Minggu, 21 Agustus 2016

Firasat dari Jauh

Yah, saya pulang lagi. Selalu demen disini.

Kali ini, berbekal notebook pinjaman – meskipun kenyataannya selalu begitu - saya menyendiri di tengah kegaduhan warung kopi (warkop). Sesekali, di lain waktu, di bawah temaram kafe. Bergulat dengan ritual tiap minggu, mengasah hati. Pun, itu setelah nyaris seminggu mengasah kepala.

Sendirian. Bukan tak ingin bersama orang lain. Saya justru cemas, beramai-ramai dengan teman, saya takkan pernah bisa menyelesaikan pekerjaan apapun. Tentu, saya tak mau alih dari obrolan atau perbincangan di depan meja. Bukankah sungguh mengecewakan tak mendapat perhatian dari lawan bicara?

Lagipula, besok adalah hari libur buat saya. Yeah, Monday is my Sunday. Liburnya agak asing? Sengaja dipilih biar saya tak perlu masuk kantor berpakaian formal. Kebetulan di kantor media saya, setiap karyawan wajib berpakaian kemeja putih setiap awal pekan. Psstt

Beberapa hari lalu, kemerdekaan negeri sedang berulang tahun. Ini juga masih hangat-hangatnya. Kalau dirunut, sudah 71 tahun semenjak dibacakannya teks proklamasi oleh Presiden RI pertama, Sorkarno. Katanya, Indonesia sudah merdeka. Meski secara realita, kita masih terjajah saudara sendiri. Ekonomi belum membaik pula. Secara realita, hati juga masih sering tersakiti. #tsaah, itu lain soal.

Saya sebenarnya agak rindu dengan suasana keramaian kampung menjelang perayaan Proklamasi. Berbagai lomba dan gerak jalan riuh berlangsung di setiap pelosok daerah. Teramat berbeda dengan kondisi perkotaan, yang sepi, dan hanya disibukkan rutinitas kegiatan simbolis dari beberapa instansi maupun komunitas.

Sebenarnya masa-masa pesta Proklamasi di bangku sekolah tak sebahagia yang berbunga-bunga. Di kala teman-teman sekelas dan seangkatan berebut tempat untuk pemilihan anggota Paskibraka Kabupaten, saya justru harus membuang muka. Postur tubuh saya sama sekali tak mendukung. Untuk ikut salah satu regu gerak jalan pun saya mesti disisipkan ke barisan paling buntut. Rasa bangga masih bisa meluap jika ada satu atau dua orang tersisa menutup di belakang saya.

Di kota, saya hanya bisa memelototi berbagai macam euforia di dunia maya. Instagram banjir lomba-lomba Agustusan. Sosmed banjir ucapan Proklamasi dan berbagai macam kalimat nasionalisme lainnya. Barangkali, acara Agustusan hanya bisa didapatkan dari lorong-lorong kota. Meski sempit, sejatinya kampung di kota Makassar memang ada di lorong-lorong yang hendak disulap bernilai seni oleh walikota sekarnag. Liputan yang tak pernah berhenti selama enam hari, memaksa saya hanya bisa memantau keceriaan semacam itu dari balik layar gadget. #fiuhh. Bahkan untuk keriangan festival layang-layang selama Sabtu dan Minggu ini, saya masih dijejali berbagai agenda liputan "wajib".

“Bagaimana acara Agustusan disitu? Ramai?” suara bapak menyela tulisan naskah yang sedang dirampungkan di pinggiran Lapangan Tenis.

“Disini malah ramai, Mam. Sudah tiga hari dari kemarin ramai gerak jalan dan parade. Anak-anak SMA juga semuanya ikut,”

Meskipun sebenarnya bapak tahu, saya tentu sudah hafal segala kebiasaan Agustusan di kampung. Tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan. Walau, kedua orang tua dan seluruh sanak saudara saya adalah murni berasal dari tanah Jawa. Akan tetapi, saya membiarkannya. Kalau bapak menelepon, bukan sekadar bercerita. Ada keperluan lainnya.

“Oiya, Mam. Tolong ya isikan pulsa di nomore Pa’e iki. Spulo ewu wae. Ingat loh, gak usah akeh-akeh…”

Sebagaimana saya juga menghafal kebiasaan bapak, yang mencoba untuk menguji anaknya dalam hal-hal sepele semacam itu. Saya mengabulkan permintaannya dengan sedikit berlebih. “Loh, kok banyak? Ya sudah.” Padahal, tanpa bapak tahu, itu sudah sisa terakhir.

Belakangan, saya tersadar, nampaknya bapak atau mamak di rumah sedang kroso firasat kalau anaknya sedang kekurangan uang.  Permintaan sepelenya itu jadi semacam “ujian” apakah anaknya benar-benar masih punya kas atau tidak. Mereka juga sadar, kalau anaknya teramat gengsi untuk meminta uang (jika sedang sekarat) di usia pekerjaannya sekarang.

Duh, di masa kemerdekaan ini, pekerjaan sebagai jurnalis memang masih jauh dari rasa-rasa merdeka. Benar kata pimpinan dan semua jurnalis senior, “Kalau mau kaya, jangan jadi jurnalis.” Pak Dahlan Iskan bisa punya banyak uang karena bangun usaha dan direkrut di perusahaan pemerintah.

Beruntung, beberapa hari ini, saya masih diselamatkan oleh rezeki Tuhan yang selalu tak terduga-duga darimana datangnya. Syukurlah.

***

Sedikit pemandangan dari Lapangan Golf Padivalley. Tempatnya lapang, namun jauh dari perkotaan. (Imam Rahmanto)

Saat mengakhiri tulisan ini, saya mungkin harus tersenyum-senyum sendiri. Hampir bersamaan, saya masih berbalas pesan dengan seorang teman. Ada banyak cerita rasa dan rahasia darinya. Sebenarnya, keriuhan dari perempuan yang baru-baru saja sembuh dari sakit ini telah berlangsung sejak siang tadi. Sayang, saya harus menunda rasa penasaran, karena deadline liputan sedang menumpuk jelang petang.

Sejujurnya, saya terheran-heran. Ada banyak kisah dramatis hingga melankolis yang mulai terkuak hari ini. Dari seorang teman, saya mulai paham bagaimana perasaan manusia bisa menjalar sedemikian rupa. Berlabuh pelik sedemikian pahitnya. Yah, saya tak begitu banyak mengalami yang serumit itu. Hanya saja, dari penuturan perempuan itu, saya mulai paham bagaimana namanya lelaki bergelagat. Sebagai laki-laki, saya membenarkan beberapa ceritanya.

Saya akan bercerita lain kali saja. Ini sudah akan mengambil waktu terlalu lama. Soal asmara, memang tak pernah ada habisnya…


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar