Minggu, 06 Desember 2015

Medan Story#5 [end]

Hawa dingin mulai menjalar di sekujur tubuh. Pemandangan di luar sudah mulai agak memudar karena terhalang kabut dari dataran tinggi. Semakin mendekati Danau Toba, suhu udara memang semakin dingin.

"Kita sebentar lagi sampai di Taman Simalem Resort," ujar Pak Robin, sang pemandu di bus kami.

Saya yang iseng nyaris terkantuk-kantuk mendadak mengucek mata untuk menormalkan penglihatan. Saya ingin melihat suasana di luar bus yang cukup teduh di sepanjang pegunungan. Kabut. Kabut. Dan hujan agak merinai.

Taman Simalem Resort memang diperuntukkqn bagi wisatawan kelas atas. Di areanya yang teramat luas di puncak pegunungan, ada beberapa wisma atau villa untuk tempat menginap. Area Simalem Resort juga dibangun dengan taman yang sangat asri dan membuat mata tak letih memandang.

Akan tetapi, di balik kemewahan dan kemegahan tersiratnya, saya tak menemukan kedekatan dengan Danau Toba. Sebagai orang yang senang berpetualang, saya justru risih hanya duduk-duduk dari atas restoran "nyaman" yang menyajikan pemandangan kawah Danau Toba di depan mata.

Yah, nyatanya, kami di Taman Simalem Resort hanya singgah untuk menikmati makan siang dengan pemandangan danau nan luas itu. Sebuah restoran sederhana nampak elegan menyajikan sajian prasmanan untuk dinikmati para wisatawan rombongan dua bus: kami.

Foto yang dijepret lewat kamera orang lain. -_- (Foto: Imam R)

"Wow...indahnya!"

"Keren!!"

Berbagai ucapan takjub keluar perlahan dari hati saya dan teman-teman sesaat turun dari bus. Tak lupa, gadget berbagai merk berlomba mengabadikan momen sekali (mungkin) seumur hidup itu. Terkecuali hape saya yang hanya bisa menangkap momen seadanya.

"Ayo, makan dulu. Pemandangan sudah indah, kita makan dulu," ujar pimpinan rombongan.

Teras restoran menghadap ke arah Danau Toba. Jejeran kursi dan meja segera diisi oleh kedatangan kami. Sembari melepas penat, kami memandangi danau yang terpampang luas di hadapan kami.

Saya mengawali waktu santai dengan memesan segelas kopi-susu dan cemilan onde-onde yang sudah tersaji di meja prasmanan. Sambil menyesap minuman perlahan, saya meladeni obrolan salah seorang pimpinan perusahaan yang semeja di teras itu. Sebagian besar obrolan tentang keindahan Danau Toba pastinya. Sisanya, tentang media tempat saya bekerja.

Ah, kendati mata dimanjakan dengan tampilan danau dari atas begini, saya merasa masih ada yang kurang. Bagi saya, merasai danau secara dekat dan nyata jauh lebih mengasyikkan. Mungkin dengan memecah riak di tepian danau. Melempar batu dari pinggir dermaga. Atau lainnya yang lebih mendekatkan dengan "suasana" danau yang sesungguhnya. Kalau perlu melintasi danau menuju Pulau Samosir yang masih dikenal kental dengan suku Toba-nya.

Nyatanya, kami hanya menghabiskan waktu sekira sejam di Taman Simalem Resort. Usai makan, kami berpencar mencari spot-spot menarik untuk dipotret. Ah, saya menyesal tak mempersiapkan kamera.

Rinai hujan juga menyambut acara hunting momen itu. Akan tetapi, menurut teman saya, rinai itu bukan hujan, melainkan embun yang cukup tebal lantaran kami berada di ketinggian pegunungan. Kabut memecah menjadi butir-butir air menyerupai rinai hujan.

"Tahu tidak, antara Suku Batak dan Toraja sebenarnya mereka berasal dari 'ibu' yang sama. Coba lihat model.rumahnya, ritual adat upacaranya, hingga kepercayaan yang dianutnya," tutur Robin di sela-sela kami hendak meninggalkan Taman Simalem Resort.

"Suatu ketika, tiga bersaudara berlayar dan berpisah di tengah laut. Satu ke arah Sumatera, itulah Batak. Satu ke Kalimantan, itulah Dayak. Satu ke Sulawesi, itulah Toraja," ceritanya lagi.

Saya pun berpikir, ketiga suku itu memang punya kemiripan khusus. Sebenarnya, banyak artikel yang juga membahas tentang Batak dan Toraja berasal dari satu rumpun. Sayangnya, kami tak bisa lebih jauh bertanya ke suku aslinya.

Sungguh percuma rasanya, perjalanan delapan jam hanya untuk menikmati Danau Toba dari jauh sejam lamanya. Jadi, siapa pun yang hendak mengunjungi Danau Toba, semestinya meluangkan waktu untuk menginap di sana. Saya menyarankan mencari tempat-tempat penginapan yang murah dan tak merepotkan.

Akhirnya, saya pulang dengan perasaan masih menggantung. Kelak, saya harus mengunjungi dan menumpangi perahu di permukaan Danau Toba.

Suasana juga mendung, tertutup kabut. (Foto: ImamR)

***

Jelang kepulangan, saya masih "haus" mengunjungi tempat-tempat baru. Serasa masih ada yang belum terpuaskan.

Saking penasarannya, saya mengetuk-ngetuk jari di peta GPS dan mencari lokasi menarik terdekat. Ketemunya ya Gramedia. Tak ingin menelan penyesalan lebih banyak, saya menyusuri jalan kota sendirian.

(Foto: ImamR)
Meskipun begitu, toko buku di Jl. Gajah Mada itu merupakan toko buku tertua di Medan. Koleksinya pun sangat banyak. Buku yang tidak pernah bisa saya temukan di Makassar, tersedia cukup banyak di Gramedia itu. Saya pun memborong enam buku setelah berkeliling lebih dari dua jam. Sepanjang hidup, saya baru sekali itu membeli buku dalam jumlah banyak. 

Toko buku itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama memamerkan alat-alat tulis dan peralatan kantor. Sementara lantai dua didominasi buku-buku terbitan baru maupun terbitan lama. Saya pertama kali menemukan koleksi lengkap novel Pramoedya Ananta Toer disana, yang kelak baru saya ketahui sudah didistribusikan pula di kota Gramedia kota Makassar.

Paling tidak, beberapa buku yang saya bawa pulang menjadi pengobat hati tak mengunjungi tempat-tempat menarik di Medan. Suatu ketika nanti, saya masih berharap bisa mengunjungi Medan tanpa ragu berkelana sendirian. Saya masih butuh menuntaskan rasa penasaran di kepala saya.




--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar