Senin, 21 Maret 2016

Gasibu

Saya tak sendiri. Cuma kebetulan dua orang sekamar saya sedang keluar. (Foto: self timer)


Dingin. Ini hawa udara di kota Kembang. Sungguh berbeda dengan kondisi udara di kota Anging Mammiri, Makassar. Belakangan, saya baru paham mengapa udara disini terasa sungguh sejuk. Di beberapa bagian kota, pohon-pohon masih rindang berjejer di pinggiran jalan. Beberapa ruang publik juga bertebaran dimana-mana.

Pagi selalu terlalu dini bagi saya. Jika sudah berada di tempat baru, saya cenderung bangun lebih pagi. Di samping fasilitas kamarnya yang cukup nyaman. Cuaca di kota ini juga sungguh mendukung. Kata seseorang, ada nuansa romantisme di setiap pagi yang datang berulang. Seseorang semakin menjauh dari saya...

"Berangkat jam berapa?" tanya saya pada pelatih tim, yang sekamar.

Ada jadwal deadline yang harus disesuaikan dengan perbedaan waktu sejam dari kota asal. Bagi kami pekerja media, deadline sudah semacam "harga mati".

"Mainnya jam 3 sore. Kita berangkatnya jam 1 dari sini," jawab lelaki yang juga mantan pelatih di PSM Makassar ini.

Mendengar hal demikian, ada perasaan lega. Saya bisa mengisi sedikit waktu untuk sekadar berjalan-jalan di sekitar hotel. Ah, tidak. Saya harus menunaikan rasa penasaran saya atas berbagai tempat di kota ini.Seperti petunjuk yang diberikan salah seorang teman asli Bandung.

Dulu, saat di Medan, saya menyesal tidak nekat menuntaskan rasa penasaran saya berkeliling menjelajahi tempat-tempat menarik. Hanya karena persoalan tak ada kendaraan dan tanpa guide, kaki agak sulit melangkah lebih jauh. Padahal, beberapa area yang di-listing sudah dipastikan kebenaran dan kepopulerannya lewat google mapping dan ulasan di internet.

Nah, di pagi yang cukup lowong itu, saya harus menyusun rencana pelarian: Gasibu Bandung. Ah ya, setelah menikmati kuliner bubur Cianjur yang dibeli dari Aa pedagang di pinggir jalan seberang hotel.

***

"Bang, kalau ke Gasibu lewat angkot mana ya?" saya mesti bertanya pada karyawan hotel.

"Deket kok, A'. Dari sini, ambil angkot ijo itu, trus nyambung di lampu merah sana, ke arah Cicaheum. Yang ke kiri itu. Nanti bilang saja berhenti di Gasibu," jelasnya.

"Tapi, lampu merah perasaan deket ya, Bang?"

"Iya, atuh. Kalau mau jalan kaki, bisa. Tinggal nanti belok kiri dan ambil angkot yang model mobil kijang itu. Warna ijo, ada garis merahnya," tambahnya lagi antusias.

Perjalanan pun dimulai. Ransel di pinggang sudah berisi kamera DSLR canggih hasil "suplai" teman di Makassar. Sekali-kali, smartphone juga bisa jadi pilihan buat mengabadikan momen.

Tak butuh waktu lama mencapai Gasibu. Keramaian disana memang sangat padat. Namanya juga Pasar Dadakan. Para pedagang tumplek di sekeliling tugu Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Kata teman saya, pasar dadakan itu cuma muncul di hari minggu.

"Hati-hati loh, dik. Tasmu dijaga. Hati-hati banyak copet.Saku belakangmu juga," seorang ibu yang saya ajak ngobrol di dalam angkot mengingatkan sesaat saya menyodorkan uang Rp5 ribuan kepada sang supir.

Duh, belum juga apa-apa, ibu-ibu itu sudah memberikan saya kabar buruk bahwa nampaknya Bandung juga rawan kejahatan. Gara-gara itu, saya tak jadi memotret keramaian di sepanjang Gasibu. Terbawa-bawa oleh peringatan si ibu di angkot.

Saya terpaksa hanya mencuci mata di sepanjang pasar dadakan itu. Segala barang ada,meski didominasi pakaian-pakaian murah dan obral. Sayangnya, saya tidak terlalu berminat menghabiskan uang untuk pakaian-pakaian yang juga bisa diperoleh di kota Makassar.

Kalau mau wisata kuliner, nampaknya Gasibu juga bisa jadi pilihan. Segala jenis penganan tradisional ada disana. Tahu Sumedang, ada. Cilok,ada. Rujak, ada. Yang lainnya, saya tak hafal lagi apa namanya. Pokoknya banyak.

Ini hasil perburuan untuk koleksi pribadi. Sebenarnya kepikiran juga mau cariin buat seseorang, tapi...ah sudahlah.
(Foto: ImamR)

Gelang-gelang unik, tentu menjadi buruan saya. Entah kenapa,saya lebih suka mengoleksi berbagai macam gelang yang dibuat dari karya kerajinan tangan, dibandingkan harus membalut pergelangan dengan jam tangan elegan. Ohya,di Gasibu juga ada banyak jam tangan murah.

Sejam lamanya saya berkeliling di Gasibu, mewaspadai kamera di dalam ransel dan dompet di saku belakang celana. Sempat tersasar, lupa jalan masuk dari Jl.Dipati Ukur. Bahkan, saya tak sempat mengabadikan momen di depan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.

"Haha....Imam jadi korbannya ibu-ibu," ledek teman saya asal Bandung. Ia meyakinkan, Bandung tak sengeri kota Jakarta. Suasananya jauh leboh ramah bagi siapa saja.

Yah, nasib menjelajah sendiri. Hati-hati terukur lebih teliti. Akh, hati saya juga...

Bersantai di Jack Runner Cafe, usai mengawal tim Sulsel di Stadion Siliwangi. Kapan-kapan lah saya bercerita.
(Foto: ImamR)



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar