Kamis, 05 Mei 2016

Satria Baja Hitam

Saya menemui wajah-wajah lama di jejaring sosial belakangan ini. Sudah jadi kebiasaan, saban hari mengecek notifikasi atau timeline dari akun-akun di dunia maya. Sudah tak terbilang lagi banyaknya jenis media sosial yang kini tersebar. Sayangnya, saya memilih tetap setia dengan Twitter dan Google+. Sementara untuk akun seperti facebook, Instagram, LINE, BBM, hanya jadi bahan untuk mencari informasi.

Meski sekilas, tak jarang saya mendapati teman lama memposting status atau foto di akun masing-masing. Ada wajah-wajah yang selalu berhasil memanggil ingatan di masa kecil dulu.

Tak ada perbincangan lewat obrolan. Sesekali, saya hanya mengecek kabar yang mereka pamerkan lewat lalu lintas di dunia maya. Zaman teknologi sudah jadi kebutuhan pokok, mencari kabar (atau kepo) tentang seseorang bukan lagi hal yang sulit. Bertanya pada Google jadi alternatif utama. Potret dan gambar selanjutnya, mungkin bisa diulik lewat akun penyedia gambar semisal Instagram.

Masing-masing, tentu sudah tenggelam dengan aktivitas dan kesibukannya. Ada yang bekerja, melanjutkan studi, beranak-pinak, hingga sekadar mencari perhatian.

"Apa kabar sekarang? Apa kegiatan?" biasanya sih jadi pertanyaan pamungkas untuk membuka obrolan, sembari mengenang ketololan zaman dulu.

Saya melihat beberapa hal memang sudah banyak berganti. Mulai dari teman-teman yang dulu bergaya dan paras biasa-biasa saja, sudah berubah 180 derajat. Sebagian lagi yang menjadi primadona sekolah, kini justru nampak biasa-biasa saja di mata saya. Hal luar biasa justru memang selalu from zero to hero, bukan?

Nyatanya, setiap orang memang berubah. Eh, salah. Sejatinya bukan kita yang berubah. Keadaan yang memaksa setiap pandangan hidup berganti arah. Bukan saja orang-orangnya yang berubah. Melainkan cara pandang kita kepada orang-yang-dianggap-berubah-itu yang berganti.

Mungkin, waktu memang memaksa kita terus berubah. Dari sekian banyak cara mengejar waktu, berubah adalah salah satu cara belajar sesuatu. Everything about life.

People change. *Asalkan tak berubah jadi Power Ranger. Saya lebih suka jadi Kotaro Minami yang bertrnsformasi sebagai Satria Baja Hitam.

***

Lagi, saya lama lupa pulang kemari: "rumah" kesayangan. Jadinya, dinding agak kelihatan kusam. Butuh dipermak.

Kenapa? Bukan apa-apa, kok. Saya bosan menjadikan kesibukan sebagai "kambing hitam" segala hal yang agak meleset belakangan ini. Dasarnya, memang manusia kerap kali dipeluk rasa malas. Dan, saya sempat seolah dibekap dan dibuatnya tak bernapas.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar