Kamis, 25 Februari 2016

Belajarlah Mencintai Sejarah(mu)

Februari 25, 2016
Setiap pagi, diawali dengan segelas cappuccino oplosan. (Foto: ImamR)

Satu lagi buku "rich-angle" yang saya temukan sebulan lalu. Kisah yang diceritakan lewat banyak mata dan pemahaman. Selain buku-buku karya Ika Natassa, ternyata Leila S. Chudori juga sama ciamiknya membagi "mata-mata" dalam bukunya; Pulang.

Saya selalu suka dengan gaya bercerita banyak angle semacam itu. Kita (pembaca) seolah-olah menyaksikan fim dari segala framing. Cerita tidak hanya dimonopoli oleh tokoh utama. Mungkin, alur yang berseberangan juga bisa dibangun lewat beberapa penceritaan orang kedua, ketiga, keempat, kelima, dst.

Orang-orang mungkin bakal bertanya, apa bedanya dengan buku karya Tere Liye dengan judul yang sama? Saya memang belum pernah menyentuh salah satu karya teranyar penulis produktif itu. Sayangnya, saya (sedang ingin) menghakimi, buku itu tak jauh dari tema melankolis, sebagaimana karakter penulis itu bercerita. Hal itu pula yang membuat saya lama-kelamaan jenuh dengan gaya bertutur cerita itu, mendayu-dayu.

Pulang satu ini, sungguh bacaan yang menarik. Seratus persen serius. Seperti yang selalu diklaim dalam endorsement maupun covernya. Ada tiga sejarah yang menjadi latar belakang kisah, yakni Peristiwa G30S/ PKI, Pemberontakan Mahasiswa; Revolusi Perancis 1968, dan Reformasi Indonesia 1998.

Semula, saya menyangka buku ini tidak jauh dari cerita sejarah yang monoton. Maklum, saya agak alergi dengan pelajaran satu itu. Di masa sekolah dulu, saban minggu dihadapkan pada (hafalan) sejarah. Kapankah terjadinya perang bla-bla-bla? Apa isi Perjanjian bla-bla-bla? Bagaimana proses terjadinya perang bla-bla-bla?

“Siapa gerangan yang menciptakan diorama? Apakah sejak semula itu dibuat untuk alat informasi, pendidikan, propaganda, atau hiburan? Atau semuanya sekaligus? Apakah penciptanya kelak tahu bahwa diorama bisa digunakan secara efektif sebagai dongeng bagi anak-anak sekolah, tentang bagaimana negeri ini terbentuk menjadi sebuah negeri penuh luka dan paranoia?” --Pulang

Dan...

Eureeka! Ternyata dugaan itu salah! Saya justru terpikat dengan buku bersampul merah ini. Ceritanya bahkan berputar pada beberapa tokoh yang berprofesi sebagai wartawan. Nah, kan punya kedekatan dengan profesi saya. Di masa orde lama, pertentangan kantor berita dengan pemerintah sudah menguat. Kalau bukan golongan kiri, maka Anda adalah golongan kanan. Antara pro-PKI dengan kontra PKI. Media pun dijejaki hal semacam itu.

Saat PKI mulai diberantas, semua antek-antek (dan yang dianggap berkontribusi, baik keluarga maupun hanya kenalan) dilenyapkan pemerintah orde baru. Gejolak politik semakin memanas. Tanpa tahu kantor beritanya juga menjadi sasaran pemerintah orde baru, wartawan Kantor Berita Nusantara Dimas Suryo, Risjaf, Tjai, dan Nugroho mengikuti sebuah pertemuan di Peking, Cina. Pertemuan karena tugas kantor itu akhirnya mempertemukan mereka di negara seribu mode, Perancis.

Jadilah para mantan wartawan ini sebagai eksil politik di Perancis. Mereka tak mungkin pulang di tengah berkuasanya pemerintah orde baru. Mereka kadung dicap sebagai "pembangkang" oleh pemerintah. Untuk itu, demi bertahan hidup, empat pilar tanah air ini mendirikan Restoran Tanah Air di Perancis.

"Eksil 65 adalah mereka yang pada masa itu berada di luar Indonesia untuk belajar atau menjadi delegasi negara untuk menghadiri konferensi tingkat tinggi di negara-negara sosialis. Keseluruhan peristiwa tersebut berlangsung dalam konteks perang dingin antara Blok Timur dan Blok Barat."

"Setelah orde baru berkuasa, para pelajar dan delegasi yang masih berada di luar negeri yang tidak mengakui pemerintahan Soeharto dianggap sebagai komunis. Pemerintah Indonesia pada masa itu mencabut paspor mereka. Kalaupun ada yang berhasil kembali ke Indonesia, mereka sudah ditunggu di bandara untuk ditangkap dan diinterogasi oleh pihak militer." -- Sumber: nationalgeographic

Berselang puluhan tahun di Perancis, kehidupan terus berjalan. Kabar dari Indonesia semakin berembus dan memaksa mereka tetap bertahan dengan keluarga baru masing-masing. Tak terkecuali Dimas Suryo, yang dikaruniai buah hati Lintang Utara atas perkawinannya dengan Vivienne.

Kisah tetap berlanjut dalam penyelesaian tugas akhir Lintang sebagai mahasiswi Sorbonne. Ia terpaksa harus ke Indonesia, tanah air yang tak pernah dikenalnya. Ia bertemu dengan anak-anak sahabat ayahnya saat bekerja di media tanah air. Tanah air mulai direformasi para aktivis dan mahasiswa. Indonesia bergejolak. Presiden siap diturunkan.

...

Aduh. Kalau diminta bercerita, saya tentu takkan berhenti. Itu saking melekatnya di dalam kepala. Padahal, saya membacanya sedikit demi sedikit, selama seminggu lebih. Waktu baca saya :malam hari, jelang terlelap dan pagi hari, sebelum bekerja.

Isinya juga tak jauh dari kesan "berani". Entah bagaimana, gaya bercerita Leila yang membuang hal-hal tabu, agak mirip dengan haya bercerita Ayu Utami maupun Djenar Maesa Ayu, juga Ika Natassa. Penggambaran hal-hal yang berkaitan dengan seks dideskripsikan cukup gamblang. Tetapi, tidak sampai membanjiri isi buku.

Buku ini mengajarkan tentang arti "pulang" yang sesungguhnya. Bukan karena perantauan. Bukan karena perjalanan jauh. Melainkan jiwa yang ingin kembali ke tempat paling nyaman: rumah.

“Rumah adalah tempat keluargamu menetap,” kata Vivienne mencoba mempertahankan pendiriannya tanpa menyinggungnya.
“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang,” jawab Dimas

Overall, saya suka dengan buku ini. Bolehlah saya memberikan lima acungan jempol. Pengetahuan saya tentang sejarah Indonesia diperbaharui. Ada puzzle-puzzle sejarah di kepala yang kemudian tersambung sedikit demi sedikit.

Karena sejarah bukan untuk dilupakan...

***


“Jangan sekali-kali meminta maaf untuk mempertahankan prinsip!” 

“Setiap huruf mempunyai ruh, mempunyai nyawa, dan memilih kehidupannya sendiri.” 

"Ibu mana pun, yang baik atau buruk, tetap terluka ketika anaknya dicela. Meski celaan itu tidak salah, dan juga bukan fitnah. Tetapi tali pusar anak dari ibunya hanya diputus oleh sebilah gunting dunia. Di antara mereka berdua ada pertalian abadi, yang bahkan oleh seorang ayah pun tak bisa dipahami” 

“Kau tak boleh menyeret-nyeret nasib dan perasaan orang hingga hati orang itu tercecer ke mana-mana. Kau harus berani memilih dengan segala risikonya.” 

“Mengapa benda mati disebut sesuatu yang mati? Terkadang mereka lebih 'hidup' dan lebih jujur memberikan saksi.” 

“Dan bibirnya adalah sepotong puisi yang belum selesai. Aku yakin, hanya bibirku yang bisa menyelesaikannya menjadi sebuah puisi yang lengkap.” 

“Indonesia adalah negara sedang berkembang yang terjerat begitu banyak utang, tetapi sekian persen di pucuk atas piramida penduduknya berbelanja tas dan sepatu Louis Vuitton di Paris.” 

“Menurut Maman, apakah Ayah seorang Ekalaya?"
Aku menuang anggue ke dalam gelas. Anggur merah.
"Non."
"Kenapa tidak?"
"Dia seorang Bima, yang selalu ingin melindungi perempuan yang dicintainya.” 

“Benarkah angin tidak sedang mencoba menyentuh bibirnya yang begitu sempurna?” 




--Imam Rahmanto--

Sabtu, 20 Februari 2016

Gerbong

Februari 20, 2016
Beberapa waktu lalu, saya baru melepas rindu dengan seorang kawan lama. Akh, disebut melepas rindu juga terlampau melankolis. Tak ada pelukan. Tak ada bincang-bincang serius. Kami bertemu justru saling ledek satu sama lain. Ia yang masih dengan kesendiriannya dan tengah berusaha mendaftarkan diri di salah satu program beasiswa "bergengsi". Sementara saya, dipaksa-paksanya memperkenalkan perempuan misterius yang dilihatnya sempat jadi bahan gosip grup BBM kelas kami. Betapa kau, perempuanku, membuat semua orang di sekitarku agak terkejut, entah takjub atau tak berdaya.

"Aduh. Ternyata tak ada gunanya bertemu kau," ujar teman kuliah saya ini mencela. Apalagi justru saya yang harus ditraktirnya di tengah pergulatannya mencari kerja.

Semula, ia ternyata hendak "memanfaatkan" saya sebagai penyalur ide untuk bahan esai persyaratan beasiswanya. Katanya, ada tes wawancara tentang permasalahan bangsa Indonesia yang sedang hangat dipeebincangkan. Hal itu mesti ia lalui demi meloloskan diri pada beasiswa dari Kementerian Keuangan. Sebagai jurnalis, saya dianggapnya khatam persoalan negeri ini. Ia mengajak diskusi, alih-alih menjajal kemampuan eksaknya.

"Kalau mau tanya soal klub PSM sekarang siapa yang latih? Bagaimana perkembangan pemainnya? Atau soal persiapan beberapa cabang olahraga menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON), saya layani deh," elak saya.

Serius. Terlalu lama menukangi desk olahraga membuat saya agak "buta" dengan persoalan-persoalan selain "olahraga". Berita-berita yang sedang booming hanya melintas sekilas lalu saja di kepala. Masyarakat Ekonomi ASEAN. Prostitusi online. Kasus ledakan bom di Thamrin. Kasus kopi Mirna. Perdebatan LGBT. Hingga yang terbaru; penyanyi dangdut jadi tersangka pencabulan.

"Saya kan bukan anak organisasi, jadi tidak paham nanti menjawab hal seperti itu," paparnya lagi.

Saya hanya tertawa mendengar repetan sahabat itu. Ia masih belum banyak berubah. Waktu ternyata tak banyak mengubah perangai kami. Tergolong cerdas (secara matematis) di kelas, tidak lantas memudahkannya mengarungi hidup. Pun, kini ia masih belum memutuskan hendak melanjutkan kehidupannya sebagai apa. Pekerjaan bertahan sampai sekarang, katanya, sebagai guru privat. Padahal saya mengenalnya sebagai anak seorang guru di kampung kelahirannya. Mudah saja jika ia ingin jadi guru. Namun hanya bertaruh saja pada beasiswa itu. Saya malah menganggap sebagai pelarian atas hal yang masih bingung ditapakinya.

Sudahlah. Tak ada adegan menghakimi dalam cerita itu. Saya hanya rindu bercengkerama lagi dengan sahabat-sahabat saya. Mungkin sebagai jalan menyisihkan segala hal sumpek tentang pekerjaan.



Kemarin, saya juga baru saja mencoba meramaikan linimassa twitter. Menyapa teman-teman di seberang pulau yang dulu teramat "ribut" membicarakan blog. Saling pamer dan menantang. Saling melontarkan ejekan dan candaan.

"Kalau ada cuti berkunjunglah ke Bandung atau Jakarta," ajak seorang teman. Saya saja masih ngarep dapat jatah libur, belum tahu kapan.

Akan tetapi, semua juga berlangsung sebentar. Tak lama, kami mesti kembali disibukkan dengan urusan "dunia" masing-masing. Entah itu pekerjaan, sisa-sisa kuliah, atau soal pasangan hidup.


***

Kini, setiap orang telah sibuk dengan kehidupan dan pekerjaan masing-masing. Kehidupan terus berjalan. Teman-teman yang dulunya saban hari bertemu, mulai menjauh. Wajah-wajah yang dulu penuh ledekan, mulai beralih serius.

Anak-anak, bermain, sekolah, ujian, kuliah, yudisium, wisuda, bekerja, menikah, semua serupa gerbong kereta yang sedang ditumpangi. Kita menumpang di salah satunya. Terus maju ke gerbong berikutnya. Sesekali kita ingin berlama-lama di salah satu gerbong. Sayangnya, jika melewati batas waktu tertentu, "alarm" dari arah depan memperingatkan kita.

Berjalan terus ke gerbong berikutnya. Menyisakan kerinduan. Sekali waktu bersamaan dengan penumpang lainnya. Lain waktu, meninggalkan atau ditinggalkan lebih dulu. Di ujungnya, kita baru sadar hendak kemana. Ternyata, semua kereta hanya punya satu tujuan: Sang Pencipta.

Sementara kita menuju pada tujuan hakiki itu, sudahkah kita memperbaiki diri?


--Imam Rahmanto--

Selasa, 16 Februari 2016

Butterfly Effect

Februari 16, 2016
Udara tak menghembus. Di bawah rindang pepohonan, panas tak begitu menyengat. Dahan dan ranting nampak sedang tersenyum pada saya. Di sepanjang kokohnya pohon berjejer, muda-mudi bersantai. Mungkin, berbicara perkara pendidikan yang menghabiskan setengah isi kepala.

Saya sedang mencari tempat nyaman sekadar mengetikkan tugas deadline. Di penghujung kebisingan kota, saya melintaskan diri ke dalam kampus terbesar di kota ini. Butuh beberapa menit untuk menyelesaikan satu naskah tulisan. Saya juga agak jengah melintas di sepanjang ruas jalan Perintis. Saban sore, macet tak.kira-kira. Tahu, tidak. Lamanya mengendarai motor di tengah kemacetan setara dengan rampungnya satu-dua naskah berita.

Tanpa teman, saya sesekali hanya mampir di masjid kampusnya. Membiarkan orang-orang lalu lalang beribadah sembari sibuk sendiri dengan gadget. Di depan kepala seolah ada tulisan "deadline" yang menggantung-gantung tak ingin ditinggalkan. Kalau sudah begini, ibadah jadi belakangan. Duh, Gusti.

Suasana adem di kampus ini cukup menenangkan bagi saya. Saya menyukainya. Apalagi dilengkapi dengan landscape sebuah danau buatannya.

Suasana kampus Unhas mirip dengan kampus kuning di ibukota negara sana, Jakarta. Saya pernah berkunjung dan mendapati suasananya yang tak jauh berbeda. Danau. Pepohonan. Area publik. Jalanan melingkar. Sepeda gratis. Mirip.

Adaptasinya nyaris sempurna jika saja pihak kampus berhasil meloloskan kebijakan terkait bus kampus. Alih-alih sebagai trasportasi gratis mahasiswa, para supir angkutan umum (baca: pete-pete) justru protes. Mereka terancam kehilangan pekerjaan jika bus merah (seperti di UI, sebutannya Bus Kuning) menjajah lingkungan kampus.

Ah, kasihan juga. Tetapi, saya sebagai (mantan) mahasiswa justru lebih senang kalau ada transportasi semacam itu.

Pertama kali menginjakkan kaki di kota Makassar, saya pernah mengidamkan bergelut dengan kehidupan layaknya mahasiswa disana. Sayangnya, jalan hidup justru berbelok ke arah kampus negeri lainnya. Kampus yang sudah melahirkan banyak guru dan dosen. Nyatanya, arah hidup saya kembali berbelok untuk kedua kalinya.

"Seandainya dulu........ tentu tidak begini, kan?"

Saya sudah terlalu banyak mendengar keluhan semacam itu. Seolah berharap masa lalu berubah, dan tidak memberikan kesialan seperti di masa sekarang. Siapa yang bisa menebak masa depan?

Seberapa yakin kita, hidup bakal lebih baik jika jalur hidup di masa lalu sesuai dengan apa yang diinginkan?

Setiap elemen kehidupan saling bertautan. Sedikit saja hal berubah, tentu mempengaruhi banyak hal lainnya. Tak jarang, hal paling kecil sekalipun menjadi penyebab terjadinya sesuatu yang paling besar.

"...satu kepakan sayap kupu-kupu di Indonesia bisa mengakibatkan badai Tornado di belahan dunia yang lain…" -- Butterfly Effect Theory
Sebuah teori chaos mengatakan, kondisi sekarang adalah pengulangan berkali-kali kondisi yang pernah terjadi di masa lalu. Hal sekecil apapun, mungkin sepele, bisa berakibat pada kehidupan yang dijalani sekarang.

Saya tak lagi ingin terlalu lama berpikir, "Seandainya Tuhan meluluskan doa saya berkampus disini, saya akan......" Tentu, siapa yang mampu menebak jalan berikutnya?

Sebagaimana hidup saya sekarang, banyak hal yang telah berlalu. Ia bertautan satu sama lain. Jalur-jalur anyar tercipta lewat pengalaman dan keinginan kelak. Butterfly effect terbentuk. Seperti orang-orang yang girang berbicara mimpi, saya garang ingin meraupnya.

Udara masih terasa sejuk. Sebenarnya, saya ingin duduk berlama-lama di pinggir danau itu. Seperti beberapa mahasiswa disana. Menunggui matahari yang membias di permukaan air bergelombang. Sekadar bercerita, atau hening merenung.

Hanya saja, agak canggung terlihat sendirian. Saya butuh teman sekadar bercerita hal-hal di luar "kantor". Kepala sudah terlampau penuh disesaki segala macam urusan kantor dan berita.

Hm...mungkin, kapan-kapan saya akan mengajak perempuan saya kesana.



--Imam Rahmanto--

Selasa, 09 Februari 2016

Di Suatu Pagi...

Februari 09, 2016
Pagi menyadarkan apa saja. Termasuk saya, yang sudah lama tak bertemu pagi. Dinikmati saja, bukan? Hari libur, meski bukan rasa libur. Saya cuma punya waktu (jeda bekerja) sepanjang pagi.

Saya begitu rindu merasai waktu-waktu weekend. Hingga bulan kesembilan di tempat bekerja, saya (dan kawan-kawan) belum mendapatkan jatah libur sehari. Padahal kepala juga butuh dikosongkan barang sejenak. Mau bagaimana lagi, kamilah pekerja yang tak mengenal esensi libur! Hidup Jurnalis!!

Tak ada ketenangan pagi di sepanjang tepian anjungan Losari. Bising orang-orang berlomba menghirup udara segar dari jalanan kota. Kapan lagi bisa menikmati jalanan kosong yang saban hari dilalui roda-roda mesin modern? Sayangnya, pasar tumpahnya sudah digusur hingga enggan beradu tempat lagi dengan trotoar jalan.

Pagi itu, tak ada liputan yang cukup mendesak diprioritaskan terlebih dahulu. Sekali saja, saya ingin bercumbu dengan pagi. Merasai aromanya yang belum disesaki bising dan polusi. Adakah yang lebih mendamaikan saat melihat senyum perempuanmu? Detik ia merapal satu-satu segala momen yang dilaluinya.

Saya pernah berjalan di sepanjang tepian reklamasi pantai ini. Beberapa bulan, atau setahun lalu malah. Pun, ketika saya belum menyibukkan diri dengan tuntutan menghidupi hidup. Sebegitu rumit pekerjaan saya membunuh waktu luang? Ironis.

Saya cuma rindu berjalan tanpa arah menyaksikan wajah penuh lelah.

***

Saya baru-baru ini kena dijahili teman-teman di media sosial. Apa ya? Sejenis pencitraan yang membuat nama saya booming di kalangan orang-orang yang mengenal saya. Apa sih.. -_-"

Beberapa teman menjumpai sebuah "adegan" pagi di tepian anjungan pantai Losari. Saya, berdua dengan seorang gadis (manis) sedang menikmati pagi. Oke, sekadar jalan-jalan bertukar cerita (dan bertukar pandang). Menyibak keramaian yang sudah mulai berkurang karena kehilangan teriakan pedagang pasar tumpah. Pasar itu menjelma di ujung persimpangan jalan.

Tapi ya sudahlah. Apatis. Saya tak pernah berniat menghapus postingan apapun yang terlanjur dipublikasikan di dunia maya. Padahal bukan saya yang posting, kan? 

Bagi saya, postingan di jejaring sosial itu ibarat masalah. Menghapusnya bukan berarti kita terlepas darinya. Serupa dengan cara melarikan diri, yang justru memerangkap dalam praduga tak berkesudahan. Hadapi saja. Pelototi. Hingga ketika saya harus kalah, saya kalah secara terhormat. #sadaap

Seperti ingatan, saya takkan pernah menghapus apapun disana. Selama ia masih bersambung dengan neuron dan sinapsisnya, biarkan ia menjelajahi waktu yang tak terbatas jumlahnya. Karena ingatan di kepala, selalu, adalah time machine paling canggih sejagad raya...

Karena, kelak saya akan mengingat-ingat kejadian itu sebagai momen yang teramat berharga. Puzzle memory.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 03 Februari 2016

Kisah Pilu dari Afganistan

Februari 03, 2016
Banyak listing yang harus saya selesaikan tahun ini. Rak buku di dinding kamar seolah menyiratkan seberapa banyak daftar bacaan yang harus dikhatamkan. Sementara stok bakal terus ditambah tiap bulan.

Saya dengan senang hati menerima sumbangan buku sukarela. :D (Foto: ImamR)

Di jejeran buku keempat, saya kerap melesakkan buku ini, The Kite Runner. Saya hafal betul. Itu karena setiap kali menariknya dari sana, garis ruangnya dibiarkan kosong. Setelah terbangun di pagi hari, buku itu baru kembali ke tempatnya. Saban malam tergeletak di sisi pembaringan saya. Tak ada lagi kesempatan "damai" membaca buku di pagi hari.

Kendati sebenarnya saya sudah berulang-ulang melihat dan mendengar kabar salah satu novel fenomenal ini, saya baru punya kesempatan menyelesaikannya (sekaligus memilikinya), awal tahun ini. Bayangkan saja, saya butuh waktu lebih seminggu menamatkan buku setebal 300-an halaman ini.

"Saya punya filmnya itu di rumah," salah seorang senior di kantor menanggapi foto yang sempat saya unggah ke media sosial BBM.

Selain fotografer, saya juga mengenalnya sebagai kolektor buku dan film. Sayangnya, koleksinya tak boleh dibawa keluar dari rumahnya. Duh.

The Kite Runner.

(Sumber: googling)
Artinya "Pengejar Layang-layang". Hanya saja, jangan pernah menyangka isinya tentang permainan masa kecil yang sangat populer di perkampungan Indonesia. Budaya menerbangkan layangan ternyata punya kharismanya sendiri negara Islam seperti Afganistan.

Di masa damai dulu, anak-anak Afghan kerap merayakan parade layang-layang. Saling mengadu ketajaman benang. Mewarnai langit dengan beraneka warna layang-layang. Siapa yang mampu bertahan lama. Gelar juara tak sekadar gengsi, melainkan kehormatan yang bisa dipajang di rumah dan dipamerkan kepada orang lain.

Yah, dari beberapa bacaan, saya mengenal orang Afghan memang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Mereka pulalah yang disebut bangsa Pashtun.

Situasi berubah di saat masa penggulingan pemerintahan. Prajurit Taliban awalnya dianggap sebagai pahlawan mengusir pasukan asing dari tanah Afghan. Namun, syariat Islam yang sangat ketat mulai menimbulkan keonaran dan mengharamkan banyak hal. Termasuk bermain layang-layang itu. Kehidupan pra dan pasca Taliban berkuasa sangat berbeda. Bahkan, ethnic cleansing (pembersihan etnis) seperti halnya Yahudi di masa Hitler sempat terjadi pada suku mayoritas Hazara.

Ah, tunggu dulu. Tak usah berpikir  berat-berat tentang peperangan itu. Cerita politik dan kekuasaan itu hanya menjadi sisipan cerita atas latar kejadian yang dialami tokoh utamanya. Karena pada dasarnya, cerita berpusat pada Amir dan Hasan. Dua anak kecil berbeda suku yang bersahabat layaknya seorang saudara. Belakangan, kita baru disuguhi bahwa keduanya ternyata bersaudara.

Seperti hingga kini, Afganistan terbagi dalam dua suku utama; Pashtun dan Hazara. Antara Sunni dan Syiah. Hasan termasuk kaum Hazara, yang dominan memeluk Syiah. Kaum Hazara terpandang sebagai kaum rendahan dan lebih banyak dijadikan sebagai budak.

Akan tetapi, kehidupan Hasan berbeda. Ia dan ayahnya, Ali, hidup sebagai pelayan setia di keluarga Amir. Mereka pun diperlakukan sangat baik oleh ayah Hasan, Baba. Bahkan, Baba selalu menganggap Ali adalah sahabatnya dan Hasan layaknya anak sendiri.

Lambat laun, benih kecemburuan muncul di hati Amir. Kecemburuan itu bersisian dengan rasa keakraban dengan Hasan. Rasa tak bisa melepaskannya. Perasaan menginginkan Hasan selalu bersamanya sebagai seorang Hazara.

Sayangnya, Amir dan Hasan punya karakter berbeda. Segala keberanian dan kepiawaian di lapangan, ada pada diri Hasan, yang sangat didambakan Baba ada pada anaknya. Sementara Amir, hanya seorang penakut "kutu buku" yang selalu berlaindung di belakang pelayan setianya, Hasan. Satu-satunya keahlian Amir adalah memainkan layangan di udara.

Saya jadi teringat dengan diri sendiri saat menyimak kisah Amir. Semasa kecil, bapak selalu marah jika saya pulang ke rumah dalam keadaan menangis usai diledek teman. Alih-alih diberikan perlindungan, saya justru disuruh menghentikan tangisan. "Laki-laki tak boleh menangis," sembari mengomeli saya dengan label "cengeng".

Saya terkadang iri dengan teman-teman yang selalu bisa berlindung di belakang bapak atau kakak laki-lakinya. Kalau ada yang menjahili, tinggal lapor saja. Mereka akan turun tangan. Minimal menegur atau mengomeli anak-anak yang bertindak antagonis.

Ternyata, anak lelaki tak boleh selalu mendapatkan perlindungan. Ia mesti tahu berkelahi. Ia mesti tahu cara melindungi dirinya sendiri. Karena kelak, ia harus melindungi segala hal yang dia sayangi, termasuk perempuannya.

"Seorang anak laki-laki yang tak mampu membela dirinya sendiri akan tumbuh menjadi pria yang tak mampu menghadapi masalah apa pun," --Baba, in The Kite Runner

Kepengecutan Amir berbuah penyesalan. Kesempatannya menebus dosa baru didapatnya berpuluh-puluh tahun kemudian. Pun, ketika Hasan dan keluarganya telah meninggal. Baba pun telah meninggal. Tersisa Amir dan keluarga barunya, istri tercinta: Soraya. Hasan mewariskan seseorang yang baru disadari Amir sangat berarti bagi kehidupannya yang baru. Ketika Taliban mulai merajalela menancapkan penderitaan bagi kaum Afganistan, Amir bergegas menembus bahaya.


“Dan itulah yang kuyakini sebagai penebusan dosa sejati, saat rasa bersalah menggerakkan seseorang untuk melakukan kebaikan” --The Kite Runner


 ***

Rasa-rasanya, saya cukup terhanyut membaca buku itu. Khaled sangat paham bagaimana mengulur-ulur alur ceritanya. Maju-mundur-mundur-maju. Seolah-olah pembaca adalah penonton yang menyaksikannya memainkan layangan, seperti yang dilakukan Amir dan Hasan.

Kendati tak begitu membuat saya berurai air mata, buku ini bernuansa "biru". Saat membacanya, tak banyak ditemukan keceriaan ataupun kelucuan yang diharapkan. Inilah kisah plu. Meski begitu, cukup banyak menggugah pengetahuan dan pandangan saya. Bacaan buku karya dari Agustinus Wibowo, dulu, seolah menjadi pembuka pengetahuan saya tentang Afganistan. Ini juga termasuk pelengkap puzzle-puzzle tentang Afganistan. 

Buku yang keren. Tak heran buku termasuk karya fenomenal yang mendunia. Kisah tentang Afganistan serasa tak habis diulas dari sisi peperangannya. Di balik deru pelurunya, ternyata masih banyak kisah pilu penduduknya yang tak terjamah media. Mau tahu tentang Afganistan? Mungkin membaca novel semacam ini bisa mewakili kisah-kisah tak kasat mata. Serasa ingin mengunjungi negara beribu pilu itu.

***


“Hanya ada satu macam dosa, yaitu mencuri. Dosa-dosa yang lain adalah variasi dari dosa itu. Kalau Kau menipu, Kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran.”

“Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau tak bisa begitu saja mengisi mereka dengan warna-warna kesukaanmu,” 


“Tugasmu saat ini adalah mengasah bakatmu karena orang yang menyia-nyiakan bakat pemberian Tuhan sama saja dengan seekor keledai.” 


“Mungkin, beberapa kisah memang tak perlu diceritakan.”


“Kehilangan sesuatu yang kita miliki selalu lebih menyakitkan daripada tidak memiliki sama sekali.”


“Tapi waktu sungguh serakah—kadang-kadang ia mencuri semua detail tanpa menyisakan apa pun.”


“Seseorang yang tidak memiliki kesadaran, tidak memiliki kebaikan, tidak akan pernah menderita.”



--Imam Rahmanto--