Sabtu, 31 Desember 2016

Kolase Akhir Tahun (2)

Desember 31, 2016



#5
Tahun ini juga jadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan hidup saya. Untuk pertama kalinya saya merasa jadi orang yang benar-benar mandiri, dalam artian tak lagi menggantungkan keinginan atau urusan pada orang tua. Segala hal yang berhubungan diri sendiri harus ditanggung dengan sepenuh hati. Termasuk kendaraan pribadi. Terasa lebih dewasa gitu loh!

Tak ada lagi nebeng-nebeng ke teman. Tak ada lagi unsur bikin repot dan menyusahkan teman-teman lain. Tak perlu lagi mengukur jarak lepas pantai dengan angkutan kota a.k.a pete-pete. Saya sudah hafal betul arah jalan di seluruh titik kota Makassar.

#6
Saya wajib berterima kasih kepada Tuhan. Banyak perjalanan yang saya lalui setahun belakangan ini. Lintas kota, lintas daerah, hingga lintas pulau.

Beberapa tempat menciptakan banyak kerinduan dalam hati kecil saya. Tak cukup rasanya menjelajah dalam tempo seminggu. Kota Bandung dengan semilir lembut udara paginya. Hijau pohon dimana-mana membuatnya semakin rindang. Sudut-sudut Braga sebenarnya masih mengundang sejuta rasa penasaran.

Sementara Jogja dengan berbagai macam wisata budayanya selalu mengundang perhatian. Saya dua kali menyambanginya tahun ini. Keduanya dalam nuansa yang berbeda. Sekali, liburan. Lain waktu, liputan. Setidaknya, dua-duanya tetap membaui aroma kesederhanaan kota Jogja.

Saya berusaha sok paham detail lukisan di Museum (galeri lukis) Affandi, Jogja. 
Tak jauh dari kota Makassar, ada pula Maros yang menjadi penjelajahan alam liar. Saya menikmati pompaan adrenalin bersama para penunggang mobil-mobil besar. Disapu lumpur. Disambut nyamuk hutan. Dirubungi nyamuk. Berteriak-teriak dari dalam mobil yang berguncang. Tanpa sinyal seluler yang mendukung untuk sekadar mengirimkan email.

Saya menikmati perjalanan-perjalanan sederhana nan keren itu. Beberapa darinya saya lalui seorang diri. Tetap menawarkan kesenangan keluar dari rutinitas. Yah, semuanya memang hadir ketika saya sudah mulai suntuk dengan pekerjaan yang hanya berputar di sekitar kota Makassar. Tiba begitu saja, tanpa aba-aba. Saya terkadang hanya butuh sehari atau dua hari untuk packing.

Karena sadar dengan segala jenis perjalanan mengagumkan itu, saya sudah siap untuk petualangan yang lebih jauh. Maka beberapa bulan lalu saya telah menyiapkan paspor. Sudah resmi dalam genggaman.

Go anywhere! (Imam Rahmanto)

#7
Tahun 2016 merupakan masa bapak dan mamak menutup perantauannya di tanah Sulsel. Mereka memutuskan kembali ke kampung kelahirannya di Jawa, menyisakan semua kenangan di Enrekang. Kedua anaknya pun yang beraktakan tanah Massenrempulu.

Bapak sudah tak bisa berbuat banyak dengan penyakitnya. Sudah tepat baginya untuk istirahat menunggui masa tua. Toh, anak pertamanya sudah mampu membeli pulsa sendiri. Ia tak butuh lagi sekadar kiriman bulanan. Putra sulungnya itu yang sudah harus menyisipkan kiriman itu untuknya dengan sedikit kebahagiaan untuk keluarga-keluarga di kampung halaman. Disana, ada Paklik atau Buklik yang bisa mengulurkan tangan jika bapak butuh bantuan.

"Sedekat-dekatnya kamu berteman, keluarga tetap jadi tempatmu kembali," pesan bapak selalu.

Dan ketika saya menyebut kata "pulang", sejatinya tahun ini mengarahkan saya pada sebenar-benarnya kampung halaman yang telah lama terlupakan. Saya masih berada di Makassar. Memutuskan bekerja di kota metropolitan ini. Sekaligus menjadi penghubung kenangan bapak dan mamak atas tempat yang membesarkan kedua anaknya.

***

Tahun 2016 memang menyisakan banyak momen spesial atau terburuk saya. Meski begitu, semua sudah berlalu. Masih banyak hal yang perlu dipersiapkan untuk menatap tahun depan. Sedikit perbaikan untuk hal-hal yang memang dianggap buruk.

Pun, saya akan memasuki babak baru di tahun 2017 nanti. Saya dihadapkan pada tantangan baru yang lebih tinggi dalam kerja-kerja redaksional media. Bisa dibilang, beberapa diantara kami diangkat ke level yang lebih tinggi.

Saya harus mulai (kembali) merasai hawa dingin malam-malam di seluruh pelosok Enrekang. Dipindahtugaskan. Ini seolah menjemput kembali kenangan yang nyaris usang. Berjibaku dengan urusan pemerintahan dan segala hal yang dibutuhkan media kami. Hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penempatan di daerah itu sebenarnya bisa berarti pula ijabah Tuhan atas permintaan hati kecil saya. Sebagaimana saya selalu beranggapan bahwa waktu luang tak pernah bisa dihargai dengan uang. Saya akui, tahun ini, ada banyak waktu luang yang terbuang. Bahkan untuk berkumpul dengan teman atau menikmati pesona alam seadanya. Ternyata, Tuhan tahu cara mengembalikan sebagian waktu yang hilang itu.

Saya akan semakin banyak merasai waktu bersantai dan menyisipkan target lain yang sempat tertunda. Meski agak sedikit mengesalkan, barangkali ini cara lain agar saya lebih hidup dan bergairah.

Oiya, saya juga harus mengepak lebih banyak buku dari dalam kamar. Saya butuh banyak stok novel di tempat yang jauh dari hingar-bingar kesibukan kota...

*Sampai berjumpa Makassar dan tahun 2016...



--Imam Rahmanto--

Jumat, 30 Desember 2016

Kolase Akhir Tahun (1)

Desember 30, 2016


Saya sebenarnya punya banyak hal yang istimewa di tahun 2016. Akan tetapi, menuliskan semuanya serupa menumpahkan cerita-cerita (dan uneg-uneg) yang tak ada habisnya. Sementara waktu saya sangatlah terbatas.

Hujan juga tak pernah berhenti meneror dari luar bingkai jendela kantor. Maklum, bulan ini memang musimnya cuaca gelap dan berangin. Saya baru saja mendengar kabar kalau satu pohon tumbang dan menutup lorong yang biasanya kami lalui untuk parkir kendaaran di kantor.

Seberapa banyak momen spesial yang saya lalui bulan ini ya? Saya juga tak begitu menghitung atau teliti mengejanya. Kesibukan sebagai jurnalis membawa saya pada kenyataan lebih banyak kehilangan waktu. Sementara usia yang sudah berjalan seperempat abad perlu lebih banyak quality time, bersama keluarga atau sahabat-sahabat terdekat.

Anggap saja saya tak pandai memilahnya satu-satu. Momen-momen berikut ini sekadar penting untuk dibekukan ketimbang menganggapnya spesial atau istimewa. Karena spesial dan istimewa itu harganya jauh lebih mahal dibanding biasa, rasa cokelat, atau lumuran keju. Martabak??


#1
Saya pertama kalinya mantap mengemban tugas sebagai jurnalis. Memilin semangat yang cukup kuat. Bukan sekadar pekerjaan, melainkan passion. Mengesampingkan segala harapan orang tua yang berputar untuk PNS.

Pertama kalinya pula saya berkenalan dengan dunia olahraga. Awam di dunia olahraga, khususnya sepak bola membuat saya banyak belajar. Bisa juga ini tahun-tahun belajar saya. Kepala saya penuh sesak dengan informasi yang masih segar, sekaligus menantang. Kontak hape selalu bertambah saban hari. Orang-orang baru selalu berganti tiap hari.

Meski demikian, di awal-awal perkenalan itu pula saya harus mendapati sanksi redaksi. Karena kesalahan kecil, saya sampai tahu bagaimana rasanya diskorsing selama seminggu.

Hanya saja, saya justru bangga mengingat pengalaman diskorsing itu. Pengalaman yang sungguh berharga karena membuktikan tulisan saya bisa begitu bernyawa. Hal itu pula yang mungkin membuat "nilai" saya agak lebih waspada di mata beberapa atasan. Barangkali lebih istimewa, tanpa perlu keju atau cokelat.

Akh, kamera dan notebook masih dalam rating pinjaman kok. (Imam Rahmanto)

#2
Saya harus tersenyum-senyum sendiri jika merangkum satu bagian ini. Perjalanan yang cukup lucu perihal kisah asmara saya. Sebenarnya, bukan pertama kalinya merasai momen seindah itu. Akan tetapi, menjadi bagian yang epik lantaran benar-benar membuat saya terlihat "bodoh".

Momen seindah itu memang tak pantas dilupakan. Patah hati? Barangkali iya, tapi tak butuh waktu lama. Toh, saya juga telah dihapusnya dari kontak BBM hingga pertemanan facebook. Padahal saya tetap berusaha menjalin komunikasi. Watak perempuan memang lebih sering susah ditebak. Karena kenyataannya, perempuan itu kini sudah bisa tertawa-tawa lagi oleh lelucon lelaki lain.

Beberapa hal memang pantas untuk dikenang, bukan? Tak perlu merajut benang benci agar bisa menghapusnya dari kepala. Semua kenangan memang diciptakan agar terus diingat. Tanpa perlu melukai isi kepala, kita hanya perlu merelakan dengan memaafkan. Cara yang paling sederhana untuk merelakan, ya, dengan menumpahkan cerita. Oke,biarkan saya tersenyum lebar.

#3
Tahun ini pula yang menerjunkan waktu pagi saya. Entah kenapa, saya terbiasa bangun di atas pukul delapan pagi. Ah tidak. Tepatnya di atas pukul delapan pagi. Jangan tanya kapan waktu untuk shalat Subuh. Momen tahun ini, sudah tak terhitung lagi jumlahnya saya mangkir di hadapan Tuhan.

"Kalau alarm sudah tak mempan, itu artinya sudah saatnya butuh alarm hidup,"

Sayangnya, hingga tahun depan, saya belum menyusun itinerary untuk melapas masa lajang. Kalau "alarm hidup" boleh dialihbahasakan menjadi teman, sahabat, kekasih, keluarga, saya mau unjuk jari untuk dipersiapkan tahun depan.

Di satu sisi, saya terkadang kesal dengan diri sendiri. Saya jadi kehilangan banyak momen penting di pagi hari. Tak pernah lagi merasai tawa-tawa udara pagi yang ramah. Keheningan jalan-jalan beraspal. Atau kesibukan lain yang sebenarnya bisa dikerjakan di pagi hari. Bahkan untuk menikmati lantunan khas penyiar radio pagi dengan segelas cappuccino di tangan. Keduanya harus saya ganti dengan duduk-duduk di warung kopi, tengah hari.

Ngerinya, jika kebiasaan ini terus berlanjut, bisa-bisa banyak perempuan akan berujar pada saya: "Bangun pagi saja kamu susah, apalagi mau bangun rumah tangga bersama saya?"

Eh, saya punya jawabannya. "Maka ajarkan aku cara bangun pagi yang benar, agar kita bisa membangun rumah tangga bersama-sama." #gombal#

#4
Saya harus mengakui (dan membanggakan), tahun ini juga menjadi momen terbaik saya mengumpulkan lebih banyak buku. Untuk mengoleksi buku, saya tak pernah mau kompromi. Apalagi saya sudah punya penghasilan tetap, yang sudah lebih dari cukup untuk dua atau tiga buah buku saja. Prinsipnya, saya lebih baik menahan lapar ketimbang harus menahan hasrat untuk membeli buku setiap bulan. Beruntung, saya belum pernah kelaparan hanya gara-gara keinginan membeli buku itu.

Kamar saya dipenuhi tumpukan buku yang sebagian besar belum saya tamatkan. Rak-rak dinding buatan tangan semakin panjang dan bertingkat. Tak setiap malam pula saya membacai buku-buku itu. Bahkan saya baru menamatkan 16 dari 30 buku yang ditargetkan tahun ini. Meski begitu, target banjir buku harus tetap jalan.

Saya ingin merancang dimana rumah saya kelak menjadi tempat yang nyaman untuk keluarga menumpuk buku. Tempat dimana saya akan menjadi pencerita yang baik bagi anak-anak saya... 

Saya menyebutnya, Kamar Imaji. (Imam Rahmanto)

Next

--Imam Rahmanto--

Selasa, 27 Desember 2016

Putaran Peran

Desember 27, 2016

Di kantor kami, anak-anak baru sudah mulai bertugas. Mereka adalah wajah-wajah yang masih menyiratkan senyum penasaran. Segar bin cemerlang. Sebagian besar tak terpaut jauh dari usia saya.

Saya kerap berjumpa dengan mereka yang jumlahnya dua kali lipat dari angkatan saya. Datang ke kantor. Menunggu panggilan koreksi redaktur. Menunggui rapat. Duduk berkumpul sesuai desk masing-masing. Diam menyimak arahan dan proses rapat dengan redaktur. Menerima tugas. Pulang ke rumah. Berharap esok pekerjaan tidak lebih sulit.

Mereka seperti kami, setahun silam. Berbekal mimpi untuk menjadi seorang wartawan. Meski sebagian hanya menjadikannya alternatif pengganjal perut, karena pekerjaan yang diidamkan tak kunjung datang. Setidaknya, ada jawaban atas pertanyaan di kampung yang selalu menyambar gengsi, "Kamu kerja apa?"

Diantara teman-teman saya pun, banyak yang memendam latar belakang semacam itu. Hanya saja, seiring waktu, mereka merasai bahwa pekerjaan mengepul berita tak semiris yang selalu terlihat. Sebagian lagi, berhenti karena sudah menemukan pekerjaan yang lebih menebalkan saku celana.

Seperti saya dulu, mereka juga masih menyimpan banyak pertanyaan di kepala.

"Saya sudah menemuinya. Katanya......."

"Bagaimana caranya......"

"Kak, apa maksudnya kalau istilah seeded?"

"Siapa yang bisa ditemui...."

Telinga saya didengungi berbagai macam keluhan dan pertanyaan silih berganti. Komunikasi via pesan instan juga masih ramai seminggu belakangan. Di posisi itu, tentu saja mereka masih butuh banyak bimbingan. Tak mudah menjalani keseharian yang harus ikut menyisipkan orang-orang baru dalam daftar kenalan di kepala kita. Siapa tahu pula menjadi kenangan.

Kehidupan memang senantiasa terus berputar, ya. Tetapi, bukan dalam putaran roda yang berulang, berkenaan nasib baik atau nasib buruk. Bukan tentang adagium yang sudah sering beredar, "Ada kalanya kita di atas (beruntung), ada kalanya kita berada di bawah (sial)."

Bagi saya, ada putaran yang berbeda. Ini tentang putaran yang terus maju dan bergerak lantang mempertanyakan apa peran diri sendiri.

Kalau saya pernah menjadi "adik" dari kakak senior di media, kini saya jadi "kakak" senior buat adik-adik baru. Kalau saya pernah banyak pertanyaan, saya kini punya banyak persiapan jawaban. Kalau saya pernah takut-takut ditegur karena bahan naskah yang kurang, kok sekarang giliran saya yang tak segan menegur kekurangan naskah mereka. Kalau saya pernah ditawari boncengan menuju kantor, saya sudah seharusnya beralih menawarkan boncengan untuk orang lain.

Itu juga terjadi sebagai siklus kehidupan. Semasa kecil, kita selalu mengharapkan perlindungan dari bapak. Kelak, kita bakal lebih dewasa untuk mengayomi anak sendiri. Mamak pernah menjadi tempat kita merengek meminta uang jajan. Kini, tak ada lagi rengekan untuk meminta. Kita justru tak perlu banyak alasan untuk memberikan apa saja yang dibutuhkan mamak dan adik.

Segalanya berputar dan terus berjalan. Pun usia. Ibarat roda sepeda, kan? Dikayuh dan berputar. Hanya saja, sepeda tak pernah berada di tempat yang sama. Rodanya berputar, yang tentu akan bergerak meninggalkan tempatnya. Entah dikayuh maju atau mundur.

Suatu masa sebagai wartawan kampus, saya pernah begitu jengkel dengan perangai para senior. Seolah tak pernah ada bagian yang benar pada pekerjaan kami. Selalu berujung gerutu dan serapah. Saya pun berharap tak pernah berada di posisi mereka yang selalu menjadi hal yang patut kami takuti.

"Kelak, kalau jadi senior, saya tak mau seperti mereka," begitu gumam saya.

Nyatanya, roda terus berputar maju. Peran-peran memang silih berganti. Senior kami yang dulunya menjadi "momok" sudah tak pernah lagi mengurusi adik-adiknya. Perannya berubah. Berganti kami, sebagai senior untuk adik-adik yang baru.

Sebagian dari kami, tanpa sadar, mengubah peran layaknya orang yang kami benci. Tentu saja, sepertinya, kami yang menjadi bahan perbincangan (dan keluhan) mereka di balik layar. Seperti yang kami lakukan dulu untuk mengobati kekesalan dengan menumpahkan semuanya tanpa ampun. Tanpa sepengetahuan senior tentunya.

Akh, terkadang kita memang tanpa sadar mengayuh kehidupan ke arah yang seharusnya dihindari.

Bukankah kehidupan memang seperti itu? Terus berputar tanpa pernah mengulang momen. Hanya kejadian yang nyaris serupa. "Rasa" kenangan juga tak pernah bisa kembali, meskipun dalam kejadian yang sama.

Saat kita bertindak sebagai diri kita di momen ini, waktu akan membekap dan membawa kita terus menjauh dan bepergian. Sebagian hal ikut berubah. Hal baru adalah bagian penting dari perubahan itu. Kita hanya perlu menyadari tujuan sepeda yang sedang dikayuh. Baik atau buruk kah, peran kita di masa mendatang. Berguna atau sia-sia belaka.


--Imam Rahmanto--

Rabu, 21 Desember 2016

Per(Jodoh)an

Desember 21, 2016


Malam semakin bergulir. Bintang-bintang di atas kepala tak ada yang sanggup menarik hati. Saya seolah merindukan kembali perkampungan Sidrap, yang baru dua hari lalu saya tinggalkan. Sesilau-silaunya lampu sirkuit balap yang berjejer di Puncak Mario, bintang disana tak pernah malu-malu menyapa gulita. Justru di kota ini, Makassar, bias langit seolah takluk dengan lampu-lampu jalan dan beton.

Kopi-susu masih belum ludes. Saya baru beberapa menit lalu tiba untuk menyelesaikan sedikit naskah di warkop langganan ini. Mendapati kabar seorang teman bakal melangsungkan pernikahan bulan depan. Bukan hal aneh. Di usia kami sekarang, sudah lazim pertanyaan standar, "Kapan menikah?". Pertanyaan seperti, "Bagaimana skripsimu?" atau, "Kapan wisuda?" sudah bukan masanya.

Tengah malam di sebuah villa Puncak Mario. (Imam Rahmanto)

Saya pernah mempercayai sebuah mitos: ujian pertama bagi sepasang kekasih itu ada di tiga bulan pertama. Waktu-waktu itu disebut sebagai masa kritis sekaligus ujian. Karena tak bisa dipungkiri, cinta yang berbunga-bunga hanya ada saat masa penjajakan untuk mencari pengakuan.

Nah, jika sejoli yang dimabuk asmara itu bisa melaluinya, hubungannya "diramal" bakal berlangsung lama.

Terbukti masa kritis semacam itu pernah saya lalui. *uhuk!* Sayangnya, seperti mitos, saya tak mampu melalui tiga bulan pertamanya. Bisa ditebak, kisah asmara selalu berakhir di ujung tanduk.

Akan tetapi, kenyataan lain membawa saya pada beberapa kejadian menyebalkan. Mitos semacam itu tak sepenuhnya benar. Karena, toh, ada banyak pasangan yang punya kisah asmara langgeng bertahun-tahun namun tak bermuara pada tempat yang sama: pelaminan.

Betapa Tuhan selalu punya banyak skenario untuk membolak-balikkan hati manusia. Bukan semata-mata hati yang memainkan peranannya. Malah, terkadang hati dan perasaan yang menaunginya masih sama. Hanya saja, faktor lain memaksa sepasang kekasih harus berhenti dari perjalanannya bergandeng tangan. Keduanya terpaksa memutar arah yang tak sejalur.

Baru-baru ini, saya menjumpai seorang teman perempuan seperti itu. Saya tak begitu mengenalnya dengan baik, karena jarang bertemu dan menjalin komunikasi. Pun, saya mengenalnya lewat kekasihnya yang merupakan sahabat kami di lembaga pers kampus.

Kehidupannya termasuk agak berat belakangan ini. Meskipun, menurut pengakuannya, ia masih bisa tersenyum dan tegar diantara sahabat-sahabatnya yang justru menangisi kisahnya. Tetapi, seperti cappuccino, masih ada pahit tersisa diantara manis senyumnya.

Saat menjumpai senyumnya, malam lalu, ketegaran memang dipikulnya begitu rapi. Akan tetapi, saya tetap mendapati dirinya belum mengutarakan semua hal yang ingin disampaikannya secara utuh. Semudah-mudahnya perempuan mengulum senyum, soal hati tak bisa terus ditutup-tutupi. Laki-laki masih bisa menawar hatinya. Perempuan? Tak pernah mampu menawar hati dengan logika.

"Sakit sih, tentu saya merasa sakit. Hati perempuan mana yang tidak sakit seperti itu. Tetapi, untuk meratapinya, saya mau apa juga," ungkapnya sambil tersenyum, tanpa mata yang berkaca-kaca.

Saya hampir dibuatnya terkesima dengan senyum dan cerita yang lepas saja ia bagi. Untuk bertemu dan bertatap muka seperti ini saja, ia tak perlu banyak berpikir. Saya maslah mengira, perempuan-perempuan patah hati akan mengurung dirinya dalam kamar, menghabiskan ratusan tissue, menamatkan puluhan drama korea, menyuap segentong eskrim, atau menggigit lebih banyak batang cokelat.

Saya jadi tak perlu bertanya jika ia harus menampik mitos di awal cerita yang sudah disebutkan. Kisahnya sendiri sudah "nyaris" langgeng. Bertahun-tahun lamanya, ia dan lelakinya menjalani masa pacaran. Saat pertama kali hatinya berbunga-bunga menerima pernyataan cinta yang masih berpakaian putih abu-abu, ia tak pernah membayangkan harus berhenti di persimpangan jalan.

Saya pernah membayangkan, kelak kami akan datang beramai-ramai mengucapkan selamat untuk keduanya di atas pelaminan. Berfoto bersama, lalu ucapannya diterbitkan di tabloid kampus sebagai masa berbahagia. Maklum, sebagai salah satu senior lembaga pers kampus. Muka-muka kami tertawa lebar, meski masih dalam keadaan ingin menjahili keduanya.

Bagaimana tidak, sebagai sahabat, kami tak jarang bersikap usil untuk setiap teman yang punya pasangan, termasuk untuk keduanya. Berdalih verifikasi pasangan, kami menjahili pasangan atau bahkan yang masih dalam tahap odo'-odo' (gebetan). Saya pun pernah di posisi sebagai korban.

Hanya saja, keduanya selalu bergeming. Alih-alih berharap keduanya bertengkar, mereka justru adem-ayem dan baik-baik saja. Hingga suatu waktu, kami harus menyerah pada tahap "verifikasi" kurang ajar itu. Barangkali, karena keduanya sudah menjalin tali kasih yang begitu lama, maka tahan terhadap segala cobaan dan ujian. Begitu pikir saya (dan teman-teman). Alhasil, perempuan itu mulai terbiasa dengan kekonyolan kami.

Kenyataannya, roda nasib tak ada yang pernah bisa menebak. Sekuat apapun sang wanita menunggui lelakinya, Tuhan justru membalikkan segala bayangan indahnya. Selantang apapun ia menolak pinangan lelaki lain, kekasihnya justru terkungkung dalam perjodohannya sendiri. Pilar usia pacaran yang bertahun-tahun lamanya harus runtuh karena: perjodohan.

"Entahlah. Saat saya dijodohkan pun, saya masih bisa memilih sendiri. Tetapi, dia, justru tak bisa atau mungkin tak mau menolak. Entahlah, kemana komitmennya sebagai lelaki, yang seharusnya lebih punya keberanian,"

Soal komitmen, nampaknya setiap lelaki punya ukurannya masing-masing. Entah janji seperti apa yang pernah dilontarkan pada kekasih. Barangkali, orang tua sahabat saya itu punya kapasitas lebih besar dalam hal pemilihan pasangan anaknya. Meski kata teman perempuan itu, perjodohan kekasihnya bukan sesuatu yang dipaksakan. Dalam artian, sebenaenya masih bisa dinego oleh lelakinya.

Saya juga tak bisa menyalahkan jika ia tak mampu membela diri di depan kedua orang tuanya atas perjodohan itu. Status "lelaki" bukan jaminan bisa tegas atas pendirian pribadi. Ada beberapa orang yang tak mampu sekadar membela diri di hadapan orang tuanya. Akh, jangan bandingkan dengan saya yang kerap kali masih keras kepala di hadapan bapak.

Apapun pertimbangannya, lepasnya masa kasih yang dirangkai bertahun-tahun itu patut disesalkan. Saya harus mengakui, menunggui orang yang salah, masih lebih nyaman, ketimbang menunggui orang yang benar tapi menyalahi keinginannya sendiri. Keduanya sama-sama tak enak. Akan tetapi, paling tidak, pilihan pertama tadi tak membumbungkan "harapan palsu".

***

Jodoh dan bodoh sebenarnya sangat berdekatan. Hanya berbeda satu huruf. Demi mengejar jodoh, kita rela berlaku bodoh. Padahal sejatinya kita memang benar-benar bodoh karena tak pernah menyadari bahwa jodoh bukan hitung-hitungan waktu dan usia. Sepanjang apapun usia pacaran, toh, kenyataannya tak menjamin bermuara pada impian yang sama.

Ada pula perempuan-perempuan menunggui lelakinya. Katanya, si lelaki akan datang dengan janji ijab kabul di depan penghulu. Jaminannya adalah usia pacaran mereka yang dijalani selama bertahun-tahun. Hasilnya? Keluarga si perempuan ternyata telah menerima pinangan lelaki lain yang lebih mapan. Karena tuntutan adat dan adab. Untuk contoh satu ini, lelaki malang yang pernah mengalaminya, hanya berjarak satu sekat dinding dengan kamar saya.

Mendengar kisah-kisah seperti itu, saya hanya bisa bersyukur tak pernah merasainya. Kata teman, saya beruntung tak pernah berpacaran lama seumur skripsi mahasiswa bandel yang tak kelar-kelar. Padahal, saya terkadang berharap bisa melampiaskan segala keluh-kesah pada perempuan tersayang. Giliran ada, malah mitos itu membayang-bayangi. Hahaha....

Bukankah sungguh mendamaikan, menikmati raut wajah dan senyum perempuan terkasih yang tulus mengembang di kala penat sedang bertandang?

Menikah? Duh, saya masih harus belajar menjadi lelaki bertanggung jawab dan memegang komitmen di hadapan kedua orang tuanya. Siapa pun perempuan itu.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 15 Desember 2016

Singkat dan Nekat

Desember 15, 2016

Saya seharusnya telah tertidur sejak tadi. Sepulang dari tugu kota, saya sudah diantarkan Fathir dan Anti di kost seorang teman lainnya, Aprisal. Adik kelas saya itu menjadi alternatif untuk menghabiskan waktu istirahat semalam di Jogja.

"Jadi mau kemana saja besok, Kak?" tanya Aprisal di sela-sela kantuknya. Kamarnya juga masih kosong.

Belum ada perlengkapan seperti anak-anak kost pada umumnya. Usianya sebagai penduduk kota Jogja masih belum genap sebulan. Keesokan harinya, dia harus menghadiri absensi pertamanya sebagai mahasiswa Magister.

"Menurutmu, kemana bagusnya?"

"Wah, kalau saya malah ndak tahu, Kak. Saya belum genap sebulan disini. Belum sempat kemana-mana, cuma di kost saja," akunya.

"Yah, tanya Google saja lah. Lagipula adami juga motornya Anti na titip. Biar sendiri juga, ndak masalah lah," ujar saya kemudian.


Senja di kota Jogja (Foto: Imam Rahmanto)

***

Rencana biasanya berubah tak terduga. Seorang teman sekelas di kampus dulu, Rahman ternyata berada di kota yang sama. Saya baru tahu, ternyata dia melanjutkan kuliah magisternya di universitas tertua disana. Berbekal beasiswa LPDP. Jadilah, saya berdua menyusuri beberapa tempat di kota Jogja dengannya.

Akan tetapi, jangan berpikir jika teman saya satu ini juga melintasi banyak jalan seperti penduduk pribumi. Nyatanya, kami menysuri kota masih dengan bekal Google Map.

"Yah, di depan belok kiri. Eh, salah, harusnya tadi, lorong pertama sebelumnya," berkali-kali saya harus rangkap sebagai navigator.

"Bagaimana sih caramu lihat peta?" kesalnya jika sudah salah jalan. Kami hanya balas tertawa satu sama lain.

Saya tetap menikmatinya. Ketidaktahuan kami justru berbuah hal-hal konyol di kota itu. Tempat-tempat, yang juga belum pernah dikunjunginya sebagai "senior" kota itu.

Museum lukis Affandi jadi tujuan kami saat mendapati studio Upside Down World Jogja masih tutup di pagi hari. Di media sosial, saya sebenarnya mendapati salah satu ajang foto-foto itu lagi nge-hits. Sayangnya, studio yang berada di sekitar jalur Ring Road itu baru buka di atas pukul sepuluh.

Galeri lukisan yang saya kunjungi itu cukup memikat. Saya menyempatkan diri untuk menyimpan beberapa bahan cerita dan obrolan untuk dijadikan sebagai naskah berita. Selain berniat jalan-jalan, saya bisa "menyelam sambil minum air". Tak ada tuntutan, namun jadi sebuah kebutuhan.

Sebagai seorang Bibliophile, toko buku adalah tempat wajib yang harus saya kunjungi di mana saja. Apalagi Jogja, yang terkenal dengan stok buku-bukunya untuk mahasiswa. Saya menyambangi dua tempat, yang salah satunya tak jauh beda dengan toko buku kebanyakan. Sementara satunya lagi, di Shopping Center, benar-benar memanjakan gairah berbelanja buku. Jika butuh buku terbitan lama, pusat penjualan buku di dekat Taman Pintar itu bisa jadi pilihan utama. Meski kualitasnya KW, paling tidak bisa menambal beberapa edisi buku yang tak lagi diterbitkan zaman sekarang.

Jogja yang identik dengan Malioboro, juga tak luput dari kunjungan kami. Untuk daerah ini, kami tak memerlukan Google Map. Rahman sudah sangat paham dengan lokasi pusat perbelanjaan dan oleh-oleh itu. Sepanjang jalan beraspal, delman juga ramai berjejer menandakan banyak wisatawan asing yang ingin meinkamti kota Jogja dengan perlahan. Untuk menuntaskan

Tujuan terakhir, kami berkunjung ke Prambanan. Itu di penghujung waktu. Selain Rahman, Anti dan Aprisal juga menyempatkan diri menikmati senja dari sana. Dengan sedikit paksaan, Aprisal yang sempat ingin "mager" di kamar kost, akhirnya mengiyakan ajakan seniornya.

"Saya juga tak tahu dimana itu Prambanan," kata Aprisal.

"Gampanglah. Kan sudah ada petanya. Katanya Anti juga, lokasi sudah kelihatan dari jalan poros," jawab saya.

Dan benar saja, kami sudah disuguhi puncak salah satu candi dari jalan poros. Meski jadwal buka candi hanya sampai pukul tiga sore, kami tetap saja diperkenankan masuk. Sebelum pukul enam, semua wisatawan sudah wajib keluar. "Tak apalah. Pas. Karena pesawat saya take off jam 6," gumam saya dalam hati.

Travel Jogja#01

***


Saya beruntung dikelilingi banyak orang baik di setiap perjalanan. Beberapa orang yang dikenal sejak di Makassar, atau orang-orang hanya menemukan keakraban lewat percakapan dunia maya.

Saya juga seharusnya berterima kasih kepada teman-teman yang tak pernah lelah direpotkan selama di kota-kota asing, termasuk Jogja. Bagaimana kami harus berkejaran waktu memburu waktu boarding pesawat, lantaran terlalu menikmati pengalaman pertama di Candi Prambanan. Ujung-ujungnya ternyata pesawat mengalami delay.

Teman-teman saya sampai harus mengorbankan badan mereka kuyup sesampai di kost. Barangkali, waktu mengerjakan tugas kuliah juga dikorbankan hanya demi "tamu" seperti saya.

Saya perlahan memahami, merencanakan perjalanan adalah hal yang mesti diprioritaskan sebelum melakukan perjalanan itu sendiri. Tanpanya, apa yang diidam-idamkan mungkin sulit terlaksana. Lebih baik gagal mewujudkan rencana, ketimbang sama sekali tak menyusun rencana. Kata tetua bijak, orang yang gagal merencanakan sudah pasti gagal mewujudkan.

Padahal, saya sendiri saban hari selalu berhadapan dengan planning, planning, dan planning. Liputan, harus direncanakan dengan sangat baik. Itu yang saya pelajari dari pekerjaan sebagai kuli tinta, sejak masa mahasiswa. Tentunya selain belajar arti disiplin dan deadline.

Saya tak pernah menyusun rencana begitu mendetail untuk perjalanan #Onedaytrip di Jogja, tempo hari. Satu hari itu, hanya dibekali pengetahuan asal caplok dari dunia maya. Toh, saya benar-benar masih hijau di kota istimewa itu.

Terlepas dari itu, saya justru semakin excited untuk menyambangi banyak tempat di negeri ini. Ada banyak (tantangan) perjalanan yang bisa membuat saya selalu menyunggingkan senyum. Kenyataannya, saya masih terikat di kota itu. Sebulan berikutnya, saya kembali datang dengan lebih banyak titik jelajah (meski hanya untuk penugasan liputan).

Akan tetapi, beberapa hal yang berentetan itu semakin membuat saya yakin akan perjalanan-perjalanan berikutnya. Jauh dan semakin jauh. Baru dan semakin baru. Bisa jadi ke luar negeri (yang sudah lama saya inginkan). Maka tak heran jika saya akhirnya memutuskan untuk membuat paspor. Tak peduli arah angin akan membawa kemana...





--Imam Rahmanto--


Ps: Sebenarnya saya ingin meluangkan banyak waktu untuk bercerita segala hal tentang Jogja. Nyatanya, waktu terus berjalan dan membuat saya terperangkap dalam kisah-kisah itu. Di sisi lain, saya punya banyak hal lainnya di kepala yang ingin dipulangkan pada "rumah" tersayang ini. 

Minggu, 11 Desember 2016

Menyimak Hidup dari Beranda

Desember 11, 2016

Beranda. Buku hangat ini menjadi salah satu daftar buku yang sempat saya tamatkan di penghujung tahun ini. Meskipun sebenarnya, baru separuh dari target menamatkan 30 buku selama rentang tahun 2016 ini. Lagi-lagi, prioritas baca buku memang belum bisa mengalahkan rutinitas pekerjaan sehari-hari. Padahal kan saya bukan orang kantoran

Pun, buku bersampul sederhana ini bukan tergolong buku tebal yang kerap menyesaki rak-rak dinding kamar saya. Bisa dituntaskan hanya dengan sekali duduk. Dua cangkir cappuccino (atau kopi susu) sudah cukup untuk menemani waktu santai diantara cuaca yang sedang sendu-sendunya.

Sebenarnya, saya lebih tertarik menghabiskan waktu luang dengan buku-buku bergenre novel. Tak peduli ratusan halaman, asalkan mampu menjauhkan saya dari pengaruh media sosial atau rutinitas harian. Toh, setebal-tebalnya Harry Potter, selalu menjadi bacaan yang mengagumkan sepanjang masa.

Tetapi, untuk buku satu ini, endorfin saya bisa sedikit dikompromikan. Penulisnya, Imam Dzulkifli, bukan orang asing lagi bagi saya. Apalagi buku ini lahir belum genap sebulan. Akh, bukan juga karena namanya yang punya kesamaan dengan saya loh.

Saya menjumpainya di kantor hampir setiap hari. Beberapa kali, tulisan saya menjadi bahan eksplorasinya jika sudah berkenaan dengan klub PSM atau Teknologi. Yah, kebetulan garapan sehari-hari saya tak jarang jatuh di editing tangan sastranya. Meskipun dia sebenarnya lebih sering membawahi desk Ekonomi.

Saya mengaguminya sebagai salah satu redaktur yang masih meluangkan waktu untuk passionnya: menulis. Serutin-rutinnya wartawan menulis berita, sungguh jauh berbeda jika menuangkan idenya lewat tulisan lepas.

Timeline facebook pun dibanjiri oleh paragraf-paragraf ringkas miliknya. Bernada satire. Lucu. Tegas. Nyinyir. Atau menyindir. Tetapi, selalu pasti, menarik perhatian banyak orang yang melintas di beranda. Saya yakin, Kak Dzul punya banyak penggemar di luar sana yang tak henti menantikan tulisan terbarunya. Saya juga mesti menaruh curiga, Beranda ini lahir dari dorongan dan motivasi para fans.

Kumpulan tulisan di facebook itulah yang kemudian dirangkum dalam buku setebal 164 halaman ini. Maka tak perlu heran jika beberapa isinya ada yang masih menyebutkan nama orang dengan agak "alay".

Nama yang dimaksud sebenarnya disebutkan sebagai mention (tag) bagi facebook. Termasuk beberapa isi tulisan lainnya juga masih menggunakan konteks facebook. Barangkali, penulis agak terburu-buru menuangkan seluruh isi facebook tanpa menyesuaikan konteks bacaan digital itu beralih sebagai buku.

Terlepas dari itu, tulisan-tulisan singkat di buku ini patut diacungi jempol. Sebagian hal, saya belajar darinya. Tak hanya mengajarkan cara hidup, namun mengajak untuk bercermin memandangi segala hal yang mungkin terlewat dari kehidupan sehari-hari.

"Selalu ada pesan tak kasat mata yang dibawa oleh segala rupa peristiwa di kehidupan sehari-hari," begitu kira-kira penulis ingin menyampaikan khittah tulisannya.

Banyak hal yang diimprovisasikan dalam buku ini. Bahkan beberapa nama tetangga bisa jadi bahan introspeksi secara unik. Nama-nama yang sangat jarang kita dengar, namun berubah jadi tokoh mengagumkan bagi penulis. Kita dibuat tergelitik, bahwa mereka begitu menghargai bagaimana cara hidup yang sesungguhnya.

"Tidak pula seperti Pak Ucu, lelaki baik yang dapat amanah membuat kopi susu di lantai empat Graha Pena Makassar. Dia juga menjadikan senyum sebagai satu-satunya ekspresi yang ditunjukkan kepada siapa pun yang dilayaninya." --hal.20

Tak heran jika saya pun harus mengucap terima kasih kepada Pak Ucu yang setiap malam mengangsurkan nasi bungkus pada saya.

Apa yang dilukiskan Kak Dzul dalam 50 artikel itu mengingatkan tentang tujuan awal saya menulis segala hal di "rumah" ini. Nyaris sama. Hanya saja, bahasa dan pembawaan redaktur saya ini jauh lebih renyah dan bersahaja. Kita sampai berharap tak diracuni candu usai menyusur setiap alur pengalamannya.

"Betul kan, teh tak sesederhana yang orang-orang itu kira. Maka sajikanlah dengan nilai lebih," --hal.4

Saya sangat menikmati bersantai di hadapan Beranda. Walau singkat, buku ini tetap menampar separuh kesadaran saya; kapan pula menerbitkan buku?

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."

Imam Dzulkifli, paling tidak, telah menjalankan nasehat simbah Pramoedya Ananta Toer untuk mengabadikan namanya pada sebuah buku yang berjudul Beranda. Kelak, senior saya ini tak perlu khawatir lagi jika orang-orang hanya mengenalnya sebagai karyawan di perusahaan media. Toh, apa yang dia tuangkan sudah menunjukkan tekad untuk dikenang sebagai penulis. Bukan sebatas juru ketik atau juru tulis.

***

Dan memandangi segala hal, tentang keseharian, memang cukup elok dari beranda. Kita bisa menikmati secangkir minuman hangat dengan harapan menatap separuh mentari di pagi hari. Kelak, ada yang mengiring secangkir minuman itu; senyum tulus dari orang tercinta.



--Imam Rahmanto--

Kamis, 08 Desember 2016

Mungkin Demam

Desember 08, 2016
Oke, kita berhenti dulu cerita tentang Jogja. Saya sebenarnya tak pernah bosan ingin menjelajah di kota nan damai itu. Akan tetapi, momen nyantai-nyantai seperti itu pasti ada masanya kok. Saya hanya memberi jeda untuk beberapa cerita yang akan tetap berlanjut di seputar Prambanan hingga Keraton.

Sebanyak apa pun kita berharap pada Tuhan, tak boleh menuntut untuk dikabulkan secepat mungkin. Tak perlu ikut-ikutan demo seperti aksi #212 kemarin, bukan?

Tahulah. Negara kita sedang "demam" untuk sementara waktu. Terlalu banyak orang-orang yang "merasa" dirinya pandai, sampai-sampai menunjuk jidat orang lain bodoh. Agama jadi senjata sekaligus tameng atas apa yang dianggapnya benar. Bahkan, namanya kebenaran pun seolah tak memandang etika. Saya tak menyukainya. Bukannya membuat orang semakin dekat dan respek, mereka justru mengkerdilkan agama yang dibawa secara damai ini.

Saya tak pernah menyangkal aksi damai yang bisa mendatangkan banyak massa umat Muslim itu. Hati saya justru tak bisa menahan haru saat melihat orang berbondong-bondong menuju Monas. Banjir pakaian putih dimana-mana, menutupi permukaan jalan di sekitar tugu kebanggaan kota Jakarta. Saya senang. Apalagi, hal itu menjadi pertanda bahwa persaudaraan umat Muslim masih sangat tinggi.

Sayangnya, belakangan ini, memandangi timeline media sosial sama saja dengan mendatangi penampungan sampah, yang bisa menularkan virus-virus penyakit berbahaya. Hal menyenangkan pun bisa diubah menjadi propaganda dan perdebatan.

Ditambah lagi, sekarang yang sedang hangat-hangatnya mengenai persoalan S*ri Roti yang juga menjadi buntut dari aksi damai #212 itu. Mereka-yang-seolah-pemilik-kebenaran, entah bagaimana, malah menyauarakan boikot produk makanan itu. Dianggap kafir. Atau diperhalus sedikit, dianggap produk kafir. Hanya gara-gara produk itu mengklarifikasi tak terlibat dalam aksi "heroik" di Monas? Duh, bangsa ini mbok ya kok semakin dibuat tak berpikir dengan kabar-kabar yang berseliweran di medsos. Miris

Mengapa di saat membaca status lebay kita hanya bisa tersenyum-senyum sendiri, sementara membaca kabar hoax-bin-aneh justru tak bisa berpikir jernih? Tak heran, ada anekdot soal otak bangsa Indonesia yang dihargai sangat mahal dibandingkan otak-otak bangsa Amerika atau Jepang. Otak kita dianggap masih segar, karena tak pernah dipakai berpikir.

Dan euforia kemenangan timnas Indonesia menuju puncak Piala AFF seharusnya bisa menyatukan tujuan pandangan kita. Duka di Aceh sana bisa mengalihkan sedikit perseteruan kita. Atau, setidaknya, pandanglah bencana itu sebagai teguran bagi bangsa yang tengah dirundung "demam" ini....




--Imam Rahmanto--

Kamis, 01 Desember 2016

Titipan Hujan

Desember 01, 2016
Makassar sedang diguyur hujan. Gas terus menderu agar saya bisa sampai ke kantor. Tak perlu tepat waktu. Saya masih punya banyak waktu bersantai diantara adzan maghrib karena naskah sudah rampung. Lagipula tak ada panggilan darurat dari redaktur.

Ah, hujan? Entah keberapa kalinya saya harus berkendara di tengah hujan. Menikmatinya diantara temaram lampu kota. Di balik telinga saya yang selalu digantungi earphone.

"Tidak punya mantel?" pertanyaan yang juga kesekian kalinya.

Sejak motor saya lahir diantara kesibukan mengejar berita, saya tak pernah punya waktu melengkapinya dengan mantel hujan. Kalau hujan telanjur jatuh tak terkendali, saya cukup menepikan motor. Melindungi kepala di bawah atap warung yang menjorok ke jalanan.

Beruntung, air hujan juga tak pernah berkorelasi dengan penyakit-penyakit kambuhan saya. Kekuatan saya, barangkali, ada pada doa mamak dan tingkah-kebanyakan-polah-hiperaktif saya. Namun sialnya, di kala teman-teman berjatuhan di musim penghujan, saya tetap berdiri sebagai penunjang kekurangan pekerjaan mereka. Menambahi beban di kepala.

Jika sudah begitu, saya agak kesal dengan beberapa waktu yang hilang. Tak ada lagi kesempatan mengelabui waktu.

Air hujan juga masih menjadi penyempurna playlist lagu indie saya. Dan nyatanya, basuhan hujan ikut memutar kembali ingatan saya, beberapa hari lalu...

Alun-alun selatan keraton Jogja dengan mitos diantaranya. (Imam Rahmanto)

***

"Hei, hujan loh?" ujar saya agak cemas. Tak enak hati melihat teman saya, Aan, memaksakan diri mengantarkan ke bandara internasional Adi Sucipto. Saya sudah terlalu banyak merepotkannya di kota ini.

"Tak apalah. Daripada kau ketinggalan pesawat," balasnya diantara deraian hujan.

Saya sebenarnya menawarkan diri untuk memboncengnya. Hanya saja, ia kekeuh membawa motornya sendiri. Katanya, tak elok jika harus masuk pesawat dalam keadaan kuyup. Meski sempat berteduh, kami melanjutkan perjalanan menembus hujan.

Entah bagaimana cara saya harus berterima kasih. Saya jadi terenyuh dengan kebaikan orang-orang di sekitar saya. Seberapa riuhnya saya hadir di kota tempat mereka menjalani pendidikan magister, saya selalu punya tempat untuk merepotkan hari-hari mereka.

***

.: 6 jam sebelumnya...

"Saya kenal wartawan yang pernah tugas di pengadilan itu. Duh, siapa namanya ya? Saya kok agak lupa..." ujar Pak Barmudin, lelaki yang menjadi penutup perjalanan sejarah saya di Yogyakarta. Ia mencoba mengingat-ingat nama wartawan media saya di zaman 90-an yang bertugas di salah satu kantornya.

Saya nyaris pulang ke Makassar dengan tangan hampa. Pasalnya, seluruh penelusuran di Jogja tak memberikan petunjuk terkait keturunan terakhir pejuang Makassar - disebut Prajuri Daeng - di zaman Kerajaan Mataram itu. Pun, usaha saya bolak-balik keraton tak membuahkan hasil dimana ia tinggal. Saya hanya menjumpai namanya dari penuturan beberapa orang (narasumber) yang bergantian saya sambangi.

Nyatanya, lelaki tua pensiunan hakim itu begitu hangat menyambut saya. Di depan pintu, ia sudah kadung antusias melihat gantungan ID pers yang menunjukkan asal saya. Kehangatan itu seolah menjadi penutup yang cukup manis bagi segala perjuangan saya menjelajah kota Jogja selama empat hari.

"Yah, dulu saya pernah di Makassar jadi hakim. Meskipun lahir dan sekolah disana, saya kuliahnya di Jogja," kisah lelaki yang kini menjadi salah satu petinggi pasukan di keraton Jogja itu. Namanya saja sudah bergelar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT).

Lelaki berusia 73 tahun itu begitu akrab di atas meja makan. Meski sedikit sungkan, saya menjajal saja hidangan sate yang disajikan istrinya. Katanya, sang istri merupakan keturunan asli Jogja. Keduanya bertemu saat masa kuliah dulu, lantaran tempat tinggal sang istri tepat berada di sebelah dinding tembok keraton.

"Lha kok, tidak dimakan gado-gadonya tah?" ujar istrinya, melihat sepiring besar gado-gado masih lengkap dengan ulekan pecelnya.

"Inggih (iya, red), Bu. Aku sudah kenyang, kok," balas saya agak sungkan. Sepiring sate dan kupatnya sudah tak bersisa di hadapan saya.

Cerita yang bermula dari depan pintu, ruang tamu, meja makan, hingga ruang tamu itu sungguh melegakan. Saya tak pernah menyangka, kerinduannya dengan kampung halaman membuat Pak Barmudin begitu hangat menyambut saya. Ia yang paham banyak sejarah dan budaya Makassar - Jogja ikut membuka cakrawala berpikir saya. Bahkan, saya yang bukan asli Makassar, harus mengikuti alur sejarah yang menjadi penugasan kantor saya.

"Seandainya waktumu lebih banyak, saya akan ceritakan lebih banyak lagi. Ada banyak referensi juga yang mau saya tunjukkan," ujarnya lagi, masih antusias.

Ia sempat menanyai jadwal keberangkatan pesawat saya. Dengan sedikit menggeser waktunya lebih cepat, saya menjawabnya. Apalagi, redaktur juga sudah mewanti-wanti untuk menyetorkan naskahnya sebelum take off dari Jogja. Jika percakapan berlanjut lebih lama (dan sangat hangat), saya tentu tak punya banyak waktu mengejar deadline tersebut. Tak tahu lagi bagaimana cara mengakhiri obrolan tadi...

Langit juga sudah tak setenang biasanya. Di ujung sana, awan hitam sudah bergerombol menyuarakan isyarat rindunya pada bumi.

***

.: 8,5 jam sebelumnya

"Coba hubungi nomor ini......"

Saya menghentikan laju motor pinjaman dari Aan. Sebuah pesan singkat masuk di saat saya sedang memutar gas dan haluan kembali ke arah pusat kota. Saya menyangka tak ada lagi harapan di kota ini.

Tuhan masih berbaik hati. Dari ujung nomor telepon itu, seorang lelaki tua memberikan saya alamat rumahnya secara detail. Dari nada suaranya, ia bahkan cukup ramah jika seandainya harus menjemput pengembaraan saya di kota kediamannya.

"You sekarang ada dimana?" potongan suaranya yang mengingatkan saya pada para inetelek di masa penjajahan kompeni Belanda.

***

.: 9 jam sebelumnya...

Saya kebingungan mencari alamat rumah narasumber penutup ini. Jalan poros sepanjang Jogja - Wonosari telah saya lalui, sembari melirik kiri-kanan jalan. Kali aja ada nama-nama firma hukum yang mengindikasikan pekerjaan pensiunan hakim itu.

Lelaki bernama lengkap Barmudiningrat itu menjadi satu-satunya harapan saya untuk bernapas lega. Sebagai keturunan terakhir Daeng Naba di keraton, ia punya nilai historis yang cukup dalam. Diantara naskah lain yang telah saya tuangkan di kafe langganan setiap malam, ceritanya tentu punya sisi lain. Di samping itu, redaktur saya juga telah berpesan untuk menemukan nama lelaki yang didapatinya disebutkan dalam skripsi seorang mahasiswa asal Jogja.

Google Map memang telah berhasil mengarahkan saya ke jalan lintas kabupaten ini. Sayangnya, petunjuk saya di jalan poros ini tak begitu jelas. Tak ada nama desa yang bisa menjadi pedoman. Nama jalan ini hanya jadi acuan dari ujung telepon Pak Kusumanegara.

Saya kembali patah arang. Ingin rasanya menghubungi lagi Pak Kusumanegara untuk memperjelas nama desa tempat bermukimnya Pak Barmudin. Hanya saja, suaranya bernada enggan di sambungan telepon sebelumnya. Apalagi, ia sudah menyebutkan kesibukannya yang sementara menjalani rapat.

Alhasil, saya hanya bisa bertaruh dengan mengirimkan pesan singkat (sms) padanya. Dijawab atau tidak, hanya soal waktu. Lagi-lagi, karena ini hari terakhir saya di Jogja.

***

.: 10 jam sebelumnya...

"Maaf, Pak. Apa saya tidak bisa minta nomornya? Mungkin bisa saya hubungi saja untuk ditemui dimana gitu..."

Saya sebenarnya sudah dibuat jengkel dengan pegawai (entahlah bagaimana menyebutnya) Tepas Keprajuritan Keraton. Kepala Tepas, Kusumanegara teramat sulit untuk ditemui. Beberapa petunjuk memang mengarahkan saya padanya untuk mengulik tentang sejarah yang dibutuhkan. Akan tetapi, lelaki itu tak pernah berpapasan waktu dengan saya yang sudah bolak-balik menyambangi kantornya (di keraton) sampai empat kali.

Mungkin karena agak segan, pegawainya itu enggan membagikan nomor tersebut. Biasalah, di kultur Kejawaan, adab dan etika memang masih begitu tegas. Apalagi untuk lingkungan keraton yang memang tergolong istimewa daei akar sejarahnya.

Saya nyaris mengubur petunjuk terakhir itu. Tak mau lagi berurusan dengan salah satu petinggi keraton itu.

Akan tetapi, hari terakhir saya di Jogja bakal berakhir beberapa jam lagi. Tentu saja, saya masih butuh beberapa bahan untuk melengkapi naskah saya, yang terasa agak janggal dan menggantung. Jika saya menyerah sekarang, artinya penelusuran saya bakal sia-sia.

Saya memutuskan untuk duduk saja lebih lama di ruang tunggu kantor Tepas Keprajuritan itu. Hampir sejam lamanya memainkan gadget sembari mencari informasi di dunia maya.

Seorang pegawai perempuan mendekati saya. Ia menyerahkan potongan kertas kecil. "Coba saja hubungi beliau di nomor ini. Soalnya dia orangnya sibuk," lanjutnya.

Seperti mendapatkan oase di padang pasir, saya langsung saja menyambungkan telepon ke dua nomor miliknya itu. Langit masih nampak terang, secerah harapan saya.

KRT Nitibarmudiningrat. (Foto: Imam Rahmanto)

***

Hujan masih terus berlarian di luar sana. Akhir tahun memang sedang berjabat erat dengan cuaca nan sendu. Genangan dan tempias jadi sahabat paling dekat diantara kebisingan kota. Air hujan hanya jadi penumpang bagi selokan beton yang berujung ke sungai.

Keramaian lain tercipta dari atas kafe ini.  Argumen mahasiswa beradu dengan dentingan sendok dan piring di atas meja. Tentu, seruput minuman hangat tak bisa memecah suasananya. Akan tetapi, aromanya, sungguh, selalu menjaga saya tetap terjaga. Biasanya, jika sudah berhadapan dengan notebook begini, dua cappuccino tandas begitu saja.

Saya hanya bisa memandangi lalu-lalang kendaraan dari atas teras. Sesekali tempias hujan mengenai wajah.  Tak begitu mengesalkan. Sepanjang mata saya menjelajah, ada banyak mahasiswa lainnya di meja yang berbeda. Mereka juga nampak sibuk menuntaskan tugas (atau bahkan rindu) yang tengah menumpuk.

Saya senang menyaksikan keriuhan mereka dari ujung kursi. Meski hanya berbekal satu buku catatan kecil, cappuccino hangat, notebook, dan seorang lelaki yang tak saya kenal di hadapan (yang juga sibuk dengan laptopnya). Barangkali, karena kafe ini sedang ramai, ia tak dapat tempat untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Kesibukan mereka mengingatkan banyak hal di masa kuliah dahulu. Sebagian hal, yang mungkin takkan pernah kembali lagi. Sedikit hal, yang selalu saya rindukan.

Bayangan itu pun sebenarnya adalah kelebatan deadline saya di Jogja, empat jam sebelum menyusun perjalanan ke bandara...


--Imam Rahmanto--

Minggu, 27 November 2016

Telusur

November 27, 2016
(Imam Rahmanto)

Maaf, ini bukan kelanjutan perjalanan #OnedaytripJogja saya tempo hari. Saya justru belum punya kesempatan lagi melanjutkan cerita itu. Sementara, tangan Tuhan kembali mendorong saya untuk menyambangi kota cagar budaya itu, beberapa hari lalu. Tepat ketika petualangan offroad saya baru saja berakhir. Akh, entahlah, Tuhan selalu punya cara untuk membuat hati saya takjub dan terkejut secara bersamaan.

Itu semacam kejutan bagi saya. Saat menutup perjalanan di Jogja, dua bulan lalu, saya pernah bertekad bakal menghirup udara di kota tersebut. Bahkan, itu bukan sekadar tekad. Melainkan keyakinan bahwa saya tidak hanya sekali menginjakkan kaki di kota istimewa tersebut. Dan…. Lumos! Hal itu terwujud tanpa terduga.

“Kamu kan orang Jawa,” tutur salah seorang redaktur dari desk bersangkutan. Hal tersebut menjadi salah satu alasan penugasan "menjelajah". Padahal saya sebenarnya lebih mendalami peliputan olahraga, sebagaimana keseharian tugas saya di Makassar.

Sayangnya, kali ini, saya tak bisa menikmati keindahan Jogja secara mendetail. Nuansa Jogja hanya lamat-lamat saya rasakan lewat perjalanan “asal lewat”. Tak ada acara duduk-duduk, santai, jepret-jepret demi memenuhi memory di dalam kamera DSLR.

Satu-satunya hal yang membuat saya mendalami Jogja adalah perihal sejarah masa lalunya. Saya dipaksa belajar sejarah untuk mengungkap salah satu puzzle yang seharusnya saya temukan dalam rentang empat hari tersebut. Satu kepingan sejarah, menyebar menjadi sejarah lainnya. Cerita yang bercabang-cabang itu saya jumpai dari beberapa orang yang saya temui. Ck…padahal masa lalu untuk diikhlaskan ya? Tidak untuk dirangkai-rangkai kembali. Seharusnya kan kita move on. #ehh

Bagi saya, ini seperti skripsi dengan penelitian yang teramat mendalam. Apa yang saya lakukan selama rentang empat hari demi menguak sejarah masa lalu itu seperti seorang mahasiswa yang memecahkan hipotesis. Saya ingat, pernah juga menjadi mahasiswa berbekal penelitian untuk skripsi. Hanya saja, tidak sesulit mencari jarum di atas tumpukan jerami (milik orang lain) seperti ini.

Di kota orang, segalanya teramat terbatas. Pengetahuan terbatas. Kenalan dan jaringan yang terbatas. Pergerakan yang terbatas. Dana yang terbatas. Bahasa Jawa yang juga ikut terbata-bata. Ehem

Kesemuanya itu jadi berbeda jika saya mengunjungi Jogja semata-mata untuk liburan. Tak ada yang mesti dikhawatirkan dari segala keterbatasan itu. Kata teman saya, "Let’s get lost!" Keterbatasan justru membuat saya semakin bersemangat menjelajahi banyak tempat.

Sayangnya, dari sisi liputan, saya dipaksa menerapkan deadline. Yah, sebut saja efisiensi waktu. Beberapa keterbatasan itu memaksa saya untuk berpikir keras dan membuatnya lebih terang. Di balik semua tuntutan wajib dari kawalan redaktur.

Jogja itu termasuk tempat yang istimewa. Dibanding kampung kami, nun jauh di seberang Bengawan Solo, mereka punya adat yang agak berbeda. Hal semacam itu pula yang membuat saya agak kikuk berinteraksi dengan para petinggi keraton. Ada kromo (tata krama) khusus dalam menghadapi orang-orang yang masih lekat dengan keturunan pemerintahan monarki atau kerajaan. Untuk bisa menembus sisi istana, tak bisa asal njeplak sebagaimana penugasan umumnya. *garuk-garuk kepala

Terlepas dari semua itu, saya masih tetap menikmati segala pengalaman baru. Perjalanan kali ini membuat saya menyadari, menyusun kepingan sejarah tidaklah semudah satu halaman di buku-buku pelajaran sekolah menengah. Bahkan, semakin saya tenggelam dan memahami kenangan-sejarah, kesimpulan dari arahan guru sekolah kian berujung bias.

Saya semakin kagum dengan beberapa penulis novel, yang memperkaya ceritanya dengan nuansa alur sejarah dan budaya. Meski fiktif, sebagian alur cerita hingga backgroundnya dibuat menyerupai hasil observasinya terhadap kebudayaan atau kepingan sejarah tertentu. Setidaknya, mereka membaca banyak referensi sebelum menentukan kisah tokoh-tokoh di dalam novel panjangnya.

Jangankan novel, para komikus Jepang pun sering kali melakukan observasi terhadap cerita-cerita yang akan dituangkannya. Mulai dari tokoh, nama, tempat, hingga jalan cerita.

Tentu saja, usaha itu bakal berbeda dengan para penulis yang sekadar menuangkan kisah fiksi berdasarkan pengalaman semata. Tak jarang, lebih mudah membuat cerita yang termehek-mehek dari hasil curhatan pribadi atau orang lain. Pun saya, sebenarnya punya ketertarikan dengan segala jenis cerita orang lain. Kepingan sejarah (berupa fakta) punya garis yang lebih tegas.

Duh. Saya harus berhenti sebentar.

Saya masih harus mengumpulkan kepingan “kenangan” Jogja yang terserak. Dua cappuccino di depan saya sudah ludes mala mini. Tak bersisa hanya untuk menemani mata saya tetap terjaga di antara keramaian mahasiswa di kafe pinggir jalan ini. Angka digital di pergelangan tangan menampilkan angka 22: 15. Dan sebenarnya masih ingin memesan segelas lagi, sayangnya….. ini masih tanggal tua.

Wajar saya semakin sulit untuk menggemukkan diri. (Imam Rahmanto)


--Imam Rahmanto--

Senin, 21 November 2016

Berteman dengan Tantangan

November 21, 2016
(Foto: Imam Rahmanto)

Sumpek dengan suasana perkotaan, saya akhirnya bisa menemukan hiburan baru. Sedikit liburan meski kenyataannya masih dalam lingkaran pekerjaan sebagai wartawan. Saya mendapatkan tugas untuk mengikuti agenda kegiatan Indonesia Offroad Expedition (IOX). Rutenya tak begitu jauh, lantaran hanya menyusuri kawasan Makassar, Gowa, hingga Maros.

Setidaknya, saya tetap menikmatinya sebagai liburan karena menjauh dari perkotaan selama tiga hari. Dari hutan beton ke hutan yang sesungguhnya. Lagipula, yang namanya offroad selalu memberikan debar kesenangan tersendiri. Meski sudah sering membuat naskah terkait salah satu olahraga hobi ratusan juta itu, saya baru pertama berjibaku dengan lumpur, pedalaman hutan, dan suasana nge-trek asli ala-ala para offroader profesional. #aseek.

"Jangan telat bangun lagi ya," pesan redaktur. Saya menyisakan "dosa" karena lalai dari penugasan keluar kota lainnya, seminggusebelumya.

Saya terpaksa masih menahan kantuk di pagi hari. Demi tak telat lagi, saya memaksa diri untuk tetap terjaga hingga pagi. Tak ada cara lain. Selain itu, saya juga kadung bersemangat ingin menjajal perjalanan menembus hutan itu dengan bayang-bayang berkemah diantara gelapnya rimba. Ingin menjajal perjalanan ekstrem. Saya juga kan orangnya anti-mainstream.

Ada 33 kendaraan peserta offroader dalam ajang IOX tersebut. Mereka terbagi dalam tujuh tim, yang diberi nama binatang. Ada Anoa, Kancil, Anaconda, Belibis, Kijang, Lebah, dan sebagainya. Sementara, beberapa kendaraan milik panitia atau official yang jumlahnya tak sampai 10 jip menjadi tumpangan saya (bersama media lain) untuk menuntaskan misi liputan.

Percaya atau tidak, saya seperti kembali ke masa kanak-kanak dengan susuran jalan offroad tersebut.

Sesuai agenda, kami dibawa untuk meliput berbagai rintangan dan tantangan buat peserta. Selama perjalanan, kami hanya melewati jalan-jalan kecil, yang kelihatan hanya bisa dilalui jalan setapak. Jalan beraspal hanya sebagai pembuka perjalanan ekstrem sebenarnya. Bentangan itu mengingatkan saya dengan nuansa perkampungan saat masih kecil.

Hijau persawahan dan ladang di kiri kanan menyambut proses penaklukkan kecil-kecilan kami. Yah, tentu saja tak se-ekstrem trek para peserta sesungguhnya.

"Kalau kita ikut 'main' juga, bisa-bisa kita yang diurus. Bukan kita (panitia) yang mengurus mereka," ujar Rio, panitia yang mengemudikan Land Cruiser dan mengantarkan kami ke setiap titik atau trek peserta.

Akan tetapi, perjalanan mendaki gunung bukan hal yang mudah. Di atas mobil, kami tak pernah bisa tenang. Goncangan seolah jadi teman yang mesti kami rangkul selama perjalanan. Tetapi, justru hal semacam itu yang membuat kami tertawa-tawa sepanjang perjalanan. Apalagi saat kami baru saja menyeduh cappuccino sachet, yang tumpah-tumpah dari dalam bekas gelas aqua sepanjang perjalanan.

Hal begini sudah biasa. (Foto: Imam Rahmanto)
Menyenangkan pula merasakan kendaraan "monster" itu menembus medan berat. Saya sampai harus bermandikan lumpur karena nekat ikut bersama panitia yang ingin melintasi jalur berlumpur. Tetapi, tetap seru. Mana pernah lagi kita yang sudah se-gede begini pernah bermain lumpur di tengah sawah? #alibi

Saya harus akui, para penunggang mobil monster ini merupakan orang-orang yang nekat dan punya nyali. Bayangkan saja, permukaan tanah becek, berlumpur, pasir, berbatu cadas, hingga landai mampu diterobos tanpa pandang bulu.

Bagi orang awam, kondisi medan itu teramat mustahil bisa dilalui. Akan tetapi, para pengemudi offroad ini membuktikan bahwa batu-batu cadas di hadapan mobil tak mampu menghentikan kekuatan empat rodanya terus berputar. Mesin tak henti bergerung. Berbekal kerja sama para navigator maupun kru, kendaraan tetap melaju perlahan.

Mobil-mobil ban besar itu dipaksa menembus medan berat. Bahkan lintasan berlumpur juga dengan mudah diterobos. Tak jarang mobil dibuat kehilangan keseimbangan dan harus bertumpu pada salah satu sisinya. Kami, sebenarnya malah menyukai momen seperti itu. Pun, jika terbalik karena mendaki bukit terjal dengan kemiringan yang hampir mencapai 80 derajat, ada harapan di hati kecil kami agar melihatnya secara langsung. #ehh

"Kalau terbalik begitu, sudah biasa. Karena setiap mobil kan sudah dilengkapi safety memadai. Orangnya malah ketawa-ketawa dan tidak kapok mencoba lagi," cerita Rio, salah satu panitia yang selalu mengantarkan kami dengan Land Cruiser cokelatnya.

Oh ya, ada yang khas dari mobil semacam ini. Pernah dengar whinch? Semacam tali penarik bermotor yang dipasang pada setiap mobil offroad. Gunanya memang untuk menarik mobil dari jalur-jalur ekstrem. Kalau pernah menonton film Batman atau superhero lainnya, tali baja itu mirip dengan senjata yang kerap dipasang pada bumper depan kendaraan mereka. Ditembakkan, lalu mengait pada landasan atau tiang target. Sayangnya, khusus mobil offroad di dunia nyata tak punya kekuatan menembakkan semacam itu. Whinch aktif hanya bisa dikaitkan manual ke arah target yang biasanya berupa pohon besar.

Berapa harganya? Sudah saya katakan, olahraga hobi ini memakan total pengeluaran hingga ratusan juta rupiah. Untuk whinch standar saja, para offroader mesti merogoh kocek yang setara dengan harga satu motor ninja.

Mobil yang mendaki seperti itu butuh whinch untuk membantu tarikan. (Foto: Imam Rahmanto)
Di beberapa trek, saya menjumpai para offroader yang terjun langsung menghadapi tantangan lintasannya. Paling menyeramkan, menurut saya, jalur berbentuk huruf abjad "V". Jangan bayangkan lintasannya turun mulus dan kemudian menukik mulus lagi. Permukaannya justru bergelombang dan cenderung tak teratur. Permukaannya itu dipengaruhi akar-akar pepohonan di sekitarnya. Belum lagi dengan sungai kecil yang berada di bawahnya, memisahkan dua ketinggian tersebut. Dibutuhkan bantuan whinch untuk mempertahankan agar mobil tak kebablasan terjun.

Di hari berikutnya, kami pun dibawa ke jalur yang lebih ekstrem. Lokasinya di tengah hutan. Tanah landai dengan batu-batu cadas yang mencuat dari permukaan. Kemiringan pun sampai 80 derajat. Di lokasi lain, kami diperlihatkan usaha mobil yang hendak melintasi sungai yang lebarnya tak sampai 10 meter. Hanya saja, mobil harus menukik beberapa meter untuk bisa masuk ke dalam air. Jika tak beruntung, sisi depan mobil bisa menghantam dasar sungai dan membawa drivernya terbalik sama-sama.

***

Saya benar-benar menikmati damainya pegunungan tanpa beton menjulang. Semak belukar. Rumput. Sungai. Pohon. Tanah lapang. Becek. Lumpur. Seandainya langit tak mendung, ada banyak cahaya bintang yang bisa menemani perjalanan malam hari. Padahal, itu hal utama yang saya harapkan. Kota sedang tak ramah dengan sajian polusi cahayanya.

Kami juga dibawa menerobos belukar hutan dengan kendaraan 4WD. Tak ada jalur lain yang bisa dilalui untuk sampai ke tujuan. Sebagaimana jalanan itu hanya muat untuk kaki-kaki setapak.

Saat menghadapi berbagai macam rintangan pun, saya cukup dibuat kagum dengan para offroader. Mereka masih punya banyak hal untuk ditertawakan. Sekali-kali, teriakan para navigator diantara derasnya sungai mengundang tawa. Pun, di tengah keterbatasan hutan, mereka mampu bekerja sama tanpa ada prasangka satu sama lain.

Sayangnya, yang paling mengesalkan adalah terbatasnya sambungan jaringan data. Saya jadi tak berdaya tanpa GPS yang bisa dioptimalkan menjelajah kemana-mana. Sesuatu yang ingin saya tanyakan ke "mesin pencari" akhirnya menumpuk satu per satu di kepala.

"Kalau ada agenda seperti ini lagi, saya mau ikut lagi," ungkap fotografer saya.

Yah, segala hal yang mendebarkan, ternyata justru bisa menjadi candu yang menguatkan.



--Imam Rahmanto--

Senin, 14 November 2016

Mencari Kebahagiaan di Tanah Lada

November 14, 2016
Akhir-akhir ini, buku bersampul putih polos lebih menarik perhatian ketimbang beberapa novel yang penulisnya sudah punya nama. Di toko buku sekalipun, sampul-sampul polos semacam itu justru membuat saya penasaran. Apalagi jika sudah dibumbui sinopsis yang cukup mengena dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saya sedang mencari bacaan variatif lainnya, meski tetap dalam jenis (novel) yang sama.

(Foto: Imam Rahmanto)

Beberapa waktu lalu, saya mengkhatamkan buku Di Tanah Lada. Saya menjumpai buku ini di toko buku dengan gambar anak kecil di depan sampulnya. Dan lagi, buku ini berlabel runner up sayembera novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Label itu semacam penguat bagi saya untuk menyimpannya sebagai salah satu koleksi di antara jejeran buku #KamarImaji.

"Tanah Lada [kb.] : Tanah yang menumbuhkan kebahagiaan." --hal.217

Nama penulisnya juga bukan sebagai sesuatu yang mudah dilafalkan, Ziggy Zesyazeoviennazabrizkie. Butuh waktu agak lama agar bisa menghafal nama yang agak tak lazim ini. Akan tetapi, karyanya ternyata cukup mudah melekat dalam ingatan.

Oke. Saya menyukai cerita dalam buku ini. Kisahnya dibangun dari tokoh utama seorang anak perempuan berusia 6 tahun, Salva, yang gemar membawa kamus Bahasa Indonesia pemberian kakeknya kemana-mana. Meski usianya belum menginjak bangku SD, namun ia sudah paham banyak kata-kata baku dalam berbahasa Indonesia. Jika ada percakapan (dengan orang tua) yang tak diketahuinya, ia dengan tekun bakal mencarinya sendiri dalam kamus.

Sayangnya, Ava (panggilannya) tetap saja anak-anak. Apa yang diketahuinya hanya bisa dilihat dari sisi pengetahuannya yang masih teramat polos. Ia bahkan hidup di bawah bayang-bayang ayahnya yang tak menyayangi dirinya. Ayahnya juga sering berjudi dan memukul ibunya, yang sangat menyayangi dirinya.

Perlahan, ia melabeli orang yang menyandang gelar "Papa" sebagai orang jahat. Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang anak kecil lainnya, bernama P.

Tak usah heran, namanya memang hanya satu huruf. Seperti itulah yang diketahui P semenjak hidup bersama ayah, yang juga kerap memukulinya. Ibunya sendiri telah lama pergi dan tak tahu kemana rimbanya. Beruntung, ia masih punya tetangga rumah susun (rusun), Mas Alri dan Kak Suri yang sayang padanya.

Keduanya pun bertemu dalam kepolosan seorang anak kecil memandang hidup. Bagaimana mereka melihat orang-orang dari kacamata anak-anak.

"Dan, kata Kakek Kia, sekali sayang pada seseorang, sebenarnya, kita nggak akan bisa berhenti menyayangi mereka. Mungkin, hanya berkurang sedikit. Dan, kalau berkurang, rumah Mas Alri dalam sini hanya jadi semakin kecil saja, tapi bukannya digusur." --hal.198

Ava dan P membuat saya penasaran untuk menamatkan buku setebal 244 halaman ini. Meski bercerita tentang anak-anak dan kepolosannya, nuansa yang disajikan novel ini agak "suram". Dark and blue. Tak banyak hal yang bisa membuat kita tertawa usai membaca buku ini. Kalaupun ada, itu karena celotehan Ava yang khas anak kecil. Hanya saja, sebagian hal itu membawa kita pada perenungan yang dalam.

Nampaknya, novel ini ingin memberikan pesan tersirat bahwa anak kecil pun akan mencontoh dan merekam apapun yang dialaminya. Pemikiran mereka saat beranjak dewasa itu bergantung pada apa yang mereka pernah alami selama masih kanak-kanak. Segala kejadian akan meresap ke alam bawah sadar dan membentuk kepribadian mereka di kemudian hari.

Wajar jikalau di usia yang masih teramat muda itu, Ava dan P sudah mulai membangun tembok pesimisme terhadap hidup. Lingkungan menjadi pengaruh utama bagi mereka. Apalagi dengan pandangan polos mereka, yang masih belum mampu memaknai secara utuh, hitam atau putih.

Perjalanan Ava dan P juga sesekali mengundang rasa penasaran saya. Ada rahasia yang terkuak satu-satu. Dalam hati, terkadang saya harus bergumam sendiri, "Loh, jangan. Jangan begitu," atau, "Aduh, ini bagaimana sih? Kenapa tidak diawasi," hingga perasaan lega setelah apa yang tak dikehendaki bisa dicegah.

Sejujurnya saya tak senang dengan ending yang dipilih oleh Ziggy. Agak mengesalkan dan membuat saya ingin menulis ulang ending versi sendiri. Perasaan saya agak menggantung kala menamatkan buku ini. Menghela napas karena tak begitu saja menerimanya.

Hal menarik lainnya ada pada referensi sisipan di cerita ini. Ziggy menyematkan novel anak-anak Prancis, Le Petit Prince sebagai bumbu jalinan ceritanya. Beruntung, saya sudah pernah menamatkan dan sekaligus menonton film animasinya.

Di Tanah Lada ini betul-betul menawan. Caranya bercerita dari sudut pandang anak-anak juga sangat memukau. Sebagaimana anak-anak, bercerita dengan kecerewetannya yang penuh ingin tahu. Meski sebenarnya ada beberapa bagian percakapan atau pemikiran Ava yang kelewat dewasa. Keberaniannya dalam bertindak juga malah teramat jarang saya temukan pada anak-anak seusianya.

Yah, bagaimanapun, saya tetap dibuat penasaran dengan karya Ziggy yang lain.

"Jadilah anak kecil barang sebentar lagi. Lebih lama lagi. Bacalah banyak buku tanpa mengerti artinya. Bermainlah tanpa takut sakit. Tonton televisi tanpa takut jadi bodoh. Bermanja-manjalah tanpa takut dibenci. Makanlah tanpa takut gendut. Percayalah tanpa takut kecewa. Sayangilah orang tanpa takut dikhianati. Hanya sekarang (di masa anak-anak) kamu bisa mendapatkan semua itu. Rugi, kalau kamu tidak memanfaatkan saat-saat ini untuk hidup tanpa rasa takut." --hal.197

Dan ternyata, saya tak sadar jika salah satu koleksi buku yang saya pernah beli karena tanpa melihat penulisnya, juga merupakan karya Ziggy; Jakarta Sebelum Pagi.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 10 November 2016

Masa Kecil yang Sirna

November 10, 2016
Hujan mengguyur pelan di sepanjang jalan. Jatuhnya berlompatan di atas dedaunan. Menyumbangkan nyanyian alam dari atap-atap gedung perkotaan. Iramanya tak semerdu pedesaan yang bertutupkan seng atau genteng.

Seorang anak kecil melintas tak beralas kaki. Diikuti temannya, berkejaran di bawah hujan. Tak ada yang mereka takutkan. Basah kuyup di sekujur badan. Toh, sudah kepalang tanggung, mereka justru berlomba saling ciprat dengan kaki yang telanjang diantara genangan air.

Saya tersenyum dibuatnya. Momen demikian sudah teramat langka di kehidupan kota seperti ini. Saya rindu dibuatnya. Ketakpedulian mereka terhadap hujan seolah mengingatkan saya pada masa-masa yang sama 18 tahun silam. Sebelum anak-anak berkenalan dengan gempita teknologi.

(Sumber: Google Search)

Saya pernah mengobrol dengan seorang narasumber. Katanya, ia agak hati-hati menyediakan gadget bagi anaknya. Gadget yang berupa tablet hanya dipakai anaknya untuk bermain game.

"Saya cuma instalkan game-game asah otak, atau kuis-kuis begitu untuk mengasah kecerdasannya. Supaya dia tidak terpengaruh lebih cepat dengan kehadiran gadget," jelasnya.

Akan tetapi, bagi saya, apa yang dilakukannya itu sama saja. Bukankah sudah seharusnya tugas orang tua untuk menemani anaknya belajar? Di rumah, sang bapak seyogyanya jadi teman bagi anaknya. Tanpa sekat gadget.

Anaknya justru tetap dibiarkan menerima serbuan teknologi. Sedari kecil, diperkenalkan kepada permainan yang tak butuh bergerak kemana-mana. Hanya duduk-duduk di depan sinetron, sambil menggerakkan jemari di atas layar gadget. Mereka jadi tak pernah bersentuhan dengan dunia luar. Barangkali, kelak, cara anak-anak itu bersosialisasi juga hanya melalui instagram, twitter, facebook, atau path.

Saya justru merindukan kembali ke masa kanak-kanak dimana segalanya masih ingin dilakukan di luar rumah.

"Imam! Main yuk!" seruan dari luar rumah yang selalu disambut antusias. Bukan sekadar Ping! atau Buzz! yang bisa diabaikan.

Membayangkan berlarian di tengah sawah mengejar burung-burung pemakan padi. Memanjat pohon hanya untuk mencicipi buah mangga. Kalau tak mampu, ada banyak batu yang bisa dilempar dari tengah kebun. Anak kekinian justru lebih paham bagaimana melempar para babi atau kera dengan burung-burung yang marah, Angry Bird. Barangkali, mereka belum sadar bahwa di dunia nyata juga ada ketapel rakitan sendiri untuk membidik target burung di atas pohon.

Pun, menangis bukan soal kehabisan daya gadget. Atau karena merengek minta dibelikan gadget keluaran terbaru. Kami malah menangis jika lutut berdarah karena terjatuh di sawah, dipukul teman, atau ditinggalkan sendirian di tengah gulita. Selepasnya, kami lupa kenapa bisa menangis. Lagi-lagi menertawakan kepolosan kami dan melanjutkan permainan keesokan harinya.

Kami libur bermain jika Minggu pagi tiba. Terkadang, tak ada anak-anak yang keluar dari rumah. Kami lebih senang menantikan episode lanjutan dari P-Man, Doraemon, Dragon Ball, Chibi Maruko-Chan, Inuyasha, Power Ranger, Satria Baja Hitam, Ninja Hattori, dan kawan-kawannya. Tontonan-tontonan itu jadi referensi kami untuk beradu peran dengan teman lain di pematang sawah.

Serius. Secanggih-canggihnya game masa kini, takkan ada yang mengalahkan ritual bermain di luar rumah.

Sayangnya, karena sudah beranjak dewasa, dengan batas-batas norma atau etika tertentu, saya jadi tak bisa bebas mengembalikan pengalaman masa kecil dulu. Kini, masa berbahagia itu saya lampiaskan pada bacaan komik atau Manga, seperti One Piece, Naruto, atau Bleach sebagai penyambung masa.

Bekal gadget bagi anak-anak justru menjadi hal yang cukup riskan. Sebenarnya, semua orang menyadari jika pengaruh gadget teramat kuat bagi perkembangan anak-anak. Akan tetapi, entah bagaimana caranya, orang-orang tua justru menutup diri. Sebagiannya lagi menganggap enteng soal moral dan perilaku anak-anak. Katanya, mudah diperbaiki (atau justru dimaklumi?)

Saya belum jadi seorang ayah. Tentu, tak begitu paham pula bagaimana mendidik anak dengan baik. Akan tetapi, dari lubuk hati terdalam, saya bertekad takkan pernah mencemari kebahagiaan masa kecil anak saya dengan sekat gadget. Saya punya segudang novel untuk bahan mereka berpetualang di dalam rumah. Koleksi majalah Bobo juga masih saya simpan untuk bekal cerita-cerita pengantar tidur mereka. Suatu waktu, anak-anak saya juga akan membaca cerita yang ditulis ayahnya sendiri.

Nyanyian hujan tak begitu berisik lagi. Akh, saya masih harus melanjutkan perjalanan ke kantor. Deadline sudah memanggil-manggil. Hujan kini sudah berganti gerimis. Jika diterobos dari sini, takkan membuat pakaian saya kuyup...


-- Imam Rahmanto --


PS: Tulisan ini diikutkan dalam Baku Tantang Ngeblog yang merupakan rangkaian acara 10 Tahun komunitas Blogger Anging Mammiri.

Selasa, 08 November 2016

Pulang ke Halaman

November 08, 2016
Seperti biasa, pesawat mendarat sempurna. Guncangan dari dalam kabin menyadarkan beberapa penumpang yang tengah tertidur. Padahal perjalanan sejam tidak cukup untuk mengkhatamkan satu episode mimpi indah. Hanya saja, faktor nothing to do jadi pemicu utama kantuk secara otomatis.

Dewi, adik perempuan saya, berada tepat di kursi sebelah. Di sebelahnya juga kosong melompong sejak meninggalkan landasan di Bandara Sultan Hasanuddin. Tanpa pemilik. Jadinya, kami bisa mengobrol sesukanya meski hanya berbau bualan dan kabar terbaru (yang lama tak terdengar di telinga saya) dari kampung halaman.

Kampung halaman? Entahlah. Saya juga bingung mau menyebutnya apa.

Kata kamus, kampung halaman adalah tanah dimana kita pernah meneriakkan rasa sakit untuk pertama kalinya. Tentu saja, bersamaan dengan bahagia dan haru sang lelaki yang berujar, "Akhirnya aku jadi ayah."

Akan tetapi, bukankah kampung halaman juga menjadi tanah dimana kita pulang meluluskan segala tumpuk kerinduan kepada keluarga? Barangkali sekadar memeluk tawa bapak dan mamak di rumah. Atau menjahili adik yang sudah mulai bertumbuh sejak pertama kita meninggalkannya. Hingga meniti satu-satu bauran warna dinding rumah yang memudar karena dituakan waktu.

Saya dilahirkan di pelosok pegunungan Kabupaten Enrekang. Sekali waktu, jika punya kesempatan berkunjunglah kesana. Kamu akan menemukan ratusan kelokan jadi pemanis bagi lembah dan pegunungan di sisi jalan. Besar dan bersekolah disana. Meramu kenangan dari santapan hasil bumi Tanah Massenrempulu. Bisa dibilang, dalam darah saya sudah mengalir berbagai jenis santapan dari hasil agronya yang melimpah. Saya sudah hafal betul kelak-keloknya jika ingin pulang dari kesibukan menata hidup di Makassar.

Sampai jumpa, kelak, dengan rindu yang menggunung. (Imam Rahmanto)

Sayangnya, itu dulu...

Bapak dan mamak telah menuntaskan kisahnya bersama tetangga-tetangga yang menyayanginya disana. Tiga hari lalu, bapak mencukupkan 27 tahun perantauannya di tanah Sulawesi. Itu hanya berselisih dua tahun dari usia putra sulungnya. Berselisih 9 tahun dari putri bungsunya. Keduanya pulang menyemai rindu di kampung halaman kepada keluaraga dan sanak saudara yang telah lama menanti. Tentu saja, dengan hadiah kedua anaknya yang kian memasuki usia dewasa.

"Anakmu sudah besar begini, dulu masih kecil sekali," sambutan para tetangga tak berhenti menyambangi rumah. Apalagi kabar tentang bapak yang pulang dengan kondisi penyakit paraplegia-nya telah menyebar ke seanterro desa.

"Lah, kok yang ini pinter bahasa Jawa?"

Nyaris seumur hidup tak pernah merasai keramahan penduduk desa, tak membuat saya lupa dengan bahasa Ibu. Toh, di rumah, bapak dan mamak selalu menodong dengan bahasa keluarganya. Meskipun masih kagok. Berbeda dengan adik saya, yang hanya paham secara pasif.

Dengan begitu, tempat saya menyemai rindu pun berganti. Sebutan kampung halaman juga akan bergeser bagi saya. Tak lagi ke pelukan tanah kelahiran, melainkan berlabuh ke pelukan keluarga yang sebenanrya. Dimana lagi muara rindu anak perantauan jika tak pada keluarga?

"Syukurlah, Cung. Bapakmu sudah pulang disini. Tak kemana-mana lagi. Rumahnya ya disini. Lha wong, semua keluarganya disini. Kalau ada apa-apa kan, tidak susah," ungkap simbah. Selain itu, kelak, saya masih harus belajar menghafal setiap nama dan raut wajah yang menjadi silsilah keluarga besar kami.

Bagi saya, menilas kampung halaman sebenarnya hal yang membingungkan. Tidak sesimpel mengikuti tafsiran kamus berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Tak sekadar menuntaskan rindu pada keluarga.

Lahir dari rahim keluarga bergaris Jawa, sementara alam bersekongkol mengajarkan saya segala adat dan perilaku masyarakat Duri (sebutan kesatuan suku di Enrekang, bukan Bugis ataupun Toraja). Saya memahami dua bahasa, namun tak berdialek (logat) membahasakan keduanya.

Jika ada yang bertanya tentang asal daerah, saya akan menyebut dua tempat itu dengan penjelasan sedetailnya. Saya takkan pernah lepas dari bayang-bayang tempat lahir. Kami, sekeluarga juga punya ladang kenangan disana. Bahkan, kelak, bisa saja tanpa segan menyebut rindu sebagai hal yang pantas dituntaskan dengan temu. Itu karena di sekeliling kami, ada banyak orang baik. Tak pantas rasanya jika saya tak mengirim ucapan terima kasih atas seluruh keakraban seumur hidup itu.

Jika ada yang bertanya padaku, kemanakah akan pulang? Aku hanya perlu menjawab, kemana saja rindu memenangi hatiku.

Terima kasih, yang tak terkira. Yakinlah, saya akan selalu rindu..


--Imam Rahmanto--