Jumat, 11 Maret 2016

Jodoh

Baru-baru ini, saya kembali mendapatkan kabar, seorang teman perempuan akan mengakhiri masa lajangnya. Dia rekan seperjuangan saya saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) beberapa tahun lalu. Dia juga adik kelas di jurusan yang sama. Bahkan, karenanya, saya juga akrab dengan teman-teman seangkatannya yang lain di jurusan. Maklum, saya setahun lebih tua darinya.

Saya juga sudah menganggapnya sebagai seorang adik yang baik. Dulu di masa KKN, ia senang sekali berkomplot dengan teman-teman perempuan lain untuk meledek saya dengan salah seorang perempuan dari jurusan lain. Meski begitu, ia tetap seorang adik yang cukup perhatian.

"Datang ki ke rumah nah tanggal 16," katanya segera melalui pesan di BBM.

Saya tentu dikagetkan (meski sudah menduga) dengan kabarnya itu. Padahal, saya selama ini tidak mendengar dirinya sedang dekat dengan lelaki lainnya. Satu-satunya lelaki yang pernah mengantar-jemputnya, ya, teman KKN kami dulu. Ternyata, ia akan mengakhiri masa lajangnya, tanpa banyak kompromi. Sembari mencecarnya dengan banyak pertanyaan, saya turut berbahagia dengannya.

Beberapa waktu sebelumnya, teman-teman perempuan lainnya, rekan KKN, juga melayangkan kabar bahagianya. Ada sekira dua hingga tiga orang yang sudah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangannya.

Ternyata, setiap orang bakal menemukan masanya...

***

Kita tak pernah tahu, seberapa jauh bisa menjalani kehidupan yang fana ini. Tuhan selalu merahasiakan masa depanNya. Selalu. Kita? Hanya menebak-nebak dan berencana.

Tentang jodoh, rezeki, dan kematian sudah jadi hak prerogatif Tuhan. Tak ada yang bisa mengganggu gugat. Hanya saja, agar tahu, Tuhan senantiasa memberikan sinyal dan petunjuk bagi kita, manusia, agar tetap berusaha menyibak misteri kehidupannya.

"Jodoh takkan kemana-mana," adalah pepatah paling melenakan di ambang pemikiran manusia.

Percayalah, itu hanya pembenaran dari orang-orang yang tak ingin menggapai jodohnya sendiri. Saya tak banyak tahu, pasrahkah mereka, atau sekadar ingin mengubur perih masa silam dalam diam. Seolah menyerahkan semua pilihannya pada Tuhan, agar kelak bisa berlepas tangan atas kehidupan yang mereka jalani sendiri.

Sama halnya dengan rezeki, Tuhan sudah mengatur banyak atau sedikitnya bagi tiap manusia. Tetapi, kita takkan pernah mendapatkannya jika hanya berdiam diri, bukan? Karena semuanya ada dalam "masa depan" yang dirahasiakan, maka kita hanya bisa berupaya dan terus menyelaraskannya bersama rapalan doa.

"Kamu meminta sesuatu pada Tuhan, tetapi kamu tak pernah berupaya menjemputnya dari Tuhan?"

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan manusia bukan sekadar menunggu. Bergeraklah...




***

Hi...

Apa kabar setelah hari bahagiamu, kemarin? Ada sejumput senyum berbeda yang kudapati dari lekuk bibirmu. Ingin kupetik, tetapi aku mencemaskan isi hatimu. Katamu, belum saatnya. Atau entah, apakah masa depan itu kelak akan menghampiri kita?

Harus kuakui, aku kalah telak oleh perasaan. Logikaku patah satu, karena rindu.

Akankah waktu berlalu bisa terulang? Di dalam kepalaku menyimpan banyak ingatan. Izinkan aku menyimpan salah satunya tentangmu. Akh, tidak. Mungkin seharusnya semua tentangmu. Saat melihat matahari yang bangun terkesiap dari sudut matamu. Bibir merahmu yang merekah mengulum senyum malu-malu. Saat tempias hujan menghalau perjalanan tanpa nama. Atau... justru hujan yang banyak berjasa mendekapkanku padamu? Seperti hujan yang tak ingin berhenti, ingatan itu juga membuncah dari palung ingatan.


"Sometimes i wanna give you all the love that i have, coz when you smile, it seems all problems are vanished to the sky," --Song by Risin' Black Hole; Think of Love

Kita memang berbeda. Dalam banyak hal. Engkau peneguk air putih, aku mencandui cappuccino. Engkau menyenangi pagi, aku menggila pada senja. Engkau suka berfilsafat dengan logika, aku senang berimajinasi lewat fiksi. Engkau banyak memilih, aku terkadang hanya punya satu pilihan. Bahkan, kehidupanmu nampaknya teramat berbeda dengan kehidupanku.

Bukankah, akhir-akhir ini semuanya memang sedang sulit? Kita serupa dua orang asing. Seperti hati yang kau relakan terbawa aliran air, entah kemana bermuara.

Akan tetapi, biarlah kusingkirkan dahulu segala pahit cappuccino yang kusesap perlahan. Mungkin, sembari kubayangkan wajahmu dengan dua titik kecil di bawah kelopaknya. Tahukah, karena perasaan tak pernah berhenti menelikung peradaban.

Selamat bertambah usia.. Semoga, drimu makin dewasa...



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar