Jumat, 25 Maret 2016

Punclut

Tanpa perlu ke dataran yang tinggi pun, Bandung sudah akrab menguarkan hawa dinginnya. Sejuk. Permukaannya memang bergunung-gunung. Sayangnya, saya tetap kepincut mengunjungi salah satu puncaknya; Punclut, demi menikmati pesona pemandangan Bandung di malam hari.

Gerimis sedang mengadang sore saat saya menyusun rencana ke daerah puncak itu. Seorang teman dari Bandung, Dwi menawarkan diri mengantarkan ke daerah wisata kuliner itu. Kebetulan, teman saya dari Makassar juga masih belum pulang dari Cikutra.

Gerimis masih turun pelan-pelan. Dwi sudah standby dengan motor matic-nya di depan hotel tempat saya menginap. Sesuai janji, kami berangkat jelang maghrib.

Jarak Punclut dari Ciumbuleuit memang tak jauh. Sayangnya, kata Dwi, kendaraan angkutan umum belum ada yang bisa mengantarkan sampai ke Punclut. Biasanya angkutan umum hanya mentok di gerbang Punclut. "Makanya lebih banyak yang pakai mobil pribadi atau motor sendiri," tambahnya.

Mungkin, saya beruntung bisa dapat tumpangan ke Punclut. Sedari kemarin, saya selalu nekat hendak menjelajah dengan angkot. Bahkan tanpa teman sekalipun. Nah, soal Punclut itu, saya nyaris bepergian sendiri jika tidak ditawari tumpangan oleh teman dari Bandung. Sudah saya katakan, saya tak mau menyesal kedua kalinya hanya berdiam diri di kota-kota baru.

Punclut mengingatkan saya pada kampung tempat saya dilahirkan, Enrekang. Jalan-jalan menanjaknya. Lembahnya. Pohon-pohonnya. Yang berbeda, warung-warung di sepanjang jalan menuju puncak.

"Sebenarnya, sebagian masyarakat masih ada yang belum setuju pembangunan warung-warung itu. Karena mengganggu resapan air. etapi, di sisi lain, itu jadi pencaharian sebagian masyarakat lainnya," jelas Dwi di tengah perjalanan kami yang bergerimis.

Salah satu warung di Punclut dengan model lesehan ala Sunda. (Imam Rahmanto)
Akan tetapi, jika ingin membayangkan Punclut seperti apa, perhatikan saja perjalanan saat menuju daerah Duri di Kabupaten Enrekang. Di sepanjang jalan, ada warung-warung yang menawarkan kuliner dan ole-oleh khas Enrekang. Mereka sekaligus menawarkan pemandangan Gunung Nona (Buntu Kabobong) di sisi lain warung yang menjorok di pinggir lembah. Nah, bedanya, pemandangan Punclut berada di daerah menanjak dengan warung yang lebih variatif. Mulai dari yang tradisional hingga modern seperti bar atau kafe.

Padahal di dalam kepala sempat terbayang pemandangan yang jauh lebih romantis. Saya membayangkan Punclut sebagai bukit-bukit yang dipadati lapak pedagang kuliner tradisional. Kita bisa duduk dari ketinggian lembah itu, menghadap langsung pemandangan kota yang mengecil dalam silau dan redup cahaya. Yah, seperti dalam beberapa adegan film atau novel di kepala saya.

Kenyataannya agak berbeda. Mungkin lantaran sudah terlampau banyak warung yang berjejer di pinggir jalan. Tak ada lagi ruang atau area yang bisa dijadikan tempat duduk-duduk sederhana. Akh, hujan juga menghalangi orang menatap langit dari luar. Purnama jadi enggan muncul.

Kami berdua mampir di salah satu warung makan yang kental dengan nuansa Sunda. Sekalian berteduh, saya menyempatkan diri mencari pemandangan yang bisa disamakan dengan isi kepala.

Beberapa pengunjung sedang menikmati waktu santainya. Di salah satu pojok lantai dua, sedang kosong. Katanya, ada yang sudah memesan bagian itu.

"Punclut memang sering jadi tempat meet-up komunitas atau kegiatan-kegiatan organisasi lainnya," kata Dwi, seperti saat warung makan itu mulai diramaikan banyak orang dewasa. Bahkan jam-jam sibuknya justru pada tengah malam hingga pagi hari. Nonstop 24 jam.

Saya tidak banyak menemukan kuliner-kuliner tradisional yang sempat terbayang di kepala, seperti Seblak, Batagor, Mochi, atau makanan khas lainnya. Mungkin karena warung makan, lebih dominan makanan-makanan berat. Lagipula saya sudah kenyang sebelum ke Punclut sih sebenarnya.

Selang dua jam, kami beranjak dari Punclut. Hujan masih menggelayut rendah dari langit kota Bandung. Karena masih ingin menikmati tempat lainnya, saya mengajak Dwi menerobos hujan. Selain itu, ada sebuah misi liputan yang ingin saya kejar malam itu.

"Serius kamu tidak apa-apa kehujanan?" tanya Dwi. Ia merasa risih mengenakan mantel sendirian.

"Tidak apa-apa, kok. Aku orangnya kuat, tahan sama segala sakit, kecuali sakit hati," saya seloroh, meski sebenarnya mengena dalam hati.

#ehh

Hiburan musik sederhana dari orang di Punclut. Bukan ngamen deh kayaknya. (Imam Rahmanto)

***

Perjalanan saya di kota Bandung memang sudah berakhir. Namun, bagi saya, kota itu masih akan hinggap dalam benak saya. Yah, entah bagaimana caranya, saya selalu tak puas jika baru mengunjungi suatu tempat hanya sekali atau ala kadarnya.

Terima kasih untuk Ai Chintya dan Dwi Reinjani yang sudah jadi second google map saya di kota Kembang. Kalian tak bosan-bosannya saya repotkan dengan segala pertanyaan cerewet tentang Bandung. Nama tempat. Arah jalan. Jalur angkot. Gambaran tempat, dan semacamnya. Sebenarnya saya sudah dapat info dari internet tetapi masih butuh penegasan dari penduduk aslinya. Hehehe...

Terima kasih pula buat Dwi yang mau repot-repot meniti hujan malam untuk mengantarkan saya berkeliling kota. Menjelaskan tentang Jalan Braga yang masih lestari dengan bangunan-bangunan bersejarahnya. Menunjukkan alun-alun Bandung yang tak jauh dari Braga. Suasana hujan membuatnya sepi dari pengunjung.

Tak hanya itu. Kita juga berkeliling sampai dua kali di Taman Pramuka demi mencari Warung Makan Sop Konro Marannu. Ujung-ujungnya, kita tak bertemu dengan pemiliknya untuk sekadar wawancara singkat. Saya justru hanya memperkenalkan kuliner khas Makassar yang disajikan berbeda di kota Bandung.

Nah, lain kali, seperti katamu Dwi, saya akan mengabari lebih awal jika akan bertandang kesana. Biar bisa diantar ke banyak tempat. Hahaha....

Bandung, mungkin saya akan merindukannya...

Landscape Bandung dari atas Punclut. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar