Sabtu, 09 Januari 2016

Kreatif-lah Sebelum Mati

Buku yang keren, sayangnya sekali baca sudah habis. (Foto: ImamR)
Satu lagi buku bacaan yang berhasil (yoshh!!) saya tamatkan di sela-sela rutinitas. Ini buku kedua, setelah rak buku di dinding di kamar saya mulai menampung banyak buku (yang sebagian besar masih belum ditamatkan). Semoga target baca saya tahun ini tidak lebih buruk ketimbang tahun kemarin...

Buku yang sempat menyita perhatian saya ini: Sila ke-6 Kreatif Sampai Mati! Apalagi di bagian covernya terpampang tulisan "Kreatif" yang besar dan berwarna-warni. Itu seolah mantra yang menyihir beberapa neuron di dalam otak saya. Saling berhubungan, dan memaksa saya meraihnya dari rak buku. Setelah membukanya sekilas di toko buku Grame***, isinya memang cukup keren dan tak membosankan. Ala anak muda, dipenuhi coretan dan ilustrasi yang mengenyangkan.

Alhasil, di awal tahun ini, saya baru punya kesempatan menebusnya di toko buku. Lokasi toko buku ini tak jauh dari kampus UNM, (kampus saya dahulu). Bahkan, saya dibuatnya menimbang-nimbang dulu dengan buku "nominasi" buku lainnya di rak yang sama: The Kite Runner.

Karena rasa nasionalisme saya sedang menguat, saya memutuskan memilih buku idaman unik itu. Selain sedang mencoba mencintai produk Indonesia (nasionalisme!), saya juga sedang butuh bacaan ringan yang tidak butuh membuat kepala berkerut-kerut. Sama dengan buku, saya juga sedang mencari film-film Indonesia berkualitas.

Target tiap bulan, saya mesti memboyong dua buku anyar. Pun, untuk menambah koleksi perpustakaan pribadi saya. Banyak-banyakin buku biar kamar lebih keren. Hahahaha....sementara buku lainnya entah dipinjam siapa dan kemana.

Buku bersampul hitam ini sungguh unik. Saya selalu suka yang anti-mainstream. Yah, wajar saja. Penulis yang berlatar belakang di dunia desain, Wahyu Aditya, menulisnya dengan gaya desainer grafis ataupun ilustrator. Isi buku tak condong pada tulisan-tulisan panjang. Setiap halaman justru lebih "ramai" dan tak membosankan karena dilengkapi gambar-gambar unik hingga coretan tangan berupa ilustrasi.

Saalah satu bagian isi buku. Nah, keren, bukan? (Sumber: hellomotion.com)

Saya juga suka cara Waditya membagi segala rumus "kreatif". Seolah tak menggurui, ia memukau dengan menceritakan pengalamannya sendiri. Termasuk bagaimana ia mulai membangun konsep website keroyokan "Kementerian Desain Republik Indonesia" (KDRI). Website yang awalnya beralamat kdri.web.id kini berpindah ke hellomotion.com, seiring berkembangnya prakarsa desain darinya di dunia maya. Banyak yang menyambut ide kreatifnya mengembangkan dunia desain di Indonesia.

Salah satu Festival Pop Culture terbesar di Indonesia, HelloFest, juga termasuk gagasan kreatif lainnya. Saya menjumpai label "Hellofest" ini pertama kali saat berselancar di jejaring Youtube. Beberapa video film pendek yang tersimpan rapi di hardisk laptop saya adalah jebolan nominasi festival tersebut. Lucu dan menghibur.

Kreatif menjadi jimat tersendiri dalam kehidupan saya. Sebagai orang yang tak suka hal-hal mainstream, saya justru berusaha (hingga memaksa) kepala untuk senantiasa berpikir kreatif. Saya juga cukup paham dengan dunia desain, meski tak se-advanced sang penulis buku. Wajar, jika saya punya hubungan "kenangan" dengan buku satu ini.

Kata-kata kreatif memang seyogyanya bisa menjadi "pedoman" hidup mengembangkan ide apapun. Kreatif, tak selalu bertindak sekemauan hati. Kreatif, lebih condong pada hal-hal yang berbeda, unik, hingga tak lazim, namun punya nilai manfaat yang lebih luas.

Nah, buku ini membahas segala hal tentang "kreatif" itu. Bagaimana caranya, hingga bagaimana menerapkannya. Mata tak dibuat bosan memelototi buku setebal 300 halaman ini. Bahkan, sebenarnya buku ini bisa diselesaikan dalam sekali duduk saja.

Karena judulnya memang kreatif, maka isinya sudah tentu renyah kriuk-kriuk. Serius. Buku ini memberikan cara pandang baru dalam mengamati sesuatu, secara inovatif.

Karena berlaku kreatif itu selalu menyenangkan dan... KEREN full!


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar