Kamis, 31 Maret 2016

Tergenang

Maret 31, 2016
Hujan terlalu rutin mengganggu di kota Makassar. Tiada hari tanpa hujan sudah jadi adagium yang tepat. Bolak-balik Sudiang, saya selalu diadang hujan. Deras atau gerimis.

Maaf, saya tak perlu menggerutu.

Suatu pagi dalam perjalanan menuju lokasi peliputan, hujan tetiba turun. Padahal, sejak pagi, langit tampak baik-baik saja. Remang-remang cahaya tak sedang merajuk ingin terus bersembunyi di balik awan. Langit tak cerah, tak juga mendung.

Di seisi jalan protokol, rintik air perlahan menampar wajah para pengendara motor. Memaksa mereka yang tak bermantel menepikan kendaraan. Pohon yang menjorok di pinggir jalan jadi alternatif berteduh. Stasiun pemberhentian BRT juga tak luput diramaikan para pengendara motor yang mencari perlindungan.

Pandangan saya terpaku pada langit. Di ujung sana masih benderang. Hujan nampaknya hanya turun dari separuh jalan. Separuh langit, tak ada awan pekat yang memboikot sinar matahari. Mungkin belum, asalkan laju motor saya bisa lebih pacu.

Selang perjalanan, hujan memang nampak mereda. Mungkin, lebih tepatnya, ia tertinggal di belakang. Ditahan awan pekat yang enggan beranjak lebih cepat.

Saya tersenyum. Memang, saya suka tersenyum sendiri. Biarlah kalau orang menganggap itu hal gila. Sejatinya, sebagian hidup saya memang sudah gila. Saya menyukainya. Duh, kenapa membahas tentang senyum saya?

Langit menyisakan rinai hujan di setengah perjalanan. Di sepanjang Urip Sumoharjo hingga Perintis Kemerdekaan, saya membiarkan muka dibasuh hujan. Pun, saya suka. Paling tidak, inilah cara menyapa hujan. Memeluk hujan. *hujan terlalu manis untuk dipersoalkan?

Seperti hujan setengah jalan itu, hidup berlaku demikian. Kita tak pernah tahu ada cahaya atau remang gerimis di depan sana. Apakah lebih baik berhenti menanti hujan atau menerobos tanpa perlindungan mantel hujan. Namun, Tuhan selalu menyiapkan pertanda untuk berhenti atau tetap melaju. Toh, dancing in the rain mengajarkan kita untuk menikmati hujan. Catatan: asalkan tak mudah sakit.

***

Sepulang dari GOR Sudiang hari ini, hujan kembali membasuh wajah. Sudah tak deras lagi. Pelan. Cukup untuk membuat badan menggigil dan suhu memuncak. Tetapi, kewajiban di kantor masih menanti. Apalagi berita yang dikirimkan via email juga mesti cross-check ulang.

Hujan memeluk sepanjang perjalanan. Beberapa genangan air memaksa laju kendaraan melambat.

"Hei... Apa kabar?"

Ada senyum manis yang dibawa pulang hujan setiap kali ia turun. Pernah, seiring hangat pelukan seseorang yang tertanam dalam gemetar tangan saya memegang kemudi. Betapa erat pelukannya, selalu menghangat dalam ingatan saya. Mungkin, perempuan itu tak menyadari, degup jantung lelakinya berirama disembunyikan deru motor yang melaju kencang. Hanya Tuhan dan hujan yang tahu.

"Kamu tak apa berhujan-hujanan begini?" tanya lelakinya. Ia sudah teramat jauh dibasuh hujan.

"Tidak apa-apa. Selama kita tetap sama-sama," jawab perempuannya singkat, sembari mengangguk, menahan dingin. Pelukannya kian erat bertumpu pada ujung kemeja lelakinya. Seandainya hujan berbaik hati, ia ingin terus menancapkan pandangannya pada bola mata si perempuan di belakang punggungnya.

Sejatinya, bukan dirinya yang dikhawatirkan tertekan gemuruh hujan. Toh, hujan sudah menjadi sahabatnya semenjak kali pertama doanya dikabulkan Tuhan. Doa untuk bapak, ibu, dan adik kecilnya, sebelas tahun silam. Hanya saja, ia terlalu khawatir kehilangan perempuannya yang baru-baru saja dirundung sakit. Kalau sudah seperti itu dan tak mampu berbuat apa-apa, ia hanya bisa merutuk kesal pada dirinya.

Sesegera mungkin, ia ingin menyelesaikan tugas liputan yang menjebaknya di balik hujan.

Bahagia terasa di satu sisi. Sayangnya, ia sadar, setiap pucuk kebahagiaan biasanya akan tertebas oleh waktu yang melaju terlalu cepat. Di tengah rintik hujan, ada momen yang ingin dibekukan dalam labirin kepalanya.

Langit meredup tanpa senja. Awan hitam masih menggantung begitu angkuh. Nyala lampu kendaraan mulai menyilaukan mata.

Hujan yang menampar wajah juga bisa mengembalikan pada kenyataan. Bahwa ternyata kita hidup di dunia  serba sibuk tanpa pucuk libur. Genangan air dari hujan tak bisa disamakan dengan genangan kenangan di kepala. Ia tak pernah menguap. Menyublim untuk kemudian membeku. Meski hangatnya pelukan masih terasa menguapkan.


--Imam Rahmanto--

Minggu, 27 Maret 2016

Apakah Kita Berjodoh?

Maret 27, 2016
"Aku ingin mencintaimu seperti menyanyikan lagu wajib sekolah dasar dulu. Lagu yang tak meminta kemampuan apa-apa, sederhana, yang hanya meminta dirinya dinyanyikan. Itu saja!"

Buku yang manis... sungguh manis. (Imam Rahmanto)

Saya menyangka buku "Jodoh" karya Fahd Pahdepie ini berbicara tentang jodoh dalam artikel non-fiksi yang terpisah-pisah. Semacam pembahasan ringan terkait jodoh. Akan tetapi, barulah saat membaca salah satu babnya, "Jodoh" merupakan sebuah novel fiksi.

Saya menghabiskan buku bersampul sederhana ini dalam perjalanan Bandung-Jakarta. Di atas pesawat, momen menunggu-tiba-di-tempat-tujuan agak membosankan jika dialihkan dengan sekadar tertidur selama penerbangan. Meski kantuk masih mendera, kapan lagi saya bisa leluasa memegang buku dan memahami tiap katanya?

Bayangkan saja, saya terlelap lewat tengah malam dan terjaga hampir lima jam berikutnya. Tergopoh-gopoh mengejar penerbangan pukul enam.

Selain itu, saya sejujurnya dibuat penasaran dengan isinya yang sudah sempat saya lahap beberapa lembar sebelum kembali ke Makassar. Mungkin, karena saya sedang terganggu soal perasaan dan jodoh, buku ini nampak memikat di mata saya.

"Buku ini sangat manis bagi orang yang sedang jatuh cinta," kata Mbak Dewi Lestari dalam endorsement buku.

"Tetapi.... Mbak Dee.... Saya tak sedang jatuh cinta. Perasaan itu sudah melayang kemarin. Ia menguap semudah debu diembus angin yang sedang berganti musim. Lewat tanpa peduli, terkulai,"

Akan tetapi, bahasa Fahd Pahdepie dalam buku ini seolah membawa saya pada kisah asmara yang cukup manis. Sungguh manis, meski sad-ending. Sejatinya, sang penulis sudah berhasil memilin kata-katanya hingga mampu mengikat saya pada beberapa bayangan tentang "Jodoh" itu.

***

"Jodoh" berkisah tentang kisah asmara Sena dan Keara. Dua pemuda yang telah bertemu sejak masa Sekolah Dasar. Saling malu-malu memendam perasaan yang sama. Perasaan keduanya justru tumbuh saat dibesarkan di sekolah pesantren.

Akan tetapi, kendala tentang perasaan yang masih meragu membuat keduanya gamang menegaskan pilihan.

Sebenarnya, alur cerita novel setebal 256 halaman ini cukup sederhana dan jujur. Runtut, memakai sudut pandang kedua, cerita dibangun melalui kehidupan Sena. Mulai dari masa SD hingga masa lepas kuliah, saat Sena baru bisa menegaskan perasaannya.

Beberapa cerita di dalamnya sempat membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Akh, mungkin, saya hanya terbawa perasaan saja membacanya. Saya jadi tak merasai penerbangan Bandung-Jakarta yang menyita waktu hingga dua jam.

"...sehingga ketika kamu tersenyum setelah membaca kata-kataku, seketika aku pun menjadi penulis paling berbahagia di dunia," --hal.170

Ditambah, puisi-puisi dari penyair Spardi Djoko Damono semakin membuat buku ini kian "manis". Sebagai orang yang tak begitu menjiwai kumpulan puisi, saya lebih suka ketika puisi ditebar dengan cara semacam ini. Bisa dikatakan, saya menikmati puisi itu, pelan-pelan...

Kisah asmara melalui pandangan Fahd Pahdepie ini tidak serta-merta membuat buku ini menyerupai kisah-kisah teen-lit. Isinya tentu bukan tentang cinta-cintaan kacang-kacangan. Justru, lewat buku ini, kita dibawa pada perenungan dan pertanyaan serius, apakah kita berjodoh?

***

"Kamu tahu rasanya? Sakit sekali mengkhawatirkan orang yang bahkan mungkin sudah tak peduli lagi kepadamu!" --hal.139

"Apa yang mungkin tak dimiliki semua manusia? Barangkali pengakuan tentang rasa bersalah." --hal.143

"Tuhan bisa menunjukkan keajaibannya kapan saja," --hal.148

"Jika Keara  memang bukan jodohku, aku tidak apa-apa," ujarku akhirnya pada Amri setelah beberapa lama kami jalan berdua tanpa perbincangan apa-apa. "Paling tidak, aku sudah berusaha membuat dia jadi jodohku. Paling tidak, aku memperjuangkan perasaanku," - hal.173

"Ada dua jenis kerinduan," katamu suatu hari. "Kerinduan pertama karena kita pernah merasakan sesuatu dan kita menginginkannya kembali. Kerinduan kedua karena kita tak pernah mengalaminya dan benar-benar ingin merasakannya, setia menunggu dalam penantian yang lugu," --hal.194

“Jodoh paling sempurna yang kucari ternyata bernama kematian.”


--Imam Rahmanto--

Jumat, 25 Maret 2016

Punclut

Maret 25, 2016
Tanpa perlu ke dataran yang tinggi pun, Bandung sudah akrab menguarkan hawa dinginnya. Sejuk. Permukaannya memang bergunung-gunung. Sayangnya, saya tetap kepincut mengunjungi salah satu puncaknya; Punclut, demi menikmati pesona pemandangan Bandung di malam hari.

Gerimis sedang mengadang sore saat saya menyusun rencana ke daerah puncak itu. Seorang teman dari Bandung, Dwi menawarkan diri mengantarkan ke daerah wisata kuliner itu. Kebetulan, teman saya dari Makassar juga masih belum pulang dari Cikutra.

Gerimis masih turun pelan-pelan. Dwi sudah standby dengan motor matic-nya di depan hotel tempat saya menginap. Sesuai janji, kami berangkat jelang maghrib.

Jarak Punclut dari Ciumbuleuit memang tak jauh. Sayangnya, kata Dwi, kendaraan angkutan umum belum ada yang bisa mengantarkan sampai ke Punclut. Biasanya angkutan umum hanya mentok di gerbang Punclut. "Makanya lebih banyak yang pakai mobil pribadi atau motor sendiri," tambahnya.

Mungkin, saya beruntung bisa dapat tumpangan ke Punclut. Sedari kemarin, saya selalu nekat hendak menjelajah dengan angkot. Bahkan tanpa teman sekalipun. Nah, soal Punclut itu, saya nyaris bepergian sendiri jika tidak ditawari tumpangan oleh teman dari Bandung. Sudah saya katakan, saya tak mau menyesal kedua kalinya hanya berdiam diri di kota-kota baru.

Punclut mengingatkan saya pada kampung tempat saya dilahirkan, Enrekang. Jalan-jalan menanjaknya. Lembahnya. Pohon-pohonnya. Yang berbeda, warung-warung di sepanjang jalan menuju puncak.

"Sebenarnya, sebagian masyarakat masih ada yang belum setuju pembangunan warung-warung itu. Karena mengganggu resapan air. etapi, di sisi lain, itu jadi pencaharian sebagian masyarakat lainnya," jelas Dwi di tengah perjalanan kami yang bergerimis.

Salah satu warung di Punclut dengan model lesehan ala Sunda. (Imam Rahmanto)
Akan tetapi, jika ingin membayangkan Punclut seperti apa, perhatikan saja perjalanan saat menuju daerah Duri di Kabupaten Enrekang. Di sepanjang jalan, ada warung-warung yang menawarkan kuliner dan ole-oleh khas Enrekang. Mereka sekaligus menawarkan pemandangan Gunung Nona (Buntu Kabobong) di sisi lain warung yang menjorok di pinggir lembah. Nah, bedanya, pemandangan Punclut berada di daerah menanjak dengan warung yang lebih variatif. Mulai dari yang tradisional hingga modern seperti bar atau kafe.

Padahal di dalam kepala sempat terbayang pemandangan yang jauh lebih romantis. Saya membayangkan Punclut sebagai bukit-bukit yang dipadati lapak pedagang kuliner tradisional. Kita bisa duduk dari ketinggian lembah itu, menghadap langsung pemandangan kota yang mengecil dalam silau dan redup cahaya. Yah, seperti dalam beberapa adegan film atau novel di kepala saya.

Kenyataannya agak berbeda. Mungkin lantaran sudah terlampau banyak warung yang berjejer di pinggir jalan. Tak ada lagi ruang atau area yang bisa dijadikan tempat duduk-duduk sederhana. Akh, hujan juga menghalangi orang menatap langit dari luar. Purnama jadi enggan muncul.

Kami berdua mampir di salah satu warung makan yang kental dengan nuansa Sunda. Sekalian berteduh, saya menyempatkan diri mencari pemandangan yang bisa disamakan dengan isi kepala.

Beberapa pengunjung sedang menikmati waktu santainya. Di salah satu pojok lantai dua, sedang kosong. Katanya, ada yang sudah memesan bagian itu.

"Punclut memang sering jadi tempat meet-up komunitas atau kegiatan-kegiatan organisasi lainnya," kata Dwi, seperti saat warung makan itu mulai diramaikan banyak orang dewasa. Bahkan jam-jam sibuknya justru pada tengah malam hingga pagi hari. Nonstop 24 jam.

Saya tidak banyak menemukan kuliner-kuliner tradisional yang sempat terbayang di kepala, seperti Seblak, Batagor, Mochi, atau makanan khas lainnya. Mungkin karena warung makan, lebih dominan makanan-makanan berat. Lagipula saya sudah kenyang sebelum ke Punclut sih sebenarnya.

Selang dua jam, kami beranjak dari Punclut. Hujan masih menggelayut rendah dari langit kota Bandung. Karena masih ingin menikmati tempat lainnya, saya mengajak Dwi menerobos hujan. Selain itu, ada sebuah misi liputan yang ingin saya kejar malam itu.

"Serius kamu tidak apa-apa kehujanan?" tanya Dwi. Ia merasa risih mengenakan mantel sendirian.

"Tidak apa-apa, kok. Aku orangnya kuat, tahan sama segala sakit, kecuali sakit hati," saya seloroh, meski sebenarnya mengena dalam hati.

#ehh

Hiburan musik sederhana dari orang di Punclut. Bukan ngamen deh kayaknya. (Imam Rahmanto)

***

Perjalanan saya di kota Bandung memang sudah berakhir. Namun, bagi saya, kota itu masih akan hinggap dalam benak saya. Yah, entah bagaimana caranya, saya selalu tak puas jika baru mengunjungi suatu tempat hanya sekali atau ala kadarnya.

Terima kasih untuk Ai Chintya dan Dwi Reinjani yang sudah jadi second google map saya di kota Kembang. Kalian tak bosan-bosannya saya repotkan dengan segala pertanyaan cerewet tentang Bandung. Nama tempat. Arah jalan. Jalur angkot. Gambaran tempat, dan semacamnya. Sebenarnya saya sudah dapat info dari internet tetapi masih butuh penegasan dari penduduk aslinya. Hehehe...

Terima kasih pula buat Dwi yang mau repot-repot meniti hujan malam untuk mengantarkan saya berkeliling kota. Menjelaskan tentang Jalan Braga yang masih lestari dengan bangunan-bangunan bersejarahnya. Menunjukkan alun-alun Bandung yang tak jauh dari Braga. Suasana hujan membuatnya sepi dari pengunjung.

Tak hanya itu. Kita juga berkeliling sampai dua kali di Taman Pramuka demi mencari Warung Makan Sop Konro Marannu. Ujung-ujungnya, kita tak bertemu dengan pemiliknya untuk sekadar wawancara singkat. Saya justru hanya memperkenalkan kuliner khas Makassar yang disajikan berbeda di kota Bandung.

Nah, lain kali, seperti katamu Dwi, saya akan mengabari lebih awal jika akan bertandang kesana. Biar bisa diantar ke banyak tempat. Hahaha....

Bandung, mungkin saya akan merindukannya...

Landscape Bandung dari atas Punclut. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Kamis, 24 Maret 2016

Cihampelas

Maret 24, 2016
Makassar cukup panas pagi ini. Jengah rasanya diterpa debu dan polusi yang menyambut kedatangan di gerbang bandara. Padahal, baru tiga jam lalu, saya masih berkomplot dengan udara dingin. Sepuluh jam di belakangnya, hawanya masih bercampur dengan air-air tawar di sekujur lengan saya. Gerimis begitu romantis, seolah mengucapkan perpisahan dengan pendatang barunya.

***

Menunggui germis yang mereda di depan hotel. (Imam Rahmanto)
Rabu pagi, jadi kesempatan teramat luang bagi saya untuk menikmati kota Bandung. Sehari sebelumnya, saya (kami) baru saja merangkum kemenangan kedua tim sepak bola di Stadion Siliwangi. Di tengah gegap gempita kemenangan itu, tetap saja, pekerjaan sebagai pewarta menyudutkan saya di himpitan deadline.

Tak ada hujan di pagi yang cerah itu. Seperti yang saya ketahui, hari tersebut sekaligus kesempatan terakhir saya menjiwai kota Kembang.

"Besok, pulang jam berapa?" sambar redaktur saya melalui pesan singkatnya, usai naskah berita tiba di tangannya.

"Waduh. Bukan besok, Kak. Bisanya Kamis pagi?" jawab saya, sesuai rencana. Kelanjutannya, penjelasan yang sempat meragukan. Saya harus memilin otak agar segala jawaban itu jadi masuk akal. biar saya juga punya waktu lowong sehari.

Saya dan seorang teman dari media tetangga memulai penjelajahan di lokasi yang tak jauh dari hotel. Cihampelas. Kalau yang populer, namanya Ciwalk.

Lagi-lagi hanya berbekal nekat dan tanya sana-sini. Ternyata, dari pertigaan jalan Ciumbuleuit, pusat pertokoan Cihampelas bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki. Kata Polisi lalu lintas, "Deket kok jalan kaki dari sini," tak sedekat dalam penggambaran kami.

Sebenarnya, kaki bakal pegal berjalan sepanjang lintasan. Di sepanjang Jl. Cihampelas itu memang terkenal dengan pertokoan barang-barang fan oleh-olehnya. Belum genap semeter, ada banyak pertokoan yang mengganggu mata dan memaksa untuk dikunjungi. Meski tanpa menawar, sekadar melihat-lihat.

Kata teman, di Cihampelas ada banyak barang-barang yang dijajakan dengan harga miring, khususnya pakaian model-model terbaru. Akan tetapi, saya melihat harga yang dipatok tak jauh beda dengan harga-harga pasaran. Bahkan gelang yang selalu saya buru di setiap kesempatan berbelanja, justru dibanderol dengan harga lebih mahal.

Ada beraneka ragam barang di setelah sepanjang Cihampelas. Ole-ole seperti kaos bertuliskan Bandung juga ramai ditawarkan di pinggir jalan. Mereka berpadu dengan etalase gelang kerajinan yang selalu memikat mata saya. Urusan makanan khas, beberapa toko juga terbuka lebar.

Saya tidak banyak memanjakan hasrat berbelanja disana. Saya berpikir, barang-barang semacam itu masih bisa didapatkan di Makassar. Untuk urusan ole-ole, saya lebih tertarik berburu kuliner atau penganan khas yang bisa dibawa pulang. Lagipula, gaji juga belum cair. #ehh

Seperti halnya pusat perbelanjaan Mall Ciwalk, kami urung mengunjunginya. Bagi saya, mall dimana-mana hampir sama. Apa gunanya mengagumi modernitas yang sudah menjadi makanan orang kota sehari-hari? Saya justru lebih tertarik dengan wisata budaya, sejarah, ataupun jejak kuliner yang bermacam-macam.

Perjalanan menyusur sepanjang jalan Cihampelas berujung di perempatan lampu merah. Saya dan teman berpisah untuk tujuan yang berbeda. Katanya, ia masih harus ke Cikutra untuk mengambil pesanan buku kuliahnya. Ia juga berniat melanjutkan rasa penasarannya berbelanja sepatu ke Cibaduyut. Akh, bagi saya, perjalanan ke Cibaduyut agak jauh. Apalagi masih ada beberapa tempat yang lebih dekat dan belum disambangi.

Ternyata, Cihampelas memang menjadi pusat belanja bagi pendatang di kota Bandung.

"Disana memang untuk para pendatang. Makanya harganya agak mahal gitu. Kalau Gasibu, karena dekat kampus, memang cukup terjangkau karena nyasar buat kalangan mahasiswa," terang salah seorang teman saya.

Untuk ole-ole super cepat, sebenarnya bisa jadi alternatif. Tetapi, saya masih lebih memilih Gasibu untuk variasi barang, kebutuhan, hingga campur budayanya.

***

Suara pramugari dari pengeras suara membuyarkan lamunan saya. Seperti biasa, instruksi agar mengaktifkan alat komunikasi setelah pesawat benar-benar mendarat sempurna. Saya tak menghiraukannya. Mode offline smartphone di saku celana kembali saya lepaskan.

Ada sesuatu yang agak mengganggu dan meracau pikiran belakangan ini. Pesan-pesan singkat. Kabar-kabar tak bertuan. Hujan yang tak lagi menghangat. Bosan yang menjangkit diantara ruang hati itu. Kosong.

Kota ini, Makassar, selalu menjanjikan berjuta cerita yang membuat saya pulang. Karena disinilah saya pulang dan selalu merindu...


--Imam Rahmanto--

Selasa, 22 Maret 2016

Palasari, Gudang Buku

Maret 22, 2016
Wilujeng enjing, Bandung. Artinya, selamat pagi.

Saya baru punya kesempatan menuangkan perjalanan trip to Bandung pagi ini. Dari Palasari, saya benar-benar diterpa kelelahan. Serius, perjalanan ke Palasari (bagi orang baru) benar-benar menguras tenaga. Jaraknya cukup jauh dari tempat kami menginap, Ciumbuleuit.

Sebenarnya, semuanya bercampur jadi satu. Lelah, senang, deg-degan, cemas, -galau-. Apalagi perjalanan kemarin hanya berbekal tanya dan jalur angkot yang berbeda-beda warna dan modelnya. Modal nekat pula. Berbeda kalau di Makassar. Saya sudah hafal betul jalur angkot (pete-pete)nya.

"Di Makassar, sebutannya pete-pete, Aa'. Tetapi sama-sama angkot juga kok," logat ala Bandung.

***

Entah (si)apa yang bisa membangunkan saya di pagi hari. Di Makassar, saya punya kebiasaan bangun pagi lepas pukul tujuh. Bagi sebagian orang (termasuk saya), itu sudah tak pagi lagi. Kata seseorang, pagi menjadi waktu paling romantis yang diturunkan Tuhan.

Di kota lain, saya justru punya kebiasaan bangun lebih dini. Tak perlu alarm lagi. Saya teramat merindukannya. Saya bisa bangun cukup tenang dengan banyak basa-basi. Apa ini pertanda saya harus merantau lebih jauh ya? Tentu, kelak ada banyak tempat yang mesti dijelajahi.

Sejak tiba di kota Kembang ini, saya sudah menyusun beberapa daftar di dalam kepala. Sembari bertanya pada seorang teman blogger sekaligus sesama pers kampus, Ai Chintya, saya menelusuri tempat-tempat yang disebutkannya lewat dunia maya. Jaringan internet di kamar hotel cukup bagus.

"Pasar buku loak di Palasari..." Binggo!

Hormon saya langsung merajuk jika berhubungan dengan buku dan bacaan. Selain membaca, saya juga punya keinginan untuk membanjiri kamar saya dengan berbagai bahan buku bacaan. Hendak membangun perpustakaan mini. Moga-moga ini juga bisa jadi modal mas kawin sih. #ehh

Kemarin, saya punya waktu lowong sehari. Seorang kawan dari media tetangga juga sudah tiba dari Makassar. Saya jadi punya rekan perjalanan untuk merasai kota Bandung yang cukup metropolis dan gaul ini.

Tak usah ngeri dengan wajah sangarnya. Teman saya itu sedang mencari buku Tan Malaka dan Ilmu Sosial lainnya.
(Foto: ImamR)
"Mau kemana? Tentukan dulu," tanyanya jelang tengah hari. Kami hanya menghabiskan waktu pagi hari bersantai di restoran hingga wawancara pelatihtim Sulsel di hotelnya.

"Sudah pasti. Ayo ke Palasari. Disana ada banyak buku, katanya," jawab saya lugas.

"Memangnya tahu cara kesana? Jauh ndak?"

"Beres. Sudah tanya sama OB (office boy) di depan (hotel). Teman disini (Bandung) juga katanya siap nganter kok. Kalaupuntidak, kan bisa nekat sendiri," saya menunjukkan google map di tangan. Prediksi dari peta digital itu, waktu perjalanan ke Palasari tidak butuh waktu sampai satu jam.

Akan tetapi, google map tak selalu benar soal waktu...

Dari pertigaan Ciumbuleuit, kami menumpang angkot Caheum Ciroyom menuju Dipati Ukur. Kata teman, kami seharusnya berhenti di jalur angkot yang akan ke Buah Batu, lalu turun di Palasari. Sayangnya, saya memilih bertanya pada supir angkotnya.

"Oh, turun di perempatan Surapati saja. Disana ada angkot 01 langsung ke Palasari,"

Di atas angkot, saya tak lepas memeriksa arah perjalanan kami di google map. Beberapa jalur diperhatikan seksama agar tak kesasar di jalanan. Seandainya pun kami diculik, saya bisa berteriak pada supir angkotnya, sambil menodongnya dengan kamera DSLR yang ada di balik ransel, "Berhenti, Pak! Berhenti! Atau saya jepret nih!!"hahaha...

Perjalanan sambung-menyambung trayek angkot itu terbilang cukup panjang. Itu karena angkot pertama tidak melalui jalur singkat yang mungkin bisa dilalui kendaraan biasa. Kami seolah memutar sangat jauh dari target yang dipatok google map. Wajar jika perjalanan kami bisa menghabiskan waktu lebih dari sejam.

Oiya, harga angkot di kota Bandung juga tak sama. Itu dihitung berdasarkan jauh-dekatnya jarak perjalanan penumpang. Semakin jauh, semakin mahal. Turun di Palasari, angkot kedua, kami merogoh kocek Rp14 ribu untuk dua orang. Sementara angkot pertama dari Ciumbuleuit, kisaran biayanya sekira Rp8 ribu.

Kalau di Makassar, jauh dekat tetap Rp5 ribu. Seperti halnya dengan: jauh dekat tetap di hati. #ehh

Pasar Palasari. (Foto: ImamR)
Saya tiba di Palasari jelang adzan Ashar berkumandang. Suasana di pasar buku itu nampaknya tidak seramai bayangan saya. Jejeran buku sudah terbagi-bagi dalam beberapa lapak dan kios. "Mungkin karena sudah sore, beberapa lapak sudah mulai tutup," pikir saya.

Pasar Palasari memang cukup terkenal di kalangan pelajar Bandung. Segala stok buku pelajaran atau kuliah disediakan disana. Saya cenderung melihat, buku-buku pengetahuan itu mendominasi tumpukan yang dipamerkan masing-masing pedagang. Padahal, saya berniat mencari buku-buku non-akademik.

"Ada buku Psikologi Pendidikan, A'," transaksi antara pedagang dan pembeli yang didominasi kalangan mahasiswa dengan daftar belanjaan di tangannya.

Harganya pun beraneka ragam. Disesuaikan dengan kelangkaan atau kepopuleran buku yang dijajakan disana.

Bagi yang mencari buku loak, buku bekas, atau terbitan lama, Palasari bisa menjadi pilihan. Sayangnya, saya agak mewanti-wanti jika ingin mencari buku populer yang juga diterbitkan di toko-toko buku pada umumnya. Kisaran harganya tak jauh beda.

Di beberapa kios yang saya datangi, hampir semuanya hanya memberikan diskon 30-40 persen dari harga aslinya. Semisal buku terbaru Dee, Intelegensi Embun Pagi, masih dipatok dengan harga asli tidak kurang dari Rp100 ribu. Jika didiskon, bisa dibawa dengan banderol harga Rp70-80ribuan. Buku karangan Tasaro GK, tiga seri Muhammad juga tak jauh berbeda.

Bagi pembaca dan kolektor buku seperti saya, lebih baik jika membeli buku-buku populer dari toko resmi. Meski harganya sedikit lebih mahal, kualitasnya jauh lebih baik. Tak ada yang bisa menjamin harga murah disana, mendapatkan buku yang kualitasnya baik, kecuali ala kadarnya saja.

Yah, terlepas dari itu, Palasari bisa menjadi ladang buku bagianak-anak kuliahan. Novel terbitan lama pun bisa dibanderol dengan cukup murah. Karya-karya yang sudah tak terbit di pasaran bisa dicari di Pasar Palasari. Saya mendapatkan beberapa karya Pramoedya Ananta Toer terpajang cukup apik di beberapa kios. Hanya Nyanyian Seorang Bisu yang saya bawa pulang.

Nah, hunting buku di pasar Palasari tetap bisa mengobati mata. Asalkan tak usah berharap muluk-muluk mendapatkan buku berkualitas baik, dengan harga yang sangat murah. Patokannya hanya 30-40 persen saja. Kecuali, beli buku secara borongan atau mahir dalam ilmu tawar menawar.

Banyak buku di Palasari. (Foto: ImamR)

***

Saya ingat betul, kami keluar dari Palasari saat angka jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Bergegas mencari angkot di tempat kami tiba sebelumnya. Berdasar pengalaman saya, kami bisa kembali mengambil rute angkot sebelumnya. Tinggal membalik arahnya.

Tanpa disangka, perjalanan kami memang teramat jauh. Angkot masih harus memutar dulu ke arah timur, menuju jalur rel kereta api.

"Ini kita kesasar kayaknya yah?" saya bertanya sembari memperhatikan jalur google map yang melenceng sangat jauh.

Sebenarnya, teman dari Bandung sudah mengingatkan lewat pesan di BBM. Instruksinya cukup lengkap. Alih-alih bertanya pada supir angkot, saya justru memilih diam saja sembari tetap memperhatikan keadaan jalan. Saya juga agak risih bertanya pada supir angkotnya yang terlihat masih muda dan tak berhenti mengobrol dengan tiga orang teman gaulnya di depan.

Beruntung, sesuai dugaan, jalurnya tidak berbeda dengan jalur sebelumnya. Kami tiba di perempatan Surapati dan mencari kembali angkottrayek Caheum Ciroyom. Di pinggir jalan, kami masih sempat merasai Batagor ala Bandung. Sebenarnya di Makassar sudah banyak jenis Batagor. Saya cuma mau mencoba rasa berbeda menyantap di kota asalnya.Tak jauh beda sih.

Tiba di hotel, waktu sudah nyaris menunjukkan angka tujuh.

Saking lelahnya, rencana malam hari ke Punclut pun kami tunda. Mungkin, waktu berikutnya...

Saya hanya membawa pulang buku ini. Sebagian karena penasaran, sisanya karena buku lama. (Foto: ImamR)


--Imam Rahmanto--

Senin, 21 Maret 2016

Gasibu

Maret 21, 2016
Saya tak sendiri. Cuma kebetulan dua orang sekamar saya sedang keluar. (Foto: self timer)


Dingin. Ini hawa udara di kota Kembang. Sungguh berbeda dengan kondisi udara di kota Anging Mammiri, Makassar. Belakangan, saya baru paham mengapa udara disini terasa sungguh sejuk. Di beberapa bagian kota, pohon-pohon masih rindang berjejer di pinggiran jalan. Beberapa ruang publik juga bertebaran dimana-mana.

Pagi selalu terlalu dini bagi saya. Jika sudah berada di tempat baru, saya cenderung bangun lebih pagi. Di samping fasilitas kamarnya yang cukup nyaman. Cuaca di kota ini juga sungguh mendukung. Kata seseorang, ada nuansa romantisme di setiap pagi yang datang berulang. Seseorang semakin menjauh dari saya...

"Berangkat jam berapa?" tanya saya pada pelatih tim, yang sekamar.

Ada jadwal deadline yang harus disesuaikan dengan perbedaan waktu sejam dari kota asal. Bagi kami pekerja media, deadline sudah semacam "harga mati".

"Mainnya jam 3 sore. Kita berangkatnya jam 1 dari sini," jawab lelaki yang juga mantan pelatih di PSM Makassar ini.

Mendengar hal demikian, ada perasaan lega. Saya bisa mengisi sedikit waktu untuk sekadar berjalan-jalan di sekitar hotel. Ah, tidak. Saya harus menunaikan rasa penasaran saya atas berbagai tempat di kota ini.Seperti petunjuk yang diberikan salah seorang teman asli Bandung.

Dulu, saat di Medan, saya menyesal tidak nekat menuntaskan rasa penasaran saya berkeliling menjelajahi tempat-tempat menarik. Hanya karena persoalan tak ada kendaraan dan tanpa guide, kaki agak sulit melangkah lebih jauh. Padahal, beberapa area yang di-listing sudah dipastikan kebenaran dan kepopulerannya lewat google mapping dan ulasan di internet.

Nah, di pagi yang cukup lowong itu, saya harus menyusun rencana pelarian: Gasibu Bandung. Ah ya, setelah menikmati kuliner bubur Cianjur yang dibeli dari Aa pedagang di pinggir jalan seberang hotel.

***

"Bang, kalau ke Gasibu lewat angkot mana ya?" saya mesti bertanya pada karyawan hotel.

"Deket kok, A'. Dari sini, ambil angkot ijo itu, trus nyambung di lampu merah sana, ke arah Cicaheum. Yang ke kiri itu. Nanti bilang saja berhenti di Gasibu," jelasnya.

"Tapi, lampu merah perasaan deket ya, Bang?"

"Iya, atuh. Kalau mau jalan kaki, bisa. Tinggal nanti belok kiri dan ambil angkot yang model mobil kijang itu. Warna ijo, ada garis merahnya," tambahnya lagi antusias.

Perjalanan pun dimulai. Ransel di pinggang sudah berisi kamera DSLR canggih hasil "suplai" teman di Makassar. Sekali-kali, smartphone juga bisa jadi pilihan buat mengabadikan momen.

Tak butuh waktu lama mencapai Gasibu. Keramaian disana memang sangat padat. Namanya juga Pasar Dadakan. Para pedagang tumplek di sekeliling tugu Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Kata teman saya, pasar dadakan itu cuma muncul di hari minggu.

"Hati-hati loh, dik. Tasmu dijaga. Hati-hati banyak copet.Saku belakangmu juga," seorang ibu yang saya ajak ngobrol di dalam angkot mengingatkan sesaat saya menyodorkan uang Rp5 ribuan kepada sang supir.

Duh, belum juga apa-apa, ibu-ibu itu sudah memberikan saya kabar buruk bahwa nampaknya Bandung juga rawan kejahatan. Gara-gara itu, saya tak jadi memotret keramaian di sepanjang Gasibu. Terbawa-bawa oleh peringatan si ibu di angkot.

Saya terpaksa hanya mencuci mata di sepanjang pasar dadakan itu. Segala barang ada,meski didominasi pakaian-pakaian murah dan obral. Sayangnya, saya tidak terlalu berminat menghabiskan uang untuk pakaian-pakaian yang juga bisa diperoleh di kota Makassar.

Kalau mau wisata kuliner, nampaknya Gasibu juga bisa jadi pilihan. Segala jenis penganan tradisional ada disana. Tahu Sumedang, ada. Cilok,ada. Rujak, ada. Yang lainnya, saya tak hafal lagi apa namanya. Pokoknya banyak.

Ini hasil perburuan untuk koleksi pribadi. Sebenarnya kepikiran juga mau cariin buat seseorang, tapi...ah sudahlah.
(Foto: ImamR)

Gelang-gelang unik, tentu menjadi buruan saya. Entah kenapa,saya lebih suka mengoleksi berbagai macam gelang yang dibuat dari karya kerajinan tangan, dibandingkan harus membalut pergelangan dengan jam tangan elegan. Ohya,di Gasibu juga ada banyak jam tangan murah.

Sejam lamanya saya berkeliling di Gasibu, mewaspadai kamera di dalam ransel dan dompet di saku belakang celana. Sempat tersasar, lupa jalan masuk dari Jl.Dipati Ukur. Bahkan, saya tak sempat mengabadikan momen di depan Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.

"Haha....Imam jadi korbannya ibu-ibu," ledek teman saya asal Bandung. Ia meyakinkan, Bandung tak sengeri kota Jakarta. Suasananya jauh leboh ramah bagi siapa saja.

Yah, nasib menjelajah sendiri. Hati-hati terukur lebih teliti. Akh, hati saya juga...

Bersantai di Jack Runner Cafe, usai mengawal tim Sulsel di Stadion Siliwangi. Kapan-kapan lah saya bercerita.
(Foto: ImamR)



--Imam Rahmanto--

Minggu, 20 Maret 2016

Boarding

Maret 20, 2016
Perjalanan ke Bandung sebenarnya tak banyak berbeda saat menjelajah ke ibukota negeri, Jakarta. Jarak penerbangannya bisa ditempuh tidak sampai dua jam. Kata orang, rute dari Makassar menuju Bandung termasuk jalur baru. Bandar udara Sastranegara di Bandung juga tak begitu besar jika dibandingkan Sultan Hasanuddin atau Soekarno-Hatta.

***

Pagi benar, yang harus saya awali dengan banyak pikiran. Pesanan bapak. Pelatihan jurnalistik kantor. Perlengkapan packing yang masih seadanya. Rencana peliputan. Hingga pesan yang dinanti tak kunjung memberi kabar. Saya berhenti saja men-scroll gadget sendiri.

Saya berencana mengikuti pelatihan jurnalistik (internasional) yang diagendakan kantor untuk wartawan-wartawannya. Selain kami, parapekerja media non-wartawan yang bernaung di perusahaan sama juga ikut nimbrung. Sebenarnya berlangsung dua hari. Namun, agenda peliputan ini cukup menghindarkan saya dari materi ruangan, yang sejak dulu selalu membuat saya terkantuk-kantuk.

Jelang tengah hari, baru beranjak menuju bandara, sesuai kode booking-an pesawat yang disediakan narasumber saya.

"Kamu ambil pesawat tanggal 19 ya? Temanmu (media lain) baru berangkat tanggal 20-nya," pesan manajer tim yang sudah cukup akrab dengan saya. Saban hari, ia tak lupa menelepon untuk mengingatkan jadwal keberangkatan kami.

Akan tetapi, pelatihan itu hanya tersisa rencana di kepala. Saya justru mangkir dan mencoba "nitip absen" lantaran belum merampungkan perlengkapan untuk keperluan peliputan di kota Kembang sana. Hidup itu mesti berani memilih. Jangan segan memilih salah satunya, saja.

"Jangan lupa bawa kamera!" pesan dari redaktur saya cukup lekang di kepala. Saat menyambangi Medan, dulu, saya memang absen dari memotret. Beruntung, seorang kawan punya kamera DSLR anyar. Ia berbaik hati meminjamkannya untuk jangka waktu tak lebihdari seminggu.

Ini juga. Ransel untuk bepergian jauh (backpacking) selalu jadi kendala berulang bagi saya. Nampaknya, saya harus mulai menyisihkan sebagian pemasukan untuk membali satu perlengkapan itu. Saya yakin, masih ada banyak perjalanan lain yang menunggu saya di luar sana. #wajib

Selain ransel seperti itu, laptop juga bakal menjadi perangkat wajib sebulan atau dua bulan ke depan yang mesti ikut saya investasikan. Ck...selaoin gitar juga sih.

***

Saya tiba 1,5 jam sebelum boarding, berdasarkan sms booking-an yang saya terima. Kota Makassar sedang dilanda macet untuk bermalas-malasan melakukan perjalanan. Perbaikan jalan sedang digiatkan di sepanjang jalur protokol menuju Simpang Lima Bandara. Wajar jika saya harus lebih cepat tiba di Bandara Sultan Hasanuddin.

"Ini cara dapat tiketnya bagaimana?"

Serius. Saya awam benar dengan tiket online yang terpampang di inbox. Beberapa kali melakukan penerbangan, saya tak pernah mandiri mengurus tiketnya. Untuk perjalanan dari narasumber, saya biasanya langsung mendapatkan tiketnya di bandara. Sayangnya, tim Sulsel sudah lebih dulu berangkat, hingga meninggalkan saya yang dipesankan tiket via online.

Yah, kamu sudah besar. Dewasa. Mandiri lah. Keluarkan saja semua jurus sok tahumu.

Tak butuh waktu lama untuk tahu mencetak kode booking-an tiket itu. Datang saja ke counter maskapai penerbangannya. Tunjukkan sms kode booking-an dari travel agent. Petugas mencetak kertas berkode-rumit-yang-terdiri-huruf-acak-dan-angka. Bawa kertasnya ke bagian boarding pass. Tiket dicetak. Taraa...siap menunggu di koridor gerbang (gate) penerbangan.

Namanya hal-hal baru, selalu bikin penasaran. Hm..meski hanya sekadar ngurus tiket. #ehh (Foto: ImamR)
Yang namanya menunggu, memang selalu membosankan. Tetapi, kedatangan pesawat selalu pasti meski delay berkali-kali. Ia bakal menjemput dan membawa kita ke rute penerbangan tujuan. Teramat berbeda dengan harapan untuk orang lain. Terkadang, kamu hanya bisa berharap, tanpa perlu pamrih imbalan, meski hanya sekadar (balasan) pesan keberangkatanmu.

"Kepada para penumpang dengan nomor penerbangan....." pesan dari pramugari, mungkin.

Itu nomor penrbangan saya. Tujuan Bandung. Saya meraih ransel kecil yang sudah bertahun-tahun menemani kehidupan yang cukup lama. Memindahkannya ke bahu. Merapatkan earphone di telinga. Menjauhkan segala prasangka. Melangkahkan kaki menuju Gate 5.

"I'm fine, baby. How are you?"
"Well I would send them but I know it's just not enough"
"My words cold and flat"                                                                                                    
"And you deserve more than that"
                                --Song by Michael Bubble, Home--                                                       


--Imam Rahmanto--

Jumat, 18 Maret 2016

Jelajah Lagi

Maret 18, 2016
besok. saya. mau. ke. bandung. Yeay!

Saya kembali merasai perjalanan ke luar daerah. Lagi, sebagai bagian dari tugas seorang pewarta. Akh, ini juga termasuk hal menarik dari pekerjaan di dunia jurnalistik. Mengenal banyak orang. Menjelajahi banyak tempat.

Teori: wartawan itu banyak tahu tapi sedikit-sedikit juga diturunkan pada lingkup kerja seputar profesi itu sendiri. Wartawan itu, banyak kenal orang, meski sedikit-sedikit akrab. Berkunjung ke banyak tempat, meski hanya sebentar-sebentar. Nah, manfaatkanlah sebaik-baiknya.

Ini sudah daerah ketiga di luar Sulsel yang pernah saya kunjungi dengan label pewarta. Dan termasuk daerah yang belum pernah saya kunjungi seumur hidup. Meski tergolong metropolitan, saya tetap excited berkunjung ke tempat-tempat baru. Ada banyak ide baru dari tempat-tempat baru.

"Di Bandung mah, udah mulai macet, Mas. Di sana kan jalanannya sempit-sempit tuh," ujar salah seorang panitia di GOR Sudiang baru-baru ini.

Saya bertanya padanya tentang Bandung yang bertetanggaan dengan Jakarta. Beberapa hari ini, saya memang kerap berjumpa dengan orang-orang Bandung (atau Jakarta?) di ajang kejuaraan bulu tangkis itu. Mereka berasal dari semacam media organizer yang bertugas mendokumentasikan kejuaraan yang disponsori perusahaan rokok ternama itu. Akh, itu semacam perusahaan kreatif yang sejak dulu ingin saya bangun dan kembangkan.

"Kirain Jakarta aja yang macet, Bang. Bandung bukannya cuma weekend aja?" tambah saya penasaran. Tentu dengan logat yang dibuat agak ke-Jakarta-an.

"Sekarang udah mulai macet juga, Bang. Jarak 1 km aja, itu bisa ditempuh sampai 20 menitan," keluhnya.

Yah, segala bayangan tentang kota Bandung seakan memudar di kepala saya. Padahal, di waktu yang cukup singkat nanti (4-5 hari), saya berharap bisa menjelajahi tempat-tempat baru. Saya ingin menebus rasa penyesalan saat bertugas liputan di kota Medan, tahun lalu. Kalau bisa, bepergian sendirian, ya terpaksa mencuri waktulah...

Hahaha...pokoknya, sampai berjumpa di kota Bandung atuh. ^_^

Jumat, 11 Maret 2016

Jodoh

Maret 11, 2016
Baru-baru ini, saya kembali mendapatkan kabar, seorang teman perempuan akan mengakhiri masa lajangnya. Dia rekan seperjuangan saya saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) beberapa tahun lalu. Dia juga adik kelas di jurusan yang sama. Bahkan, karenanya, saya juga akrab dengan teman-teman seangkatannya yang lain di jurusan. Maklum, saya setahun lebih tua darinya.

Saya juga sudah menganggapnya sebagai seorang adik yang baik. Dulu di masa KKN, ia senang sekali berkomplot dengan teman-teman perempuan lain untuk meledek saya dengan salah seorang perempuan dari jurusan lain. Meski begitu, ia tetap seorang adik yang cukup perhatian.

"Datang ki ke rumah nah tanggal 16," katanya segera melalui pesan di BBM.

Saya tentu dikagetkan (meski sudah menduga) dengan kabarnya itu. Padahal, saya selama ini tidak mendengar dirinya sedang dekat dengan lelaki lainnya. Satu-satunya lelaki yang pernah mengantar-jemputnya, ya, teman KKN kami dulu. Ternyata, ia akan mengakhiri masa lajangnya, tanpa banyak kompromi. Sembari mencecarnya dengan banyak pertanyaan, saya turut berbahagia dengannya.

Beberapa waktu sebelumnya, teman-teman perempuan lainnya, rekan KKN, juga melayangkan kabar bahagianya. Ada sekira dua hingga tiga orang yang sudah siap menjalani kehidupan baru bersama pasangannya.

Ternyata, setiap orang bakal menemukan masanya...

***

Kita tak pernah tahu, seberapa jauh bisa menjalani kehidupan yang fana ini. Tuhan selalu merahasiakan masa depanNya. Selalu. Kita? Hanya menebak-nebak dan berencana.

Tentang jodoh, rezeki, dan kematian sudah jadi hak prerogatif Tuhan. Tak ada yang bisa mengganggu gugat. Hanya saja, agar tahu, Tuhan senantiasa memberikan sinyal dan petunjuk bagi kita, manusia, agar tetap berusaha menyibak misteri kehidupannya.

"Jodoh takkan kemana-mana," adalah pepatah paling melenakan di ambang pemikiran manusia.

Percayalah, itu hanya pembenaran dari orang-orang yang tak ingin menggapai jodohnya sendiri. Saya tak banyak tahu, pasrahkah mereka, atau sekadar ingin mengubur perih masa silam dalam diam. Seolah menyerahkan semua pilihannya pada Tuhan, agar kelak bisa berlepas tangan atas kehidupan yang mereka jalani sendiri.

Sama halnya dengan rezeki, Tuhan sudah mengatur banyak atau sedikitnya bagi tiap manusia. Tetapi, kita takkan pernah mendapatkannya jika hanya berdiam diri, bukan? Karena semuanya ada dalam "masa depan" yang dirahasiakan, maka kita hanya bisa berupaya dan terus menyelaraskannya bersama rapalan doa.

"Kamu meminta sesuatu pada Tuhan, tetapi kamu tak pernah berupaya menjemputnya dari Tuhan?"

Satu-satunya hal yang bisa dilakukan manusia bukan sekadar menunggu. Bergeraklah...




***

Hi...

Apa kabar setelah hari bahagiamu, kemarin? Ada sejumput senyum berbeda yang kudapati dari lekuk bibirmu. Ingin kupetik, tetapi aku mencemaskan isi hatimu. Katamu, belum saatnya. Atau entah, apakah masa depan itu kelak akan menghampiri kita?

Harus kuakui, aku kalah telak oleh perasaan. Logikaku patah satu, karena rindu.

Akankah waktu berlalu bisa terulang? Di dalam kepalaku menyimpan banyak ingatan. Izinkan aku menyimpan salah satunya tentangmu. Akh, tidak. Mungkin seharusnya semua tentangmu. Saat melihat matahari yang bangun terkesiap dari sudut matamu. Bibir merahmu yang merekah mengulum senyum malu-malu. Saat tempias hujan menghalau perjalanan tanpa nama. Atau... justru hujan yang banyak berjasa mendekapkanku padamu? Seperti hujan yang tak ingin berhenti, ingatan itu juga membuncah dari palung ingatan.


"Sometimes i wanna give you all the love that i have, coz when you smile, it seems all problems are vanished to the sky," --Song by Risin' Black Hole; Think of Love

Kita memang berbeda. Dalam banyak hal. Engkau peneguk air putih, aku mencandui cappuccino. Engkau menyenangi pagi, aku menggila pada senja. Engkau suka berfilsafat dengan logika, aku senang berimajinasi lewat fiksi. Engkau banyak memilih, aku terkadang hanya punya satu pilihan. Bahkan, kehidupanmu nampaknya teramat berbeda dengan kehidupanku.

Bukankah, akhir-akhir ini semuanya memang sedang sulit? Kita serupa dua orang asing. Seperti hati yang kau relakan terbawa aliran air, entah kemana bermuara.

Akan tetapi, biarlah kusingkirkan dahulu segala pahit cappuccino yang kusesap perlahan. Mungkin, sembari kubayangkan wajahmu dengan dua titik kecil di bawah kelopaknya. Tahukah, karena perasaan tak pernah berhenti menelikung peradaban.

Selamat bertambah usia.. Semoga, drimu makin dewasa...



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 05 Maret 2016

Segel Ingatan

Maret 05, 2016
Kekasih saya sedang agak sibuk belakangan ini. Pikirannya kerap melanglang buana dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Saya tak perlu banyak menanggapi. Jikalaupun ia ingin bercerita, saya teramat senang mendengarnya. Saya justru senang perempuan seperti dia yang sungguh cerewet. Karena lelaki memang hanya butuh jadi pendengar yang baik, sembari tersenyum mencuri-curi pandang wajahnya. Seperti halnya; memeluk yang kecewa tanpa perlu bertanya ada apa.

Saya tahu, perihal organisasi tentu agak merepotkannya belakangan ini. Saya pernah mengalaminya. Jauh di momen saya belum menyibukkan diri konsen pada arah kehidupan sekarang.

"Kenapa juga bisa seperti itu? Apa mereka tidak berpikir ya?"

 "Jangan sampai kemalaman, ya. Kalau lelah, ya pulang saja," pesan saya suatu ketika.

Hanya saja, segala kecemasan maupun kejengkelan saya (pada organisasi) seolah-olah menempatkan saya pada orang-orang yang tak pernah bergelut di dunia itu. Memangnya saya tak pernah begadang sampai larut malam hanya untuk membahas persiapan yang remeh-temeh? Memangnya teman-teman perempuan kami tak pernah ditahan selama mungkin dalam rapat-rapat malam itu? Apa saya sudah lupa, bagaimana kami bergumul deadline hingga pagi demi menyiapkan setumpuk laporan kegiatan? Tak peduli, laki-laki atau perempuan. Tak peduli mata sudah sayup-sayup menahan beban di kantung mata.

Semua, sejatinya pernah saya alami. Akan tetapi, semuanya (lagi), sudah tersegel dalam lemari ingatan saya.

Tahukah? Segel-segel ingatan itu terhimpun dalam rasa muak tak dihargai, caci maki tak berujung, ketidakpedulian satu sama lain, kehampaan akademik, hingga kehilangan jati diri keluarga saya di masa silam. Mereka berkerumun menjadi semacam antibodi ingatan, yang memaksa saya melupakan segala hal, usai tak lagi berada di lingkaran itu.

Saya begitu lama menyengaja hening dalam dunia kerja sekarang. Entahlah, saya menyebutnya apa. Kepala saya rasanya hanya ingin dikosongkan saja tentang segala hal yang agak memusingkan itu (sekaligus menjengkelkan), buah dari imajinasi organisasi. Beruntung saya masih penggemar manga dan kartun anime. Pun, pikiran saya kini tak jauh dari akal-akal sederhana, sesimpel mengucapkan sayang. #uhukk

"Kenapa?" tanya seseorang.

Karena saya cuma ingin menyepi dari hiruk-pikuk organisasi. Berkerumun di dalamnya, setiap waktu, serupa sedang menjalani pekerjaan lainnya. Pekerjaan kedua. Saya tak ingin waktu 24 jam dihabiskan hanya untuk memikirkan segala hal tentang pekerjaan. All about job and working. Pulang bekerja, masih harus "bekerja" lagi.

Saya begitu merindukan kedamaian tak-melakukan-apa-apa. Do nothing. Menatap senja tanpa bergumam apa-apa. Merasai hangatnya itu yang disapu batas cakrawala. Membahas segala hal-tak-penting bersama perempuan terkasih. Berjalan-jalan tanpa dibatasi waktu. Tertawa tanpa ada hal yang lucu. Percayalah, di saat kamu terbebas dari kesibukan dunia organisasi, ada endorfin yang ingin segera diluapkan berlama-lama.

#Menghela napas

Mungkin, hal-hal itu jadi kombinasi segel dalam lemari ingatan berlabel "organisasi" saya. Rapat. Terkunci dalam bahan tembus pandang (karena masih terlihat sewaktu-waktu)

Saya benci mengakui, justru, ada yang meronta ingin keluar dari segel itu...

Sudah terlalu lama saya mengheningkan diri. Menyergap senyap selama itu. Ada bagian-bagian yang harus kembali dirangkul dan dipetakan dalam ingatan. Saya mesti bersiap membuka lemari itu, kembali.

Bukankah saya pernah menjadikannya tempat pulang kedua setelah rumah? Keluarga kedua selain bapak-ibu? Di tempat itu pula saya bertemu dengan sahabat-sahabat yang saling menguatkan (meski memuakkan). Jatuh atau dijatuhkan, tetap berdiri sama-sama. Asalkan kita-kita, kata-kata tak berbuah (tajam) apa-apa.

"Kita tidak harus tahu orang lain butuh kita atau tidak, tapi yang terpenting kita ada untuk mereka," --Raditya Dika--

Dan, kemudian...

Apa kabar kalian yang telah lama diabaikan?


--Imam Rahmanto--

____
*Yuk, merampungkan apa yang telah kalian mulai.

Selasa, 01 Maret 2016

Pernah Anak-anak

Maret 01, 2016

Anak-anak saling dorong. Tertawa. Yang didorong hanya bisa menahan topang tubuhnya sambil mengibaskan tangan ke arah belakang. Teman lain di belakangnya pun ikut menimpali. Justru membantu teman di depannya mendorong anak paling depan. Lagi, tertawa malu-malu.

"Hayo, siapa yang bermental juara mau naik kesini bernyanyi? Saya beri hadiah loh," begitulah kata seorang pemandu acara, pagi kemarin. Saya sedang ditugasi liputan pagi.

Lelaki kocak itu sedang berdiri di hadapan ratusan anak SD yang hendak mengikuti ajang sepak bola di Lapangan Gelora Hasanuddin. Untuk itu pula, anak-anak yang telah berjejer rapi saling dorong sembari berteriak, "Dia! Saya! Dia!! Saya", tanpa lupa mendorong-dorong 'korban'nya.

Tentu, anak kecil selalu malu-malu meski sejatinya mau-mau (banget). Kata "saya" pun sebenarnya hanya jadi senjata untuk mengerjai temannya. Padahal mereka ingin mengerjai temannya. Saya, pernah, begitu. Sungguh, pemandangan yang tetiba membawa ingatan saya berselancar puluhan tahun.

Tingkah anak-anak itu tak jauh berbeda di masa kami dahulu. Saling menunjuk dan iseng kepada teman-temannya. Tak jarang, satu sama lain bakal saling menyalahkan. Yang didorong merasa risih dan menjawil kepala temannya. Ujung-ujungnya saling ketawa.

Mengawali pagi itu, mata masih agak berat, ternyata mulut bisa terbuka lebar menyunggingkan senyum. Seriusan, ada kebahagiaan tersendiri mendapati anak-anak bertingkah semacam itu.

Betapa segala hal yang ditemui di kehidupan nyata terkadang tak henti menguras ingatan. Semacam deja vu masa lalu. Seolah-olah pikiran (memang) berkata, "Dulu saya seperti itu."

Di masa kanak-kanak, saya termasuk anak yang tingkat kejahilannya (bukan kejahiliyahan) cukup tinggi. Pun, parahnya, saya gemar mengerjai teman-teman saat sedang shalat. Tangan sengaja dibuka lebar-lebar ketika takbiratul ihram hingga mengenai kawan di sebelah saya. Telapak kaki kiri sengaja dimainkan saat duduk tahiyat akhir hingga menggelitiki paha teman di sebelah.

Tak heran, banyak anak-anak yang enggan bersebelahan dengan saya. Ya Tuhan, ampuni saya....

Di sekolah, saya gemar mencari semut hitam. Bukan semut yang gemar merubungi makanan manis. Melainkan semut besar yang biasa bertebaran di semak-semak atau permukaan tanah lembab. Kalau bahasa Duri (Enrekang), disebutnya lintik pana.

Semut ini menyengat lewat pantatnya. Seperti lebah. Oleh karena itu, saya kerap memotong bagian pantatnya yang masih bersengat. Selanjutnya, menempelkan pada jari telunjuk dan menyengat teman-teman saya. Caranya? Sentuhkan saja jari telunjuk yang ada sengatnya pada lengan teman lain. Dijamin, lengan teman itu bakal membengkak seperti disengat lebah. Wajar ketika di kalangan kami anak-anak kecil dulu muncul mitos bahwa: untuk mengurangi rasa sakit saat disuntik, maka alihkan dengan sengatan semut hitam. Duh

Ada beraneka ragam tingkat keisengan yang pernah saya perbuat. Tapi...sudahlah. Agak memalukan juga menyebutnya satu persatu. _ _"

***

Lapangan sangat berlumpur pagi itu. Hujan yang mengguyur sepanjang hari tak kunjung memberi ruang bagi sinar matahari. Anak-anak terpaksa bertanding dalam keadaan becek, seperti bermain di petak sawah.

"Tidak jauh beda dengan bermain di sawah. Yang membedakan cuma jersey-nya saja," ujar saya pada teman di sebelah.

Di masa kanak-kanak, kami tak pernah mempersoalkan jumlah pemain yang harus sebelas orang. Tak pernah berdebat soal pakaian yang tidak seragam. Enggan menentukan siapa yang memimpin jalannya pertandingan. Tak peduli dimana garis batas adu penaltinya. Tak ada yang mau jadi bek atau pemain belakang, atau bahkan pelatih. Semuanya berlomba-lomba jadi striker dan menyerang lawan.

Satu hal yang kami tahu: menggocek bola sampai ke gawang lawan. Mau lumpur atau tanah kering, tak ada yang mempersoalkan. Asalkan kami bisa tertawa dan menang banyak gol, itu sudah cukup. Nah, betapa membahagiakannya sebuah pertandingan zaman sekarang jika sudah melipir jiwa-jiwa semacam itu. Berbahagia tanpa ribut gengsi.

Saya rindu bermain bebas seperti ini. (Foto: Kompas)


Meski becek, pertandingan di Lapangan Hasanuddin itu memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat. Saya ikut bersorak tatkala beberapa anak sampai di mulut gawang. Permukaan lapangan yang berlumpur membuat bola sulit bergulir. Ditendang sedikit, bola berhenti sebelum ditangkap langsung oleh kiper lawan. Dua gol dari masing-masing tim yang bertanding bahkan dicetuskan lewat tendangan bebas-yang-lepas-dari-tangan-kiper-karena-bolanya-licin. Penonton tak ketinggalan  tertawa dan bersorak saat gol tercipta.

Penonton terhibur. Paling tidak, masing-masing mungkin berpikir, "Kami pernah sepolos itu."

Deja vu...

***

Sayangnya, anak-anak zaman sekarang sudah tak polos lagi. Ditanya lagu kesukaannya, dua diantara mereka yang naik panggung hanya senang mendendangkan lagu Aliando dan Ayu Tingting. Mereka bahkan lebih hafal lirik lagunya ketimbang saya. #tepokjidat


--Imam Rahmanto--