Rabu, 30 Desember 2015

Lelah, Boleh. Nyerah, Ogah.

Desember 30, 2015
"Boleh lelah, asal jangan menyerah."

Entah dimana saya pernah mendengar quote seperti itu. Tetapi, memang ada benarnya. Perihal lelah, atau capek, itu hal manusiawi. Toh, semanusia-manusianya manusia, punya batas kesanggupan juga dalam memikul beban. 

Selasa, selalu menjadi hard-day buat saya. Salah satunya karena mesti membackup salah satu halaman, yang terkadang saya sendiri bingung bagaimana menanganinya secara utuh. Ini nih akibatnya ketinggalan isu. Seseorang juga sedang tak jelas-jelasnya tanpa kabar.

"Dan ini kali pertama gue lihat kakak yg satu ini mengeluh =D"

Seorang teman perempuan mengirimkan pesan. Aduh. Segembira, segokil, seusil, se-kepo apa sih gue (saya)? Sampai dianggap tak pernah lelah dan mengeluh. _ _"

Pernah menonton film "Inside Out"? Salah satu film, yang menurut saya, cukup menarik. Kesampingkan alasan lain bahwa saya juga masih suka film kartun. Saya baru beberapa hari lalu menamatkan film itu usai berlelah-lelah ria di lapangan liputan. Sengaja meluangkan sedikit waktu menonton film dari laptop seorang kawan.

Soal emosi yang mengontrol kehidupan manusia. Sad (sedih), Joy (gembira), Fear (ketakutan), Anger (kemarahan), dan Disgust (jijik). Mereka semua digambarkan hidup di kepala seorang anak perempuan periang bernama Riley. Merekalah yang mengontrol emosi dan menghias keseharian sang gadis berusia 11 tahun itu.

Film itu mengajarkan bahwa setiap emosi itu berharga. Sedih, marah, jijik, takut punya perannya masing-masing. Itulah yang membuat manusia jadi manusia seutuhnya.

Joy : How did you do that?                    
Sad : Oh, I don't know. He was sad. So I listened to what...                                                 

Itu adegan dimana Bing Bong, tokoh khayalan Riley, bersedih lantaran kereta roketnya juga ikut dihapus (dilupakan). Saking sedihnya, ia nyaris tidak mau melanjutkan perjalanan bersama Joy dan Sad yang tersesat di dunia memory dan harus segera kembali ke "kantor pusat."

Awalnya, Joy dengan karakteristik riang gembiranya, mencoba menghibur Bing Bong. Apa daya, Bing Bong hanya bisa duduk termenung tanpa mengucapkan sepatah kata. Ia teramat sedih. Bing Bong yang lucu, saat bersedih, air matanya justru berupa permen.

Akan tetapi, Sad justru melakukan hal berbeda. Duduk di samping Bing Bong. Diam. Ikut mengatakan belasungkawanya. Dan mendengarkan Bing Bong bercerita panjang lebar tentang roket kesayangannya. Bing Bong bahkan sempat bersandar di bahu Sad, yang seolah paham perasaan sedih Bing Bong.


Inside Out mengajarkan kita tentang kegunaan masing-masing emosi. Kesedihan, tak selamanya buruk. Ada saatnya setiap orang butuh bersedih, meluapkan segala uneh-unegnya, agar orang lain tahu yang terpendam di kepalanya. Setiap emosi, punya waktunya sendiri untuk berguna. Namun, emosi pula yang membangun karakter dasar setiap kepribadian manusia. Entah periang, penggalau, pemarah, atau penakut. Di film itu, dijelaskan pula bagaimana setiap hobi, keluarga, pertemanan, kekonyolan, asmara, dan semacamnya dibangun dari ingatan-ingatan yang didasari emosi dominan.

Ah, yang namanya capek juga serupa itu. Mungkin, saya hanya butuh tidur sebentar dan besok sudah lupa semuanya. Ah, mau tidur, saya masih kelaparan...

***

"Jadi PNS saja. Jadi guru. Bisa dengan mulai mengambil langkah di SM-3T biar gampang terangkat," ujar salah seorang perempuan pada saya. Apa yang dikatakan selanjutnya, off the record. :3

Sedari awal, saya sudah ngotot tak ingin menjalani pekerjaan yang berbau pemerintahan. Tak mau masuk kantor dengan rentang aturan tertentu. Menangani hal yang sama hampir setiap hari. Mengenakan seragam yang sudah diwajibkan.

Sekali lagi, saya belum berminat...

Meski bekerja sebagai jurnalis, seperti sekarang ini, saya akui banyak kehilangan waktu bersantai.

Waktu luang yang harus tersisihkan oleh momen mencari dan merangkum berita. Sesudahnya, saya masih harus ke kantor "nyetor muka" ke redaktur terkait berita yang dikirimkan. Saya hanya sekali-kali saja mangkir-mangkir nakal. -,-

Tak cukup lagi waktu bersantai dan nge-cappuccino dengan teman-teman sekadar berbagi tawa. Meluangkan waktu melirik gadis-gadis manis. Kehilangan waktu cuci mata di toko-toko buku. Tak ada lagi waktu menonton film. Tak punya banyak waktu menemui adik-adik di lembaga pers kampus (LPM Profesi) sekadar "mendorong" kabar tabloidnya.

Namun, saya mencanduinya....

Berapa kali pun saya memasang wajah memelas usai diomeli redaktur, mengulangi tulisan yang masih harus diupgrade keesokan harinya, kecewa saat tulisan tak dimuat, kecewa pula saat tulisan yang dimuat tak sebanyak yang terkirim, kelaparan menunggui rapat listing malam hari oleh redaktur di desk olahraga, ketinggalan angkot dan tidak dapat tebengan motor, saya tetap suka kesulitan itu.

Pada dasarnya, saya menikmati tantangannya. Kedewasaan dan cara berpikir dewasa dibangun dari sebanyak apa menghadapi masalah... :)



--Imam Rahmanto--

*bagi kalian yang tergolong suka bermanja-manja dan tak suka tantangan, ya sudah, saya takkan pernah menyarankan jadi jurnalis.

Sabtu, 26 Desember 2015

Dari Atas Pesawat

Desember 26, 2015
(Sumber: ariesadhar.com)

Baru-baru ini saya menyelesaikan lagi satu novel yang sudah lama masuk dalam antrean baca. Akh, untuk menamatkan novel setebal 344 halaman saja saya mesti mencicilnya hampir seminggu. Kalau dihitung dari awalan baca di Goodreads, ada sekira 10 hari lamanya rentang waktu menuntaskan novel "Critical Eleven". Malu juga sih rasanya tidak baca buku di saat kamar punya jejeran rak buku yang menarik di depan mata.

Sebenarnya, salah satu alasan membaca novel ini karena penasaran dengan karya terbaru Ika Natassa. Buku pertama yang sempat saya baca dari penulis nyentrik ini adalah Antologi Rasa-nya. Hm...nuansa baca yang mengagumkan, lantaran ia mampu menyatukan semua sudut pandang dari beberapa tokoh yang diangkatnya.

Dibekap penasaran dengan buku lainnya, saya mulai mencicip karya Ika Natassa yang lain. Ada Divortiare, Twivortiare. Dan dari hasil bacaan itu, gaya menulisnya: sama!

Sungguh, Ika nampaknya sudah menasbihkan karakter menulisnya selalu demikian.

Tak heran ketika membaca karya teranyarnya ini, saya mendapati suguhan yang sama. Meski hanya dua sudut pandang dari tokoh utama, Anya dan Ale,namun itu sudah menunjukkan keahlian penulis dalam meramu sudut pandang penceritaannya. Salut!

Kisah "Critical Eleven" ini bercerita tentang salah satu prahara rumah tangga antar pasangan suami-istri. Di awal membaca novel ini, mungkin kita hanya akan menyangka ceritanya berputar pada kisah percintaan romantis dewasa. Di awal membuka novel, bercerita tentang pertemuan Anya Baskoro dan Aldebaran Risjad di atas pesawat sebelum take off.

"Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya."

Akan tetapi, setelah melahap hampir separuh buku ini, saya baru menyadari hal unik lainnya. Penulis mencoba memutar-mutar alurnya diantara dua tokoh yang bertindak sebagai pusat cerita ini. Saya suka cara bercerita "mundur"nya yang tak monoton. Ditambah pula dengan cerita dari sudut pandang orang yang berbeda.

Dua hal lain yang tak pernah hilang dari karakter novel Ika: latar dan gaya bertutur yang berkelas.

Latar novelnya selalu tak lepas dari kehidupan kalangan tingkat menengah ke atas. Bisa dibilang, sebagian tokohnya adalah orang-orang glamor nan elegan. Saya sedikit sekali menemukan tokoh yang punya latar belakang keluarga dan pekerjaan yang biasa-biasa saja.

Gaya hidup elit itu juga berimbas pada gaya bertutur sang tokoh. Isi novel bisa jadi cukup merepotkan bagi orang-orang yang tak paham berbahasa Inggris. Tak ada terjemahan khusus untuk setiap kalimat yang menggunakan bahasa bule itu. Bagus juga buat belajar memperdalam bahasa Inggris.

Yah, mungkin inilah satu ciri khas Ika Natassa.

Selebihnya, saya menganggap novel ini sungguh menarik. Kendati banyak orang yang mencap novel terbitan dalam negeri kurang berbobot, saya tetap menganggap beberapa penulis punya gayanya sendiri mempertahankan pembaca. Seperti halnya novel, beberapa film Indonesia juga masih punya kualitasnya kok.



 ***

"Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita," --hal. 8

"Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi setiap orang. Satu menit tetap senilai enam puluh detik, namun lamanya satu menit itu berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan yang sedang dimabuk cinta." --hal.17

"Hal-hal terbaik dalam hidupjustru seringnya harus melalui usaha yang lama dan menguji kesabaran dulu," --hal.31

"Kata orang, saat kita berbohong satu kali, sebenarnya kita berbohong dua kali. Bohong yang kita ceritakan ke orang, dan bohong yang kita ceritakan ke diri kita sendiri." --hal.57

"In life, there are no heroes and villains, only various states of comproomise." --hal.112

"Hujan dan kenangan bukan perpaduan yang sehat untuk seseorang yang sedang berjuang melupakan." --hal.190

"Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita." --hal.252


--Imam Rahmanto--

Minggu, 20 Desember 2015

Balada Hujan

Desember 20, 2015
Kau tak dengar suara di luar? Itu hujan. Ya, hujan. Ia pernah datang, sekali tahun, mengguyur tanah yang gersang

Belakangan, kota ini, memang lebih sering terguyur hujan. Air tumpah dari langit nyaris tak pernah berhenti. Dua hari mengguyur tak jeda, sehari berikutnya hanya menyisakan mendung tanpa secer(c)ah cahaya dari langit.

Gelap makin cepat datang. Azan Ashar yang berkumandang seolah mendahului maghrib yang masih berselang tiga jam. Langit gelap tertutup mendung, diselingi kilat yang berburu di permukaan awan.

Saya jadi terbiasa dengan air hujan. Di beberapa kesempatan, saya (sengaja) berhujan-hujanan. Sekadar menikmati apa yang tak bisa ditemui di musim yang lalu. Pakaian basah tiada terkira. Pertama kali bertemu hujan di musim ini, deras, saya harus menahan kecepatan laju kendaraan dari Maros hingga Makassar. Itu saat saya pulang menyambangi kampung kelahiran saya. Mungkin, sebulan kemarin...

"Kita jadi tak bisa kemana-mana kalau hujan," ujar teman saya.

Benar. Sekali waktu, saya menikmati rasa "tak-kemana-mana" itu di kamar kost-an.

Oiya, saya punya kamar di kost-an baru. Dekorasi pertamanya, saya dan seorang kawan mengisinya dengan rak untuk koleksi buku bacaan kami. Melihat koleksi bukunya sedikit lebih banyak, saya jadi terlecut ingin menambah lebih banyak koleksi buku lagi. Akh, saatnya menggalakkan program "investasi dua buku - sekali gaji". Hahahaha....

Bukannya tak punya agenda liputan. Beberapa agenda liputan on the spot justru terganggu dengan hujan yang tak henti mengguyur kota Makassar. Banjir dimana-mana. Jalanan beton tak punya jalur pengairan khusus untuk buangan airnya. Di kiriman grup BBM kantor, saya melihat jalanan protokol di depan kantor Gubernuran justru sudah menyerupai sungai.

Saya mencoba menikmati kenyamanan tak dipusingkan tuntutan berita. Lagipula, saya masih punya strategi khusus untuk memenuhi target (pribadi) berita tiap hari. Apalagi kalau tak ada acara resmi on the spot.

"Kalau jadi jurnalis olahraga, agak santai ya?" ujar teman sekantor saya.

Hm... padahal dulu saya cukup menghindari ditempatkan di salah satu desk ini. Entah bagaimana caranya, saya menikmatinya perlahan. Meski kata "mitos" di dunia garis kiri jurnalisme, tugas wartawan olahraga sama sekali tak menggiurkan. Amat jauh dari kesejahteraan sebagai seorang wartawan. #masa bodoh

Kesibukan baru terpacu di kala ada laga atau turnamen yang sedang berlangsung. Saya tak bisa hanya mengandalkan beberapa channel kenalan maupun kreativitas mengolah isu. Apalagi jika sudah berkaitan dengan salah satu skuat kebanggaan kota ini, PSM.

Di saat menjalani liputan pun saya masih sering disapa hujan. Di kala menanti pete-pete (baca: angkutan umum), saya harus berteduh sesekali. Menumpang pete-pete di kala hujan seolah bertemu dengan mobil alphard. Seolah malaikat penyelamat.

Di atas mobil, muncul wajah-wajah lega usai berhadapan hujan di pinggir jalan. Hujan menampar-nampar kaca depan mobil. Nyanyian hujan terdengar cukup jelas dari arah kaca depan dan atap kendaraan.

Hujan sungguh menggelikan. Sekali waktu ingin membuat terlelap. Sekali waktu memaksa wajah tetap terjaga rasa kantuk. Sekali waktu mengesalkan. Sekali waktu mengundang galau.

"Jangan sering kehujanan. Nanti sakit berdatangan,"

Biarlah. Sembari menguji ketahanan tubuh, saya ingin mencicip sedikit perhatian(nya).

Kau tau hujan, ia menderas kala rindu terlampau pekat. Bukankah manusia di bumi terlalu sering menguapkan rindunya ke atas langit? Karena rindu separuh bumi terlampau berat didekap langit sendirian. Sudah kubilang, rindu itu berat.


--Imam Rahmanto--



*Hah? Hujan membuat saya mengigau...

Selasa, 15 Desember 2015

Pilihan-pilihan

Desember 15, 2015
Belakangan, di akun medsos teman-teman saya sedang ramai selebrasi beasiswa LPDP. Memang, pengumuman kelulusan penerima beasiswa itu baru dicetuskan beberapa hari sebelumnya. Bagi sebagian besar mahasiswa, itu termasuk beasiswa bergengsi. Selain dibiayai sepenuhnya oleh Kementerian Keuangan untuk kuliah anywhere-you-wanna-go, beasiswa itu juga bisa menjadi batu loncatan meraup gelar S2 yang lebih "bernilai" dan berkelas (katanya) di mata masyarakat.

"Kalau begitu, setelah setahun bekerja nanti, kamu bisa kan mendaftar beasiswa itu?" tanya seorang kawan.

Saya hanya membalasnya dengan senyuman. Saya masih bergeming. Di kepala saya, masih kukuh keinginan tak lagi mengejar gelar kependidikan. Bukannya tak mampu, saya hanya terlalu letih menjalani pendidikan berlatar belakang "sekolah formal". Belajar di ruang kelas, mendengarkan penjelasan guru atau dosen, membuat makalah, presentasi kelompok, skripsi, browsing referensi karya tulis, dan semacamnya.

Sejujurnya, saya juga nyaris lelah mengejar prestasi kependidikan lagi. Kehidupan sekolah formal sudah terlalu padat direkami prestasi sebagai "anak pintar". Dalam kehidupan yang telah terlewat, saya baru menyadari, kenapa tidak menjajal sedikit "belokan" di masa sekolah dulu? Toh, kasta kehidupan sekarang tak pernah ditentukan langsung dari seberapa besar nilai akademik dahulu.

Gelar kependidikan hanya sebatas sematan di belakang nama untuk dipamerkan kepada orang lain yang memerlukannya. Sementara hanya sebagian kecil dari lulusan yang punya kompetensi akademik sebanding. Saya sendiri bahkan tak pernah membawa-bawa gelar "S.Pd" kemana pun melangkah. Cukup menjadi apa adanya, tanpa batasan bergaul dengan siapa saja.

"Kamu tak ada niat lanjut S2?"

Saya masih punya sedikit keinginan melanjutkan pada jenjang lebih tinggi. Akan tetapi, kelanjutan dari gelar saya sebelumnya mungkin akan diabaikan. Saya hanya akan mengejar pemahaman pada jurusan yang ingin saya selami. Tidak pada gelar S2-nya.

Semisal, gelar "S.Pd" saya di jurusan Matematika tidak akan berlanjut ke jenjang magisternya. Saya justru penasaran menjajal Imu Komunikasi di jenjang S2. Nah, tak linear, bukan? Memang. Karena tujuan saya tak mentok untuk kepentingan gelar semata. Saya hanya benar-benar ingin mempelajarinya. Itu saja. Tapi, entah kapan waktunya.

Di rumah pun, bapak selalu memancing keinginan saya agar melanjutkan gelar kependidikan ke ranah pegawai negeri. Apa daya? Saban mengobrol, bapak selalu menunjukkan ekspektasinya kepada pekerjaan, yang katanya, punya jaminan masa tua terbaik itu.

"Sudahlah, Pa'. Saya dasarnya memang tak suka pekerjaan pemerintahan begitu. Masuk rutin tiap hari, ngabsen. Pakai baju seragam. Bengong di dalam ruangan ber-AC. Saya masih butuh banyak pengalaman dan perjalanan," kekesalan saya meledak suatu waktu.

Saya sedang menikmati masa-masa paruh waktu saya sebagai seorang jurnalis. Banyak hal baru yang seutuhnya tak saya temukan di lingkungan sekolah resmi. Di saat orang-orang membanggakan pekerjaan sebagai Pe-En-Es, saya justru bangga menjadi bagian koorporasi media, untuk sementara waktu.

Masih banyak tempat yang belum saya jelajahi. Khususnya di luar negeri. Akan tetapi, sebelum mengenali tanah orang, kenali dulu tanahmu sendiri. Dan hingga kini, saya baru menginjak lima-enam kota di Indonesia. Sangat minim, bukan?

Lantas, beasiswa yang menjadi buruan para mahasiswa itu memang menjadi jalan melenggang ke negara lain. Hanya saja, saya lebih memilih melakukan perjalanan tanpa perlu direcoki dengan urusan akademik dan belajar nyaris setiap hari. Senyata-nyatanya, saya ingin menikmati perjalanan karena kesenangan dan hobi terhadap sesuatu. Mungkin, dalam hal perjalanan melaporkan suatu peristiwa.

Bagaimana pun, sejatinya saya cenderung lebih tertarik menyelami "sekolah kehidupan". Ruang kelas dimana saja. Guru siapa saja. Tak berbatas waktu. Praktek sehari-hari. Berkenalan dengan partner yang cukup berbeda secara visi maupun misi.

Dengan begitu, saya tak akan menyesali apa-apa...

(Sumber: google.com)

***

Fiuhh...

Saya sedang menjalani hari yang berat hari ini. Ada banyak beban di kepala (baca: liputan) yang memaksa diselesaikan. Cuaca hujan juga agak menghambat. Namun, namanya wartawan, hadangan apapun harus bisa dijinakkan.

Saya agak kelimpungan menyelesaikan beberapa bahan hari ini. Mungkin, saya agak lupa untuk start di awal waktu. Lupa pula kalau harus memback-up salah seorang rekan yang kena libur hari ini. Jadinya, satu-dua bahan jadi tak nyangkut dalam listing pribadi saya. #damn

Akan tetapi...

Tahukah...

Kelimpungan begini yang cukup mencandui keseharian saya di lapangan. Besok-besok, pasti sudah lupa lagi. Serius. Saya perlahan mulai belajar menertawakan kesulitan saya. Mengapresiasinya sebagai bahan belajar dan berbenah diri. Bukankah hidup ini memang lucu, tergantung kadar humor yang kita kantongi?

Mari tetap bersyukur sembari tetap mengencangkan tiang pancang mimpi-mimpi kita.


--Imam Rahmanto--

Kamis, 10 Desember 2015

Pesan-pesan

Desember 10, 2015
"Nak, kalau pagi, jangan lupa tetap sarapan. Biar mo' (cuma) mie instan saja. Yang penting perutmu terisi," pesan mamak beberapa minggu lalu.

Saya memang baru saja pulang dari kampung halaman. Menuntaskan rindu yang tertahan, diiringkan dengan tuntutan adminsitrasi kependudukan saya. Biar cuma sehari, selalu ada wajah ibu yang berseri-seri menyambut anaknya.

Saya selalu suka membuat kejutan saat hendak pulang ke rumah. Dengan begitu, saya bisa menikmati kerutan di rona wajah mamak yang kian menua. Ia terkejut sejenak. Berlanjut wajah data. Mamak memang tak mampu berekspresi layaknya sinetron yang kerap ditontonnya tiap hari.

"Loh, kamu kok pulang?"

Saya kerap hanya menjawab dengan senyum sumringah. Saya rindu masakan mamak. Biar cuma sehari, mamak juga suka membuatkan makanan kesukaan anaknya.

Pulang mendadak, sebenarnya sekaligus tak ingin terlalu banyak "diawasi" di perjalanan. Setiap jam menanyakan kabar tentang keberadaan di jalan. Hehe...

"Tetap shalat loh nak, apapun keadaanmu. Tak boleh bolong," pesan bapak, selalu.

Dulu, bapak hanya berpesan tanpa pernah menunjukkan kewajibannya itu. Mungkin, sebagai orang tua yang baik, ia ingin mengajarkan hal-hal baik pada anaknya. Setelah menderita sakit berkepanjangan, paraplegia, ia baru menyadari betapa pentingnya meluangkan waktu barang 5-10 menit "mengobrol" dengan Yang Kuasa. Kini, waktu shalat Bapak juga ditambahi dengan membaca kitab Suci Alquran.

Bapak memang banyak berubah. Tak lagi mengisap rokok. Tak lagi menyeruput kopi pekat. Hanya saja, keinginan agar anak-anaknya berlabuh di Pe-En-Es masih kukuh hingga kemarin. Itu menjadi satu-satunya pekerjaan yang menurut Bapak punya jaminan masa tua buat anak-anaknya.

Wajar jikalau saya mesti lebih banyak berjuang untuk membuktikan bahwa pekerjaan sebagai jurnalis justru lebih menjanjikan. Banyak pengalaman. Banyak perjalanan. Banyak kenalan. Banyak tantangan. Hingga banyak pendapatan (semoga).

"Jangan bertengkar lagi ya, Kak," pesan adik saya.                                                                 

Ia selalu tahu kapan harus menenangkan saya. Setiap kali mendengar omongan Bapak tentang keluarga, saya harus menahan kepala yang berkecamuk. Terkadang, saya tak bisa hanya diam menanggapi obrolan Bapak. Sudah sewajarnya karena anaknya tak sekecil dulu lagi.

Lekat di kepala, adik saya yang dulu selalu terisak-isak di tengah perbincangan telepon. Lantaran rindu dan sakit yang berpadu jadi satu. Saya jadi tak tega menelantarkan rindunya, hingga memutuskan "kembali" ke pelukan bapak dan mamak.

***

"Bangun. Shalat subuh, ndak boleh lupa," dan satu suara yang tak bosan membuka mata saban hari. 

Seseorang yang justru tak pernah saya sangka bakal menyita separuh perhatian saya.

Saya dipertemukannya kembali dengan pagi. Semenjak bergelut di liputan olahraga, yang sebagian besar beraktivitas siang dan sore, ritme bangun pagi saya mulai berubah. Saya terbiasa bangun di atas pukul 8 pagi. Akh, shalat subuh pun sudah serupa shalat dhuha.

Maka ia menjadi "alarm" khusus tiap pagi. Meski, sekali-dua kali saya masih sempat keterusan tidur usai mencermati suaranya dari seberang telepon. _ _"

Meski begitu, saya perlahan menikmatinya. Caranya menyadarkan saya setiap fajar. Caranya membuat saya lupa akan sesuatu. Caranya mencintai pagi hari, kendati saya lebih menyukai senja. Bukankah perbedaan saling melengkapkan? Sama halnya dulu ketika saya menikmati banyak persamaan, yang justru tak melekatkan. Seperti kutub magnet.

"Bersyukurlah," pesan Tuhan dalam salah satu ayatnya...




--Imam Rahmanto--

Minggu, 06 Desember 2015

Medan Story#5 [end]

Desember 06, 2015
Hawa dingin mulai menjalar di sekujur tubuh. Pemandangan di luar sudah mulai agak memudar karena terhalang kabut dari dataran tinggi. Semakin mendekati Danau Toba, suhu udara memang semakin dingin.

"Kita sebentar lagi sampai di Taman Simalem Resort," ujar Pak Robin, sang pemandu di bus kami.

Saya yang iseng nyaris terkantuk-kantuk mendadak mengucek mata untuk menormalkan penglihatan. Saya ingin melihat suasana di luar bus yang cukup teduh di sepanjang pegunungan. Kabut. Kabut. Dan hujan agak merinai.

Taman Simalem Resort memang diperuntukkqn bagi wisatawan kelas atas. Di areanya yang teramat luas di puncak pegunungan, ada beberapa wisma atau villa untuk tempat menginap. Area Simalem Resort juga dibangun dengan taman yang sangat asri dan membuat mata tak letih memandang.

Akan tetapi, di balik kemewahan dan kemegahan tersiratnya, saya tak menemukan kedekatan dengan Danau Toba. Sebagai orang yang senang berpetualang, saya justru risih hanya duduk-duduk dari atas restoran "nyaman" yang menyajikan pemandangan kawah Danau Toba di depan mata.

Yah, nyatanya, kami di Taman Simalem Resort hanya singgah untuk menikmati makan siang dengan pemandangan danau nan luas itu. Sebuah restoran sederhana nampak elegan menyajikan sajian prasmanan untuk dinikmati para wisatawan rombongan dua bus: kami.

Foto yang dijepret lewat kamera orang lain. -_- (Foto: Imam R)

"Wow...indahnya!"

"Keren!!"

Berbagai ucapan takjub keluar perlahan dari hati saya dan teman-teman sesaat turun dari bus. Tak lupa, gadget berbagai merk berlomba mengabadikan momen sekali (mungkin) seumur hidup itu. Terkecuali hape saya yang hanya bisa menangkap momen seadanya.

"Ayo, makan dulu. Pemandangan sudah indah, kita makan dulu," ujar pimpinan rombongan.

Teras restoran menghadap ke arah Danau Toba. Jejeran kursi dan meja segera diisi oleh kedatangan kami. Sembari melepas penat, kami memandangi danau yang terpampang luas di hadapan kami.

Saya mengawali waktu santai dengan memesan segelas kopi-susu dan cemilan onde-onde yang sudah tersaji di meja prasmanan. Sambil menyesap minuman perlahan, saya meladeni obrolan salah seorang pimpinan perusahaan yang semeja di teras itu. Sebagian besar obrolan tentang keindahan Danau Toba pastinya. Sisanya, tentang media tempat saya bekerja.

Ah, kendati mata dimanjakan dengan tampilan danau dari atas begini, saya merasa masih ada yang kurang. Bagi saya, merasai danau secara dekat dan nyata jauh lebih mengasyikkan. Mungkin dengan memecah riak di tepian danau. Melempar batu dari pinggir dermaga. Atau lainnya yang lebih mendekatkan dengan "suasana" danau yang sesungguhnya. Kalau perlu melintasi danau menuju Pulau Samosir yang masih dikenal kental dengan suku Toba-nya.

Nyatanya, kami hanya menghabiskan waktu sekira sejam di Taman Simalem Resort. Usai makan, kami berpencar mencari spot-spot menarik untuk dipotret. Ah, saya menyesal tak mempersiapkan kamera.

Rinai hujan juga menyambut acara hunting momen itu. Akan tetapi, menurut teman saya, rinai itu bukan hujan, melainkan embun yang cukup tebal lantaran kami berada di ketinggian pegunungan. Kabut memecah menjadi butir-butir air menyerupai rinai hujan.

"Tahu tidak, antara Suku Batak dan Toraja sebenarnya mereka berasal dari 'ibu' yang sama. Coba lihat model.rumahnya, ritual adat upacaranya, hingga kepercayaan yang dianutnya," tutur Robin di sela-sela kami hendak meninggalkan Taman Simalem Resort.

"Suatu ketika, tiga bersaudara berlayar dan berpisah di tengah laut. Satu ke arah Sumatera, itulah Batak. Satu ke Kalimantan, itulah Dayak. Satu ke Sulawesi, itulah Toraja," ceritanya lagi.

Saya pun berpikir, ketiga suku itu memang punya kemiripan khusus. Sebenarnya, banyak artikel yang juga membahas tentang Batak dan Toraja berasal dari satu rumpun. Sayangnya, kami tak bisa lebih jauh bertanya ke suku aslinya.

Sungguh percuma rasanya, perjalanan delapan jam hanya untuk menikmati Danau Toba dari jauh sejam lamanya. Jadi, siapa pun yang hendak mengunjungi Danau Toba, semestinya meluangkan waktu untuk menginap di sana. Saya menyarankan mencari tempat-tempat penginapan yang murah dan tak merepotkan.

Akhirnya, saya pulang dengan perasaan masih menggantung. Kelak, saya harus mengunjungi dan menumpangi perahu di permukaan Danau Toba.

Suasana juga mendung, tertutup kabut. (Foto: ImamR)

***

Jelang kepulangan, saya masih "haus" mengunjungi tempat-tempat baru. Serasa masih ada yang belum terpuaskan.

Saking penasarannya, saya mengetuk-ngetuk jari di peta GPS dan mencari lokasi menarik terdekat. Ketemunya ya Gramedia. Tak ingin menelan penyesalan lebih banyak, saya menyusuri jalan kota sendirian.

(Foto: ImamR)
Meskipun begitu, toko buku di Jl. Gajah Mada itu merupakan toko buku tertua di Medan. Koleksinya pun sangat banyak. Buku yang tidak pernah bisa saya temukan di Makassar, tersedia cukup banyak di Gramedia itu. Saya pun memborong enam buku setelah berkeliling lebih dari dua jam. Sepanjang hidup, saya baru sekali itu membeli buku dalam jumlah banyak. 

Toko buku itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama memamerkan alat-alat tulis dan peralatan kantor. Sementara lantai dua didominasi buku-buku terbitan baru maupun terbitan lama. Saya pertama kali menemukan koleksi lengkap novel Pramoedya Ananta Toer disana, yang kelak baru saya ketahui sudah didistribusikan pula di kota Gramedia kota Makassar.

Paling tidak, beberapa buku yang saya bawa pulang menjadi pengobat hati tak mengunjungi tempat-tempat menarik di Medan. Suatu ketika nanti, saya masih berharap bisa mengunjungi Medan tanpa ragu berkelana sendirian. Saya masih butuh menuntaskan rasa penasaran di kepala saya.




--Imam Rahmanto--