Selasa, 26 April 2016

Menelusur Akar Mula

Kalau di rumah, saya wajib bangun lebih awal. Masih ada sisa purnama yang menyambut. (ImamR)

 "Belikan dioda dan capit buaya,"

Seminggu belakangan, saya diteror titipan bapak. Dari ujung telepon, ia tak banyak bicara kabar. Mungkin, soal kebutuhan di Makassar, ia sudah paham anaknya tak perlu dirisaukan. Ia sudah mulai legowo dengan buruh tulis yang dilakoni anak pertamanya.

Sebagai anak yang belajar membaik, saya berusaha memenuhi permintaan bapak. Selain obat-obatan, ia kerap menyelipkan beberapa bahan rangkaian elektronika. Kata bapak, ia ingin membuat lampu bertenaga aki untuk mengantisipasi pemadaman listrik bergilir di kampung. Mulailah alat-alat seperti kapasitor, resistor, dioda LED, dan capit buaya jadi barang buruan saya.

Bapak memang lulusan SMK handal. Kreativitasnya memperbaiki barang-barang yang rusak tak perlu diragukan. Ia bahkan sesekali merancang sendiri barang elektronik lainnya. Di rumah, ada banyak rongsokan alat-alat listrik tak terpakai. Bapak terkadang mempretelinya untuk bahan-bahan rakitan baru.

Penyakit paraplegia memaksanya tak bisa kemana-mana. Sehari 24 jam, kerjaannya hanya terbaring. Duduk sesekali tak sampai sejam. Setengah sarafnya, termasuk pergerakan kaki tak bisa difungsikan. Itu sudah tiga tahun lamanya.

Wajar, bapak mencoba mengisi waktu dengan kegiatan semacam itu. Kalau tak begitu, ia lantas membantu mamak membungkus rempeyek yang hendak dijual keesokan harinya. Atau membulat-bulati adonan kue onde-onde. Sisanya, bapak lebih banyak melafalkan dzikir dan doa.

Sebenarnya, saya paham, tuntutan barang hanya selubung menutupi kerinduan pada anak pertamanya. Itu juga menjadi semacam "tes" bagi saya. Apakah masih menjadi anak yang jauh dari keluarga atau bisa diandalkan. Sesungguhnya, bapak terlanjur meragukan anaknya. Tak lagi menaruh banyak percaya. Segala hal tentang anaknya mulai terukur di garis matanya yang tegas. Sedikit saja lalai dari permintaan atau harapannya, siap-siaplah kesalahan anaknya dikunci dalam labirin ingatannya. Terakumulasi. Kelak, jika bertemu dan berbincang tentang hidup, ia siap menumpahkan dan menyorongkannya. Untuk itulah, saya agak malas sekadar pulang ke rumah. Cemoohan bapak kerap setajam belati.

Akan tetapi ada saja yang bisa membuat saya kembali merasai dinginnya udara di pegunungan ini.

"Mau ngapain di kampung?" pertanyaan yang sama diajukan orang yang berbeda. Akan tetapi, jawaban saya yang meluncur hanya untuk, "Menjemput kenangan."

Rutinitas di kota sudah begitu sumpek. Sebenarnya, saya hanya berusaha menggali hal-hal yang bisa mengembalikan semangat saya. Mungkin, rumah salah satunya. Karena dari sanalah pangkal segala pencapaian hidup sekarang ini.

Ketika pulang ke rumah, berarti saya mesti mempersiapkan lebih banyak mental menghadapi bapak. Nasehat hidupnya yang lebih condong mendikte. Caranya mengungkit-ungkit kesalahan sepele. Semua terjabarkan panjang lebar. Beruntung, saya mengerti bagaimana menahan diri. Tak lagi mendebat bapak yang selalu tak mau kalah. Diam mendengarkan, satu-satunya jalan, meski perih sesekali mengiris.

Di samping itu, saya akan selalu menjumpai hal-hal berbeda saat pulang ke rumah. Akh, selalu saja berbeda. Teman-teman yang beranjak dewasa. Satu demi satu mulai membanting tulang. Anak-anak yang dulu masih sibuk melap ingusnya sudah mulai paham merencanakan hidup.

Saat mengurus administrasi di kabupaten, saya bertemu adik teman saya. Ia sudah beranjak "gede" dan sedang menjalani kuliah. Ia ingat betul bagaimana saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di rumahnya semasa kecil. Kalau tak beradu sepak bola winning eleven, saya akan memainkan sendiri adventure game di PS keluarganya.

Anggap saja kunjungan ke daerah domisili keluarga ini sebagai piknik. Meski hanya dua hari, saya cukup menikmati perjalanannya. Di sepanjang lekukan lembah pegunungan Enrekang, saya lebih suka memelankan laju motor. Jika perlu, mampir sebentar barang memperbaiki semangat. Tampilan barisan Gunung Nona cukup memikat untuk sekadar dilewatkan. Tak ada yang mampu bertahan dari godaan Tuhan Maha Indah.


Kelak, berkunjunglah kemari. Kita menikmati minuman hangat sembari bertukar cerita. (ImamR) 

Sebenarnya, pulang jadi barang langka bagi saya. Akan tetapi, waktu pula yang mengantarkan saya untuk berdamai. Untuk mencari yang berbeda, dimulailah dari akarnya: rumah. Saya tak perlu lagi membelot. Karena saya sadar bahwa hidup tak lagi sekadar "aku". Ada keluarga yang diselipkan untuk setiap pertimbangan.

Cukuplah "ceramah" bapak didengarkan sekilas. Tak usah dimasukkan dalam hati. Cara berbakti tak mesti didikte. Setiap orang, yang mendewasa, akan selalu menemukan cara "pulang" yang sebenarnya...

***

Yang terpenting, saya berani menantang ketakutan itu sendiri.Keberanian terbesar diukur dari seberapa besar gumpalan ketakutan yang dibawa pikiran. Kalah atau menang, itu urusan belajar.

Gerimis masih mendera pagi ini. Kata mamak, tiap pagi rinai hujan memang selalu menyapa. "Di Makassar memangnya tidak?" tanya mamak. Kota besar seperti itu malah terlampau panas. Hujan baru akan tiba jika awan hitam sudah menggumpal saking teriknya.

Karena di pegunungan, ini bukan hujan. Melainkan kabut. Saking dinginnya, ia terasa seperti rinai hujan.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar