Kamis, 25 Februari 2016

Belajarlah Mencintai Sejarah(mu)

Setiap pagi, diawali dengan segelas cappuccino oplosan. (Foto: ImamR)

Satu lagi buku "rich-angle" yang saya temukan sebulan lalu. Kisah yang diceritakan lewat banyak mata dan pemahaman. Selain buku-buku karya Ika Natassa, ternyata Leila S. Chudori juga sama ciamiknya membagi "mata-mata" dalam bukunya; Pulang.

Saya selalu suka dengan gaya bercerita banyak angle semacam itu. Kita (pembaca) seolah-olah menyaksikan fim dari segala framing. Cerita tidak hanya dimonopoli oleh tokoh utama. Mungkin, alur yang berseberangan juga bisa dibangun lewat beberapa penceritaan orang kedua, ketiga, keempat, kelima, dst.

Orang-orang mungkin bakal bertanya, apa bedanya dengan buku karya Tere Liye dengan judul yang sama? Saya memang belum pernah menyentuh salah satu karya teranyar penulis produktif itu. Sayangnya, saya (sedang ingin) menghakimi, buku itu tak jauh dari tema melankolis, sebagaimana karakter penulis itu bercerita. Hal itu pula yang membuat saya lama-kelamaan jenuh dengan gaya bertutur cerita itu, mendayu-dayu.

Pulang satu ini, sungguh bacaan yang menarik. Seratus persen serius. Seperti yang selalu diklaim dalam endorsement maupun covernya. Ada tiga sejarah yang menjadi latar belakang kisah, yakni Peristiwa G30S/ PKI, Pemberontakan Mahasiswa; Revolusi Perancis 1968, dan Reformasi Indonesia 1998.

Semula, saya menyangka buku ini tidak jauh dari cerita sejarah yang monoton. Maklum, saya agak alergi dengan pelajaran satu itu. Di masa sekolah dulu, saban minggu dihadapkan pada (hafalan) sejarah. Kapankah terjadinya perang bla-bla-bla? Apa isi Perjanjian bla-bla-bla? Bagaimana proses terjadinya perang bla-bla-bla?

“Siapa gerangan yang menciptakan diorama? Apakah sejak semula itu dibuat untuk alat informasi, pendidikan, propaganda, atau hiburan? Atau semuanya sekaligus? Apakah penciptanya kelak tahu bahwa diorama bisa digunakan secara efektif sebagai dongeng bagi anak-anak sekolah, tentang bagaimana negeri ini terbentuk menjadi sebuah negeri penuh luka dan paranoia?” --Pulang

Dan...

Eureeka! Ternyata dugaan itu salah! Saya justru terpikat dengan buku bersampul merah ini. Ceritanya bahkan berputar pada beberapa tokoh yang berprofesi sebagai wartawan. Nah, kan punya kedekatan dengan profesi saya. Di masa orde lama, pertentangan kantor berita dengan pemerintah sudah menguat. Kalau bukan golongan kiri, maka Anda adalah golongan kanan. Antara pro-PKI dengan kontra PKI. Media pun dijejaki hal semacam itu.

Saat PKI mulai diberantas, semua antek-antek (dan yang dianggap berkontribusi, baik keluarga maupun hanya kenalan) dilenyapkan pemerintah orde baru. Gejolak politik semakin memanas. Tanpa tahu kantor beritanya juga menjadi sasaran pemerintah orde baru, wartawan Kantor Berita Nusantara Dimas Suryo, Risjaf, Tjai, dan Nugroho mengikuti sebuah pertemuan di Peking, Cina. Pertemuan karena tugas kantor itu akhirnya mempertemukan mereka di negara seribu mode, Perancis.

Jadilah para mantan wartawan ini sebagai eksil politik di Perancis. Mereka tak mungkin pulang di tengah berkuasanya pemerintah orde baru. Mereka kadung dicap sebagai "pembangkang" oleh pemerintah. Untuk itu, demi bertahan hidup, empat pilar tanah air ini mendirikan Restoran Tanah Air di Perancis.

"Eksil 65 adalah mereka yang pada masa itu berada di luar Indonesia untuk belajar atau menjadi delegasi negara untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi di negara-negara sosialis. Keseluruhan peristiwa tersebut berlangsung dalam konteks perang dingin antara Blok Timur dan Blok Barat."

"Setelah orde baru berkuasa, para pelajar dan delegasi yang masih berada di luar negeri yang tidak mengakui pemerintahan Soeharto dianggap sebagai komunis. Pemerintah Indonesia pada masa itu mencabut paspor mereka. Kalaupun ada yang berhasil kembali ke Indonesia, mereka sudah ditunggu di bandara untuk ditangkap dan diinterogasi oleh pihak militer." -- Sumber: nationalgeographic

Berselang puluhan tahun di Perancis, kehidupan terus berjalan. Kabar dari Indonesia semakin berembus dan memaksa mereka tetap bertahan dengan keluarga baru masing-masing. Tak terkecuali Dimas Suryo, yang dikaruniai buah hati Lintang Utara atas perkawinannya dengan Vivienne.

Kisah tetap berlanjut dalam penyelesaian tugas akhir Lintang sebagai mahasiswi Sorbonne. Ia terpaksa harus ke Indonesia, tanah air yang tak pernah dikenalnya. Ia bertemu dengan anak-anak sahabat ayahnya saat bekerja di media tanah air. Tanah air mulai direformasi para aktivis dan mahasiswa. Indonesia bergejolak. Presiden siap diturunkan.

...

Aduh. Kalau diminta bercerita, saya tentu takkan berhenti. Itu saking melekatnya di dalam kepala. Padahal, saya membacanya sedikit demi sedikit, selama seminggu lebih. Waktu baca saya :malam hari, jelang terlelap dan pagi hari, sebelum bekerja.

Isinya juga tak jauh dari kesan "berani". Entah bagaimana, gaya bercerita Leila yang membuang hal-hal tabu, agak mirip dengan haya bercerita Ayu Utami maupun Djenar Maesa Ayu, juga Ika Natassa. Penggambaran hal-hal yang berkaitan dengan seks dideskripsikan cukup gamblang. Tetapi, tidak sampai membanjiri isi buku.

Buku ini mengajarkan tentang arti "pulang" yang sesungguhnya. Bukan karena perantauan. Bukan karena perjalanan jauh. Melainkan jiwa yang ingin kembali ke tempat paling nyaman: rumah.

“Rumah adalah tempat keluargamu menetap,” kata Vivienne mencoba mempertahankan pendiriannya tanpa menyinggungnya.
“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang,” jawab Dimas

Overall, saya suka dengan buku ini. Bolehlah saya memberikan lima acungan jempol. Pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia diperbaharui. Ada puzzle-puzzle sejarah di kepala yang kemudian tersambung sedikit demi sedikit.

Karena sejarah bukan untuk dilupakan...

***


“Jangan sekali-kali meminta maaf untuk mempertahankan prinsip!” 

“Setiap huruf mempunyai ruh, mempunyai nyawa, dan memilih kehidupannya sendiri.” 

"Ibu mana pun, yang baik atau buruk, tetap terluka ketika anaknya dicela. Meski celaan itu tidak salah, dan juga bukan fitnah. Tetapi tali pusar anak dari ibunya hanya diputus oleh sebilah gunting dunia. Di antara mereka berdua ada pertalian abadi, yang bahkan oleh seorang ayah pun tak bisa dipahami” 

“Kau tak boleh menyeret-nyeret nasib dan perasaan orang hingga hati orang itu tercecer ke mana-mana. Kau harus berani memilih dengan segala risikonya.” 

“Mengapa benda mati disebut sesuatu yang mati? Terkadang mereka lebih 'hidup' dan lebih jujur memberikan saksi.” 

“Dan bibirnya adalah sepotong puisi yang belum selesai. Aku yakin, hanya bibirku yang bisa menyelesaikannya menjadi sebuah puisi yang lengkap.” 

“Indonesia adalah negara sedang berkembang yang terjerat begitu banyak utang, tetapi sekian persen di pucuk atas piramida penduduknya berbelanja tas dan sepatu Louis Vuitton di Paris.” 

“Menurut Maman, apakah Ayah seorang Ekalaya?"
Aku menuang anggue ke dalam gelas. Anggur merah.
"Non."
"Kenapa tidak?"
"Dia seorang Bima, yang selalu ingin melindungi perempuan yang dicintainya.” 

“Benarkah angin tidak sedang mencoba menyentuh bibirnya yang begitu sempurna?” 




--Imam Rahmanto--

10 komentar:

  1. Karena sejarah bukan untuk dilupakan...
    saya suka kata-katanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wahh....apa kabar, Marwah? Sehat? :D

      Hapus
  2. Balasan
    1. Bagus juga jadi bahan cerita tuh sejarahnya, Bang. :D

      Hapus
  3. Astaga mam, aku hampir lupa sama buku itu. Itu buku aku baca waktu kuliah dulu. Dan sampai sekarang, enggak pernah nemu buku sekeren itu lagi.. Ada rekomendasi buku yang setipe itu?
    *btw, aku mampir lagiii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku sekarang lagi coba baca bukunya Laksmi Pamuntjak, Amba. Tipenya sih nyaris sama, latar belakang masa orba. Tetapi, jalan ceritanya, malah bikin saya break-reading terlalu lama. Baca sebulan lalu, sampai sekarang masih belum kelar-kelar. Hahaha...

      Hapus
    2. Aku juga udah punya buku itu dari zaman kuliah. Masih yang versi gede. Kebaca 10 halaman, pusing. Aku pinjemin ke orang aja sampai sekarang, haha.. Berat banget kalau Amba, mam..

      Hapus
    3. Hahaha....sama dong. Makanya ini aku mau nyelingi dulu sama yang ringan-ringan. ^^,

      Hapus