Minggu, 22 November 2015

Separuh Hati Perempuan

Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Sementara manusia tak pernah bisa mengubah masa lalunya. Lantas? Yah, karena keduanya selalu punya kaitan yang tak terelakkan, antara perasaan dan masa lalu.


***

Ini tentang perempuan. Tentang mereka yang kerap saya temui masih menjunjung masa lalu di kepalanya. Mereka seolah tak terbebani dengan senyum-senyum sumringahnya. Terkadang tawa lepasnya adalah beban yang menekan terlampau padat. Bukankah beban perasaan cenderung lebih menyiksa ketimbang beban pikiran?

Sebulan lalu, saya dan beberapa orang bertemu. Bercerita segala hal. Yah, saya lebih menyukai bercerita bukan-soal-pekerjaan saat duduk di beranda kafe atau menghadapi segelas minuman hangat. Pekerjaan seharian sudah terlalu padat untuk diisi lagi dengan pikiran-pikiran semacam itu.

Sebagaimana saya mengenal teman yang satu ini, ia masih menyimpan rapat seorang lelaki yang tak lagi bersamanya. Lelaki yang dulu sangat diidamkannya, diintip diam-diam, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan yang harus kandas. Entah karena apa.

"Saya tak bisa melupakannya. Mau bagaimana lagi? Ndak tau kenapa begitu," kata seorang sahabat.

Hingga kini, ia masih sulit menyukai lelaki lain. Atau entahlah. Mungkin juga sudah pernah ada lelaki lain yang mengutarakan perasaaan padanya. Hanya saja, kepalanya masih rentan dengan lelaki "terbaik"nya itu.

Tetiba, ingatan saya dibawa ke masa  saya menjumpai perempuan serupa. Saat dimana saya mencoba menyelami kehidupan perempuan yang masih menjunjung kenangan di pelupuk matanya. Tak jarang, air mata mengalir dari ujung kelopaknya seiring ingatan yang lepas satu-satu tentang lelakinya.

Seberapa kerasnya saya mencoba menjadi orang baru bagi perempuan itu, ia tetap menyimpan memori tentang orang tersayangnya. Akan tetapi, saya terlanjur egois "memaksakan" seorang perempuan untuk menutup masa lalunya. Padahal, mengingat masa lalunya bukan berarti ingin kembali bersama lelakinya. Mungkin, ia hanya rindu. Itu saja.

Seorang teman lainnya, dua malam lalu, juga bercerita tentang seorang teman perempuan kami yang sudah melepas masa lajangnya. Ia sudah menikah dan kini hidup berbahagia dengan kekasih semasa kuliahnya itu.

"Kau tahu seperti apa sehari menjelang akad pernikahannya dilangsungkan? Saya ikut menangis dibuatnya," ujar teman itu bercerita mengenai sahabatnya.

Sahabatnya itu, katanya, masih menyebut-nyebut lelaki (baca: mantan pacar semasa SMA-nya) lain. Ia bercerita banyak tentang lelaki itu di hadapan teman saya sembari berurai air mata. Ia tak mampu membendung masa lalunya yang meluncur bagai air bah.

Lelaki yang disebutkannya itu juga sahabat saya. Beberapa malam lalu kami sempat berkumpul kembali lantaran dipanggil oleh Bunda yang sedang berada di kota ini. Bunda sedang mengantarkan adik-adik SMA yang hendak mengikuti lomba di kota ini. Pun, saya masih senang meledek-ledeknya dengan perempuan yang pernah menjadi kekasihnya di masa SMA itu.

"Ia sudah menikah, lantas kamu kapan? Menyelesaikan sarjanamu saja belum," yang hanya bisa disambut senyum mesam-mesem olehnya.

Akan tetapi, toh semua itu hanya pelengkap cerita masa sekarangnya. Lelaki itu, kini juga sudah punya kekasih. Sementara perempuannya (teman kami itu), juga sudah melangsungkan pernikahannya. Ingatannya hanya sekadar luapan kenangan yang ingin dibawa kembali, bukan dirasai kembali.

Jikalaupun kami berkumpul kembali, diantara keduanya tak ada lagi perasaan ingin menjalin hubungan seperti dulu. Meski masing-masing sebenarnya mengakui, masa itulah yang terindah. Namun kita sejatinya bukan hidup di masa lalu, kan?

"Just beause the past didn't turn out likke you wanted it to, doesn't mean your future can't be better than you ever imagined,"

***

Tentang masa lalu itu, perempuan memang kerap terlalu rapat menyimpannya. Jikalau perempuan sudah menyayangi seseorang yang teramat berkesan baginya, entah yang pertama atau ke sekian, ia sejatinya memang sudah siap melepas separuh hatinya. Dan diserahkannya separuh hati itu kepada lelaki yang istimewa menurutnya.

Separuh hati perempuan itu akan dibawa pergi kemana pun lelaki meninggalkannya. Seketika itu, perempuan mesti menyadari bahwa lelaki itu bakal memenuhi ingatannya setiap waktu. Ketika berpisah, kalau tak baik, maka separuh hati itu masih akan terbawa-bawa.

Ketika perempuan tak meminta hatinya kembali, secara baik-baik, seumur hidup ia akan terbebani masa lalunya dengan lelaki itu. Separuh hati itu menjadi semacam penghubung tak kasat mata kenangannya dengan lelaki itu.

Saya menyadari, perempuan-perempuan yang masih menjunjung masa lalunya itu bukan berarti ingin kembali bersama lelakinya. Mereka hanya teringat, terbayang-bayang, atau sekadar rindu. Bagaimana tidak, separuh hatinya masih pergi bersama lelakinya. Ada semacam ikatan "rindu" yang semestinya ingin diselesaikan agar tak melukai terlalu jauh.

Kelak, ketika kamu bertemu perempuan yang separuh hatinya juga masih direngkuh lelaki lain, jangan kecewa. Biarkan ia. Pahami. Bantu ia melewati masa sulit itu, sembari tetap mengingatkan, engkau hanya akan hidup untuk masa depannya.



--Imam Rahmanto--

4 komentar:

  1. Bagaimana cara meminta hati kita kembali yang telah dibawa pergi?

    BalasHapus
  2. Bertemulah. Berbicara. Tanpa perlu ada yang ditutup-tutupi... :)

    BalasHapus
  3. Done, kak.

    Terima kasih untuk beberapa pengalaman dan beberapa waktu yang kita sempatkan buat menulis dan menyimpulkan sebuah kesadaran ini.

    Terima kasih, kak.
    Hidup saya jadi lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ecieee....ada royaltinya gak?? :D

      Hapus