Sabtu, 05 Maret 2016

Segel Ingatan

Kekasih saya sedang agak sibuk belakangan ini. Pikirannya kerap melanglang buana dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Saya tak perlu banyak menanggapi. Jikalaupun ia ingin bercerita, saya teramat senang mendengarnya. Saya justru senang perempuan seperti dia yang sungguh cerewet. Karena lelaki memang hanya butuh jadi pendengar yang baik, sembari tersenyum mencuri-curi pandang wajahnya. Seperti halnya; memeluk yang kecewa tanpa perlu bertanya ada apa.

Saya tahu, perihal organisasi tentu agak merepotkannya belakangan ini. Saya pernah mengalaminya. Jauh di momen saya belum menyibukkan diri konsen pada arah kehidupan sekarang.

"Kenapa juga bisa seperti itu? Apa mereka tidak berpikir ya?"

 "Jangan sampai kemalaman, ya. Kalau lelah, ya pulang saja," pesan saya suatu ketika.

Hanya saja, segala kecemasan maupun kejengkelan saya (pada organisasi) seolah-olah menempatkan saya pada orang-orang yang tak pernah bergelut di dunia itu. Memangnya saya tak pernah begadang sampai larut malam hanya untuk membahas persiapan yang remeh-temeh? Memangnya teman-teman perempuan kami tak pernah ditahan selama mungkin dalam rapat-rapat malam itu? Apa saya sudah lupa, bagaimana kami bergumul deadline hingga pagi demi menyiapkan setumpuk laporan kegiatan? Tak peduli, laki-laki atau perempuan. Tak peduli mata sudah sayup-sayup menahan beban di kantung mata.

Semua, sejatinya pernah saya alami. Akan tetapi, semuanya (lagi), sudah tersegel dalam lemari ingatan saya.

Tahukah? Segel-segel ingatan itu terhimpun dalam rasa muak tak dihargai, caci maki tak berujung, ketidakpedulian satu sama lain, kehampaan akademik, hingga kehilangan jati diri keluarga saya di masa silam. Mereka berkerumun menjadi semacam antibodi ingatan, yang memaksa saya melupakan segala hal, usai tak lagi berada di lingkaran itu.

Saya begitu lama menyengaja hening dalam dunia kerja sekarang. Entahlah, saya menyebutnya apa. Kepala saya rasanya hanya ingin dikosongkan saja tentang segala hal yang agak memusingkan itu (sekaligus menjengkelkan), buah dari imajinasi organisasi. Beruntung saya masih penggemar manga dan kartun anime. Pun, pikiran saya kini tak jauh dari akal-akal sederhana, sesimpel mengucapkan sayang. #uhukk

"Kenapa?" tanya seseorang.

Karena saya cuma ingin menyepi dari hiruk-pikuk organisasi. Berkerumun di dalamnya, setiap waktu, serupa sedang menjalani pekerjaan lainnya. Pekerjaan kedua. Saya tak ingin waktu 24 jam dihabiskan hanya untuk memikirkan segala hal tentang pekerjaan. All about job and working. Pulang bekerja, masih harus "bekerja" lagi.

Saya begitu merindukan kedamaian tak-melakukan-apa-apa. Do nothing. Menatap senja tanpa bergumam apa-apa. Merasai hangatnya itu yang disapu batas cakrawala. Membahas segala hal-tak-penting bersama perempuan terkasih. Berjalan-jalan tanpa dibatasi waktu. Tertawa tanpa ada hal yang lucu. Percayalah, di saat kamu terbebas dari kesibukan dunia organisasi, ada endorfin yang ingin segera diluapkan berlama-lama.

#Menghela napas

Mungkin, hal-hal itu jadi kombinasi segel dalam lemari ingatan berlabel "organisasi" saya. Rapat. Terkunci dalam bahan tembus pandang (karena masih terlihat sewaktu-waktu)

Saya benci mengakui, justru, ada yang meronta ingin keluar dari segel itu...

Sudah terlalu lama saya mengheningkan diri. Menyergap senyap selama itu. Ada bagian-bagian yang harus kembali dirangkul dan dipetakan dalam ingatan. Saya mesti bersiap membuka lemari itu, kembali.

Bukankah saya pernah menjadikannya tempat pulang kedua setelah rumah? Keluarga kedua selain bapak-ibu? Di tempat itu pula saya bertemu dengan sahabat-sahabat yang saling menguatkan (meski memuakkan). Jatuh atau dijatuhkan, tetap berdiri sama-sama. Asalkan kita-kita, kata-kata tak berbuah (tajam) apa-apa.

"Kita tidak harus tahu orang lain butuh kita atau tidak, tapi yang terpenting kita ada untuk mereka," --Raditya Dika--

Dan, kemudian...

Apa kabar kalian yang telah lama diabaikan?


--Imam Rahmanto--

____
*Yuk, merampungkan apa yang telah kalian mulai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar