Kamis, 29 September 2016

Landas

September 29, 2016
"Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Internasional Achmad Yani Semarang. Perbedaan waktu antara Makassar dan Semarang adalah..."

Mata saya terbuka. Suara khas sepanjang lorong membuat saya terjaga dari lelap. Baru kali ini saya dibuat terkantuk-kantuk dalam pesawat. Terjaga sejak pukul empat pagi sungguh membuat kepala agak sempoyongan. Perut juga belum diisi sejak keluar dari pintu kamar. Beruntung, ada sepotong roti dan air mineral sebagai kompensasi bagi penumpang pesawat eksekutif ini. Yah, meski hanya sebatas mengganjal perut.

Selang beberapa menit, pesawat berguncang. Roda telah landas di atas ratanya aspal. Bergerak semakin pelan, hingga terhenti di apron.

Selamat datang di kota Kretek, Kudus. (Imam Rahmanto)

***

"Langsung ke ruang tunggu VIP ya, mas," kata salah satu panitia lewat pesan singkatnya. Setelah bertanya pada petugas bandara, saya segera bergabung dengan beberapa wartawan lain yang ternyata sudah tiba lebih dulu.

Ruang tunggu (lounge) itu tampak begitu ramai. Sambil berdiri, seorang wanita paruh baya melayani perbincangan dengan beberapa wartawan yang mengerumuninya. Wajahnya agak familiar. Sayang, kepala puyeng masih menyesuaikan diri sehingga saya memilih ikut (diam) saja dalam perbincangan santai itu. Belakangan saya baru sadar ternyata perempuan itu adalah Susi Susanti.

Beberapa orang - yang saya tebak adalah atlet dan pelatih (sekaligus legenda) bulu tangkis PB Djarum - duduk santai melingkari meja. Mereka mengobrol, melepas rindu sesama atlet pebulu tangkis.

Bagaimanapun, saya harus segera menyesuaikan dengan iklim (dan pengetahuan) terkait bulu tangkis. Liputan saya beberapa hari ke depan akan saling paut dengan hal itu.

Sejujurnya, meski hampir setahun bergelut di liputan dunia olahraga, saya masih agak awam dalam beberapa hal maupun tokoh di cabang tepok bulu ini. Hanya mengenal sebagian.

Jauh di masa kecil, saya dan teman-teman memang tak jarang memainkannya. Olahraga ini termasuk yang paling populer di lingkungan perkampungan. Perlengkapannya sederhana. Berbekal tali yang diikatkan pada dua ujung kayu yang berdiri, net sudah siap membatasi permainan.

Sayang, saya terlalu jengkel jika bertemu gaya bermain uber-uber shuttlecock. Apalagi tubuh saya yang tak sampai seujung net. Hahaha...kan capek dibikin lari kesana-kemari.

Liputan saya di desk olahraga tidak dipersempit hanya untuk cabang olahraga tertentu. Terkecuali perkembangan klub seperti PSM, saya harus menangani semuanya. Ada perkembangan, ya dipantau dan diolah menjadi bahan berita. Mulai dari olahraga populer, hingga olahraga yang kelihatannya "tak-penting-penting-amat".

Sepanjang kedatangan di Semarang, saya mulai berperan layaknya seorang pewarta. Menghimpun strategi guna mengumpulkan bahan. Bertanya sana-sini. Mencatat lewat gadget (meski dalam saku saya selalu menyiapkan pulpen dan blocknote). Mencuri dengar percakapan wartawan lain. Menyusun kerangka dan jumlah berita yang harus disetorkan kepada kantor.

Kami memang tertahan agak lama di ruang tunggu tersebut. Sang bintang bulu tangkis, Butet (Liliyana Natsir) baru akan tiba dalam waktu beberapa menit. Ia baru saja pulang kampung ke Manado. Kembali ke Kudus, ia bakal diarak sepanjang perjalanan menuju markas PB Djarum.

Yah, saya akhirnya bisa melihat lebih dekat pahlawan olahraga Indonesia. Sayangnya, saya tak begitu berminat melepas foto dengan pasangan bintang itu. Teman-teman wartawan dan pengunjung lain berebutan ingin mengabadikan momen itu. Saya justru sibuk mengabadikan mereka. Entah kenapa, itu jadi kebiasaan. Saya memang selalu menahan diri untuk berfoto bersama bintang atau artis ternama sekalipun.

Perjalanan saya sepanjang Semarang - Kudus murni untuk menyelesaikan tugas. Sekali-kali saya menyisipkan ide untuk mencari bahan tulisan lain, di luar topik olahraga klub bulu tangkis itu.

Pasangan emas Indonesia. (Imam R)
Rombongan wartawan menumpang dua bus yang disediakan khusus pihak panitia. Saya tak mengenal satupun. Hanya beberapa nama medianya yang lekat dalam kepala saya. Semisal Jawa Pos, yang sejak dulu sudah jadi induk dari media kami. Media besar seperti Kompas juga ada. Bahkan, media cetak dan media online-nya punya pasukan wartawan yang berbeda. Sementara saya? Hanya untuk bekal media cetak, *yang merangkap seadanya untuk kebutuhan media online.

Tak ada perjalanan santai sepanjang Semarang. Bisa dibilang, kami hanya numpang lewat. Mampir di lokasi penyerahan rumah buat pahlawan bulu tangkis itu. Rumah total Rp3 miliar itu terletak di kawasan perumahan mewah kota Semarang. Diberikan secara cuma-cuma.

Selang dua jam, perjalanan berlanjut ke kota Kudus. Jelang memasuki Kota Kretek, Owi-Butet diarak hingga ke alun-alun/ rumah jabatan Bupati Kudus. Pun, mampir, kami hanya sebentar. Untuk kebutuhan bahan berita saya juga tak begitu penting. Satu-dua naskah juga sejak awal telah siap dalam draft email saya.

Jelang petang, rombongan tiba di salah satu gelanggang olahraga terbesar Kudus. Kepala saya masih terasa mumet. Perut kosong, paksaan menulis (dan membaca) di atas bus semakin memperparah perasaan - yang entah disebut apa. Saya bahkan tak lagi bernafsu menyentuh makanan yang dibagikan untuk rombongan wartawan. Karena ternyata, saya memuntahkan isi perut di halaman luar gedung. #damn. Ini pertama kalinya, semenjak berpuluh-puluh tahun saya dikuatkan menjalani perjalanan darat, laut, dan udara.

Saya jadi patah arang mengatura kelanjutan "perjalanan" saya; menyenangkan atau melelahkan.

*to be continued

Markas besar PB Djarum. (Imam Rahmanto)


Jejak perjalanan sebelumnya:
1. Cool Itinerary
2. Runway


--Imam Rahmanto--

Rabu, 21 September 2016

Adonan Kue-hidupan

September 21, 2016

Deadline, deadline, deadline...

Bekerja di dunia jurnalistik, kita bakal akrab dengan istilah semacam itu. Bayang-bayangnya ada dimana-mana. Matahari sudah nyaris hilang dari pelupuk mata, bayang-bayang deadline justru kian menguat.

"Beritamu mana?" kata-kata yang biasa disampaikan dalam berbagai nada dan kosa kata berbeda, namun satu makna.

Istilah deadline sebenarnya tak hanya ditemui dalam dunia jurnalistik. Pekerjaan lain pun mengenal istilah yang sama. Meski kadar penggunaannya sungguh jauh berbeda. Tetapi, tetap saja bakal menghasilkan tekanan bertubi-tubi yang menyisakan lebam mental. #ehh

Duh, gara-gara tekanan, banyak yang tak tahan. Mundur sebelum mengerahkan kekuatan maksimalnya. Surut sebelum berjuang habis-habisan. Mengkerut sebelum menegakkan kepala untuk membela diri. Baper juga ada. Padahal separah-parahnya tekanan, ujung-ujungnya selalu berbuah hal baik sesuai tujuan awal.

Terkadang menyelesaikan pekerjaan di bawah tekanan ikut memberikan hasil di luar kepala loh. Pernah dengar istilah "power of kepepet" yang fenomenal itu? Kekuatan asli seseorang baru dikerahkan saat ia benar-benar terpojok (atau ketakutan) menghadapi sesuatu. Sumpama sedang dikejar-kejar anjing, kita baru bisa ngebut berlari sekencang-kencangnya melewati batas normal. Nah, sebagian orang memang sengaja dibuat bekerja di bawah tekanan agar bisa mengerahkan kemampuan maksimalnya.

Bagi saya, tahan atau tidaknya seseorang dari berbagai tekanan, bergantung pada tingkat kematangan mentalnya. Mental tak selalu diiringi dengan kedewasaan. Dewasa tak selalu berarti usia lebih tua. Anak-anak justru kelihatan dewasa kala menghadapi berbagai tekanan. Mengapa? Yah, karena mereka bersikap layaknya anak-anak, menganggap segalanya sesuatu yang tak perlu ditanam dalam-dalam dari batok kepala hingga merasuk ke lubuk hati.

Apapun bentuk tekanan yang didapati, anak-anak selalu punya cara tersendiri menghargai kerja kerasnya. Sekadar menyunggingkan senyum. Paham cara tertawa lebar. Pun menangis, jadi terapi khusus untuk lepas dari tekanan. Apakah bisa kita berkaca pada mereka?

Nikmati saja tekanan yang ada. Beratnya beban, tak perlu dipanggul terlalu lama. Hargai diri sendiri dengan melakukan hal-hal yang disukai.

Kalau punya sahabat (atau kekasih), bisa jadi penyemangat lewat komunikasi dengannya. Atau dengarkan musik sekeras-kerasnya lewat earphone di telinga. Bermotor keliling kota juga cocok buat menguapkan panas di dalam kepala. Atau menatap senja. Barangkali mencicipi semangkuk eskrim juga alternatif terbaik mendinginkan sebagian isi kepala.

Oleh karena itu, setiap orang wajib memiliki hal-hal sederhana untuk menghargai kerja kerasnya sendiri. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Di satu sisi, tekanan memang cukup membuat kepala jadi berat. Ruwet. Mumet. Pikiran jadi seumpama bom yang sewaktu-waktu bisa meledak. Tetapi di sisi lain, ia justru menjadi kunci untuk meringankan beban itu sendiri. The power of Kepepet biasanya benar-benar manjur.

Dalam ilmu memasak, adonan harus diberi tekanan agar bisa mengembang. Tekanan yang pas dibutuhkan untuk menghasilkan kue nan legit dan enak di lidah. Sementara dalam lingkungan jurnalistik, media berpadanan kata dengan "press", yang harfiahnya berarti tekanan. Wajar jika deadline selalu dibayangi tekanan.

Barangkali, hakikat rasa malas tak pernah berlawan kata dengan sikap rajin. Kata "malas" justru jadi kutub yang berlawanan bagi "tekanan". Jika rasa malas sangat memikat dan terlihat menyenangkan, tetapi ia suka menjatuhkan dan membuat pekerjaan terlunta-lunta. Sementara rasa tertekan, tak pernah nampak semanis itu, bukan? Hanya saja, toh, pekerjaan masih bisa dirampungkan di luar ekspektasi.

Akh, dimanapun berada, kita tak pernah lepas dari tekanan. Minimal, tekanan dari diri sendiri. Akan tetapi, selalulah ingat untuk menghargai diri sendiri. Sebatas terima kasih dan senyum lebar bisa jadi pemanis perjuangan. Kalau mau lebih, bisa dengan duduk-duduk santai di belakang meja kafe yang riuh dengan tawa wajah-wajah gembira. Tentunya, berbekal segelas minuman pelepas dahaga.

Baiklah, musik masih menggema di ujung earphone saya. Salah satu judul di playlist Spotify masih menyisakan bait-bait bernada gembira....


-- Imam Rahmanto --

PS: Saya menyelingi cerita perjalanan sebelumnya. Apa yang sempat melintas di kepala, harus segera dituliskan biar tak menguap begitu saja. Sesegera mungkin. Tanpa banyak alasan.

Kamis, 15 September 2016

Runway

September 15, 2016

Langit tak lagi sama. Gerung mesin juga membunyikan irama yang berbeda. Atas itu, ada senyum yang mengembang di balik kisi jendela. Mata tertuju pada bias mentari pagi yang menyusur pelan di atas landasan pacu (runway). Pelan tapi pasti, karena waktu tak pernah berhenti.

Saya begitu menikmati kesibukan pagi yang ditawarkan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Sudah lama tak menghirup wewangian pagi begini. Dua jam yang lalu, saya baru terjaga di dalam kamar seluas 3x3 meter persegi. Membangunkan seorang teman, membuatnya repot lebih dini. Saya harus tiba di bandara sebelum waktu check-in ditutup pada pukul enam pagi. Taksi jadi pilihan untuk kondisi Makassar yang masih dibalut gulita. Akh, kota kami masih banyak dihuni kejahatan malam yang beranak-pinak. Boncengan dari teman hanya untuk mencari kendaraan berpelat kuning.

Rasanya, tidur saya tidak begitu nyenyak malam itu. Di kepala saya berkelebat segala rencana di luar kepentingan tugas liputan. Semuanya berpilin dalam segala rasa dan rencana: deg-degan, gembira, was-was, penasaran, kebingungan, pening. Bahkan, saya nyaris terjaga sepanjang malam hanya demi menembus pagi. Tahu sendiri, alamat nasib sial jika saya ketinggalan pesawat gara-gara kebiasaan bangun kesiangan. Tiket dan jadwal penerbangan sudah di tangan sejak kemarin. Seorang panitia mengirimkan e-ticket via email bertanda pulang dan pergi.

Memang, perjalanan itu selalu memberikan aroma kehidupan yang baru. Karena kehidupan itu sendiri dibalut dalam bentuk perjalanan (waktu)

Sekali lagi, saya tak bisa menahan senyum. Sumringah. Segala kasak-kusuk "one night packing" tak sia-sia untuk kesempatan melihat pagi. Properti liputan sudah lengkap di dalam backpack kesayangan saya. Sedikit sketsa itinerary sudah dalam ingatan. Rute Semarang - Kudus - Semarang - Yogyakarta melintas berulang-ulang di dalam bayangan.

"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan GA368 dengan tujuan Semarang. Penerbangan ke Semarang akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih...."

Saya pernah ingin menjajal kesasar. Seperti mitos belajar mengendarai motor, kita takkan pernah tahu rasanya berteman dengan keseimbangan jika abai bertaruh kemungkinan untuk jatuh. Tak perlu takut. Karena hampir 80 persen orang pernah mengalaminya. Pun, namanya kesasar atau tersesat, berteman dengan banyak pengalaman baru. Itu bisa menunjukkan beberapa jalan (nekat) baru. Apa pula guna "bertanya" jika masih takut kesasar?

Saya mematikan ponsel. Mengubahnya dalam flight-mode. Beberapa kursi di dalam pesawat masih kosong. Kursi di samping jendela yang tak berpenumpang, membuat saya lebih leluasa memonopoli. Nampaknya, pesawat dalam kelompok penerbangan eksklusif ini tak begitu peduli dengan jumlah penumpang. Mereka justru mengutamakan kualitas, bukan kuantitas. Pelayanannya memang selalu utama. Saya juga tak perlu ragu jika harus tertawa lebar.

Bagi saya, kesempatan mengangkasa ke luar pulau sudah jadi hal biasa. Teringat pertama kali saya mencicipinya, empat tahun silam. Tentu saja, saya akui, dengan perasaan yang teramat-sangat-sangat bergelora. Namun, kini saya mencoba terbiasa. Bukankah kelak, masih lebih banyak perjalanan besar yang menanti?

Sejatinya, bukan duduk nyaman diantara awan yang membuat bergelora. Melainkan momen langkah terakhir turun dari tangga, melompat kecil, menyampirkan ransel, menghela napas, sembari mengembus perlahan ucapan, "Selamat datang di tempat yang asing baru!"  


*to be continued

Jejak perjalanan sebelumnya:
1. Cool Itinerary

--Imam Rahmanto--


PS:
Sebenarnya, saya ingin menuliskan bagian ini beberapa hari yang lalu. Barangkali bersisian dengan suasana Idul Adha 1437H. Sayang, malang tak bisa ditolak. Motor saya tergelincir dalam perjalanan pulang ke Makassar. Betapa sial, lengan dan jari lecet karena luka. Pun, lutut sebelah kiri. Saya nyaris dibuat menggantung nyawa dari kecepatan di angka 100 itu. Beruntung, Sang Kuasa masih melempar kesempatan di bawah hujan yang mengguyur tak henti. 

Baik-baik saja? Yah, seperti itulah adanya. Sakit sedikit, syukur diperban(yak)

Rabu, 07 September 2016

Cool Itinerary

September 07, 2016

"Bagaimana, Mas? Tiketnya jadi tanggal 1 (September) Kamis pagi, kan?" tanya seorang perempuan dari seberang telepon.

Saya baru saja mendapatkan penugasan keluar kota. Kali ini, mengawal berita tentang audisi atlet yang dipelopori oleh salah satu klub bulutangkis terbesar Tanah Air, PB Djarum. Apalagi mereka sedang berbahagia lantaran pebulutangkis jebolannya, Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir baru saja mempersembahkan medali emas di Olimpiade Rio de Janeiro.

Transportasi pulang-pergi, tentu menjadi tanggungan panitia. Salah satu panitia "penghubung" dengan media itu berkali-kali mengonfirmasi untuk pemesanan tiket pesawat. Saya sempat memberi jeda, lantaran kota tujuan Kudus, punya beberapa cabang yang ingin saya jelajahi.

"Mbak, kalau semisal saya mau pulang dari kota selain Semarang, dibolehkan ndak?" tanya saya hati-hati.

"Boleh aja sih, Mas. Asalkan selisih harganya tidak jauh beda. Terus tanggungan akomodasi penginapan dan konsumsi dari kami cuma pas waktu kegiatan (1-4 September) saja," paparnya.

"Iya, mbak. Sisanya memang saya tanggung sendiri,"

Antara Surabaya, Semarang, atau Yogyakarta. Ketiganya harus masuk dalam itinerary saya. Toh, ketiganya bisa dibilang sudah menjadi daerah istimewa bagi saya, yang memang berdarah Jawa. Lahirnya saja yang kebetulan di tanah Sulawesi.

Saya baru kali ini dibuat berpikir ketat untuk itinerary semacam itu. Rencana perjalanan. Bukan terpaksa atau dipaksa. Saya justru teramat antusias menyambut perjalanan pengobat rindu itu. Sudah beberapa minggu belakangan, saya agak suntuk dengan kesibukan di dalam kota. Tanpa perjalanan keluar kota. Ternyata, apa yang selalu didengung-dengungkan hingga alam bawah sadar bisa segera terwujud. It's miracle. Tuhan memang Maha Baik.

Semua mesti terencana dengan apik. Saya tak ingin membopong penyesalan lagi.

Sebelumnya, beberapa perjalanan keluar kota serasa tak pernah utuh. Ada saja rasa penasaran yang tertinggal. Hati, kok, seperti tak terima jika harus pulang lebih cepat. Bagaimana tidak, saya terlalu ketat menyimpan rasa nekat di saat ingin menjelajah banyak tempat. Bahkan momen-momen penting harus terlewat gara-gara tak berani mengulur perjalanan sendiri. Terlalu banyak pertimbangan, hanya membuat kita menjadi manusia peragu.

Karena itu, saya sudah membulatkan tekad tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Prinsipnya, masih banyak kesalahan lain yang patut dicoba.

Betapa saya harus menyelingi proses eksekusi naskah berita di lapangan hanya untuk menyusun rencana. Aplikasi smartphone untuk pemesanan tiket online sengaja diinstal untuk memudahkan pengecekan tiket pesawat. Padahal selama ini saya agak acuh dengan aplikasi semacam itu. Secarik kertas tak lepas dari tangan saya, berisi coretan jadwal penerbangan dari kota pilihan, beserta besaran biayanya. Sembari menyeruput kopisusu, saling silang saya coretkan.

Khusus Semarang, kota itu memang menjadi pemberhentian pesawat para jurnalis undangan dari beberapa daerah, termasuk Jakarta. Saya (dan mereka) memang harus ke Kudus via transportasi darat dari Semarang. Selain itu, ada agenda penyerahan rumah buat Owi-Butet di salah satu perumahan mewah Semarang. Bonus hadiah dari klubnya.

Sebenarnya, motivasi "belok" ke kota Surabaya terpicu demi mengunjungi keluarga bapak-mamak di Lamongan, Jawa Timur. Saya benar-benar penasaran bisa menyusur jalan ke desa yang sebenarnya menjadi muasal darah dalam tubuh saya. Bagaimana tidak, saya sudah agak "pangling" (lupa) dengan wajah kakek, nenek, paklik, pakde, ataupun bibi disana. Pokoknya, menjajal tantangan backpacking ke pedalaman desa pinggir Bengawan Solo itu cukup menantang adrenalin saya. Tentu saja, saya sekaligus bisa meluapkan kerinduan dengan semua keluarga bapak-mamak yang tidak begitu mengenal saya. Barangkali, mereka hanya mengenal anak kecil berpipi tembem anaknya Suwarji.

Di sisi lain, perjalanan ke tanah Jogja adalah hal yang saya idam-idamkan. Ada penasaran meluap-luap tentang kota yang masih kental adab Keraton itu. Banyak tempat keren, tetapi kultur budaya masih lestari. Malioboro, semacam kata (bukan kota) yang selalu menimbulkan banyak tanya. Sejak dulu, sebelum susunan rencana petualangan lain berjejalan, saya sudah mematoknya. Bahkan, bisa dibilang, kota ini menjadi salah satu top 5 itinerary saya di Indonesia.

Pun, soal tempat bermalam nyaris tak jadi masalah. Yah, namanya tekad, memang harus bulat. Sebisa mungkin mencari kenalan atau teman yang ada di kota bersangkutan saja. Kalau jurusan Surabaya, saya sudah punya banyak kerabat dan keluarga. Sayang, lokasinya masih teramat jauh dari pusat keramaian.

Ada jeda waktu yang membuat saya galau. Tentu saja, memikirkan hal berbau jalan-jalan itu di luar tugas pokok di kota Kudus. Saya harus menyelesaikan dulu salah satu liputan itu dengan beberapa stok bahan berita "masa depan".

Perjalanan itu dimulai dari keinginan. Tetapi, tak sekadar menunggu dari jauh. (Imam Rahmanto)

Saya hanya ingin menuntaskan mimpi yang tertunda. Kali ini, tanpa penyesalan. Jeda libur sehari bisa menjadi rencana perjalanan yang cukup mengasyikkan.

"Oke deh, Mbak. Pesankan tiket pulang dari Jogja ke Makassar," tegas saya, jelang waktu keberangkatan.

*to be continued


--Imam Rahmanto--