Rabu, 03 Februari 2016

Kisah Pilu dari Afganistan

Banyak listing yang harus saya selesaikan tahun ini. Rak buku di dinding kamar seolah menyiratkan seberapa banyak daftar bacaan yang harus dikhatamkan. Sementara stok bakal terus ditambah tiap bulan.

Saya dengan senang hati menerima sumbangan buku sukarela. :D (Foto: ImamR)

Di jejeran buku keempat, saya kerap melesakkan buku ini, The Kite Runner. Saya hafal betul. Itu karena setiap kali menariknya dari sana, garis ruangnya dibiarkan kosong. Setelah terbangun di pagi hari, buku itu baru kembali ke tempatnya. Saban malam tergeletak di sisi pembaringan saya. Tak ada lagi kesempatan "damai" membaca buku di pagi hari.

Kendati sebenarnya saya sudah berulang-ulang melihat dan mendengar kabar salah satu novel fenomenal ini, saya baru punya kesempatan menyelesaikannya (sekaligus memilikinya), awal tahun ini. Bayangkan saja, saya butuh waktu lebih seminggu menamatkan buku setebal 300-an halaman ini.

"Saya punya filmnya itu di rumah," salah seorang senior di kantor menanggapi foto yang sempat saya unggah ke media sosial BBM.

Selain fotografer, saya juga mengenalnya sebagai kolektor buku dan film. Sayangnya, koleksinya tak boleh dibawa keluar dari rumahnya. Duh.

The Kite Runner.

(Sumber: googling)
Artinya "Pengejar Layang-layang". Hanya saja, jangan pernah menyangka isinya tentang permainan masa kecil yang sangat populer di perkampungan Indonesia. Budaya menerbangkan layangan ternyata punya kharismanya sendiri negara Islam seperti Afganistan.

Di masa damai dulu, anak-anak Afghan kerap merayakan parade layang-layang. Saling mengadu ketajaman benang. Mewarnai langit dengan beraneka warna layang-layang. Siapa yang mampu bertahan lama. Gelar juara tak sekadar gengsi, melainkan kehormatan yang bisa dipajang di rumah dan dipamerkan kepada orang lain.

Yah, dari beberapa bacaan, saya mengenal orang Afghan memang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Mereka pulalah yang disebut bangsa Pashtun.

Situasi berubah di saat masa penggulingan pemerintahan. Prajurit Taliban awalnya dianggap sebagai pahlawan mengusir pasukan asing dari tanah Afghan. Namun, syariat Islam yang sangat ketat mulai menimbulkan keonaran dan mengharamkan banyak hal. Termasuk bermain layang-layang itu. Kehidupan pra dan pasca Taliban berkuasa sangat berbeda. Bahkan, ethnic cleansing (pembersihan etnis) seperti halnya Yahudi di masa Hitler sempat terjadi pada suku mayoritas Hazara.

Ah, tunggu dulu. Tak usah berpikir  berat-berat tentang peperangan itu. Cerita politik dan kekuasaan itu hanya menjadi sisipan cerita atas latar kejadian yang dialami tokoh utamanya. Karena pada dasarnya, cerita berpusat pada Amir dan Hasan. Dua anak kecil berbeda suku yang bersahabat layaknya seorang saudara. Belakangan, kita baru disuguhi bahwa keduanya ternyata bersaudara.

Seperti hingga kini, Afganistan terbagi dalam dua suku utama; Pashtun dan Hazara. Antara Sunni dan Syiah. Hasan termasuk kaum Hazara, yang dominan memeluk Syiah. Kaum Hazara terpandang sebagai kaum rendahan dan lebih banyak dijadikan sebagai budak.

Akan tetapi, kehidupan Hasan berbeda. Ia dan ayahnya, Ali, hidup sebagai pelayan setia di keluarga Amir. Mereka pun diperlakukan sangat baik oleh ayah Hasan, Baba. Bahkan, Baba selalu menganggap Ali adalah sahabatnya dan Hasan layaknya anak sendiri.

Lambat laun, benih kecemburuan muncul di hati Amir. Kecemburuan itu bersisian dengan rasa keakraban dengan Hasan. Rasa tak bisa melepaskannya. Perasaan menginginkan Hasan selalu bersamanya sebagai seorang Hazara.

Sayangnya, Amir dan Hasan punya karakter berbeda. Segala keberanian dan kepiawaian di lapangan, ada pada diri Hasan, yang sangat didambakan Baba ada pada anaknya. Sementara Amir, hanya seorang penakut "kutu buku" yang selalu berlaindung di belakang pelayan setianya, Hasan. Satu-satunya keahlian Amir adalah memainkan layangan di udara.

Saya jadi teringat dengan diri sendiri saat menyimak kisah Amir. Semasa kecil, bapak selalu marah jika saya pulang ke rumah dalam keadaan menangis usai diledek teman. Alih-alih diberikan perlindungan, saya justru disuruh menghentikan tangisan. "Laki-laki tak boleh menangis," sembari mengomeli saya dengan label "cengeng".

Saya terkadang iri dengan teman-teman yang selalu bisa berlindung di belakang bapak atau kakak laki-lakinya. Kalau ada yang menjahili, tinggal lapor saja. Mereka akan turun tangan. Minimal menegur atau mengomeli anak-anak yang bertindak antagonis.

Ternyata, anak lelaki tak boleh selalu mendapatkan perlindungan. Ia mesti tahu berkelahi. Ia mesti tahu cara melindungi dirinya sendiri. Karena kelak, ia harus melindungi segala hal yang dia sayangi, termasuk perempuannya.

"Seorang anak laki-laki yang tak mampu membela dirinya sendiri akan tumbuh menjadi pria yang tak mampu menghadapi masalah apa pun," --Baba, in The Kite Runner

Kepengecutan Amir berbuah penyesalan. Kesempatannya menebus dosa baru didapatnya berpuluh-puluh tahun kemudian. Pun, ketika Hasan dan keluarganya telah meninggal. Baba pun telah meninggal. Tersisa Amir dan keluarga barunya, istri tercinta: Soraya. Hasan mewariskan seseorang yang baru disadari Amir sangat berarti bagi kehidupannya yang baru. Ketika Taliban mulai merajalela menancapkan penderitaan bagi kaum Afganistan, Amir bergegas menembus bahaya.


“Dan itulah yang kuyakini sebagai penebusan dosa sejati, saat rasa bersalah menggerakkan seseorang untuk melakukan kebaikan” --The Kite Runner


 ***

Rasa-rasanya, saya cukup terhanyut membaca buku itu. Khaled sangat paham bagaimana mengulur-ulur alur ceritanya. Maju-mundur-mundur-maju. Seolah-olah pembaca adalah penonton yang menyaksikannya memainkan layangan, seperti yang dilakukan Amir dan Hasan.

Kendati tak begitu membuat saya berurai air mata, buku ini bernuansa "biru". Saat membacanya, tak banyak ditemukan keceriaan ataupun kelucuan yang diharapkan. Inilah kisah plu. Meski begitu, cukup banyak menggugah pengetahuan dan pandangan saya. Bacaan buku karya dari Agustinus Wibowo, dulu, seolah menjadi pembuka pengetahuan saya tentang Afganistan. Ini juga termasuk pelengkap puzzle-puzzle tentang Afganistan. 

Buku yang keren. Tak heran buku termasuk karya fenomenal yang mendunia. Kisah tentang Afganistan serasa tak habis diulas dari sisi peperangannya. Di balik deru pelurunya, ternyata masih banyak kisah pilu penduduknya yang tak terjamah media. Mau tahu tentang Afganistan? Mungkin membaca novel semacam ini bisa mewakili kisah-kisah tak kasat mata. Serasa ingin mengunjungi negara beribu pilu itu.

***


“Hanya ada satu macam dosa, yaitu mencuri. Dosa-dosa yang lain adalah variasi dari dosa itu. Kalau Kau menipu, Kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran.”

“Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau tak bisa begitu saja mengisi mereka dengan warna-warna kesukaanmu,” 


“Tugasmu saat ini adalah mengasah bakatmu karena orang yang menyia-nyiakan bakat pemberian Tuhan sama saja dengan seekor keledai.” 


“Mungkin, beberapa kisah memang tak perlu diceritakan.”


“Kehilangan sesuatu yang kita miliki selalu lebih menyakitkan daripada tidak memiliki sama sekali.”


“Tapi waktu sungguh serakah—kadang-kadang ia mencuri semua detail tanpa menyisakan apa pun.”


“Seseorang yang tidak memiliki kesadaran, tidak memiliki kebaikan, tidak akan pernah menderita.”



--Imam Rahmanto--

2 komentar:

  1. Hey aku juga jadi nyari tauuu soal afghan bahkan mulai baca-baca buku Afgan.

    BalasHapus