Minggu, 20 Maret 2016

Boarding

Perjalanan ke Bandung sebenarnya tak banyak berbeda saat menjelajah ke ibukota negeri, Jakarta. Jarak penerbangannya bisa ditempuh tidak sampai dua jam. Kata orang, rute dari Makassar menuju Bandung termasuk jalur baru. Bandar udara Sastranegara di Bandung juga tak begitu besar jika dibandingkan Sultan Hasanuddin atau Soekarno-Hatta.

***

Pagi benar, yang harus saya awali dengan banyak pikiran. Pesanan bapak. Pelatihan jurnalistik kantor. Perlengkapan packing yang masih seadanya. Rencana peliputan. Hingga pesan yang dinanti tak kunjung memberi kabar. Saya berhenti saja men-scroll gadget sendiri.

Saya berencana mengikuti pelatihan jurnalistik (internasional) yang diagendakan kantor untuk wartawan-wartawannya. Selain kami, parapekerja media non-wartawan yang bernaung di perusahaan sama juga ikut nimbrung. Sebenarnya berlangsung dua hari. Namun, agenda peliputan ini cukup menghindarkan saya dari materi ruangan, yang sejak dulu selalu membuat saya terkantuk-kantuk.

Jelang tengah hari, baru beranjak menuju bandara, sesuai kode booking-an pesawat yang disediakan narasumber saya.

"Kamu ambil pesawat tanggal 19 ya? Temanmu (media lain) baru berangkat tanggal 20-nya," pesan manajer tim yang sudah cukup akrab dengan saya. Saban hari, ia tak lupa menelepon untuk mengingatkan jadwal keberangkatan kami.

Akan tetapi, pelatihan itu hanya tersisa rencana di kepala. Saya justru mangkir dan mencoba "nitip absen" lantaran belum merampungkan perlengkapan untuk keperluan peliputan di kota Kembang sana. Hidup itu mesti berani memilih. Jangan segan memilih salah satunya, saja.

"Jangan lupa bawa kamera!" pesan dari redaktur saya cukup lekang di kepala. Saat menyambangi Medan, dulu, saya memang absen dari memotret. Beruntung, seorang kawan punya kamera DSLR anyar. Ia berbaik hati meminjamkannya untuk jangka waktu tak lebihdari seminggu.

Ini juga. Ransel untuk bepergian jauh (backpacking) selalu jadi kendala berulang bagi saya. Nampaknya, saya harus mulai menyisihkan sebagian pemasukan untuk membali satu perlengkapan itu. Saya yakin, masih ada banyak perjalanan lain yang menunggu saya di luar sana. #wajib

Selain ransel seperti itu, laptop juga bakal menjadi perangkat wajib sebulan atau dua bulan ke depan yang mesti ikut saya investasikan. Ck...selaoin gitar juga sih.

***

Saya tiba 1,5 jam sebelum boarding, berdasarkan sms booking-an yang saya terima. Kota Makassar sedang dilanda macet untuk bermalas-malasan melakukan perjalanan. Perbaikan jalan sedang digiatkan di sepanjang jalur protokol menuju Simpang Lima Bandara. Wajar jika saya harus lebih cepat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin.

"Ini cara dapat tiketnya bagaimana?"

Serius. Saya awam benar dengan tiket online yang terpampang di inbox. Beberapa kali melakukan penerbangan, saya tak pernah mandiri mengurus tiketnya. Untuk perjalanan dari narasumber, saya biasanya langsung mendapatkan tiketnya di bandara. Sayangnya, tim Sulsel sudah lebih dulu berangkat, hingga meninggalkan saya yang dipesankan tiket via online.

Yah, kamu sudah besar. Dewasa. Mandiri lah. Keluarkan saja semua jurus sok tahumu.

Tak butuh waktu lama untuk tahu mencetak kode booking-an tiket itu. Datang saja ke counter maskapai penerbangannya. Tunjukkan sms kode booking-an dari travel agent. Petugas mencetak kertas berkode-rumit-yang-terdiri-huruf-acak-dan-angka. Bawa kertasnya ke bagian boarding pass. Tiket dicetak. Taraa...siap menunggu di koridor gerbang (gate) penerbangan.

Namanya hal-hal baru, selalu bikin penasaran. Hm..meski hanya sekadar ngurus tiket. #ehh (Foto: ImamR)
Yang namanya menunggu, memang selalu membosankan. Tetapi, kedatangan pesawat selalu pasti meski delay berkali-kali. Ia bakal menjemput dan membawa kita ke rute penerbangan tujuan. Teramat berbeda dengan harapan untuk orang lain. Terkadang, kamu hanya bisa berharap, tanpa perlu pamrih imbalan, meski hanya sekadar (balasan) pesan keberangkatanmu.

"Kepada para penumpang dengan nomor penerbangan....." pesan dari pramugari, mungkin.

Itu nomor penrbangan saya. Tujuan Bandung. Saya meraih ransel kecil yang sudah bertahun-tahun menemani kehidupan yang cukup lama. Memindahkannya ke bahu. Merapatkan earphone di telinga. Menjauhkan segala prasangka. Melangkahkan kaki menuju Gate 5.

"I'm fine, baby. How are you?"
"Well I would send them but I know it's just not enough"
"My words cold and flat"                                                                                                    
"And you deserve more than that"
                                --Song by Michael Bubble, Home--                                                       


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar