Sabtu, 13 Agustus 2016

Yang Sudah Pasti

"Biarlah. Mungkin masih bukan rezekinya," tukas adik saya.

Ia lebih dulu tahu hasil pengumuman tes Jalur Mandiri di kampus tujuannya. Meski saya mencoba tak percaya dengan menelusuri setiap teks di pengumuman cetak, saya harus menerima kalau ia memang tak berhasil pada bagian itu.

Pertama kali tak berhasil lulus dalam jalur SBMPTN, serak suaranya terdengar dari ujung telepon. Setidaknya, saya paham rasanya gagal dalam jurusan yang diinginkan. Lebih parah, tak lolos dari semua pilihan itu. Tentu, hatinya teriris.

Akan tetapi, seiring waktu, adik saya mulai menata perasaannya. Perempuan yang di masa kecilnya dulu sering berkelahi dengan kakaknya itu kini tahu bagaimana caranya menerima. Berlapang dada. Padahal, saya masih menganggap adik saya itu sebagai perempuan yang cengeng.
"Tahun depan saja, Kak. Biar nanti mau bantu bapak-mamak dulu. Kan, katanya juga mau pulang Jawa," meski saya seolah mendengar hati terdalamnya masih kecewa.


***

"Tua itu pasti, sementara dewasa adalah pilihan"

Saya tak pernah percaya dengan anekdot itu. Bagi saya, setiap orang bakal mencapai masa kedewasaannya masing-masing. Entah itu usia 21, 23, 27, 30, atau baru mendapatkannya di usia uzur. Itu bergantung skenario yang ditimpakan Tuhan dalam perjalanannya mencicipi pahit-manis kehidupan.

Beranjak menapaki usia yang semakin renta, orang-orang akan semakin menemukan landasan untuk bersikap dewasa. Itu pasti. Bukan sebuah pilihan, yang bisa seenaknya saja diabaikan ketika kita tak ingin memilih. Pengalaman yang bakal mengajarkannya.

Ada banyak hal yang bisa menjadi pemicunya. Landasan untuk berbenah. Kekuatan untuk berubah. Kadang-kadang semuanya tak bisa diprediksi

Perasaan ingin melindungi atau mengayomi orang yang dikasihi, tak jarang mengubah kita menjadi sedikit lebih dewasa.

Sejujurnya, saya kerap mengalami hal semacam itu.

Di balik sifat cerewet, menyebalkan, pembuat onar, dan jahil di hadapan teman-teman (oke, saya akui), tetap saja ada tingkah dewasa yang meluap tanpa komando ke permukaan sewaktu-waktu. Ehem,...barangkali seperti ketika sedang jatuh cinta. Di saat bersama perempuan terkasih, saya tak bisa nampak seperti anak kecil lagi. Bukan karena sekadar "ingin-terlihat-dewasa". Justru ada semacam tombol "adult-auto-unlocked" di kepala yang tanpa sadar tiba-tiba teraktivasi.

Perempuan pun demikian. Sikap dewasanya secara alami terlihat ketika ia memberikan perhatian kepada lelaki yang disayanginya.

"Jangan pernah lupa untuk melindungi mereka yang berharga untukmu" (Hiruzen, Naruto)

Akan tetapi, ini bukan hanya perihal asmara saja...

Ayah, ibu, atau adik termasuk dalam jajaran mereka yang patut dilindungi. Ketika anak lelaki menginjak usia tertentu, toh, ada tanggung jawab yang kemudian berpindah alur. Kerap kali hal itu memaksanya untuk lebih dewasa.

Setiap orang akan menginjak masa kedewasaannya. Kita hanya perlu menunggu, menunggu, dan sekaligus menerima.

Tak ada orang yang kanak-kanak selamanya. Tak ada pula orang yang tahan bersikap dewasa selamanya. Bukankah bertingkah dewasa tak selalu menyenangkan?

***

"Nah, siapa yang ingin jadi eksmud seperti saya?" (Foto: Nurul Irsal Amalia)


Mungkin kita agak tersentil dengan iklan dari provider telekomunikasi ini? Masih ingat?

Anak 1: Kalo aku dah gede aku mau jadi eksmud.
Anak 2: Mau jadi bos!
Anak 3: Hari-hari ngomong campur bahasa Inggris.
Anak 4: Tiap Jumat pulang kantor nongkrong bareng sesama eksmud, ngomongin proyek besar biar kelihatan sukses.
Anak 5: Suara harus digedein biar kedengeran cewek di meja sebelah.
Anak 6: Kalo weekend sarapan di cafe sambil sibuk laptopan.
Anak 7: Pesen kopi secangkir harga 40 ribuan. Minumnya pelan-pelan biar tahan sampai siang demi wifi gratis.
Anak 8: Kalau tanggal tua pagi, siang, malem makannya mie instan.
.......
Anak 9: Jadi orang gede emang menyenangkan tapi susah dijalanin.



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar