Senin, 30 Mei 2016

Takut

Mei 30, 2016
"Kamu tahu, apa musuh terbesar dalam hidupmu?"

"Kebencian?"

"Bukan. Ada hal yang lebih besar dari itu dan justru melahirkan hal-hal yang salah satunya kebencian,"

"Apa itu?"

"Ketakutan-ketakutan yang dikebiri dalam labirin otakmu"

***

Sejenak lalu, saya menjumpai ketakutan-ketakutan itu...

Dentum bass memekakkan telinga. Mata mencari cahaya dalam keremangan. Suara tawa terkadang berganti dengan desahan. Berbotol-botol minuman yang beralkohol dihadapkan pada gelas yang lebih banyak menyisakan aroma rokok.

Dalam keremangan, gadis-gadis tak tahu caranya berpakaian seluruh badan. Gelora birahi seolah tak ingin bertuan. Melonjak coba mempengaruhi iman.

"Ayo dong, Mam. Minum segelas saja," seorang teman menyodori saya minuman bir. Sembari tertawa bersama teman-teman lainnya. Padahal ia tidak sedang mabuk. Belakangan saya baru tahu ketahanannya dengan minuman keras memang sungguh pantas diadu.

Saya menolak halus. "Duh, dokter melarang saya. Tidak boleh minum begituan katanya." Di hadapan kami, di atas meja berbentuk lingkaran, sudah tersedia teko tiga liter minuman kuning berbusa.

Saya sedang berada di tempat hiburan malam; diskotik!

Zona Cafe. (Imam Rahmanto)

Tiga hari kemarin, saya dihadapkan dengan peliputan yang terasa begitu asing. Sejujurnya, bukan hal yang asing bagi saya mengerjakan tugas liputan untuk desk entertainment itu. Bertemu artis dan mewawancarainya adalah hal biasa. Di kasta pembagian liputan, rubrik artis dan konco-konconya justru menjadi yang paling mudah. Kenapa tidak? Hal sesederhana "suka-makan-coto-Makassar" saja bisa jadi bahan berita. Yang namanya artis, mereka sudah punya nilai berita dari unsur ketokohannya.

Hanya saja, tugas itu menjadi berbeda ketika harus dilakoni pada waktu larut malam. Pemilihan waktu yang sebenarnya ingin saya redam dengan tidur di pelukan buku-buku. Ditambah, nuansanya tak lagi semacam konser artis di lapangan terbuka. If you know what I mean, saya terpaksa harus mencicipi dunia malam para DJ dan sosialita untuk pertama kalinya.

"Lah, kamu kan wartawan sport?" tanya seorang teman.

Saya membenarkannya. Akan tetapi, di satu sisi, masing-masing wartawan harus dibekali dengan kemampuan serba bisa". Tentu saja, itu alasan lain di luar karena "tugas dan perintah".

"Besok malam, kamu saja yang liput, ya?" pinta salah seorang redaktur. Tak elok rasanya jika harus menolak penugasan hanya karena perasaan risih. Bisa-bisa penilaian sebagai wartawan militan kian jauh.

Gemerlap dunia malam yang pertama saya temui di Zona Cafe Makassar. Lokasinya sudah sering saya lalui jika ingin bersantai ke Benteng Fort Rotterdam Makassar. Sayangnya, sekelebatan mata saja yang melihat tempat hiburan orang dewasa itu. Betapa eksotik dan remang-remang dunia malam disana yang seharusnya jadi waktu tidur.

Kata teman, sesama wartawan (tetapi lebih berpengalaman di diskotik), tempat clubbing disana memang termasuk tempat paling ramai. Itu lantaran harganya yang menyasar ekonomi menengah. "Lokasinya juga strategis, berdiri sendiri di pinggir jalanan," imbuhnya.

Saya agak was-was memasuki dunia malam semacam itu. Risih juga melihat semua jenis manusia bertebaran disana. Kalau pernah melihat diskotik di film-film, maka suasananya tak jauh beda. Beruntung, ada teman-teman lain yang sudah berpengalaman. Saya sisa mengikuti saja seperlunya.

Baru-baru ini, saya dipertemukan lagi dengan dunia malam semacam itu. Lokasinya di salah satu hotel berbintang lima. Timing-nya bertepatan dengan nonton bareng final Liga Champion. Tidak grogi lagi kok. Sudah terbiasa. Hahahaha....

Retro's Club. (Imam Rahmanto)

***

Takut adalah hal paling manusiawi. Akal terlalu banyak mengolah dampak ketakutan yang bahkan belum tentu akan terjadi, meski hanya untuk proteksi diri.

Seperti halnya Ultron, dalam film Avenger. Ia salah mempersepsikan kecerdasannya mencari solusi untuk kejahatan. Alih-alih membasminya, ia justru ingin menghancurkan umat manusia agar tak ada lagi akar kejahatan. Robot cerdas buatan Tony Stark (Iron Man) ini terlalu "takut" akan masa depan yang sebenarnya belum tentu bakal terjadi. Over protective.

Meski tujuannya baik, ketakutan terkadang menjadi pangkal hal buruk yang cenderung kita alami. Kebencian. Kecemburuan. Apatis. Kemarahan. Kebengisan. Pelit.

Kita takut kehilangan, maka kita menjadi egois. Takut disakiti, maka kita lebih dahulu menyakiti. Takut kekurangan, orang-orang menjadi pelit. Takut bertanggung jawab, maka kita lari dari kenyataan. Takut mencoba hal-hal baru, kita cenderung bersikap apatis. Takut gagal, kita menghalalkan segala cara. Takut dosa, itu baru wajar.

Pun saya, takut terjerumus hal-hal buruk dari tempat yang selalu dianggap ladang kemaksiatan. Toh, kenyataannya, tak ada hal yang menyamai ketakutan di kepala. Saya justru menikmati itu sebagai sebuah pengalaman baru. Meskipun beberapa teman yang hanya melihat sekilas gambar di timeline mulai membangun persepsi seadanya.

Otak memang butuh selalu disegarkan dengan hal-hal baru.


--Imam Rahmanto--

Senin, 23 Mei 2016

Pertama dan Rindu

Mei 23, 2016
Rindu momen damai-damai-sejuk-riang seperti ini.
(Imam Rahmanto)

"Bagaimana hari pertamamu?"

Rasa-rasanya, saya sudah punya anak yang masuk sekolah. Berseragam putih merah. Hari pertama, tentu selalu jadi pengalaman istimewa yang tak boleh dilewatkan. Sejatinya, kesan pertama (terhadap apapun atau siapapun) selalu menjadi kunci, apakah ingin melanjutkan atau berhenti sesegera mungkin.

Padahal, kenyataannya, tanya itu terlontar untuk adik saya. Ia sementara mengikuti salah satu program bimbingan belajar di kota Makassar. Itu hari pertamanya, lewat sehari ia menginjakkan kaki di kotanya suguhan coto ini. Ia sedang menyiapkan diri untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi.

"Begitulah," jawaban yang singkat, padat, dan sebenarnya retoris. Adik saya memang tak tahu cara bercerita yang baik. Teramat berbeda dengan kakaknya yang terkesan cerewet dan masih suka kekanak-kananakan. #tepokjidat

Akan tetapi, di saat berhadapan dengan adik sendiri, ada paksaan untuk bersikap lebih dewasa. Tersadar sebagai peran anak sulung dalam keluarga. Kalau bukan saya, siapa lagi yang akan berperan sebagai "ayah kedua" baginya, yang juga baru menyelami dunia-jauh-dari-orangtua ini?

Tetiba pikiran saya menjurus lebih serius.

Rentang sebulan, adik perempuan saya akan menjalani studi di Makassar. Ia bakal berdampingan dengan rutinitas kakaknya yang saban hari bekerja mengepul berita. Oiya, sebagai kakak yang baik, saya juga semestinya mulai belajar meluangkan waktu untuknya. Minimal, antar-jemput ke lokasi bimbingan atau menunjukkan wajah eksotis kota ini.

Teringat bagaimana saya pertama kalinya menjejakkan kaki di ibukota provinsi ini. Semuanya terasa asing dan berwajah baru. Teman-teman masa sekolah berpencar dengan tujuan studi yang beraneka ragam. Persiapannya pun bertingkat, dari yang ikut bimbingan kelas bawah hingga terkarantina bimbingan kelas atas. Saya? Hanya bimbingan seadanya dengan jadwal begadang dan tahajjud yang ditambah setiap malamnya. Kalau sudah menghadapi perkara sulit, entah kenapa, barulah kita serius berdoa pada Tuhan.

Pengalaman pertama di Makassar selalu begitu istimewa. Bahkan jalan raya yang dikepung gedung-gedung tinggi membuat saya selalu memfokuskan pandangan. Minimarket yang tersebar di jalan-jalan sempit juga tak henti membuat saya berdecak kagum. Apalagi pusat perbelanjaan lebih besar, seperi mal yang dipenuhi eskalator.  Berkunjung kesana selalu menjadi ritual "cuci mata" mewah bagi anak-anak kampung sekelas kami. Semuanya terasa begitu "wow" di awal perjumpaan.

Sayangnya, hal mewah itu selalu berdampingan dengan keterasingan jauh dari orang tua. Rindu memang selalu bermula dari perpisahan. Berbanding lurus dengan jarak yang terukur oleh waktu. Semakin jauh, hati kadang kian rapuh. Benar kata Pidi Baiq, rindu itu (selalu) terlalu berat.

"Nah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan, jangan rindu,"                      
"Kenapa?" kutanya.                                                                                                          
"Berat," jawab Dilan. "Kau gak akan kuat. Biar aku saja." ---Dilan, Pidi Baiq--

Seorang anak sulung lelaki, tentu bisa tegar menahan gelombang rindu. Pun saya, karena jiwa petualang yang sejak kecil melekat cukup baik. Anak lelaki justru ingin selalu mencoba dunia baru. Jika memungkinkan, mencipta dunia baru. Menjelajahi banyak tempat. Sama seperti kala si Sulung baru menjadi anak satu-satunya yang dilahirkan oleh bapak dan ibu. Sebelum adik-adiknya mulai berbagi kasih sayang dalam keluarga.

Bagi anak perempuan, rindu itu terkadang terlalu cepat mengusik. Ia rutin menusuk-nusuk ulu hati. Kalau tak kuat, suara halus orang tua di ujung telepon bisa jadi keran air mata yang tumpah sedikit-sedikit. Meski hanya sekadar menyapa, "Bagaimana kabarmu?"

Dan pagi ini, usai mengantarkan satu anak perempuan itu ke lokasi bimbelnya, saya menjumpai sebuah pesan singkat di timeline pribadi BBMnya, "I miss you papa mama," dengan emoticon bercucur air mata.


--Imam Rahmanto--



PS: Mungkin, pekan depan saya butuh membawanya berpiknik ke bioskop berhadapan dengan para Angry Birds.

Senin, 16 Mei 2016

Tekanan

Mei 16, 2016
"Jadi, kamu lebih mementingkan temanmu ketimbang keluargamu?"

Saya benci jika bapak sudah membawa-bawa keluarga dalam percakapannya. Kenyataan bahwa saya tak begitu erat dengan keluarga (terkhusus dirinya) selalu jadi belati yang siap ditusukkan kapan saja. Telinga saya serasa mampet. Tanpa menjauhkan telepon, saya hanya bisa mengernyit jengah dan mendesah pelan. Padahal bapak hanya terbiasa mendengarkan setengah alasan anak sulungnya.

Sejatinya, suara bapak yang menuntut itu serupa tekanan tak kasat mata. Akh, sebenar-benar tekanan memang selalu hanya bisa dirasakan lewat hati. Di balik perintah atau permintaannya, ia selalu menyelipkan sesuatu yang "terselubung". Tahukah apa? Semacam ujian bagi anaknya yang pernah membelot di masa silam.

Atmosfer perasaan saya tetiba berubah jika bapak sudah berbicara keluarga dan segala sesuatunya. Begitu beratnya semua hal itu di kepala. Seolah-olah, saya hendak lari saja dan menghilang, simsalabim, wushh! Namun... paraplegia bapak selalu menjadi pengikat saya agar tetap bertahan atas segala tekanan itu.

Tekanan. Dalam pekerjaan yang saya jalani pun tak lepas dari berbagai macam tekanan. Di internal kantor, kami selalu dicekoki dengan tekanan dari atas. Harus begini, harus begitu. Belum habis lelah terkulai, tugas sudah menyambut.

Desk liputan saya masih jauh lebih "aman". Teramat berbeda dengan anak-anak kriminal yang saban malam berhadapan dengan kepolisian. Sweeping. Penggrebekan. Begadang. Sampai-sampai saya merasa iba melihat salah seorang teman yang kini nampak kelihatan stress bekerja di bagian liputan kriminal.

Pernah suatu kali saya mendapati matanya yang tak lagi segarang biasanya. Memerah. Saking bergerilya di malam hari. Kepalanya terkulai di atas meja ruang tamu kantor. Sapaan (sebenarnya ledekan) "Hai!" dari saya tak lagi dihiraukannya. Padahal, sebelum diputar ke bagian kriminal, teman perempuan itu bekerja di desk olahraga.

Desk kriminal nampaknya punya rekam jejak yang agak ngeri. Saya mengakuinya. Semenjak berstatus wartawan, sudah tiga orang teman yang memilih buang handuk di desk "kelelawar" itu. Entah apa penyebabnya. Saya hanya menduga-duga, tekanan dan tuntutan liputan di dunia kriminal jauh lebih sadis dan tak pernah pandang bulu.

"Jadi, kamu belum tahu kalau dia sudah angkat bendera putih?"

Saya nampaknya sedang terkurung di dunia olahraga tanpa tahu informasi semacam itu. Mulai menyamankan diri. Ternyata, saya lagi-lagi menyadari, yang namanya "cinta" bisa dipaksa agar terbiasa.

Sejauh ini, saya belum merasa banyak tertekan dengan pekerjaan sebagai jurnalis. Mungkin sekadar "tertekan" karena kurang waktu libur, okelah. Itu saja. Yah, sebagaimana saya rindu bisa kesana kemari tanpa pikiran "deadline" menggantung di ubun-ubun kepala. Sekadar menikmati detail-detail setiap momen sederhana. Semisal, pagi dan senja.

Bukankah pekerjaan jurnalistik memang berasal dari kata "press" yang artinya "tekanan" ya? Semakin di-pressing, nampaknya bakal semakin menjiwai dunia jurnalistik. Alih-alih jadi gepeng seperti makanan khas masyarakat kota Makassar, Peppe'. *jadi lapar

Meski pernah diskorsing seminggu, saya tetap membangun tekad baru. Padahal, sejujurnya saya pernah dihadapkan pada dua pilihan untuk mundur atau tetap melangkah. Telinga sudah begitu kebal dengan ledekan-ledekan orang kantor saat menjalani skorsing itu. Mata sudah begitu bebal dengan tatapan cemburu dari orang lain. Katanya, cemburu hanya bagi orang-orang yang tak percaya diri.

Yah, saya sudah terbiasa dengan tekanan. Jauh sebelum menyandang toga, saya kadung paham bagaimana menjengkelkannya dituntut target terlalu banyak. Itu di organisasi kampus, yang tak punya tujuan komersial apa-apa. Kalau senior sudah bicara, tekanan berlipat akan berbanding lurus dengan tingkat kegarangan (atau ketuaan) senior. Akan tetapi, selalu ada teman yang saling menopang.

Tekanan, apapun bentuknya, tak semestinya membuat kita ciut. Semakin banyak belajar, semakin paham bagaimana menahan ego. Justru, tekanan di luar ekspektasi bisa menjadi jalan untuk melampaui keterbatasan diri. Out of the limit. Percaya saja, selama mampu bertahan lebih lama, menebalkan kulit serupa badak, menutup mata, mengatupkan telinga, segalanya bisa berlalu bagai badai dalam lagu Chrisye.

(Sumber: googling)

"Jika kamu hanya mengerjakan apa yang kamu bisa, kamu takkan pernah lebih baik," --Shifu, Kungfu Panda

Bukankah menjadi lebih baik, sudah sewajarnya dicapai setiap manusia?


--Imam Rahmanto--

Senin, 09 Mei 2016

Bukti Ranieri

Mei 09, 2016
Pertandingan Leicester vs Everton tadi malam sendiri dimulai dengan tidak biasa. Sebelum laga digelar, Manajer Leicester, Claudio Ranieri, terlihat menggandeng salah seorang penyanyi tenor legendaris asal Italia, Andrea Bocelli, yang dijadwalkan akan menyumbangkan lagu.

Bocelli sendiri memasuki lapangan dengan menggandengkan tangannya ke Ranieri. Riuhnya penonton yang hadir di King Power pun menyambut masuknya Bocelli ke lapangan. Keriuhan ini bahkan sampai membuat Ranieri meminta penonton untuk sedikit diam karena ia akan memperkenalkan Bocelli kepada suporter Leicester.

Arahan Ranieri untuk menyuruh diam akhirnya didengarkan suporter Leicester. Suasana stadion yang dibuka pada 2002 ini pun sedikit demi sedikit berubah menjadi lebih khidmat. Kekhidmatan bahkan semakin terasa kala lagu Nessun Dorma yang dibawakan oleh Bocelli memasuki klimaks-nya.

Suasana khidmat yang terbangun di King Power sedikit demi sedikit berubah menjadi keharuan. Kejadian ini dimulai mana kala Ranieri melepas jaket yang dikenakan oleh Bocelli, yang sekaligus memperlihatkan kostum kandang Leicester untuk musim depan yang dipakai oleh Bocelli."


Foto: Reuters

***

Itu hanya sekelumit luapan kebahagiaan tim yang dikomandoi Claudio Ranieri. Sungguh mengharukan. Bahkan, mungkin tak terduga oleh sebagian pecinta sepak bola, bahwa tim papan bawah sekelas Leicester City bisa mengangkat trofi Liga Premiere Inggris.

Entahlah. Saya baru menyelami dunia sepak bola setahun belakangan ini. Masih tergolong "hijau" dalam dunia fanatisme kulit bundar. Klub berjuluk The Foxes itu memang agak asing di telinga saya ketimbang Chelsea, Liverpool, Arsenal, atau Manchester United yang selama ini saya mainkan di ranah games Play Station 3.

Akan tetapi, hanya membaca berita (dan cerita) klub asal Inggris itu, saya dibuatnya terharu. Seolah-olah saya ikut berbangga dengan prestasi pria tua berusia 64 tahun itu. Oke, saya mencoba tak emosional.

Akh, bagaimana mungkin saya tak terharu? Seluruh suporter gempita merayakannya di kota Leicester. Pizza gratis dibagikan dimana-mana. Para suporter dari Italia bahkan ikut hadir di Inggris untuk merayakan kejayaan Ranieri yang berasal dari Italia itu. Beberapa produk makanan ikut merayakan dengan caranya masing-masing (memasang atribut The Foxes maupun pemainnya). Puncaknya, saat penyanyi tenor Antonio Bocelli - yang juga seorang tuna netra - mempersembahkan lagu di kandang Leicester City, usai mereka menundukkan klub Everton King Stadium. Intinya, semua orang berbahagia.

Kebahagiaan sejati memang selalu menular lebih cepat dibanding penyakit paling mematikan sekalipun.

Sungguh. Perjuangan tim itu benar-benar keren. Sang pelatih, Claudio Ranieri, membuktikan perjuangannya tak sia-sia. Meski begitu, ia tetap tampil dengan kesan low profile. Rendah diri. Tak ada kesan sesumbar pada diri pria berusia senja itu. Ranieri juga mematahkan beberapa mitos terkait calon juara Premiere League Inggris. It's a cool (hard) work!

"Hey, man, we are in Champions League! We are in Champions League, man! Dilly-ding, dilly-dong! Come on!" --Claudio Ranieri--
***

Segala usaha yang didasari "zero to hero" memang selalu terlihat keren di mata saya. Bagaimana yang awalnya terlihat biasa-biasa saja, bisa tampil dengan hasil yang teramat luar biasa. Minimal, mampu mendobrak the low(est) expectation. Itu semacam meneriakkan "Surprise!!" kepada semua orang.

Yah, pada dasarnya saya menyenangi kejutan. Secara spesifik, membuat kejutan bagi orang lain. Bukankah menyenangkan melihat mata-mata yang membelalak tak percaya? Bukankah lucu melihat wajah-wajah yang tertegun dengan membuka kedua bibirnya? Pun, sungguhg membahagiakan melihat orang lain berbalik membanggakan kita?

Ranieri cukup beruntung, bekerja menukangi timnya tanpa tekanan dari siapa pun. Terhindar dari degradasi sudah cukup bagus bagi tim papan bawah itu. Orang-orang tak begitu meliriknya. Kritikan atau hujatan cenderung lebih terarah ke klub-klub calon juara. Di akhir tantangan, ia justru melesat mengagumkan.

Saya, mungkin, pernah menjadi seorang Ranieri. Di salah satu lembaga kampus yang membesarkan kami, saya pernah berjuang membesarkan salah satu kanal media. Sejak awal, tak ada ekspektasi terlalu tinggi terhadap bagian pengelolaan online itu. Semua mata tetap terfokus pada stabilitas media cetak, yang memang sudah jadi ujung tombak lembaga kami.

"Zero to hero" benar-benar dimulai dari sini. Saya mencoba keluar dari ekspektasi itu. Dari mata-mata yang hanya melihat sekilas, perlahan berubah jadi mata-mata yang mengamati. Nama yang dulu tidak digaungkan, seolah butuh waktu lebih lama untuk diabadikan. Mungkin, semacam itulah buah perjuangan yang lebih berliku.

Berjuang itu memang selalu melelahkan. Namun, itu jika dilakukan sendirian. Perjuangan, bersama-sama, selalu melahirkan semangat dan tawa baru. Kata orang, susah dan sedih ditanggung bersama-sama, bukan?

Betapa saya takkan pernah terlupa bagaimana kosongnya kami ketika memulai semua pandangan sebelah mata. Namun saya justru bersemangat memperjuangkan hal yang nampak biasa-biasa saja tersebut. Tak ada tekanan berlebihan. Sesuatu yang luar biasa seyogyanya selalu datang dari hal-hal yang dianggap remeh-temeh.

Semangat "ingin-membuktikan" semacam itu yang perlu dijunjung tinggi. Jangan berpasrah diri menjadi "apa adanya" anggapan orang lain. Seharusnya, kita bisa berjuang membuktikan hal-hal yang diragukan orang lain.

Karena sejatinya hidup memang adalah perihal pembuktian, maka buktikan bahwa kitalah Ranieri berikutnya!



--Imam Rahmanto--

Kamis, 05 Mei 2016

Satria Baja Hitam

Mei 05, 2016
Saya menemui wajah-wajah lama di jejaring sosial belakangan ini. Sudah jadi kebiasaan, saban hari mengecek notifikasi atau timeline dari akun-akun di dunia maya. Sudah tak terbilang lagi banyaknya jenis media sosial yang kini tersebar. Sayangnya, saya memilih tetap setia dengan Twitter dan Google+. Sementara untuk akun seperti facebook, Instagram, LINE, BBM, hanya jadi bahan untuk mencari informasi.

Meski sekilas, tak jarang saya mendapati teman lama memposting status atau foto di akun masing-masing. Ada wajah-wajah yang selalu berhasil memanggil ingatan di masa kecil dulu.

Tak ada perbincangan lewat obrolan. Sesekali, saya hanya mengecek kabar yang mereka pamerkan lewat lalu lintas di dunia maya. Zaman teknologi sudah jadi kebutuhan pokok, mencari kabar (atau kepo) tentang seseorang bukan lagi hal yang sulit. Bertanya pada Google jadi alternatif utama. Potret dan gambar selanjutnya, mungkin bisa diulik lewat akun penyedia gambar semisal Instagram.

Masing-masing, tentu sudah tenggelam dengan aktivitas dan kesibukannya. Ada yang bekerja, melanjutkan studi, beranak-pinak, hingga sekadar mencari perhatian.

"Apa kabar sekarang? Apa kegiatan?" biasanya sih jadi pertanyaan pamungkas untuk membuka obrolan, sembari mengenang ketololan zaman dulu.

Saya melihat beberapa hal memang sudah banyak berganti. Mulai dari teman-teman yang dulu bergaya dan paras biasa-biasa saja, sudah berubah 180 derajat. Sebagian lagi yang menjadi primadona sekolah, kini justru nampak biasa-biasa saja di mata saya. Hal luar biasa justru memang selalu from zero to hero, bukan?

Nyatanya, setiap orang memang berubah. Eh, salah. Sejatinya bukan kita yang berubah. Keadaan yang memaksa setiap pandangan hidup berganti arah. Bukan saja orang-orangnya yang berubah. Melainkan cara pandang kita kepada orang-yang-dianggap-berubah-itu yang berganti.

Mungkin, waktu memang memaksa kita terus berubah. Dari sekian banyak cara mengejar waktu, berubah adalah salah satu cara belajar sesuatu. Everything about life.

People change. *Asalkan tak berubah jadi Power Ranger. Saya lebih suka jadi Kotaro Minami yang bertrnsformasi sebagai Satria Baja Hitam.

***

Lagi, saya lama lupa pulang kemari: "rumah" kesayangan. Jadinya, dinding agak kelihatan kusam. Butuh dipermak.

Kenapa? Bukan apa-apa, kok. Saya bosan menjadikan kesibukan sebagai "kambing hitam" segala hal yang agak meleset belakangan ini. Dasarnya, memang manusia kerap kali dipeluk rasa malas. Dan, saya sempat seolah dibekap dan dibuatnya tak bernapas.


--Imam Rahmanto--