Selasa, 26 April 2016

Road T(r)ip

April 26, 2016
Gerimis masih turun perlahan. Halus, menampar wajah selama perjalanan. Kaca helm sengaja dibuka selebar-lebarnya. Sepanjang jalan, hijau membentang memanjakan mata. Mungkin, mata saya yang minus bisa disembuhkan lewat pemandangan sepanjang 40-an km.

"Itu kan masih hujan. Memangnya kamu punya mantel?" tanya mamak, yang diikuti isyarat serupa dari bapak.

Gerimis mengguyur sejak pagi. Kata mamak, itu sudah hampir jadi rutinitas di kampung sepanjang pegunungan kala musim hujan. Ditopang ketinggian mencapai 1500 mdpl di atas laut, udara menyublim, menyatu dengan rinai hujan. Jatuh kepagian di Kelurahan Kambiolangi, Enrekang.

"Punya, Mak!" teriak saya dari dalam kamar. Agak pelan dan singkat, karena sebenarnya saya sedang berbohong. Sedikit mengepak pakaian.

Saya tahu, mamak akan cemas jika saya mengatakan tak punya mantel. Apalagi perjalanan saya akan mencapai tujuh jam lamanya. Tergopoh-gopoh ia tentu akan mencarikan mantel buat saya. Lebih ngerinya, bapak pasti akan mengeluarkan sejumlah "ceramah" singkat tentang "Manfaat Memiliki Mantel di Kala Mengendarai Motor." Ditambah, jika mendengar alasan saya yang tak masuk akal: ingin menikmati sensasi dingin kampung halaman. Seperti rindu yang harus dibayar lunas.

Kata-kata singkat itu agak ampuh bagi bapak dan mamak. Hampir tiga jam, hujan juga mulai menipis. Nampaknya, tersisa rinai yang serupa kabut halus. Lagipula, saya memprediksi, hujan hanya berputar pada kabupaten penghasil sayur-mayur dan kopi ini.

(ImamR)
Sensasi seperti inilah yang selalu saya rindukan. Ketimbang mempercepat laju kendaraan, saya memilih bersantai dengan barisan pepohonan hijau. Mata terbuka lebar sepanjang perjalanan. Gerimis sejak pagi sudah menghapus aroma petrichor yang menguap dari aspal.

Di setengah perjalanan berkelak-kelok ke kota Enrekang, selalu dijumpai barisan pegunungan yang dipimpin eksotisme Gunung Nona. Pemandangan itu selalu memikat para pelancong yang hendak menuju Tana Toraja (Tator). Wajar jikalau ada banyak warung makan (kami akrab melabelinya "resting") yang berjejer di tepian lembah Buntu Kabobong.

Sayangnya, objek wisata alam itu masih belum dimaksimalkan pemerintah setempat. Kini, mereka hanya berusaha menggeber proyek Kebun Raya Massenrempulu yang digadang-gadang menyerupai Bogor. Sementara lokasinya pun agak jauh dari pusat kota.

Namun, para pemilik resting juga seharusnya kreatif memanfaatkan persinggahan Gunung Nona itu. Tak sekadar membangun warung makan ala kadarnya. Menu seadanya. Kalau perlu, dibuat kafe yang bisa memanjakan pengunjung lah. Seandainya saya banyak uang, kelak, saya ingin membuat kafe modern yang cukup vintage di kaki bukit itu. Diselingi musik slow dan jazz, ala para wisatawan yang kebanyakan adalah orang kota modern.

Yah, tapi itu hanya imajinasi temporal. Dalam perjalanan ke Makassar, saya tak mampir di salah satu resting. Sehari sebelumnya, saya sudah menepi bersama adik perempuan yang baru saja diantarkan membuat KTP di ibukota kabupaten. Menikmati lekat-lekat pemandangan alam "nona pemalu" dari jarak sekian kilometer.

Kabut mewarnai sepanjang perjalanan. Di pinggiran gunung nan indah itu, bergumpal asap-asap putih, nyaris menutup pucuknya. Seperti kata saya, kabut selalu menjadi hadiah pagi di musim hujan pegunungan. Kabut yang mencair, merupa seolah rinai hujan. Semakin menjauh dari area pegunungan Enrekang, berganti terik tanpa ampun.

Paling tidak, saya sudah merasai dingin pegunungan yang akan selalu dirindukan. Seperti kemarin, saya memang hanya butuh kesegaran dari rutinitas yang menikam kepala.

Gambar dijepret dengan mode panorama. (ImamR)

***

Sadarkah kita, perjalanan justru memberikan kita waktu untuk lebih banyak berpikir dan berbagi cerita?

Ternyata setiap perjalanan memberikan waktu untuk mengobrol. Saya justru punya waktu luang obrolan saat berkendara. Sendirian, saya banyak berpikir dan ber-monolog pada diri sendiri. Berboncengan, saya jadi punya waktu berbincang dengan teman di atas motor. Sepanjang perjalanan, beberapa hal justru menari diobrolkan tanpa tatap muka.

Sebenarnya, itu pun sudah merepresentasikan perjalanan hidup. Selama ini pula kita banyak berpikir dan merencanakan hidup. Kian dewasa, semakin matang mematok tujuan. Mencoretnya. Menambahinya. Mendiskusikannya. Memperbaikinya. Mematok ulang.

Seyogyanya langkah hidup tak perlu berhenti berjalan ke arah tujuan akhir. Lelah boleh, asal tak menyerah. Kalau lelah, kita bisa beristirahat di tempat-tempat yang nyaman hingga tenaga pulih untuk melanjutkan perjalanan. Pun, saya tak jarang berhenti sejenak di SPBU batas kota, meluapkan aroma kopi susu. Ketika rencana telah tersusun dengan matang, perjalanan akan saya lanjutkan kembali.

Mestinya setiap target atau tujuan terpampang jelas di labirin ingatan. Jika tujuan terpampang lebih jelas, kita serupa pengendara motor yang memacu kecepatan hingga titik maksimumnya. Bahkan, tak jarang ingin bersaing dengan pengendara motor cepat lainnya di sepanjang perjalanan. Hingga tak sadar, kecepatan telah berada di atas limit yang selama ini bisa dicapai. Keren lah.

Yah, meski satu-satunya tujuan hidup sejati adalah menghadap kepada Yang Kuasa, bukan?

Akan tetapi, sebagai manusia biasa, seyogyanya kita bisa mematok target hidup setinggi-tingginya. Tujuan yang jelas. Mencari rival hidup agar bisa saling berkejaran. Melampauinya atau tidak, urusan belakangan. Setidaknya bakal membantu kita keluar dari limit kemampuan alam bawah sadar. Seperti Lorenso yang memutuskan hengkang dari Yam**a demi bersaing dengan (mantan) rekan setimnya, Rossi.

***

Terik yang berganti memberikan pemandangan anyar. Padi-padi menguning di kiri-kanan perjalanan lurus Barru-Pangkep. Sekian hektar bersiap dipanen oleh si empunya. Sebagian karung berisi gabah sudah ditumpuk di tepian jalan. Mungkin, itu menjadi penghasilan utama para petani bagi sekolah dan kehidupan anak-cucu mereka... Akh, selalulah bersyukur...


--Imam Rahmanto--

Menelusur Akar Mula

April 26, 2016
Kalau di rumah, saya wajib bangun lebih awal. Masih ada sisa purnama yang menyambut. (ImamR)

 "Belikan dioda dan capit buaya,"

Seminggu belakangan, saya diteror titipan bapak. Dari ujung telepon, ia tak banyak bicara kabar. Mungkin, soal kebutuhan di Makassar, ia sudah paham anaknya tak perlu dirisaukan. Ia sudah mulai legowo dengan buruh tulis yang dilakoni anak pertamanya.

Sebagai anak yang belajar membaik, saya berusaha memenuhi permintaan bapak. Selain obat-obatan, ia kerap menyelipkan beberapa bahan rangkaian elektronika. Kata bapak, ia ingin membuat lampu bertenaga aki untuk mengantisipasi pemadaman listrik bergilir di kampung. Mulailah alat-alat seperti kapasitor, resistor, dioda LED, dan capit buaya jadi barang buruan saya.

Bapak memang lulusan SMK handal. Kreativitasnya memperbaiki barang-barang yang rusak tak perlu diragukan. Ia bahkan sesekali merancang sendiri barang elektronik lainnya. Di rumah, ada banyak rongsokan alat-alat listrik tak terpakai. Bapak terkadang mempretelinya untuk bahan-bahan rakitan baru.

Penyakit paraplegia memaksanya tak bisa kemana-mana. Sehari 24 jam, kerjaannya hanya terbaring. Duduk sesekali tak sampai sejam. Setengah sarafnya, termasuk pergerakan kaki tak bisa difungsikan. Itu sudah tiga tahun lamanya.

Wajar, bapak mencoba mengisi waktu dengan kegiatan semacam itu. Kalau tak begitu, ia lantas membantu mamak membungkus rempeyek yang hendak dijual keesokan harinya. Atau membulat-bulati adonan kue onde-onde. Sisanya, bapak lebih banyak melafalkan dzikir dan doa.

Sebenarnya, saya paham, tuntutan barang hanya selubung menutupi kerinduan pada anak pertamanya. Itu juga menjadi semacam "tes" bagi saya. Apakah masih menjadi anak yang jauh dari keluarga atau bisa diandalkan. Sesungguhnya, bapak terlanjur meragukan anaknya. Tak lagi menaruh banyak percaya. Segala hal tentang anaknya mulai terukur di garis matanya yang tegas. Sedikit saja lalai dari permintaan atau harapannya, siap-siaplah kesalahan anaknya dikunci dalam labirin ingatannya. Terakumulasi. Kelak, jika bertemu dan berbincang tentang hidup, ia siap menumpahkan dan menyorongkannya. Untuk itulah, saya agak malas sekadar pulang ke rumah. Cemoohan bapak kerap setajam belati.

Akan tetapi ada saja yang bisa membuat saya kembali merasai dinginnya udara di pegunungan ini.

"Mau ngapain di kampung?" pertanyaan yang sama diajukan orang yang berbeda. Akan tetapi, jawaban saya yang meluncur hanya untuk, "Menjemput kenangan."

Rutinitas di kota sudah begitu sumpek. Sebenarnya, saya hanya berusaha menggali hal-hal yang bisa mengembalikan semangat saya. Mungkin, rumah salah satunya. Karena dari sanalah pangkal segala pencapaian hidup sekarang ini.

Ketika pulang ke rumah, berarti saya mesti mempersiapkan lebih banyak mental menghadapi bapak. Nasehat hidupnya yang lebih condong mendikte. Caranya mengungkit-ungkit kesalahan sepele. Semua terjabarkan panjang lebar. Beruntung, saya mengerti bagaimana menahan diri. Tak lagi mendebat bapak yang selalu tak mau kalah. Diam mendengarkan, satu-satunya jalan, meski perih sesekali mengiris.

Di samping itu, saya akan selalu menjumpai hal-hal berbeda saat pulang ke rumah. Akh, selalu saja berbeda. Teman-teman yang beranjak dewasa. Satu demi satu mulai membanting tulang. Anak-anak yang dulu masih sibuk melap ingusnya sudah mulai paham merencanakan hidup.

Saat mengurus administrasi di kabupaten, saya bertemu adik teman saya. Ia sudah beranjak "gede" dan sedang menjalani kuliah. Ia ingat betul bagaimana saya sering menghabiskan waktu berjam-jam di rumahnya semasa kecil. Kalau tak beradu sepak bola winning eleven, saya akan memainkan sendiri adventure game di PS keluarganya.

Anggap saja kunjungan ke daerah domisili keluarga ini sebagai piknik. Meski hanya dua hari, saya cukup menikmati perjalanannya. Di sepanjang lekukan lembah pegunungan Enrekang, saya lebih suka memelankan laju motor. Jika perlu, mampir sebentar barang memperbaiki semangat. Tampilan barisan Gunung Nona cukup memikat untuk sekadar dilewatkan. Tak ada yang mampu bertahan dari godaan Tuhan Maha Indah.


Kelak, berkunjunglah kemari. Kita menikmati minuman hangat sembari bertukar cerita. (ImamR) 

Sebenarnya, pulang jadi barang langka bagi saya. Akan tetapi, waktu pula yang mengantarkan saya untuk berdamai. Untuk mencari yang berbeda, dimulailah dari akarnya: rumah. Saya tak perlu lagi membelot. Karena saya sadar bahwa hidup tak lagi sekadar "aku". Ada keluarga yang diselipkan untuk setiap pertimbangan.

Cukuplah "ceramah" bapak didengarkan sekilas. Tak usah dimasukkan dalam hati. Cara berbakti tak mesti didikte. Setiap orang, yang mendewasa, akan selalu menemukan cara "pulang" yang sebenarnya...

***

Yang terpenting, saya berani menantang ketakutan itu sendiri.Keberanian terbesar diukur dari seberapa besar gumpalan ketakutan yang dibawa pikiran. Kalah atau menang, itu urusan belajar.

Gerimis masih mendera pagi ini. Kata mamak, tiap pagi rinai hujan memang selalu menyapa. "Di Makassar memangnya tidak?" tanya mamak. Kota besar seperti itu malah terlampau panas. Hujan baru akan tiba jika awan hitam sudah menggumpal saking teriknya.

Karena di pegunungan, ini bukan hujan. Melainkan kabut. Saking dinginnya, ia terasa seperti rinai hujan.


--Imam Rahmanto--

Senin, 18 April 2016

Yang Terberat

April 18, 2016
Yang tersulit bagi saya belakangan ini, bukan perihal melepaskan, atau sekadar melupakan. Melainkan, lebih sulit lagi soal: bangun pagi. Seolah kutukan

"Jadi, tidak shalat Subuh?" tanya seorang teman.

Saya hanya menjawabnya dengan senyum dibuat malu-malu, "Kan, saya ganti saja dengan shalat Dhuha."

Ada ya? Duh, Tuhan, maafkan hamba-Mu ini.

Serius. Saya jadi terbiasa menjalankan salah satu shalat sunat itu gara-gara telat bangun pagi. Hitung-hitung sebagai pengganti rasa bersalah pada Tuhan. Duh, Tuhan, lagi-lagi, maafkan hamba-Mu ini.

Tetapi, kata ustadz, itu bisa semakin melapangkan pintu rezeki. Dan benar, saya merasa "lapang" beberapa minggu ini. Hahaha....

Padahal, sebagai "pecinta pagi", dulu saya keranjingan bangun di awal waktu. Setiap hari berusaha menyambut secercah sinar yang masih menghangat. Kapan lagi bisa merasakan udara paling sejuk di tengah kota metropolusi selain pagi hari?

Kalau sepeda teman nganggur, saya tak perlu repot-repot berjalan di sepanjang jalan penuh debu. Saya mengayuh sepeda ke pinggiran tanggul sungai Jeneberang yang berdekatan dengan situs sejarah Benteng Sombaopu. Kalau beruntung, saya bisa berbagi senyum dengan bapak atau ibu tua yang sedang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah.

Entah, apa yang membuat saya setahun belakangan ini agak runyam bangun pagi. Hampir setiap hari, lelah seolah terasa menggunung. Biar tidur sudah di awal waktu, bangunnya pasti akan lewat dari waktu Subuh. Terkadang, jam delapan atau bahkan terdorong hingga sejam lagi. Seolah-olah, ada lelah yang mesti dibayar lunas.

Alarm yang dibuat berlapis-lapis di handphone tak mampu menembus telinga. Bahkan, saya sengaja menyetel salah satu aplikasi alarm khusus di smartphone untuk membangunkan dengan cara berbeda. Dibuat berlapis-lapis, cara mematikannya pun berbeda. Mulai dari sekadar menggeser tangan, menggoyangkan (shake) smartphone, hingga soal operasi Matematika bertingkat. Sayangnya, setelah alarm padam, sayup-sayup kantuk kembali melanda.

Beberapa bulan lalu, saya cukup terbantu dengan "alarm" hidup yang tak henti membangunkan tiap pagi. Selain benar-benar hidup, saya dipaksa untuk tetap terjaga untuk mendengar suaranya saban pagi. Oiya, tapi itu sudah berlalu. Mungkin, terlalu sering, jadi bosan. Beberapa orang memang masih belum siap konsisten dengan pilihannya masing-masing

Tetapi, siapa yang tak lelah sih jika bekerja tanpa hari libur. Semenjak setahun saya bergabung dengan media sekarang, belum ada waktu libur yang dijatah bagi saya dan teman-teman seangkatan. Tiada hari tanpa bertugas di lapangan. Satu-satunya hiburan bagi saya adalah momen bertolak ke luar kota. Hiburan lainnya: ketika saya mencoba bandel mencuri waktu.

Pertanyaan, "Kapan ada waktumu?" terasa seperti ujian yang punya banyak pilihan jawaban. Saya bingung menjawabnya. Mau bagaimana lagi, jadwal tak terstruktur sebagai wartawan "baru" juga memaksa saya bergerak dalam keadaan dadakan. Ketika tiba pertanyaan soal waktu luang, saya harus menggali-gali isi kepala, "Memangnya saya punya waktu luang ya?" #tariknapas

Setiap kali teman-teman hendak bertemu, berkumpul, atau sekadar meluapkan kenangan, saya selalu tak sadar kehilangan waktu. Beberapa tagihan "traktir" yang dialamatkan ke saya juga mulai mengapung-apung di dalam kepala. Tertimbun oleh jadwal liputan yang masih belum mengenal kasta "libur". Satu-satunya momen ngumpul yang sering saya lakukan adalah di kafe-kafe terdekat selepas pekerjaan di kantor.

"Mungkin, kamu butuh piknik?"

Beberapa hari lalu, teman-teman sekelas (kuliah) saya mengagendakan piknik ke salah satu tempat di Gowa, Parigi. Katanya, dekat bendungan. Tetapi, lagi-lagi jadwal saya yang belum mengenal kata libur mengenyahkan ajakan merasakan sensasi alam itu. Yah, terkutuklah saya dengan jadwal tanpa libur.

Iya, saya benar-benar butuh liburan. Bukan sekadar piknik. Rehat sejenak. Sekadar menjauh dari rutinitas berkeliling kota. Sekali-kali menatap langit tanpa gemerlap cahaya perkotaan. Cukup kerlap-kerlip bintang yang menjadi penerangannya.

Tapi, pertanyaan lanjutannya, "Kapan?" Hanya Tuhan (dan pimpinan) yang tahu. #fiuhh


--Imam Rahmanto--

Rabu, 13 April 2016

Menepi

April 13, 2016
Rasa-rasa mau jadi anak SD lagi sih. (ImamR)

"Kalau mau cerita-cerita ala sinetron sih, ya... kekasih saya meninggal dalam tragedi itu."

Seorang lelaki yang pernah merasakan bagaimana Tsunami di Aceh sedang bercerita di hadapan saya. Di kiri-kanan meja, ada teman lainnya. Seorang lelaki gondrong dari media yang saya mengenalnya saat bertugas di desk pemprov, Wawan. Di hadapannya, perempuan magang yang baru beberapa hari menjalani tugasnya di media yang sama dengan saya. Khusus beberapa hari ini, ia diwajibkan redaktur mengekor pada saya.

Kami berempat. Merapat di meja persegi. Sedang menunggu hujan mereda agar bisa kembali ke kantor. Sejak sore, hujan tak henti menetes ke bumi. Tak ingin menyisakan ruang bagi perjalanan kami. Namun justru membagi ruang lainnya agar kami saling mengenal satu sama lain.

Saya menyesap sedikit kopi-susu Dottoro yang baru saja menguarkan aroma kehangatannya.

Diantara sekian tempat di Indonesia, saya penasaran dengan Aceh, termasuk Museum Acehnya. Salah satu kota yang pernah disapu Tsunami. Kota yang nyaris melepaskan diri dari negara Indonesia. Kisah-kisah dimana penegakan syariat Islam masih teramat ketat.

Lelaki itu, Zulfikar, berasal dari Aceh. Namun sudah beberapa tahun bekerja di salah satu media olahraga Jakarta. Ia bahkan beristrikan Mojang Bandung. Bertolak ke Makassar untuk menunaikan kewajiban meliput audisi bulutangkis salah satu brand rokok kenamaan. Bertemu dengan wartawan lainnya. Menjalin cerita.

***

Beberapa waktu lalu, saya mesti bolak-balik ke Sudiang/ Daya. Tiga hari. Sebenarnya, sudah sebulan belakangan saya merasa berjodoh dengan salah satu spot pinggiran kota Makassar ini. Yakalee kalau berjodoh dengan perempuan-perempuan manis. Kalau bukan di Sudiang, saya "terdampar" di Daya.

Liputan terakhir, saya mesti mengawal sebuah event audisi atlet bulutangkis itu. Liputan wajib. Jadi, saban hari, berita mengenai salah satu cabang olahraga ini harus dibuat dan dimuat di media cetak tempat saya bekerja.

"Disini termasuk pinggiran kota sih sebenarnya. Jadi agak susah nyari spot wisata buat jalan-jalan," jelas saya.

Beberapa jam jelang maghrib di penghujung kota, saya berkenalan dengannya dan seorang perempuan lain dari media naisonal. Kami saling menyebut nama usai menyelesaikan naskah deadline masing-masing.

"Agak jauh ya?" tanya Bang Fikar. Tentu, itu sudah mewakili harapan kedua pendatang baru di kota Makassar itu.

Saya tahu rasanya bagaimana "terlantar" di kota orang tanpa guide ataupun modal pengalaman pertama. Bagaimana perasaan "ingin-jalan-jalan" yang menggunung harus luluh lantak karena tak tahu arah. Bagaimana lokasi yang jauh dari penginapan harus di-blacklist karena tak ada kendaraan. Segalanya serba "mikir" dan harus efisien.

Nah, mungkin Tuhan sengaja menjodohkan saya dengan lokasi super jauh ini. Tak lain, ya, demi menyalurkan pertolongan bagi kedua "pengembara" malang ini. Haha...

"Oiya, kalau mau jalan-jalan, cari waktu kosong saja. Kita berdua bawa motor, kok. Mungkin bisa bantu sekalian kalian keliling Makassar," usul saya, sembari menghindari tatapan dari teman perempuan di sebelah saya. Ia yang baru beberapa hari ini menjalani magang di kantor tentu agak terkejut mendengar tawaran saya pada dua orang asing itu. Tetapi, apa boleh buat, saya sudah menawarkannya, dan dia tak mungkin menolak secara terang-terangan.

"Wah, serius nih. Makasih. Kalau begitu bagi nomor telepon ya," sambut keduanya. Kami berbagi kontak satu sama lain di hari kedua perjumpaan itu.

Sayangnya, tugas liputan esok hari cukup menyita waktu kami. Kami masih sibuk berjibaku dengan deadline saat adzan maghrib nyaris menggema. Ditambah, ternyata cuaca sedang tak ingin bersahabat. Hujan tak kunjung mereda di sisa maghrib yang ingin kami tumpangi berkeliling kota.

"Bagaimana kalau besok pagi saja, sebelum acara ini selesai. Curi-curi waktu saja, apalagi kita kan maunya nunggu hasil," usul saya di tengah perbincangan kopi menunggui hujan mereda. Sepakat.

Di tengah waktu menanti hujan itu, saya justru menemukan banyak cerita menarik. Seperti biasa, insting Kepo saya tak tertahankan bertanya segala hal tentang Aceh. Tsunami. Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Persepsi. Hingga kesamaan pada hobi menulis di Kompasiana.

"Tentang GAM, orang-orang awam tidak akan mengerti jika hanya mendengar ceritanya dari sisi seberang. Beda rasanya jika kita mendengar langsung bagaimana kisah dari penduduk asli setempat. Tentara malah jadi momok menakutkan disana, dan sebagai 'penjahat'," jelas teman berambut gondrong, yang pernah merasai dua bulan bertugas kemanusiaan pasca Tsunami.

"Iya, memang. Saya justru pernah mau diancam mati oleh orang GAM," jelas teman dari Aceh itu. Akan tetapi, masa mudanya sebagai mahasiswa memang cukup bersahabat dengan para buronan tentara nasional itu. Menuliskan segala perbincangan itu takkan cukup merangkum semua waktu kami.

Waktu kembali berkomplot untuk menggagalkan rencana apik saya keesokan paginya. Berhubung menanti kabar dan telepon dari Bang Fikar, saya masih terbangun manis di kamar kontrakan. "Mungkin dia masih tidur," pikir saya. Maklum, sesama wartawan olahraga biasanya punya jadwal bangun tidur yang serupa.

Sembari menunggu momen liputan di Daya, saya memutuskan untuk menyeruput kopi-susu di warkop langganan. Beberapa hari menghabiskan waktu di pinggiran Sudiang dan Daya, memantik rasa rindu saya pada aroma kopi yang bersanding dengan stadion Gelora Andi Matalatta. Liputan bisa menunggu.

"Kak, saya disuruh ingatkan, bilang nyusul di Anjungan Losari. Soalnya Kak Fiqar dan Shelby ada disana. Katanya hape ta' tidak aktif waktu dihubungi tadi pagi," sebuah pesan WA masuk.

Pesan itu jadi semacam alarm mendadak buat saya. Entah kenapa saya gelagapan meninggalkan kopi-susu yang masih setengah di atas meja.

"Aduh, kenapa ndak bilang-bilang dari tadi?" gerutu saya lewat pesan balasan. Teman di ujung telepon sana beralasan sedang kuliah. Padahal, sedari pagi saya memang menunggu kabar dari kedua teman ini.

Bergegas, saya menyusul kedua teman yang telah sampai di Losari itu. Tidak butuh waktu lama lantaran jaraknya memang tak seberapa dari lokasi saya di stadion.

Losari. (ImamR)
Keduanya sudah mulai jeprat-jepret beberapa background huruf ukuran jumbo Pantai Losari. Usai meminta maaf, saya menemani mereka mencari spot foto di sekitar Losari dan langsung mengajak ke Benteng Fort Rotterdam, tak jauh dari Losari. Yah, salah satu pilihan paling konservatif mengenai wisata bersejarah di kota Makassar.

Sayangnya, kami tak bisa seharian berada di sana. Baru setengah benteng yang bisa dijelajahi. Bahkan, rada penasaran Shelby tentang Benteng Sombaopu tak bisa terpuaskan. Lokasi yang jauh dan waktu mepet memaksa kami berwisata seadanya. Setelah keliling secukupnya, kami mesti kembali ke Daya untuk liputan terakhir agenda bulutangkis, closing ceremony.

Gantian. (ImamR)

***

Saya masih terbata-bata menemani kedua teman itu menjelajah Makassar. Di satu sisi, tugas liputan masih membayangi. Di sisi lain, saya ingin bersantai sejenak, meluangkan sedikit waktu bagi orang-orang dengan waktu terbatas di kota ini. Mereka yang baru pertama kali ke kota ini, tentu ingin merasai setiap jengkal hal-hal baru yang tak ditemukan di kotanya. Saya cukup tahu rasanya.

Setidaknya, saya sudah berusaha jadi guide "gadungan" bagi kedua pendatang itu. Membalas kebaikan tak perlu langsung kepada orang yang pernah berbuat baik pada kita. Seperti saya, yang pernah ditolong berkeliling kota Bandung oleh seorang teman disana, maka saya pun harus membalasnya, meski kepada orang yang berbeda. Karena kebaikan itu tak selalu melulu dibalas kepada orang yang sama. Ia bercabang-cabang. Agar tumbuh dimana-mana, perlu ditanam banyak-banyak.

Lagipula, dari secuil perjalanan itu pula, saya tersadar bahwa pemahaman sejarah saya ternyata masih sangat-teramat-kurang mendalam. Ya ampun, saya masih butuh banyak membaca sejarah kota sendiri. Agar kelak saya bisa secerewet mungkin menjelaskan detail sejarah beberapa peninggalan kuno berbau Makassar.

"Itu penjara apa?"

"Alun-alun itu sengaja dibuat menyerupai kura-kura ya?"

"Apa bahan bangunan ini masih asli dari peninggalan zamannya?"

"Ini sudah berapa lama?"

"Kenapa namanya Fort Rotterdam?"

Lain kali, saya mesti banyak membaca sejarah dulu sebelum menemani teman-teman dari luar kota berkeliling Makassar. #tepokjidat

Ini biar saya tak merasa kesepian banget aja. (ImamR)


--Imam Rahmanto--

NB: 
Saya menulis agak ringkas. Butuh waktu berjam-jam untuk menceritakan semuanya. Padahal, saya punya banyak hal yang perlu didekap di "rumah" ini. Tahulah, waktu juga ikut mendekap dan membekap mulut saya.

Selasa, 05 April 2016

Berganti Waktu

April 05, 2016
Matahari tenggelam begitu saja. Pergantian waktu itu tak begitu teratur bagi saya. Seperti tak terdeteksi. Tak secuil momen pun yang bisa dibekukan di kepala. Satu-satunya yang menandai tersisihnya petang hanyalah gema adzan. Tugas di lapangan terlalu sesak memaku wajah agar tak beranjak dari naskah-naskah deadline.

Hah. Nampaknya saya butuh libur. Atau meliburkan diri? Atau berpura-pura sakit? Atau melarikan diri? Napas saya sudah terlalu rawan dihinggapi kepayahan. Agak jengah dengan rutinitas di gelimang panas debu perkotaan.

Terkadang, obrolan di ruang digital jadi pengalih penat. Orang-orang terdekat meningkahi obrolan yang sebenarnya lebih banyak absurdnya. Salah satu alasan mengapa saya begitu absurd dalam obrolan dunia maya karena keseharian nyata sudah terlalu banyak ditingkahi hal-hal serius. Sekali-kali, lupa diri.

"Istirahat lah. Tidak capek seharian liputan?" seorang perempuan manis pernah melontarkan perhatian yang selalu dirindukan itu.

"Capek sih, capek. Cuma langsung hilang kalau sudah melihatmu tersenyum," betul-betul kalimat gombal yang jujur dari lubuk hati yang terdalam. Super serius. Yang dibalas dengan cubitan atau tatapan ke sembarang arah.

Satu, dua, tiga, empat bulan lalu, saya begitu tak sabaran menyelesaikan liputan di waktu senja. Ada senyuman yang menanti di penghujung lelah. Seperti obat yang meluruhkan tiap pilu dan pening di kepala. Seolah membuktikan bahwa cara berbahagia itu memang sederhana.

Setiap harinya, saya selalu mendamba sisa waktu itu. Merangkum segudang tugas di awal waktu, demi menyingkir dari kebisingan kota lebih cepat. Di tepian kerindangan kota, saya terbiasa menghabiskan waktu sejam atau dua jam dengannya jelang berlalu ke kantor. Setiap hari, saya juga nyaris merencanakan segudang lokasi yang bisa dibekukan demi menerima seulas senyum itu.

Betapa bikin candunya momen semacam itu.

Namun kini, hidup mesti berlanjut dalam fase yang berbeda. Tak perlu ada pilu yang diganjal senyuman. Pun, sakit yang mesti diratapi. Setiap orang memang akan pergi jika sudah memutuskan untuk pergi. Apakah merasa bosan, atau sekadar menganggap segalanya persinggahan sementara. Terkadang saya ingin mengutuk pada perasaan yang seperti angin lalu.

Saya terlalu naif menikmati senja yang begitu temaram. Kiranya, remang-remang jingga itu akan bertahan sepanjang mata saya tak mengedip. Sementara, matahari perlahan mengabur dalam cakrawala yang tak terjangkau. Malam kemudian lekas menyambut. Gelap mengundang lampu kota bercahaya lebih kemilau.

Akh, ya, masih ada rutinitas yang mesti dirampungkan.


--Imam Rahmanto--