkan memberikan pilihan apapun kecuali jatuh cinta, biarpun logika terus berkata bahwa risiko jatuh cinta adalah terjerembab di dasar nestapa." - Fiersa Besari

Ini salah satu cara Fiersa untuk berdamai dengan kenangannya (pada mantan).

Saya juga suka dengan kedalaman bahasa yang disajikan Fiersa dalam buku ini. Sebagai penyanyi, Fiersa nampaknya sudah paham bagaimana merangkai kata-kata yang sangat indah nan bermakna. Saking banyaknya, saya jadi agak bingung mau mengutip potongan kalimat (indah) yang mana. Para pecinta patah hati barangkali bisa menjadikan buku ini sebagai pedoman membangkitkan semangat. Bisa dibilang, "curhatan" ini cukup renyah tanpa merengek.

Bagi penikmat lagu Fiersa Besari, membaca buku ini seperti menikmati lagu-lagunya secara lebih mendalam. Meskipun kisah yang diumbar di dalamnya tak begitu detail, namun beberapa tulisan tetap terikat dengan lagunya.

Saya teringat dengan salah satu buku karya Dewi "Dee" Lestari; Rectoverso. Buku itu juga sebagai penggambaran utuh dari masing-masing lagu Dewi Lestari. Bedanya, Dee menyalinnya sebagai kisah cerpen. Sementara Fiersa, bisa dibilang, hanya memperluas jangkauan lirik lagu ke dalam sebuah surat untuk si "kamu". Bahkan, dua-tiga potongan cerita di dalam Garis Waktu bisa merupakan "jelmaan" satu judul lagu.

Karena ingin menghubungkan lirik lagu itu dengan isi cerita, saya terkadang harus membaca ulang beberapa tulisan. Ada kata-kata khas di setiap tulisan yang menghubungkannya dengan beberapa lagu. Pun, sebenarnya saya hanya familiar dengan beberapa lagu, khususnya di album Tempat Aku Pulang. Sisanya, saya dengarkan saja lagunya sampai tuntas dan membekas. Untuk selanjutnya biarkan kepala yang menarik hubungan dari tulisan mana yang telah terlewat. Ini seperti kuis mencocok-cocokkan lagu dengan tulisan.

Oleh karena itu, ada baiknya jika Fiersa menyematkan semacam petunjuk untuk membaca bukunya ini dengan "soundtrack"nya masing-masing. Itu terasa lebih sempurna dan bernyawa.

"Ketahuilah, beberapa tangan melepaskan genggamannya saat hidupmu bertambah sulit agar tanganmu kosong dan bisa digenggam oleh seseorang yang takkan pernah melepasmu" - Fiersa Besari

(Imam Rahmanto)
--Imam Rahmanto--



-----
PS: Dari buku ini, saya juga terpacu untuk melanjutkan proyek "pengumpulan-tulisan" yang jauh hari sempat terkubur. #Yosh!