Minggu, 07 Agustus 2016

Prestasi dan Kebanggaan

Pebasket putri Smanses - SMAN 11 Makassar - tak mampu membendung air mata harunya. Kening berkeringat langsung menyentuh lantai lapangan usai peluit panjang menutup laga dengan skor akhir 55-53. Tak ada pemain yang luput dari acara sujud syukur itu. Pemain di bench cadangan berpelukan dan melonjak kegirangan. Suporter yang sedari awal laga menyoraki, kian gemuruh meneriakkan yel-yel kemenangan.

Tentu saja mereka begitu girang. Laga final menantang tim juara DBL tahun lalu, Smada - SMAN 2 Makassar - berlangsung begitu mendebarkan. Siapa saja yang menyaksikan persaingan kedua rival itu tentu bakal dibuat tak berkedip. Biarpun saya lelaki, tetapi pertarungan antar gadis itu benar-benar gegap gempita. Lihat saja pada perbedaan angkanya, sangat jelas menunjukkan jual-beli serangan.

Dalam pertandingan basket, waktu tersisa satu menit bukan akhir dari segalanya. Tak seperti dalam pertandingan sepak bola. Bahkan, waktu 30 detik terakhir (the last 30 seconds) masih bisa dipakai untuk memupuk harapan. Hanya tim bermental terbaik yang bisa mengakhiri laga dengan kemenangan dramatis.

Perjuangan dengan berpeluh keringat memang selalu membuat kita berderai air mata, baik haru ataupun lara. (Foto: Ardiansyah Bandoe - Harian FAJAR)

***

Sorak-sorai dan kebanggaan para pelajar di lapangan itu membuat saya terhenyak. Entah bagaimana, kebanggaan itu menular pada saya. Bukan hanya mereka yang bersorak dan berdebar. Pun, hati saya bergemuruh.

Itu hanya kilasan peliputan saya di lapangan. Betapa mendebarkannya laga kedua tim. Lakon-lakon mengharukan dan membanggakan bercampur baur menjadi satu. Tak jarang, saya ikut dibuat terhanyut oleh semangat para pemain beserta pendukungnya.

Hal semacam itu sudah sering saya temui di bidang olahraga lainnya.

Saya seharusnya menyadari, ada banyak cara dalam menempuh prestasi. Prestasi bukan hanya soal akal dan hitung-hitungan di atas kertas.

Sejak melakoni liputan dunia olahraga, saya mulai paham bagaimana cara berpikir orang-orang yang mendalami dunia tersebut. Bukan sebagai jurnalis, melainkan mereka yang memang berbakat dan berkutat di bidang olahraga.

Tuhan memang tak pernah salah dalam mengatur kehidupan. Manusia saja yang terlalu ngeyel untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.

Dulu, saya pernah protes dalam hati. Menghindari penugasan di desk olahraga, salah satu bidang yang sejak dulu enggan saya ikuti perkembangannya. Padahal, sebagai wartawan, seyogyanya paham "sedikit-sedikit" tentang banyak hal. Bahkan untuk sesuatu yang sebenarnya jadi momok bagi kita.

Di masa sekolah, prestasi (dan kebanggaan), di kepala saya, hanya berputar soal angka-angka, karya ilmiah, dan hafalan. Keseharian di sekolah hanya untuk menaati ajaran dan imbauan guru. Masa sekolah haya dihabiskan dengan banyak mengerjakan PR dari guru. Soal olahraga? Saya menyisipkannya dalam nomor kesekian dari daftar pencapaian di sekolah. Apalagi proporsi tubuh saya saat itu memang paling kerdil dibanding teman-teman lainnya.

Wajar jikalau saya harus bersusah payah melakukan lay-up pada materi basket dalam pelajaran Penjaskes. Lompat jauh cuma mentok pada nilai di bawah standar. Olahraga dengan nilai bersahabat, paling banter hanya Senam Kesegaran Jasmani (SKJ). Hasil akhirnya: sudah beruntung tak pernah mendapatkan nilai merah pada rapor kenaikan kelas. Saya masih tertolong dengan kesempurnaan nilai-nilai akademik, yang belakangan saya kenal sebagai "otak kiri".

Olahraga lapangan tak pernah menarik bagi saya. Satu-satunya yang bisa saya unggulkan adalah tenis meja. Guru-guru memang lebih condong mendorong saya fokus untuk pendalaman materi cerdas-cermat. Saya jadi siswa teladan. Barangkali, kepintaran semacam itu bisa jauh lebih berharga ketimbang keberbakatan di bidang lain pada masa sekolah.

Terbebas dari lingkungan sekolah, ada banyak dunia yang lantas bersilangan jalan. Ternyata ada banyak cara untuk menorehkan kebanggaan. Sepak bola, yang dulu hanya sekadar berebut  Jeruk Bali di kaki, tak ubahnya mampu mendatangkan beribu-ribu pendukung. Bulu tangkis, yang selalu kami mainkan dengan netting tali rafia, justru menjadi andalan bersaing dengan negara adidaya. Anak muda yang mampu mengendarai mobil Formula 1 malah punya tempat khusus di hati Kementerian.

Nama-nama pemain terbaik (atau olahragawan) justru dielu-elukan hingga ke pelosok daerah, dibanding para ilmuwan. *Saya sendiri ragu, di saat menuliskan ini, orang-orang tahu bahwa hari ini para ilmuwan mengimbau mati lampu serentak agar bisa melihat untaian rasi bintang di angkasa.

"Kelak, ketika kamu mendalami dunia kerja yang sebenarnya, maka kamu akan sadar bahwa angka sempurna di bidang akademik tak punya banyak kontribusi nyata. Mereka yang datang dengan keahlian dan keterampilan khusus, justru lebih dibutuhkan dan diinginkan."

Pada kenyataannya, kebanggaan memang bukan hanya soal kepintaran. Bukan hanya tentang siapa peringkat umum di sekolah. Atau siapa yang paling banyak mengikuti lomba cerdas cermat tingkat kabupaten. Sejatinya, untuk jadi kebanggaan, selalu punya jalannya masing-masing.

Selain mereka yang ulet dalam olah tubuh, saya juga kerap menemui orang-orang yang cerdas dalam bersosialisasi. Pandai bersilat lidah. Ciamik mengolah kuas di atas kanvas. Cerdas merangkai kata. Paham membedakan nada dan senandung. Toh, mereka tetap berprestasi. Mereka tetap berbahagia...


--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Idiihhh...kenapa juga laki-laki yang peluk ka. -,- Cewek, kek...

      Hapus