Kamis, 07 Juli 2016

Rindu yang Jauh

Kampung halaman adalah tempat kita memungut kenangan. Disanalah segala ingatan tentang masa lalu bertebaran. Siap dipetik satu-satu. Seperti ladang yang siap dipanen saat sang pemiliknya pulang ke rumah.

Hari raya kali ini, saya memutuskan untuk pulang. Tahun lalu, saya tidak bisa mudik lantaran pekerjaan yang agak menyita waktu. Saya agak legowo saja ditugaskan kantor untuk berlebaran di kota Makassar. Maklum, anak baru. Mau tidak mau, saya mesti menunjukkan keseriusan dalam menjalani pekerjaan itu.


"Kamu pulang kampung?" pertanyaan yang saban tahun tak lepas dari kami sesama perantau. Dan tahun ini saya dengan percaya diri bisa menjawabnya, ya.

Yah, saya akhirnya punya sedikit waktu berkumpul bersama keluarga kecil saya; bapak, mamak, dan adik. Meski masih dalam kondisi tak sempurna lantaran bapak yang sakit, saya tetap ingin merasainya.

Momen lebaran bersama keluarga ini tak semua orang bisa menikmatinya. Kami, lelaki dan para perantau, tahu betul bagaimana rasanya berlebaran (dan liburan) jauh dari keluarga. Bahkan, sejak kuliah dulu, saya beberapa kali sempat mangkir dari rumah. Urusan organisasi kampus pun terkadang masih membuat saya dan teman-teman jauh dari kata: pulang.

Saya pernah berlebaran jauh dari rumah. Jauh dari keluarga. Jauh dari sekadar  pengharapan untuk pulang. Sendirian. Yang bisa saya lakukan hanya menatap layar komputer di tengah gema takbir bersahut-sahutan di luar sana. Bergantian, saya menyimak iklan-iklan jelang hari raya Lebaran lewat jejaring sosial Youtube.

Mata saya dibuat sembap menyaksikan berbagai macam ceritanya. Serius, saya jadi menangis tersedu-sedu. Apalagi jika ceritanya sudah berhubungan dengan bapak atau mamak, air mata saya akan mengucur. Beruntung, tak ada teman lain di dekat sana. Saya sengaja ingin menumpahkan linangan air mata itu. Tanpa ditahan-tahan. Barangkali karena saat itu perasaan rindu saya hanya bisa terbebaskan air mata.

Rasanya (kala itu) memang agak pilu merayakan lebaran jauh dari keluarga. Ditambah, ego yang masih tertanam cukup dalam. Setiap kali teman bertanya, "Kenapa tak pulang?", jawaban saya hanya dengan tersenyum agak getir. Saya merasa tak punya lagi alasan untuk kembali pulang.

Rasanya kini memang jauh berbeda. Selalu ada tempat untuk pulang. Selain Tuhan, keluarga adalah tempat pengharapan maaf paling lapang. Sedurhaka apapun kita pada kedua orang tua, mereka tak pernah bisa melepas bukti cinta kasihnya pada kita. Cinta kasih itu sederhana. Ia memaafkan.

"Rasa rindumu itu sudah jadi ole2 paling berharga buat ibu. Banyak anak-anak yang berhasil di luar sana tak tahu lagi caranya pulang," --iklan Pertamina

Kini kehidupan tak melulu soal uang. Kebersamaan yang ingin dirasai bapak dan mamak jauh lebih penting. Mereka tak pernah peduli seberapa besar uang yang bisa saya hasilkan. Keduanya hanya butuh waktu dan sapaan senyum dari anak ingusan yang pernah dimandikannya.

"Kapan datang?" pertanyaan yang selalu tiba di waktu bersamaan saling menyapa dengan tetangga.

Akh, ada banyak ingatan terpotong-potong yang membuat saya lupa sekian raut wajah di kampung halaman. Saya jadi harus mengamati wajah mereka satu per satu sembari menampik ucapan, "Wah, kamu sudah besar ya?"

Meski begitu, saya suka dengan segala hal yang baru dengan ingatan. Terasa lebih hangat dan menyegarkan. Sayup-sayup ingatan itu membuat saya lebih penasaran. Anak-anak kecil beranjak remaja dan lebih besar. Tempat-tempat familiar berganti lebih baru. Semuanya selalu lebih fresh di mata.

Barangkali, untuk itu, saya bermimpi punya tempat tujuan yang jauh dari keluarga. Kemungkinan suatu tempat di luar sana. Seberang pulau. Seberang nusantara. Atau hingga ke seberang negeri sana. Tempat dimana saya bisa memilin rindu hingga berpuluh-puluh kilometer atau jutaan jam lamanya. Ditumpuk. Hingga kelak akan membuncah saat pulang ke rumah. Saya cukup penasaran melewati masa-masa kerinduan semacam itu.

Bukankah kita harus pergi jauh, agar kau tahu manisnya pulang ke rumah?

Nah, kelak saya akan menemukan tempat yang lebih jauh lagi selain kota Makassar. Semoga, di masa itu, saya sudah tahu caranya merindu dan pulang dengan benar.

Selamat berlebaran. Mari saling memaafkan... :)



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar