Kamis, 16 Juni 2016

Berpasrah

Bapak sudah pulang. Kondisinya agak membaik. Perutnya tak lagi memberontak seperti pertama kali ia dirujuk oleh Puskesmas di daerah kami. Meski paraplegianya masih belum bisa disembuhkan. Seperti kata dokter, peluangnya kecil untuk bisa sembuh sedia kala. Sarafnya telah mati lantaran telat mendapatkan penanganan khusus ketika terluka dulu.

"Saya juga sudah tak pernah terlalu berharap bisa berjalan lagi. Asalkan tidak sakit saja perut ini, asalkan bisa dipakai duduk," ujar bapak setiap kali membahas penyakitnya.

Tak terhitung berapa kali penjelasan yang sama dirapal berulang-ulang. Seperti mantra. Orang-orang datang saban waktu berganti topik dengan tanya yang sama, "Sakit apa?". Teman-teman. Kerabat. Saudara. Hingga yang sekadar bertanya lewat telepon. Sudah tak terhitung berapa ludah yang ditelan bapak demi menjelaskan perihal penyakit yang dideranya.

Meski di rumah sakit, saya cuku bisa tersenyum menjalani puasa bersama keluarga. (Imam Rahmanto)
Gurat wajah bapak tak lagi sepadat dulu. Tiga tahun bukan waktu sebentar bagi saraf-saraf yang tak terkendali untuk menggerogoti tubuhnya. Meski masih normal sebagaimana terlihat, namum mental bapak terkikis dari dalam. Sorot matanya tak lagi setajam dulu. Tak lagi sebengis lelaki yang pernah memberikan saya hukuman berdiri sepanjang malam. Hanya gara-gara tak pandai menyelesaikan soal operasi matematika, yang seharusnya jadi santapan saya dua tahun berikutnya.

Barangkali bapak sudah telanjur pasrah dengan penyakitnya. Tak ada hal lain yang bisa dikerjakan selain berdoa lima waktu. Pun, berobat ke dokter-dokter paling mentereng tak mungkin dijabaninya. Untuk hidup sebulan saja, ibu mesti membiasakan diri menerima bantuan-bantuan tetangga. Sementara anak sulungnya, masih tertatih-tatih membentuk hidup di luar keinginan pokoknya; punya anak PNS.

Terkadang, antara mental ingin-sembuh tak bisa dimenangkan pada penyakit bertaraf tinggi. Pasrah jadi bagian mental. Menahun, merobek gurat-gurat kokoh wajah dan ingatan. Bapak terluka, hanya untuk menyembunyikannya.

Di depan pintu rumah sakit, saya melihat wajah keras itu kembali melunak. Tak sekeras dulu yang pernah mengajarkan saya apa bagaimana menjadi lelaki. Bahkan dengan segala tingkah laku yang dicontohkannya dalam keseharian.

Usai ditandu dari lantai dua rumah sakit, bapak membenarkan posisi duduknya di dalam mobil. Saya dan beberapa suster jaga lainnya ikut membantu bapak yang kesulitan merasai kedua kakinya. Semua barang sudah dijejalkan di belakang kursi penumpang. Mamak sudah siap di sisi bapak menyertai perjalanan sejauh tujuh jam ke pelosok pegunungan.

"Kamu jangan boros-boros. Uangmu ditabung saja untuk kebutuhanmu. Ndak perlu repot-repot kirimi mamakmu. Nanti kalau mamakmu butuh, bisa langsung minta saja sama kamu," pesan bapak yang tiba-tiba saja menarik saya saat hendak mengucapkan salam perpisahan. Wajahnya melunak.

Kepala anaknya direngkuh. Diciumnya pipi kanan dan kiri anak lelaki yang diidam-idamkannya memimpin keluarga. Berkali-kali, dengan mata yang sembap. Berkali-kali, dengan suara yang tertelan sesenggukan.

Saya hanya pasrah, membiarkan kerinduan bapak meresap sedalam-dalamnya. Meski saya bisa bertahan tanpa tangis, namun hati serasa redam menahan iba.

"Saya antarkan sampai terminal ya, Pa'? Biar saya ikut di mobil,"

"Lah, motormu?" tanya bapak setelah melepaskan pelukannya.

"Hm...bisa saya tinggal disini (rumah sakit). Saya nanti dari sana (terminal), bisa naik pete-pete kembali kesini. Ndak apa-apa, sudah terbiasa," saya berusaha menenangkan bapak sembari tersenyum tanpa penyesalan.

***

"Sudah sampai di rumah, Pa'?"

"Sudah dari tadi, pas maghrib. Cuma lupa ngabarno, soale di rumah banyak orang," jawab bapak. Katanya, beberapa tetangga langsung menjumpai bapak yang baru tiba dari Makassar.

"Ya sudah, Pa'. Istirahat saja kalau begitu. Yang penting sudah tak apa-apa," tutup saya. Ada perasaan lega meski hanya bertanya kabar.

Perlahan, saya mulai paham, ada keluarga yang tak pernah lupa menyapa dalam doa. Sekeras apapun anaknya lupa waktunya pulang. Sebebas apapun anaknya berkehendak. Meski kebas luka ditanamnya.

***

Selamat bertambah usia, kemarin, lelaki yang pandai menyembunyikan luka. Anak sulung bapak. Kakak terhebat dari anak perempuan satu-satunya bapak.

Hidup sungguh tegar mengajarkan cara merindu dan pulang ke pelukan yang benar.... ^^

Terima kasih untuk Jane, sahabat saya yang sedang mengabdi di tanah Papua. Diantara yang lain, kalian selalu
yang pertama ingat hal tersembunyi dari saya.

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar