Sabtu, 27 Agustus 2016

Kisah Manis NU dan Muhammadiyah

"Menjadi orang Islam modern itu bukan berarti mengabaikan semua hal yang tidak masuk akal. Berpikiran maju itu tidak berarti hal-hal yang berasal dari masa lalu itu kemudian diabaikan." Kambing dan Hujan, hal.117

Pertama kali mendapati sampul hijaunya, bertumpuk bersama jejeran buku lain. Tergolong baru didatangkan oleh toko buku di Jalan Mallengkeri, Makassar. Kebiasaan saya memang rutin mengunjungi toko buku itu tiap bulan. Kalau rezeki bulanan sudah ada, tak jarang saya bakal berburu satu-dua judul buku disana. Selain harganya lebih murah, saya juga masih bisa mendapatkan judul buku yang tak lagi dipasarkan di toko buku resmi, sekelas Gramedia.

Pilihan bacaan tepat. (Imam Rahmanto)

Saya rindu dengan bacaan-bacaan dalam negeri. Memang sih, bacaan-bacaan berkualitas di Tanah Air masih langka. Akan tetapi, saya terkadang suka membaca beberapa karya pengarang lokal lantaran kedekatan dengan jalinan cerita. Gambaran tempat dari secuil ceritanya bisa membuat daya penasaran begitu terjajah. Tak ayal, saya pun tergoda ingin menyelaminya lebih dalam.

Bisa dikatakan, saya jatuh cinta pada pandangan ringkasan pertama Kambing dan Hujan. Sinopsis ringkas di bagian belakang sampulnya memadu roman cinta + aliran agama. Itu semakin membuat saya menggebu-gebu untuk bisa membawanya pulang. Soal penulisnya siapa? Saya lebih suka memilih buku secara acak, tanpa perlu membandingkan kepopuleran penulisnya.

Sebulan, sempat disela satu novel tebal yang membuat kepala terputar-putar. Saat merampungkan "Kambing dan Hujan", saya juga masih menunda untuk menamatkan salah satu novel itu bertema sejarah itu. Karya milik Makhfud Ikhwan ini justru mendorong saya untuk lahap membaca. Serius.

Bahkan, saya berani menggaransi, kisah Kambing dan Hujan akan membuat kita nyengar-nyengir.

Tak ada cerita sedih dalam alur cerita Kambing dan Hujan. Ritmenya justru terkesan agak bersemangat dan mengalir begitu saja. Beberapa kejadian agak lucu lantaran mengaitkan "persaingan" agama (dalam hal ini NU dan Muhammadiyah). Bagian seperti ini yang benar-benar menggelitik dan menampar separuh kesadaran kita.

Jangan berharap menemukan kisah-kisah melankolis dalam buku ini. Bertutur tentang perjuangan cinta antara sang tokoh sentral, Miftahul Abrar (anak tokoh Muhammadiyah) dan Nurul Fauzia (anak tokoh NU). Namun kita takkan menemukan kisah roman seperti Tenggelamnya Kapal van Der Wijk yang romantis nan syahdu, atau Dilan yang lucu nan kreatif. Apalagi kalau kita melambungkan imajinasi ke arah film-film oplosan di televisi (FTV), yang terkesan tak masuk akal, tetapi justru membuat kita terpingkal-pingkal. Kita bahkan dibuat tak ingin meninggalkan layar televisi untuk tahu akhir ceritanya. Buang bayangan itu jauh-jauh!

Saat membaca lembar pertamanya saja, saya sudah diberi harapan kesan lucu di dalamnya. Saya juga cenderung tertarik dengan tokohnya, Fauzia, seorang gadis berkerudung (manis). Bahkan terkesan jutek saat perkenalan pertamanya dengan Miftah. Dalam beberapa novel, saya teramat jarang menemukan tokoh utama (asmara) yang melibatkan gadis muslimah berkerudung (idaman semua lelaki).

Secara umum, kampung kecil bernama Centong terbagi dalam dua kubu, yakni pendukung NU - berafiliasi dengan Masjid Selatan, dan pendukung Muhammadiyah - berafiliasi dengan Masjid Utara. Keduanya kerap kali terlibat dalam berbagai permasalahan yang melibatkan ajaran agama Islam.

Karena perbedaan itulah, Mif (anak tokoh Muhammadiyah) dan Zia, menemui jalan buntu dalam mengukuhkan jalinan cinta mereka. Keduanya tak habis pikir, apa yang menyebabkan dua kubu itu bagaikan kambing dan hujan. Tak bisa disatukan.

"Is, bagi sebagian besar dari kami, seperti kambing dan hujan--sesuatu yang hampir mustahil dipertemukan,"

Hingga suatu hari, ketika keduanya nyaris kehilangan harapan dan memutuskan lari dari keluarga masing-masing, kebenaran dari masa lalu terkuak. Muasal kampung yang bernama Centong. Itu pula yang menjadi kunci bagi Mif dan Zia mencari celah memperkuat hubungan mereka.

Potongan percakapan antara ayah dan putranya. (Imam Rahmanto)
***

Kenapa berlatar kisah cinta? Barangkali sang penulis paham bahwa cerita yang tak pernah "usang" bagi semua kalangan pembaca adalah perihal asmara. Yah, asmara. Berbicara cinta, selalu membawa banyak cerita. Seolah-olah hormon tertentu dalam tubuh segera bergerak cepat jika segalanya sudah dimulai dengan "cinta".

Ini bukan soal "baper", seperti yang didengung-dengungkan anak "alay" kekinian. Toh, bawa perasaan tetap dibutuhkan agar kita peka menenggang rasa. Jangan karena takut disebut "baper" kita jadi kehilangan rasa untuk menakar bisa menakar setiap kejadian.

Cinta menjadi bukti adanya kekuatan yang bisa mempersatukan paham yang berbeda. Bukankah kita lahir karena peleburan cinta dari kedua bapak dan ibu?

"Tapi, bukankah tidak sembarang orang diberi kesempatan dan kehormatan untuk memperjuangkan cinta yang dicita-citakannya?" --hlm. 269
"Cinta yang butuh diperjuangkan adalah cinta yang patut dibanggakan," --hal. 270

Barangkali karena berbekal cerita asmara itu, maka Makhfud Ikhwan begitu keren dalam menyusun kata-katanya. It's flow! Bahasanya benar-benar mengalir. Saya dibuat ketagihan untuk membaca lembaran-lembaran berikutnya.

Cara menyusun alur ceritanya pun terbilang sangat rapi. Meski alurnya tak hanya bergerak maju, kepala saya tetap bisa memilin kisah secara utuh. Sekali waktu, penulis berbicara tentang masa kini. Di lembaran lain, saya tak perlu berpikir terlalu keras untuk tahu bahwa penulis mengubah ceritanya ke arah masa lalu.

Hal itu didukung dengan gaya berceritanya yang juga keren. Sudut pandangnya (point of view) kerap dibuat berubah dengan cukup manis, sesuai dengan tokoh yang ada dalam cerita.

Saya menghitung-hitung, cerita disampaikan secara lugas dalam lima-enam sudut pandang. Mif, Zia, Iskandar (ayah Mif), Mat (ayah Zia), dan Anwar (paman Mif dan Zia), serta Yat (ibu Zia). Oiya, tambahan, ada pula sudut pandang umum yang menceritakan keseluruhan isi kepala masing-masing tokoh.

Wajarlah jika buku keren ini menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2014. Ceritanya benar-benar lekat dengan kultur dan budaya masyarakat Indonesia dalam beragama.

Sejatinya, kita di Indonesia terbagi dalam dua garis besar mazhab (kalau boleh saya menyebutnya demikian); NU dan Muhammadiyah. Perbedaannya cukup mencolok dalam segi menjalankan ibadah. Dalam buku ini, sentilannya sangatlah menohok. Masalah qunut shalat Subuh. Niat shalat. Pengeras suara. Fungsi masjid. Tradisional. Modernisasi. Dan yang paling sering kita jumpai seperti perbedaan waktu Ramadan, hingga Hari Raya Idul Fitri.

Lantas, kapan kita yang beragama mayoritas Islam ini bisa satu suara dalam kebenaran?

Saya memaksa, siapa pun, bacalah buku ini!

"Ini soal masa lalu, heh?" Pak Anwar bertanya lagi, tapi jelas tidak hendak memberi kesempatan siapa pun mengajukan jawaban.
"Kalau iya, betapa kalian tak pernah menjadi lebih tua dari empat puluh tahun lalu." --hal. 337

***

--Imam Rahmanto--


"Orang tak akan bisa sama-sama terus. Masing-masing orang akan berubah. Masing-masing orang akan mendapati jalannya sendiri-sendiri, baik jalan hidup di dunia maupun jalan hidup di akhirat." --hal.82

"Kamu hendaki anak gadisnja, tentu harus pula kamu maui keluarganja." --hal.150

"Kalau maksudnya baik, tapi dilakukan dengan cara yang kurang baik, ujungnya akan tidak baik. Cara kadang tidak kalah penting dengan tujuan." --hal.166

"Kegagalan seorang guru adalah ketika murid yang dididiknya tetap saja menjadi seorang murid, tidak beranjak meningkat jadi seorang guru." --hal.170

"Belajar sendiri bukan berarti kita tidak menghargai guru kita." --hal.170

"Orang-orang terbiasa menunggu ajakan. Dan, itu jelas tak boleh terjadi dalam sebuah organisasi. Ada komando ketua, tapi siapa pun semestinya ambil bagian dalam percaturan." --hal.220

"Anak memang sering tak mau melibatkan ibunya dalam masalahnya. Mungkin karena si anak tak ingin ibunya ikut susah. Mungkin juga karena si anak tak yakin ibunya bisa membantu. Tapi, seorang ibu tak akan bisa membiarkan anaknya menyelesaikan masalahnya sendirian. Ia selalu ingin ambil bagian. Semampunya. Sebisanya." -ibu Miftah, hal.278

Tidak ada komentar:

Posting Komentar