Kamis, 15 September 2016

Runway


Langit tak lagi sama. Gerung mesin juga membunyikan irama yang berbeda. Atas itu, ada senyum yang mengembang di balik kisi jendela. Mata tertuju pada bias mentari pagi yang menyusur pelan di atas landasan pacu (runway). Pelan tapi pasti, karena waktu tak pernah berhenti.

Saya begitu menikmati kesibukan pagi yang ditawarkan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Sudah lama tak menghirup wewangian pagi begini. Dua jam yang lalu, saya baru terjaga di dalam kamar seluas 3x3 meter persegi. Membangunkan seorang teman, membuatnya repot lebih dini. Saya harus tiba di bandara sebelum waktu check-in ditutup pada pukul enam pagi. Taksi jadi pilihan untuk kondisi Makassar yang masih dibalut gulita. Akh, kota kami masih banyak dihuni kejahatan malam yang beranak-pinak. Boncengan dari teman hanya untuk mencari kendaraan berpelat kuning.

Rasanya, tidur saya tidak begitu nyenyak malam itu. Di kepala saya berkelebat segala rencana di luar kepentingan tugas liputan. Semuanya berpilin dalam segala rasa dan rencana: deg-degan, gembira, was-was, penasaran, kebingungan, pening. Bahkan, saya nyaris terjaga sepanjang malam hanya demi menembus pagi. Tahu sendiri, alamat nasib sial jika saya ketinggalan pesawat gara-gara kebiasaan bangun kesiangan. Tiket dan jadwal penerbangan sudah di tangan sejak kemarin. Seorang panitia mengirimkan e-ticket via email bertanda pulang dan pergi.

Memang, perjalanan itu selalu memberikan aroma kehidupan yang baru. Karena kehidupan itu sendiri dibalut dalam bentuk perjalanan (waktu)

Sekali lagi, saya tak bisa menahan senyum. Sumringah. Segala kasak-kusuk "one night packing" tak sia-sia untuk kesempatan melihat pagi. Properti liputan sudah lengkap di dalam backpack kesayangan saya. Sedikit sketsa itinerary sudah dalam ingatan. Rute Semarang - Kudus - Semarang - Yogyakarta melintas berulang-ulang di dalam bayangan.

"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan GA368 dengan tujuan Semarang. Penerbangan ke Semarang akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih...."

Saya pernah ingin menjajal kesasar. Seperti mitos belajar mengendarai motor, kita takkan pernah tahu rasanya berteman dengan keseimbangan jika abai bertaruh kemungkinan untuk jatuh. Tak perlu takut. Karena hampir 80 persen orang pernah mengalaminya. Pun, namanya kesasar atau tersesat, berteman dengan banyak pengalaman baru. Itu bisa menunjukkan beberapa jalan (nekat) baru. Apa pula guna "bertanya" jika masih takut kesasar?

Saya mematikan ponsel. Mengubahnya dalam flight-mode. Beberapa kursi di dalam pesawat masih kosong. Kursi di samping jendela yang tak berpenumpang, membuat saya lebih leluasa memonopoli. Nampaknya, pesawat dalam kelompok penerbangan eksklusif ini tak begitu peduli dengan jumlah penumpang. Mereka justru mengutamakan kualitas, bukan kuantitas. Pelayanannya memang selalu utama. Saya juga tak perlu ragu jika harus tertawa lebar.

Bagi saya, kesempatan mengangkasa ke luar pulau sudah jadi hal biasa. Teringat pertama kali saya mencicipinya, empat tahun silam. Tentu saja, saya akui, dengan perasaan yang teramat-sangat-sangat bergelora. Namun, kini saya mencoba terbiasa. Bukankah kelak, masih lebih banyak perjalanan besar yang menanti?

Sejatinya, bukan duduk nyaman diantara awan yang membuat bergelora. Melainkan momen langkah terakhir turun dari tangga, melompat kecil, menyampirkan ransel, menghela napas, sembari mengembus perlahan ucapan, "Selamat datang di tempat yang asing baru!"  


*to be continued

Jejak perjalanan sebelumnya:
1. Cool Itinerary

--Imam Rahmanto--


PS:
Sebenarnya, saya ingin menuliskan bagian ini beberapa hari yang lalu. Barangkali bersisian dengan suasana Idul Adha 1437H. Sayang, malang tak bisa ditolak. Motor saya tergelincir dalam perjalanan pulang ke Makassar. Betapa sial, lengan dan jari lecet karena luka. Pun, lutut sebelah kiri. Saya nyaris dibuat menggantung nyawa dari kecepatan di angka 100 itu. Beruntung, Sang Kuasa masih melempar kesempatan di bawah hujan yang mengguyur tak henti. 

Baik-baik saja? Yah, seperti itulah adanya. Sakit sedikit, syukur diperban(yak)

2 komentar:

  1. ternyata orang makassar juga ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan asli Makassar. Cuma numpang jadi warga Makassar, semenjak kuliah hingga mencari sesuap nasi dan emas berlian. Hahahaha....

      Hapus