Rabu, 21 September 2016

Adonan Kue-hidupan


Deadline, deadline, deadline...

Bekerja di dunia jurnalistik, kita bakal akrab dengan istilah semacam itu. Bayang-bayangnya ada dimana-mana. Matahari sudah nyaris hilang dari pelupuk mata, bayang-bayang deadline justru kian menguat.

"Beritamu mana?" kata-kata yang biasa disampaikan dalam berbagai nada dan kosa kata berbeda, namun satu makna.

Istilah deadline sebenarnya tak hanya ditemui dalam dunia jurnalistik. Pekerjaan lain pun mengenal istilah yang sama. Meski kadar penggunaannya sungguh jauh berbeda. Tetapi, tetap saja bakal menghasilkan tekanan bertubi-tubi yang menyisakan lebam mental. #ehh

Duh, gara-gara tekanan, banyak yang tak tahan. Mundur sebelum mengerahkan kekuatan maksimalnya. Surut sebelum berjuang habis-habisan. Mengkerut sebelum menegakkan kepala untuk membela diri. Baper juga ada. Padahal separah-parahnya tekanan, ujung-ujungnya selalu berbuah hal baik sesuai tujuan awal.

Terkadang menyelesaikan pekerjaan di bawah tekanan ikut memberikan hasil di luar kepala loh. Pernah dengar istilah "power of kepepet" yang fenomenal itu? Kekuatan asli seseorang baru dikerahkan saat ia benar-benar terpojok (atau ketakutan) menghadapi sesuatu. Sumpama sedang dikejar-kejar anjing, kita baru bisa ngebut berlari sekencang-kencangnya melewati batas normal. Nah, sebagian orang memang sengaja dibuat bekerja di bawah tekanan agar bisa mengerahkan kemampuan maksimalnya.

Bagi saya, tahan atau tidaknya seseorang dari berbagai tekanan, bergantung pada tingkat kematangan mentalnya. Mental tak selalu diiringi dengan kedewasaan. Dewasa tak selalu berarti usia lebih tua. Anak-anak justru kelihatan dewasa kala menghadapi berbagai tekanan. Mengapa? Yah, karena mereka bersikap layaknya anak-anak, menganggap segalanya sesuatu yang tak perlu ditanam dalam-dalam dari batok kepala hingga merasuk ke lubuk hati.

Apapun bentuk tekanan yang didapati, anak-anak selalu punya cara tersendiri menghargai kerja kerasnya. Sekadar menyunggingkan senyum. Paham cara tertawa lebar. Pun menangis, jadi terapi khusus untuk lepas dari tekanan. Apakah bisa kita berkaca pada mereka?

Nikmati saja tekanan yang ada. Beratnya beban, tak perlu dipanggul terlalu lama. Hargai diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Kalau punya sahabat (atau kekasih), bisa jadi penyemangat lewat komunikasi dengannya. Atau dengarkan musik sekeras-kerasnya lewat earphone di telinga. Bermotor keliling kota juga cocok buat menguapkan panas di dalam kepala. Atau menatap senja. Barangkali mencicipi semangkuk eskrim juga alternatif terbaik mendinginkan sebagian isi kepala.

Oleh karena itu, setiap orang wajib memiliki hal-hal sederhana untuk menghargai kerja kerasnya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Di satu sisi, tekanan memang cukup membuat kepala jadi berat. Ruwet. Mumet. Pikiran jadi seumpama bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Tetapi di sisi lain, ia justru menjadi kunci untuk meringankan beban itu sendiri. The power of Kepepet biasanya benar-benar manjur.

Dalam ilmu memasak, adonan harus diberi tekanan agar bisa mengembang. Tekanan yang pas dibutuhkan untuk menghasilkan kue nan legit dan enak di lidah. Sementara dalam lingkungan jurnalistik, media berpadanan kata dengan "press", yang harfiahnya berarti tekanan. Wajar jika deadline selalu dibayangi tekanan.

Barangkali, hakikat rasa malas tak pernah berlawan kata dengan sikap rajin. Kata "malas" justru jadi kutub yang berlawanan bagi "tekanan". Jika rasa malas sangat memikat dan terlihat menyenangkan, tetapi ia suka menjatuhkan dan membuat pekerjaan terlunta-lunta. Sementara rasa tertekan, tak pernah nampak semanis itu, bukan? Hanya saja, toh, pekerjaan masih bisa dirampungkan di luar ekspektasi.

Akh, dimanapun berada, kita tak pernah lepas dari tekanan. Minimal, tekanan dari diri sendiri. Akan tetapi, selalulah ingat untuk menghargai diri sendiri. Sebatas terima kasih dan senyum lebar bisa jadi pemanis perjuangan. Kalau mau lebih, bisa dengan duduk-duduk santai di belakang meja kafe yang riuh dengan tawa wajah-wajah gembira. Tentunya, berbekal segelas minuman pelepas dahaga.

Baiklah, musik masih menggema di ujung earphone saya. Salah satu judul di playlist Spotify masih menyisakan bait-bait bernada gembira....


-- Imam Rahmanto --

PS: Saya menyelingi cerita perjalanan sebelumnya. Apa yang sempat melintas di kepala, harus segera dituliskan biar tak menguap begitu saja. Sesegera mungkin. Tanpa banyak alasan.

2 komentar: