Senin, 09 Mei 2016

Bukti Ranieri

Pertandingan Leicester vs Everton tadi malam sendiri dimulai dengan tidak biasa. Sebelum laga digelar, Manajer Leicester, Claudio Ranieri, terlihat menggandeng salah seorang penyanyi tenor legendaris asal Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan akan menyumbangkan lagu.

Bocelli sendiri memasuki lapangan dengan menggandengkan tangannya ke Ranieri. Riuhnya penonton yang hadir di King Power pun menyambut masuknya Bocelli ke lapangan. Keriuhan ini bahkan sampai membuat Ranieri meminta penonton untuk sedikit diam karena ia akan memperkenalkan Bocelli kepada suporter Leicester.

Arahan Ranieri untuk menyuruh diam akhirnya didengarkan suporter Leicester. Suasana stadion yang dibuka pada 2002 ini pun sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih khidmat. Kekhidmatan bahkan semakin terasa kala lagu Nessun Dorma yang dibawakan oleh Bocelli memasuki klimaks-nya.

Suasana khidmat yang terbangun di King Power sedikit demi sedikit berubah menjadi keharuan. Kejadian ini dimulai mana kala Ranieri melepas jaket yang dikenakan oleh Bocelli, yang sekaligus memperlihatkan kostum kandang Leicester untuk musim depan yang dipakai oleh Bocelli."


Foto: Reuters

***

Itu hanya sekelumit luapan kebahagiaan tim yang dikomandoi Claudio Ranieri. Sungguh mengharukan. Bahkan, mungkin tak terduga oleh sebagian pecinta sepak bola, bahwa tim papan bawah sekelas Leicester City bisa mengangkat trofi Liga Premiere Inggris.

Entahlah. Saya baru menyelami dunia sepak bola setahun belakangan ini. Masih tergolong "hijau" dalam dunia fanatisme kulit bundar. Klub berjuluk The Foxes itu memang agak asing di telinga saya ketimbang Chelsea, Liverpool, Arsenal, atau Manchester United yang selama ini saya mainkan di ranah games Play Station 3.

Akan tetapi, hanya membaca berita (dan cerita) klub asal Inggris itu, saya dibuatnya terharu. Seolah-olah saya ikut berbangga dengan prestasi pria tua berusia 64 tahun itu. Oke, saya mencoba tak emosional.

Akh, bagaimana mungkin saya tak terharu? Seluruh suporter gempita merayakannya di kota Leicester. Pizza gratis dibagikan dimana-mana. Para suporter dari Italia bahkan ikut hadir di Inggris untuk merayakan kejayaan Ranieri yang berasal dari Italia itu. Beberapa produk makanan ikut merayakan dengan caranya masing-masing (memasang atribut The Foxes maupun pemainnya). Puncaknya, saat penyanyi tenor Antonio Bocelli - yang juga seorang tuna netra - mempersembahkan lagu di kandang Leicester City, usai mereka menundukkan klub Everton King Stadium. Intinya, semua orang berbahagia.

Kebahagiaan sejati memang selalu menular lebih cepat dibanding penyakit paling mematikan sekalipun.

Sungguh. Perjuangan tim itu benar-benar keren. Sang pelatih, Claudio Ranieri, membuktikan perjuangannya tak sia-sia. Meski begitu, ia tetap tampil dengan kesan low profile. Rendah diri. Tak ada kesan sesumbar pada diri pria berusia senja itu. Ranieri juga mematahkan beberapa mitos terkait calon juara Premiere League Inggris. It's a cool (hard) work!

"Hey, man, we are in Champions League! We are in Champions League, man! Dilly-ding, dilly-dong! Come on!" --Claudio Ranieri--
***

Segala usaha yang didasari "zero to hero" memang selalu terlihat keren di mata saya. Bagaimana yang awalnya terlihat biasa-biasa saja, bisa tampil dengan hasil yang teramat luar biasa. Minimal, mampu mendobrak the low(est) expectation. Itu semacam meneriakkan "Surprise!!" kepada semua orang.

Yah, pada dasarnya saya menyenangi kejutan. Secara spesifik, membuat kejutan bagi orang lain. Bukankah menyenangkan melihat mata-mata yang membelalak tak percaya? Bukankah lucu melihat wajah-wajah yang tertegun dengan membuka kedua bibirnya? Pun, sungguhg membahagiakan melihat orang lain berbalik membanggakan kita?

Ranieri cukup beruntung, bekerja menukangi timnya tanpa tekanan dari siapa pun. Terhindar dari degradasi sudah cukup bagus bagi tim papan bawah itu. Orang-orang tak begitu meliriknya. Kritikan atau hujatan cenderung lebih terarah ke klub-klub calon juara. Di akhir tantangan, ia justru melesat mengagumkan.

Saya, mungkin, pernah menjadi seorang Ranieri. Di salah satu lembaga kampus yang membesarkan kami, saya pernah berjuang membesarkan salah satu kanal media. Sejak awal, tak ada ekspektasi terlalu tinggi terhadap bagian pengelolaan online itu. Semua mata tetap terfokus pada stabilitas media cetak, yang memang sudah jadi ujung tombak lembaga kami.

"Zero to hero" benar-benar dimulai dari sini. Saya mencoba keluar dari ekspektasi itu. Dari mata-mata yang hanya melihat sekilas, perlahan berubah jadi mata-mata yang mengamati. Nama yang dulu tidak digaungkan, seolah butuh waktu lebih lama untuk diabadikan. Mungkin, semacam itulah buah perjuangan yang lebih berliku.

Berjuang itu memang selalu melelahkan. Namun, itu jika dilakukan sendirian. Perjuangan, bersama-sama, selalu melahirkan semangat dan tawa baru. Kata orang, susah dan sedih ditanggung bersama-sama, bukan?

Betapa saya takkan pernah terlupa bagaimana kosongnya kami ketika memulai semua pandangan sebelah mata. Namun saya justru bersemangat memperjuangkan hal yang nampak biasa-biasa saja tersebut. Tak ada tekanan berlebihan. Sesuatu yang luar biasa seyogyanya selalu datang dari hal-hal yang dianggap remeh-temeh.

Semangat "ingin-membuktikan" semacam itu yang perlu dijunjung tinggi. Jangan berpasrah diri menjadi "apa adanya" anggapan orang lain. Seharusnya, kita bisa berjuang membuktikan hal-hal yang diragukan orang lain.

Karena sejatinya hidup memang adalah perihal pembuktian, maka buktikan bahwa kitalah Ranieri berikutnya!



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar