Minggu, 24 Juli 2016

Kosong

Kehidupan sedang padat belakangan ini. Kepala kian runyam disesaki tanggungan dan deadline pekerjaan. Selain pekerjaan kantor, sisi kehidupan lain juga menyita perhatian lebih banyak. Bukan perkara asmara. Sungguh, bukan. Bagi saya, perkara semacam itu sudah tak zaman lagi diputar-putar melipir di kepala. Jauh lebih penting kiranya menjaga perut agar tak berbunyi sepanjang hari.

Oiya, maaf, "rumah" saya masih belum pulih sepenuhnya. Cat disana-sini masih belum merata. Atap masih dengan mudah diterobos cahaya matahari. Angin berhembus lewat kisi-kisi jendela. Kalau hujan tiba, saya pasti hanya bisa mendekam di balik kamar agar tak terkena tempiasnya di ruang tamu.

Ya, begitulah "rumah" saya. Tetapi, bagaimana pun penampilannya, ia tetap jadi tempat saya pulang. Sejauh apapun saya meninggalkannya, saya akan kembali untuknya. Tiada hari saya tanpa sekadar mengingatnya. "Saya pergi sudah berapa lama ya?"

Maka saya menjawab ini sudah hari ke-12. Waktu yang teramat-sangat lama. Seandainya itu seperti deadline pekerjaan saya di dunia nyata, saya sudah pantas dipecat dan tak boleh kembali lagi.

Saya sedang mencicil renovasinya. Perlahan. Tetapi, saya ingin menggaransi, akan selesai pada masanya.

Seperti dalam hidup ini, saya juga mencicil banyak hal. Kendaraan. Pendidikan adik saya. Kebutuhan keluarga, bapak-mamak. Keinginan terpendam. Tujuan pribadi. Cita-cita. Tempat tinggal kelak. Dan juga perasaan cinta untuk pasangan hidup. #ehh

Selama segala sesuatu dijalani secara konsisten, itu jauh lebih baik dibanding mengerjakan sesuatu setengah hati. Usang begini, saya masih sering mengetuk pintunya. Masa bodoh orang berkata tak punya waktu. Saya selalu ingin mencuri waktu agar mendekam di dalam ruang imajinasi 'rumah' ini. Rasanya selalu membawa pada rindu.

Sebenarnya, saya punya banyak cerita yang bisa dibawa pulang. Banyak sekali. Teramat banyak. Bukankah hidup memang selayaknya jurnal berjalan? Apapun selalu terekam mata dan diabadikan ingatan. Sayangnya, segerombolan rubah di seberang ingatan sedang liar-liarnya berkejaran di depan rumah. Mereka menakuti seolah akan menerkam sekantong cerita itu. Mungkin, dikiranya makanan yang bisa mengenyangkan isi perut.

Lantas saya harus mengepungnya perlahan. Karena kekuatan terbatas, hanya sebagian yang bisa diseret lagi ke dalam rumah. Secangkir hangat cappuccino bisa membuat mereka tinggal lebih lama. Terkunci. Kalau tidak, alam bisa saja terlalu cepat mengubah mereka jadi liar. Mungkin, bisa lebih ganas ketimbang rubah-rubah yang selalu menunggu di depan rumah.

Senja di penghujung perjalanan. (ImamR)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar