Sabtu, 30 Januari 2016

Ber(i)tanya...

Januari 30, 2016
Seorang kakek tua sedang berjalan di samping saya. Berusia lanjut, sudah berkepala enam. Langkahnya tak patah-patah. Justru masih kuat berjalan menapaki jalanan berbeton sekeliling lapangan. Orang-orang berpapasan tak lepas menyapanya. Ia hendak mengantarkan saya menemui temannya.

"Maaf, Coach Haji. Saya jadi merepotkan," ucap saya menyejajari langkahnya.

"Ndak, kok. Apalagi kamu juga tidak kenal sama dia, makanya saya antar," jawabnya santai.

"Tadi dia pakai baju kuning dan topi putih," jelasnya bergumam sendiri, sembari terus mengamati setiap mimik wajah di pinggir lapangan.

Orang-orang sedang menonton pertandingan sepak bola. Kami berharap bisa menjumpai temannya itu di tempat tadi ia berbincang, beberapa menit yang lalu.

Saya sedang mencari seorang narasumber. Seorang lelaki tua yang punya kaitan sejarah dengan salah satu klub sepak bola binaan di kota ini. Lelaki tua yang mengantarkan saya, termasuk pembina klub seangkatannya.

Saya diarahkan padanya oleh kenalan pelatih tim amatir saat sedang mencari-cari referensi di lapangan.

"Ohh...kalau itu, coba tanya Haji Rasyid disana. Pelatihnya Swadiri, itu yang pakai baju putih dan topi. Duduk disana," ujar pelatih di sisi lapangan menunjuk seorang lelaki diantara penonton lainnya. Jaraknya berada di luar lapangan, beberapa meter di belakang gawang. Duduk bersama anak-anak muda lainnya.

Berbekal tanya agak ragu dan takut-salah-orang, saya mengajukan pertanyaan: "Benar dengan Haji Rasyid, pelatihnya Swadiri?"

Ia lantas menyambut saya begitu hangat. Sedikit bekal tentang klub PSM Makassar, saya memulai perbincangan. Termasuk tujuan utama saya mencari "jejak" teman seangkatannya itu.

***

Pekerjaan saya sebagai pewarta sebenarnya memang tak pernah lepas dari pertanyaan maupun pernyataan. Saban hari saya berhadapan dengan narasumber, menodongkan pertanyaan, yang biasanya dibalas dengan beberapa pernyataan. Atau kita balik saja; pernyataan narasumber itulah yang justru menimbulkan pertanyaan.

Saya suka dengan itu. Banyak bertanya mengajarkan saya selaku pendengar yang baik. Pun, tugas saya di dunia olahraga, memaksa agar telinga dipancangkan sekuat-kuatnya. Biarkan kepala menyaring informasi sebanyak apa pun yang mampu ditampungnya.

Serius. Saya masih tak habis pikir, penugasan di dunia olahraga, terkhusus sepak bola, bisa sedikit memberikan perubahan bagi minat dan pengetahuan saya. Saya belajar banyak tentang istilah dan kisruh di dunia sepak bola. Belajar memahami pergolakan antar klub. Belajar menyiangi informasi di setiap jejaring-jejaring dunia nyata dan dunia maya. Yah, semua itu tak lepas dari "bertanya".

Betapa lucu mengingat pertanyaan polos saya ketika menjejakkan pengalaman di dunia sepak bola untuk pertama kalinya.

"Apa sih perbedaan antara turnamen dan kompetisi?"

Yah, meski pertanyaan lain juga sesekali disimpan sendiri agar tak ditertawai lebih jauh. alamak

Akan tetapi, saya justru bangga mengokang senjata khas para jurnalis itu. Kami bahkan kerap dituntut "kepo" lebih jauh tentang segala hal.

Saya paling suka jika mulai mengulik masalah pribadi teman-teman saya #ehh, tetapi ini serius. Sejujur-jujurnya kita mengenal orang lain, dari sejauh apa kita mengetahui kehidupannya. Terkadang, masalah asmara yang membuka lebih banyak cabang di kepala setiap orang. Hahahaha....

Mengajukan pertanyaan justru mengakrabkan. Tak ada yang salah dengan itu. Setiap orang butuh berinteraksi. Dan memulainya, kerap kali memang harus dimulai dengan bertanya, "Apa kabar?"

***

Berkeliling lapangan tanpa membuahkan hasil. Keesokan harinya, saya dijumpai kembali oleh Haji Rasyid. Ia langsung menghampiri saya di bench panitia.

"Kamu kan yang kemarin mencari Haji Kadir? Anyelir?" tanyanya agak ragu menunjuk saya dari luar bench. Bench sederhana ini prakarya tim panitia turnamen, yang sebagian besar merupakan anak-anak wartawan.

"Oiya, Coach Haji," saya agak risih juga ia mau susah-susah mencari saya lagi.

"Tadi Haji Kadir ada disana. Dia pakai baju kuning, topi kuning. Anak-anaknya juga sedang latihan," cetusnya tanpa basa-basi.

"Atau sini, kita sama-sama kesana," ajaknya lagi mengabaikan rasa canggung saya. Hanya karena rentetan pertanyaan kemarin, saya dapat segudang pertolongan di hari berikutnya. Tak salah jika saya harus mengucapkan terima kasih.

Pun, besok saya masih harus merangkum banyak perrtanyaan pada narasumber yang lainnya...



--Imam Rahmanto--

Kamis, 21 Januari 2016

Guéri*

Januari 21, 2016
Hujan...

(Foto: Penkdix Palme, fotografer)


Akhir-akhir ini, kota kami sudah sering disapa hujan. Meski tak deras, cuaca sudah tak sepanas kemarin lagi. Pakaian saya yang dijemur sejak dua hari lalu tak mau kering-kering.

Mendung terus menggelayut di ujung kota. Petir berburu dan menyambar. Untung suaranya tak memekakkan telinga. Hanya saja, di beberapa daerah, cuaca itu tak jarang menimbulkan bencana, seperti angin puting beliung. Termasuk pembangkit listrik yang kehilangan daya karena disambar petir.

Saya jadi jengah melihat orang-orang mengeluh di akun media sosialnya. Suara begitu bising meributkan "blackout" atau pemadaman listrik. "Sudahlah, biarkan PLN bekerja semaksimal mungkin," *sambil lalu

Cuaca begini juga kerap mengganggu kondisi tubuh. Hujan yang tak pandang waktu, biasanya menyebabkan penyakit. Penyakit rindu, eh. Orang-orang menggigil kedinginan. Terserang masuk angin. Demam tinggi. Saya juga belum melengkapi diri dengan mantel hujan. Padahal itu hal wajib bagi pengendara motor di musim penghujan ini.

Saya sudah terbiasa kehujanan. Pun, sepulang liputan hari ini, saya berhujan-hujanan. Gara-gara panggilan mendadak.

"Ke kantor sekarang. Soalnya email tak bisa dibuka," pesan singkat dari atasan di kantor (baca; redaksi).

Yah, mungkin gara-gara cuaca pula kondisi jaringan terganggu. Padahal saya baru beberapa menit tiba di Lapangan Karebosi. Hendak menyaksikan latihan skuat kebanggaan Makassar. Para pemain berlari-lari menggocek bola di bawah hujan, yang sesekali gerimis, sesekali menderas.

Tiap jalan, rinainya berbeda-beda, bukan?

Beruntung, saya tak pernah sakit hanya karena berhujan-hujanan. Bahkan sakit paling parah, demam tinggi, cuma diselesaikan saja dengan "melungker" di dalam selimut tebal. Sengaja. Biar badan berkeringat. Suhu badan kembali normal.

Cuaca sedang tak menentu. Kesehatan ikut tak menentu. Sebisanya, mari jaga kesehatan. Tak perlu membenci hujan, karena ia tak pernah tahu sisi hidup mana yang ingin diobatinya...

***

"Mungkin, Kak Imam yang sedang galau?" iseng seorang kawan bertanya.

Bukan. Saya tidak sedang galau. Tidak. Tidak. Saya hanya sedang... rindu.

Tahu kalau dia sakit dan harus diopname, membuat saya seolah mau berteleportasi saja dan sejenak muncul di hadapannya. Apalagi saat kemarin mendengar suaranya yang nyaris habis tertelan penyakitnya.

Dulu, saya agak risau jika harus berada di bagian-bagian rumah sakit. Bangsalnya. Kamarnya. Ranjangnya. Selasarnya. Kursinya. Putihnya. Aromanya. Dokternya.

Ada ingatan-ingatan buruk tentang keluarga yang ingin saya enyahkan dari kepala. Saya terlalu dibayang-bayangi "pelarian" pertama dari keluarga. Berawal dari rumah sakit, saya nyaris menjadi anak durhaka. Akh, kalau mengingat-ingat itu, saya butuh waktu panjaaaang untuk bercerita.

Dan kini, perempuan yang kerap berujar "hati-hati," sepanjang waktu itu harus dirawat disana. Suara parau yang diperdengarkan lewat telepon semakin tenggelam. Pun, saya tahu kabarnya hari ini dari adik perempuan kecilnya yang esok hari ikut final balap karung.

"Kalau saya menang, ditraktir ya?" ia selalu tak lupa mengingatkan janji saya. Hahaha... Tentu saja, Manis. Lagipula saya sudah menjanjikannya.

"Asalkan kau mau janji jaga kakakmu yang satu itu, nanti saya tambahkan traktirnya," balas saya.

"Betul?"

"Iya. Serius," kunci saya sembari tersenyum.


Semoga esok, kembali membaik.

Rétablis-toi vite...**


--Imam Rahmanto--

Catatan:  
* Bahasa Perancis, artinya "Sembuh, Pulih"
* Bahasa Perancis, artinya "Semoga Lekas Sembuh"

Jumat, 15 Januari 2016

Optimisme

Januari 15, 2016
Saya sedang berada di warkop seperti biasanya. Hujan baru saja mengguyur agak pelan. Gerimis. Sepanjang perjalanan kemari, hujan berlari-lari jatuh ke jalan. Tak sampai 15 menit, ia mereda.

Padahal saya berharap hujan turun lebih deras lagi. Sudah lebih seminggu kota ini memendam rindunya pada hujan. Orang-orang sudah mulai jengah pada terik siang hari. Panasnya membuat emosi yang tertahan bisa meledak berbusa-busa.

Pun, saya. Berharap lebih basah dan kuyup saat tiba di warkop. Mungkin, saat badan terasa menggigil, aroma nikmat kopi asli yang disajikan warung ini bisa terasa lebih nikmat. Salah satu usaha kecil menengah yang terasa merakyat ketimbang Starbucks dan kroni-kroninya.

Di ibukota negeri, orang-orang sedang ramai berbincang tentang kejadian kemarin. Tahukah? Teror kian memanas, yang berawal dari ledakan di kedai kopi itu. Kemarin, kejadian serupa aksi tembak-tembakan di film Hollywood tersaji di depan mata. Penjahat. Polisi. Berlindung. Lemparan granat. Baku tembak. Bom waktu. Darah.

Cari saja di google dan media sosial. Kejadian teror di Jakarta kemarin mulai bising bersiul-siul.

Imbasnya tak hanya di Jakarta. Di kota kami, penjaga keamanan mulai menerapkan siaga satu. Semalam, saat pulang dari redaksi, saya melihat beberapa polisi bersiaga di persimpangan-persimpangan jalan. Di mall, pemeriksaan makin ketat. Tak jarang, polisi mempertontonkan kokangan senjatanya. Anak-anak sekolah bertanya-tanya pada orang dewasa. "Kenapa polisi ramai sekali?"

Ah ya, polemik di negeri kita tak pernah usai. (Belum) hilang satu, tumbuh berganti.

Kelompok teroris menyasar ibukota. Teroris yang katanya bergerak secara internasional. Teroris yang katanya dilandasi perjuangan jihad. Teroris yang katanya umat beragama. Lantas, haruskah mengorbankan nyawa-nyawa tak rimba dosanya? Ketika mencap orang bule sebagai kafir, sesungguhnya sudah sejauh apa pemahaman agama kita? Heran.

Dalam kepala, saya berpikir, darimana pula para pelaku (setanah air) punya pikiran menghabisi nyawa orang lain? Miris memikirkan para pelaku yang tak pandang bulu menyusulkan nyawa pada sang Pencipta. Entah, doktrin seperti apa lagi yang telah mereka terima. Miris.

Seorang gadis kecil menyela. Suara kerincingan uang logam di dalam toplesnya berbaur dengan keributan pengunjung warkop. Di sisinya, seorang kakek tua renta terpatah-patah menyejajari langkahnya. Kasihan. Kemana-mana, gadis kecil itu menuntunnya sembari membunyikan toples pada para pengunjung.

Tak tega memandang wajah gadis kecil itu, saya biarkan saja ia berlalu.

Terkadang, untuk menyadarkan manusia, Tuhan mengirimkan cobaan. Bisa saja insiden teror itu sebagai wadah pemersatu bangsa.

Tengoklah beberapa media hari ini. Saya sangat-teramat-sangat suka. Sebagian besar media memakai judul yang bernuansa positif dan menyemangati. Judulnya memaknai semangat pantang menyerah. Salah satu alasannya, menghindari upaya penyebaran ketakutan di seluruh negeri, termasuk melalui medsos. Inilah optimisme.

Di media saya bekerja, Harian FAJAR, tertulis besar-besar "Basmi Habis ISIS". Di media lainnya, Republika, termuat sampul koran bendera merah putih dengan judul "Kami Tidak Takut". Pun, media sebesar Kompas memakai judul "Bangkit Bersama Lawan Terorisme". Keren!

Bukankah judul-judul membangkitkan semangat seperti itu lebih baik?

Seperti kata Menteri Pendidikan, Anies Baswedan: Berhentilah merutuk dan mengutuk kegelapan. Mari mulai menyalakan lilin dan menerangi kegelapan itu sendiri.

***

Baru punya waktu mengamati satu demi satu berita soal ibukota, semalam. Kemarin, tepat tengah hari, saya sebenarnya mendapatkan kabar teror itu. Hanya saja, tidak begitu mengikuti perkembangannya karena sedang "diliburkan".

Yah, hari "libur" itu saya menikmatinya. Betapa Tuhan tahu apa yang saya butuhkan dalam rentang kesibukan tak henti. Seminggu belakangan, saya jadi punya banyak waktu mengamati senyum seorang perempuan manis dari dekat.

Saya menyeruput kopi-susu yang sedari tadi tersaji di depan meja. Pemilik kedai kopi sudah tahu kebiasaan saya. Tanpa perlu diminta, segelas kopi-susu tersaji di atas meja setiap kali saya berkunjung kesana. Karena saya tak suka kopi pekat.

Pahit sedikit. Manis lama-lama.

Itu pula yang pernah dikatakan perempuan saya saat mampir kesini. Pahitnya bikin ia seolah mau muntah. Namun berselang, minumannya justru nyaris habis setengah. "Kan biar saya melebur denganmu," ujarnya saat saya tanya alasannya memaksakan diri. Jawaban yang terlalu filosofis, yang membuat saya hanya bisa tersenyum.

"Sesempurna apa pun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan." --Filosofi Kopi, Dee

Kabar-kabar yang bertebaran di dunia maya seharusnya semakin membuat kita merapatkan tangan. Berhenti menyebarkan foto-foto sensasional, apalagi yang memperlihatkan kengerian para korban.

Selain gemas, saya kadung jengkel dengan aksi teror di ibukota itu. Saya gemas lantaran tidak bisa ikut berdebar-debar memacu adrenalin mengumpulkan bahan berita di lokasi sana. Seandainya bisa, tentu hal yang cukup menantang bisa melalui kejadian itu. Seperti yang sempat dialami fotografer Tempo. Duh, semakin membuat saya ingin melenggang ke tempat itu.

Meskipun begitu, kondisi ini makin membuat kita makin waspada. Negara kita tak lagi seramah dahulu. Kejadian itu sekaligus mengingatkan agar kita menyatukan persepsi dan rasa bahwa: Kami Tidak Takut!

***

Hujan akhirnya mengguyur di paruh jalan saya menuju redaksi, petang. Tak ada mantel. Saya agak kuyup dibuatnya. Sementara di redaksi tak ada minuman yang bisa menghangatkan. Kalau begini, saya jadi ingin balik kanan menyeduh se-sachet cappuccino.

Berdoa saja, semoga tanah air kita kembali damai, setenang hujan yang sedang dirindukan...

--Imam Rahmanto--

Minggu, 10 Januari 2016

Antara "Rumah" dan Kompasiana

Januari 10, 2016
Seorang teman perempuan sempat bertanya,

"Bagaimana membedakan antara tulisan yang Kak Imam posting di 'rumah' sendiri dengan tulisan yang diposting di Kompasiana?"

Ia bertanya demikian setelah mengirimkan salah satu screenshot artikel yang saya posting di Kompasiana baru-baru ini. Kebetulan, artikel itu sempat dilihatnya menjadi Headline bersama jajaran artikel lain. Padahal, tulisan tersebut diplot sebagai HL tepat tengah malam, diantara lelap orang-orang hendak beraktivitas kembali esok hari.

Akh, saya bingung bagaimana menjawabnya. Itu hampir serupa ketika saya harus menjawab pertanyaan dari seorang gadis, "Kenapa menyukai saya?" _ _"

Kata pepatah, tak semua pertanyaan butuh penjelasan. Akan tetapi, untuk yang satu ini, saya punya sedikit penjabarannya. Kalau punya waktu, sembari menyeruput cappuccino juga tak apa.

Saya mengenal Kompasiana sudah sejak lama. Bahkan gadget Samsung Galaxy Y yang masih setia bertengger di tangan saya adalah hadiah pemberian event menulis Kompasiana, 3-4 tahun silam. Kala itu, "rumah" (blog) saya masih belum terbangun dengan baik. Perabotannya masih berantakan, dan pemiliknya jarang pulang ke rumah.

Kompasiana, sebagai media blog alternatif, memberikan saya kesempatan bagus untuk tetap update pengalaman menulis. Pada prinsipnya, saya percaya, tulisan yang diposting di Kompasiana pasti punya pembacanya sendiri. Yah, paling sedikit sampai 20 orang lah. Untung-untung kalau sampai 50 orang.

Tampilannya juga membuat betah untuk mengembangkan segala jenis tulisan, baik "pengalaman" maupun opini. Apalagi disini berkumpul segala lapisan pembaca. Semacam kerumunan (crowded) yang menunggu tulisan-tulisan baru dari para Kompasianer (penulis di Kompasiana).

Akan tetapi, kian lama, saya tergugah untuk mengurus kembali "rumah" (baca: blog) saya. Karena tak ingin terlantar di dunia maya. Kompasiana, hanya semacam ruang diskusi publik. Bukan "rumah" yang sebenar-benarnya di dunia maya, menurut saya.

Saya akhirnya pulang ke "rumah". Kian memperhatikannya. Menyirami kembang-kembang di halamannya. Menyiangi rumput yang sudah setinggi badan. Mengecatnya dengan sederhana. Memperkayanya dengan segala macam tulisan, ala saya, tanpa embel apapun.

Karena rumah yang nyaman selalu menjadi tempat kita jadi diri sendiri                             

Setiap tetamu yang datang hendak berkunjung, saya persilakan masuk. Kalau sempat, saya akan menyuguhi segala macam sajian yang saya miliki. Saya tak perlu malu dengan segala tulisan itu. Karena saya tahu, para tetamu yang datang memang ingin berkenalan dengan saya. Maka saya tak perlu menyembunyikan apa-apa.

Ibarat di dunia nyata, Kompasiana itu rumah susun atau hotel penginapan dengan beraneka ragam penghuninya, sementara blog adalah rumah saya menyusun segala kepribadian dan harapan. :D

Nah, kini saya ingin membedakan postingan di "penginapan" Kompasiana dan "rumah".

Saya cenderung memposting hal-hal menarik dan bermanfaat di Kompasiana. Jika menurut saya hal itu sangat layak diketahui masyarakat umum, Kompasiana bisa jadi "forum" terbaik buat berbincang maupun berdiskusi. Disini, segala macam lapisan profesi saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Dari hal remeh-temeh, hingga hal-hal berat yang sudah sampai pada tataran analisis dan penelitian.

Agak berbeda dengan isi "rumah" saya, yang sebagian besar justru bercerita tentang diri pribadi. Terkadang, hal-hal bersifat pribadi seperti itu, agak malu-malu untuk saya posting di Kompasiana. Masa iya, saya memposting kegalauan, pengalaman-tak-penting, asmara, sok-bijak, di jejaring seluas Kompasiana? Hahaha....

Meski begitu, tak menutup kemungkinan tetap ada tulisan-tulisan yang biasanya saya posting di kedua tempat itu. Pun, kalau tulisan itu memang dianggap layak dipublikasikan secara luas. Biasanya saya malah ikut membagikannya di akun jejaring sosial seperti facebook maupun twitter.

Eh, tapi tidak termasuk tulisan hasil profesi saya sebagai pewarta berita. Tulisan-tulisan itu sudah punya tempatnya di media saya bekerja. Tulisan di "rumah" sebatas apa yang saya alami dan pelajari di lapangan sebagai seorang jurnalis. Ibarat behind the scene dari beberapa pengalaman meliput saya

Saya selalu membedakan: ada tempat kita menulis dengan hati-hati (kepala), ada tempat kita menulis dengan hati.

Jadi, sembari berbagi hal menarik sewajarnya di Kompasiana, saya tetap punya "rumah" untuk melepas penat dan tertidur pulas sepanjang maya (baca: hari).



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 09 Januari 2016

Kreatif-lah Sebelum Mati

Januari 09, 2016
Buku yang keren, sayangnya sekali baca sudah habis. (Foto: ImamR)
Satu lagi buku bacaan yang berhasil (yoshh!!) saya tamatkan di sela-sela rutinitas. Ini buku kedua, setelah rak buku di dinding di kamar saya mulai menampung banyak buku (yang sebagian besar masih belum ditamatkan). Semoga target baca saya tahun ini tidak lebih buruk ketimbang tahun kemarin...

Buku yang sempat menyita perhatian saya ini: Sila ke-6 Kreatif Sampai Mati! Apalagi di bagian covernya terpampang tulisan "Kreatif" yang besar dan berwarna-warni. Itu seolah mantra yang menyihir beberapa neuron di dalam otak saya. Saling berhubungan, dan memaksa saya meraihnya dari rak buku. Setelah membukanya sekilas di toko buku Grame***, isinya memang cukup keren dan tak membosankan. Ala anak muda, dipenuhi coretan dan ilustrasi yang mengenyangkan.

Alhasil, di awal tahun ini, saya baru punya kesempatan menebusnya di toko buku. Lokasi toko buku ini tak jauh dari kampus UNM, (kampus saya dahulu). Bahkan, saya dibuatnya menimbang-nimbang dulu dengan buku "nominasi" buku lainnya di rak yang sama: The Kite Runner.

Karena rasa nasionalisme saya sedang menguat, saya memutuskan memilih buku idaman unik itu. Selain sedang mencoba mencintai produk Indonesia (nasionalisme!), saya juga sedang butuh bacaan ringan yang tidak butuh membuat kepala berkerut-kerut. Sama dengan buku, saya juga sedang mencari film-film Indonesia berkualitas.

Target tiap bulan, saya mesti memboyong dua buku anyar. Pun, untuk menambah koleksi perpustakaan pribadi saya. Banyak-banyakin buku biar kamar lebih keren. Hahahaha....sementara buku lainnya entah dipinjam siapa dan kemana.

Buku bersampul hitam ini sungguh unik. Saya selalu suka yang anti-mainstream. Yah, wajar saja. Penulis yang berlatar belakang di dunia desain, Wahyu Aditya, menulisnya dengan gaya desainer grafis ataupun ilustrator. Isi buku tak condong pada tulisan-tulisan panjang. Setiap halaman justru lebih "ramai" dan tak membosankan karena dilengkapi gambar-gambar unik hingga coretan tangan berupa ilustrasi.

Saalah satu bagian isi buku. Nah, keren, bukan? (Sumber: hellomotion.com)

Saya juga suka cara Waditya membagi segala rumus "kreatif". Seolah tak menggurui, ia memukau dengan menceritakan pengalamannya sendiri. Termasuk bagaimana ia mulai membangun konsep website keroyokan "Kementerian Desain Republik Indonesia" (KDRI). Website yang awalnya beralamat kdri.web.id kini berpindah ke hellomotion.com, seiring berkembangnya prakarsa desain darinya di dunia maya. Banyak yang menyambut ide kreatifnya mengembangkan dunia desain di Indonesia.

Salah satu Festival Pop Culture terbesar di Indonesia, HelloFest, juga termasuk gagasan kreatif lainnya. Saya menjumpai label "Hellofest" ini pertama kali saat berselancar di jejaring Youtube. Beberapa video film pendek yang tersimpan rapi di hardisk laptop saya adalah jebolan nominasi festival tersebut. Lucu dan menghibur.

Kreatif menjadi jimat tersendiri dalam kehidupan saya. Sebagai orang yang tak suka hal-hal mainstream, saya justru berusaha (hingga memaksa) kepala untuk senantiasa berpikir kreatif. Saya juga cukup paham dengan dunia desain, meski tak se-advanced sang penulis buku. Wajar, jika saya punya hubungan "kenangan" dengan buku satu ini.

Kata-kata kreatif memang seyogyanya bisa menjadi "pedoman" hidup mengembangkan ide apapun. Kreatif, tak selalu bertindak sekemauan hati. Kreatif, lebih condong pada hal-hal yang berbeda, unik, hingga tak lazim, namun punya nilai manfaat yang lebih luas.

Nah, buku ini membahas segala hal tentang "kreatif" itu. Bagaimana caranya, hingga bagaimana menerapkannya. Mata tak dibuat bosan memelototi buku setebal 300 halaman ini. Bahkan, sebenarnya buku ini bisa diselesaikan dalam sekali duduk saja.

Karena judulnya memang kreatif, maka isinya sudah tentu renyah kriuk-kriuk. Serius. Buku ini memberikan cara pandang baru dalam mengamati sesuatu, secara inovatif.

Karena berlaku kreatif itu selalu menyenangkan dan... KEREN full!


--Imam Rahmanto--

Rabu, 06 Januari 2016

Impian yang Fluktuatif

Januari 06, 2016
Oiya, ini masih aroma tahun baru, kan? Meski suara kembang api sayup-sayup tak terdengar lagi. Seiring kemilaunya yang juga mulai meredup.

Biarlah, gawean tahun baru memang sudah menjadi rutinitas anak muda di kota ini. Kian tahun, jembatan fly-over di kota ini sesak oleh ratusan pemuda-pemudi. Esok harinya, kota ini kembali mati rasa. Orang-orang mulai disibukkan urusan dunianya. "Dunia ji ini weh," kata orang Makassar kekinian.

Dulu, sebelum menjejakkan kaki di dunia perkuliahan, saya punya target yang cukup besar. Target yang sebenarnya cukup geli jika harus digingat-ingat.

"Lulus kuliah empat tahun. Setahun setelahnya, punya motor. Setahunnya lagi, sudah beli mobil."

Beberapa hal memang agak melenceng dari harapan yang sudah dipancang. Akh, patoknya juga waktu itu belum begitu kuat. Hanya sebatas semangat yang agak meluap-luap lantaran masih terbawa usia lepas remaja. Saya saat itu belajar menggantungkan impian setinggi apapun pikiran bisa membawanya.

Urusan dapat atau tidak, itu belakangan.

“Kekhawatiran terbesar saya bukan ketika generasi muda tidak berhasil mencapai impian mereka, melainkan ketika mereka berhasil mencapai impian mereka. Akan tetapi, ternyata impian mereka itu teramat rendah,” -- Anies Baswedan, dikutipnya dari ucapan seoran pesohor Indonesia. Saya mendengarnya saat membawakan seminar di kampus kami, dulu.

Nah, apa yang saya targetkan teramat melenceng. Kuliah? Saya justru selesai lebih lama, 3 bulan 30 bulan (baca: hitung baik-baik. Kebanyakan orang pandai tak tahu bedanya).

Saya punya teman sekamar, yang masih sementara menyelesaikan tahap akhir studinya. Masa-masa pening kepalanya itu nyaris serupa dengan yang saya alami dulu. Bedanya, saya tidak banyak menyelingi urusan kebut skripsi dengan menonton film seperti dirinya.

Soal kendaraan? Saya masih lebih sering menumpang kendaraan teman atau angkutan umum (pete-pete).

Dua tahun silam, saya masih punya kendaraan yang senantiasa menemani langkah kaki di kampus. Hanya saja, motor usang itu sudah berpindah tangan, dijual bapak untuk pengobatan sakitnya.

Mengawali tahun ini, saya juga menargetkan bisa menggantikannya dengan yang lebih anyar. Sebenarnya, sudah dalam tahap penyelesaian. Pun, profesi saya di media kini, sedikitnya bisa membantu beban untuk persoalan kebutuhan semacam itu.

Keterbatasan menjalani pekerjaan itu, justru membuat saya tertantang.

Saya sudah banyak "mengorbankan" banyak tumpangan kendaraan untuk kepentingan liputan. Motor teman di lembaga pers kampus, motor senior, motor teman dari media yang sama, motor teman dari media yang berbeda, motor teman sekamar, motor tetangga kamar, motor pemilik warkop, motor kekasih.

Lebih sering mengendarai angkutan umum untuk urusan-urusan yang tak mendesak. Sesekali terhibur dengan musik yang berdentum dari speaker belakang. Apalagi kalau genre musiknya masih populer dan punya lirik yang bikin senyum-senyum sendiri. Terkadang bisa membosankan pula, jika disesaki penumpang (perempuan yang sebagian besarnya, ibu-ibu).

Akan tetapi, perjalanan saya di mobil pelat kuning itu justru membawa saya melihat banyak kawasan di kota ini. Belajar merekamnya di kepala dan kelak mendatanginya sendirian, kalau sudah punya kendaraan pribadi.

Teman saya pernah bertanya,

"Kalau kamu diberikan mobil, maunya mobil apa?"

Saya memikirkannya agak lama. Lagipula, siapa juga yang mau menghadiahkan mobil secara cuma-cuma? Alhasil, saya hanya bisa terdiam cukup lama yang berujung pada jawaban, "Tidak tahu."  

Hal-hal yang mustahil secara logika memang cenderung membuat kita tumpul mengasah impian.

"Itu artinya kamu masih belum siap punya mobil, belum siap jadi orang kaya. Kamu belum punya ancang-ancang mobil mana yang akan kamu miliki,"

Cukup terguncang juga mendengarnya. Di lain waktu, saya mulai memikirkan mobil apa yang hendak saya miliki. Sehingga kelak, ketika punya banyak uang, saya akan langsung membelinya tanpa perlu banyak pertimbangan. Coba saja tanyakan pada saya sekarang.

Meski belum punya kesempatan memilikinya, saya masih punya banyak waktu mengusahakannya. Toh, rencana bisa berubah. Rencana bisa direvisi. Ikut perkembangan zaman. Seperti skripsi, revisi demi revisi, acc demi acc, hingga berujung pada acungan jempol sang penguji.

***

Saya belajar lebih banyak memasang target. Target liputan. Target menjelajah. Target teman. Target olahraga. Target buku. Target kekayaan. Kendati mustahil (bagi sebagian orang), setidaknya kita sudah menyimpannya dalam lobus temporal sembari menunggu keajaiban terpaut lima senti dari kepala.

Meminjam perkataan Andrea Hirata, "Kita memang tak boleh hidup dalam mimpi, tetapi tak apa-apa banyak bermimpi dalam hidup."


--Imam Rahmanto--

Jumat, 01 Januari 2016

Ini 2016

Januari 01, 2016
Saya sedang berada di sebuah kafe yang tidak banyak dikenal. Orang-orang lebih mengenal kafe tetangga yang berada di kompleks perumahan cukup mewah. Maklum, kafenya sedang tutup. Yah, termasuk saya, yang baru ketiga kalinya menjejakkan kaki di kafe bernuansa klasik ini. It's name, Black Box Cafe.

Di tanggal merah ini, saya tak mengira beberapa warung kopi (warkop) dan kafe tutup. Salah satunya yang tutup, warkop yang sering jadi tongkrongan saya di sela-sela menyelesaikan liputan olahraga. Kapan-kapan lah kuceritakan padamu bagaimana aroma kopinya begitu memikat dan mengikat. Tak biasanya. Mungkin, orang-orang terlalu berhura-hura semalam, hingga lupa lagi mencari rezeki (atau sekadar bangun pagi) keesokan harinya.

Saya tak begitu menikmati perayaan pergantian tahun semalam. Hanya bersantai di kamar kontrakan (kost) sepanjang hari. Menyelesaikan bacaan buku yang baru dibeli sehari sebelumnya. Selagi rezeki masih di tangan, buku mesti ditambah, tambah, dan ditambah. Mini-library must go on…

Liputan juga tak sepadat biasanya. Itu karena di tanggal pertama tahun 2016, hari libur, surat kabar terbit dengan halaman terbatas. Saking santainya, saya juga nyaris kelewat abai hadir “setor muka” di kantor. Telepon dari redaktur baru menghentakkan saya untuk bergegas ke ruang redaksi. Ada seseorang di seberang sana juga yang harus mengakhiri teleponnya.

Di ruang redaksi, ada rapat dadakan menyambut pergantian tahun. Wejangan-wejangan disampaikan Pemimpin Redaksi kami. “Di tahun yang baru, segalanya harus lebih baru dan lebih baik,” semacam itulah pesan pokok yang hendak disampaikan pimpinan kami. Pun, saya datangnya telat.

Jelang pergantian tahun, lepas dari kantoran, saya menyempatkan diri mampir di redaksi lembaga pers kampus kami. Menengok dan memenuhi undangan makan-makan ikan bakar. Rezeki tak kemana, perut saya memang sedang keroncongan jelang tengah malam.

***

Saya tak berharap banyak dari edisi “tahun baru” ini. Toh, apa yang saya ingin kejar terkadang berlari terlalu kencang. Saya mesti memacu dan melatih lari saya agar tak ketinggalan. Hal lainnya, saya juga begitu prestisius melampaui target yang digadang-gadang ingin dicapai.

Tuhan membaca setiap harapan makhluk-Nya. Sekali saja kita memasang target dan mengatur laju tetap konsisten ke arah sana, yakin saja, itu bakal terwujud. Saya pernah mengejar target semacam itu, tentang keinginan melangkahi kota di luar Sulsel.

“Teman saya pernah kesana, masa saya tidak?”

Atau saat saya mengawalinya dengan kedongkolan setengah hidup karena batal diberangkatkan ke luar kota demi meliput pertandingan tim sepak bola Sulsel. “Lihat saja. Kalau saya gagal karena itu, saya bisa cari cara lainnya tanpa perlu dibatalkan kembali dengan alas an yang sama,” tegas saya pada diri sendiri, suatu ketika.

Nah, Tuhan menyimpan segala harapan yang memang sudah dibungkus bulat-bulat. Walhasil, alam berkonspirasi membawa saya ke arah sana. Saya tak pernah menyangka, liputan event futsal yang sempat saya kerjakan ogah-ogahan karena harus bangun pagi, menjadi akar dari keberangkatan saya dua bulan berikutnya.

Sebenarnya, saya masih punya banyak tempat tujuan yang harus dicetuskan. Usai (tak puas) menikmati suasana kota Tanah Deli, saya beralih menargetkan kunjungan ke kota di tanah Jawa, Yogyakarta. Saya tak pernah tahu bagaimana dan kapan saya bakal kesana. Satu hal yang penting, saya tetap menggantungkannya di depan mata.

Dan lagi-lagi alam mulai berkonspirasi membuka jalan itu. Tanpa sengaja, saya mendapatkan jalur itu di akhir tahun kemarin. Melanjutkannya di awal tahun. Mari berharap, Tuhan kembali menghadiahkannya pada saya. :)

Ah ya, orang-orang berbicara soal resolusi. Target apa yang belum terkejar di tahun sebelumnya, dan target baru yang dicanangkan di tahun ini. Saya tak muluk-muluk, hanya ingin…

...banyak membaca.

...banyak menulis (apa saja)

...banyak menabung

...banyak beli buku (mungkin dua-tiga per bulan)

...banyak bekerja (tambah segmen)

...banyak berdoa dan beribadah

…banyak bangun pagi (atau dibangunkan)

…banyak waktu luang (sekalian liburan)

...banyak bersyukur

...banyak berpikir positif

...banyak bergerak (tak lagi dengan jalan kaki)

...banyak makan (biar berat badan bertambah)

...banyak bercakap dengan orang tua (utamanya bapak)

...banyak ke luar daerah (borong target liputan)

...banyak mengenal orang baru (apalagi cewek, #ehh)


Sebagian besar sebenarnya sudah pernah saya sebutkan di awal tahun 2015 silam. Hanya saja, beberapa darinya juga sudah mutlak tercoret dan dikhatamkan. Sebagiannya lagi, hanya berjalan secara berkesinambungan.

Terlepas dari semua target yang ingin dicapai, saya, kamu, kita, kalian, mereka hanya bisa selalu berharap, "let's be better than yesterday..."



--Imam Rahmanto--