Minggu, 27 Maret 2016

Apakah Kita Berjodoh?

"Aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib sekolah dasar dulu. Lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana, yang hanya meminta dirinya dinyanyikan. Itu saja!"

Buku yang manis... sungguh manis. (Imam Rahmanto)

Saya menyangka buku "Jodoh" karya Fahd Pahdepie ini berbicara tentang jodoh dalam artikel non-fiksi yang terpisah-pisah. Semacam pembahasan ringan terkait jodoh. Akan tetapi, barulah saat membaca salah satu babnya, "Jodoh" merupakan sebuah novel fiksi.

Saya menghabiskan buku bersampul sederhana ini dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Di atas pesawat, momen menunggu-tiba-di-tempat-tujuan agak membosankan jika dialihkan dengan sekadar tertidur selama penerbangan. Meski kantuk masih mendera, kapan lagi saya bisa leluasa memegang buku dan memahami tiap katanya?

Bayangkan saja, saya terlelap lewat tengah malam dan terjaga hampir lima jam berikutnya. Tergopoh-gopoh mengejar penerbangan pukul enam.

Selain itu, saya sejujurnya dibuat penasaran dengan isinya yang sudah sempat saya lahap beberapa lembar sebelum kembali ke Makassar. Mungkin, karena saya sedang terganggu soal perasaan dan jodoh, buku ini nampak memikat di mata saya.

"Buku ini sangat manis bagi orang yang sedang jatuh cinta," kata Mbak Dewi Lestari dalam endorsement buku.

"Tetapi.... Mbak Dee.... Saya tak sedang jatuh cinta. Perasaan itu sudah melayang kemarin. Ia menguap semudah debu diembus angin yang sedang berganti musim. Lewat tanpa peduli, terkulai,"

Akan tetapi, bahasa Fahd Pahdepie dalam buku ini seolah membawa saya pada kisah asmara yang cukup manis. Sungguh manis, meski sad-ending. Sejatinya, sang penulis sudah berhasil memilin kata-katanya hingga mampu mengikat saya pada beberapa bayangan tentang "Jodoh" itu.

***

"Jodoh" berkisah tentang kisah asmara Sena dan Keara. Dua pemuda yang telah bertemu sejak masa Sekolah Dasar. Saling malu-malu memendam perasaan yang sama. Perasaan keduanya justru tumbuh saat dibesarkan di sekolah pesantren.

Akan tetapi, kendala tentang perasaan yang masih meragu membuat keduanya gamang menegaskan pilihan.

Sebenarnya, alur cerita novel setebal 256 halaman ini cukup sederhana dan jujur. Runtut, memakai sudut pandang kedua, cerita dibangun melalui kehidupan Sena. Mulai dari masa SD hingga masa lepas kuliah, saat Sena baru bisa menegaskan perasaannya.

Beberapa cerita di dalamnya sempat membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Akh, mungkin, saya hanya terbawa perasaan saja membacanya. Saya jadi tak merasai penerbangan Bandung-Jakarta yang menyita waktu hingga dua jam.

"...sehingga ketika kamu tersenyum setelah membaca kata-kataku, seketika aku pun menjadi penulis paling berbahagia di dunia," --hal.170

Ditambah, puisi-puisi dari penyair Spardi Djoko Damono semakin membuat buku ini kian "manis". Sebagai orang yang tak begitu menjiwai kumpulan puisi, saya lebih suka ketika puisi ditebar dengan cara semacam ini. Bisa dikatakan, saya menikmati puisi itu, pelan-pelan...

Kisah asmara melalui pandangan Fahd Pahdepie ini tidak serta-merta membuat buku ini menyerupai kisah-kisah teen-lit. Isinya tentu bukan tentang cinta-cintaan kacang-kacangan. Justru, lewat buku ini, kita dibawa pada perenungan dan pertanyaan serius, apakah kita berjodoh?

***

"Kamu tahu rasanya? Sakit sekali mengkhawatirkan orang yang bahkan mungkin sudah tak peduli lagi kepadamu!" --hal.139

"Apa yang mungkin tak dimiliki semua manusia? Barangkali pengakuan tentang rasa bersalah." --hal.143

"Tuhan bisa menunjukkan keajaibannya kapan saja," --hal.148

"Jika Keara  memang bukan jodohku, aku tidak apa-apa," ujarku akhirnya pada Amri setelah beberapa lama kami jalan berdua tanpa perbincangan apa-apa. "Paling tidak, aku sudah berusaha membuat dia jadi jodohku. Paling tidak, aku memperjuangkan perasaanku," - hal.173

"Ada dua jenis kerinduan," katamu suatu hari. "Kerinduan pertama karena kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua karena kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu," --hal.194

“Jodoh paling sempurna yang kucari ternyata bernama kematian.”


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar