Senin, 30 November 2015

No Excuse

November 30, 2015

Pekan lalu, saya menyambangi tanah kelahiran di pelosok Kabupaten Enrekang. Selain menuntaskan rindu bersama bapak-mamak (meski harus menahan telinga dari segala wejangan dan omelan dari bapak), saya hendak memperbaharui dokumen kependudukan alias KTP. Kalau bukan diminta oleh kantor tempat saya bekerja, tentu saya bakal menggunungkan watak penunda-nunda saya.

Di sisi lain, saya merasa beruntung "dipaksa" demikian. Sudah lama sebenarnya saya hendak memperbaharui KTP yang sudah mati setahun silam.

Sebenarnya saya termasuk orang yang sangat benci dengan urusan-urusan administrasi. Saya tak suka terlalu direpotkan dengan berkas-berkas yang harus hilir-mudik mendapat cap atau tanda tangan. Apalagi dengan aturan-aturan yang superketat. Saya orangnya terlalu "apa adanya". Hahaha....

Wajar ketika beberapa tahun silam, pemerintah kecamatan di kampung sedang melakukan perekaman e-KTP gratis, saya justru tidak pulang meskipun sudah diwanti-wanti oleh bapak. "Ah, saya juga masih punya KTP yang lama, kok," gumam saya dalam hati.

Akan tetapi, beberapa kejadian memutar pemikiran saya. Bagaimana saya tak bisa berurusan dengan kantor pos lantaran KTP yang mati. Bagaimana saya tak bisa menarik uang di rekening lantaran KTP yang kadaluarsa. Bagaimana saya mau kredit kalau tak punya KTP? #nariknapas

Saya juga mulai sadar, kelak saya sangat membutuhkan kelengkapan dokumen seperti itu jika ingin melenggang keluar kota, apalagi keluar negeri. Gara-gara buku torehan anak didik Prof. Rhenald Kasali pula, saya jadi ikut bersemangat memperbaharui dan melengkapi dokumen-dokumen administrasi itu. Satu tujuan akhir: Paspor!

"Untuk apa paspor?"

Ketika diajukan pertanyaan semacam itu pun saya juga tak tahu hendak menjawab apa. Saya hanya terdorong untuk ikut membuat salah satu identitas internasional itu. Itu juga bisa jadi langkah awal saya mengepakkan saya ke belahan dunia lain. Paspor tersedia, ready to go saja, bukan?

Pernah mendengar tentang impian yang dipancangkan pada kenyataan sebetulnya? Seperti saat kita tidak sekadar membuat list/ daftar keinginan dalam hidup kita. Kita bahkan seharusnya membuatkan gambaran real dari keinginan itu.

Semisal "ingin memiliki mobil alphard", maka seharusnya dalam listing itu kita mencantumkan gambar mobil alphard impian kita. Kalau bermimpi punya rumah besar, ya pasang gambar atau foto detail rumah yang diinginkan seperti apa. Itu semacam kolase "masa depan".

Nah, karena kelak saya berharap bisa menginjakkan kaki di negara selain tanah air Indonesia ini, maka saya harus membuat paspor. Selagi semangat saya sedang berapi-api di ubun-ubun, apa salahnya meluangkan waktu dan sedikit uang untuk mewujudkan satu dokumen penting itu?

***

Di kampung halaman, saya mewujudkan satu urusan administrasi itu. Meski awalnya saya mendengar kabar-kabar buruk dan mematahkan harapan terkait pengurusan itu.

"Tidak usah pulang. Blankonya habis. Kalaupun ada, biasanya baru selesai dalam waktu lama,"

"Buat di Makassar saja. Coba cari jalan pintas atau bantuan. Kamu kan wartawan,"

Ditambah, jarak kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) kabupaten cukup jauh dari rumah tempat tinggal saya. Di kantor itulah saya harus mengurus segala urusan kependudukan, termasuk KTP. Letaknya tepat di ibukota kabupaten. Sementara saya bermukim di pelosok pegunungan, yang menghabiskan satu jam perjalanan dari ibukota itu.

Akan tetapi, selagi salah seorang senior di kantor meminjamkan motornya, saya memaksa: harus dicoba!

Dari kantor kelurahan pun saya mendapatkan kata-kata pesimistis serupa dari petugasnya. "Biasanya baru bisa selesai tiga minggu kemudian. Makanya saya juga cuma sempat ambil KTP sementara untuk ngurus rekening bank," jelasnya di tengah mencatatkan surat pengantar. Ia juga memperlihatkan model KTP sementara yang disimpan di dalam tas sebelah mejanya.

Yah, saya sudah bertekad. Saya tak peduli. Kalau belum dicoba, saya takkan tahu hasilnya, bukan? Lagipula, percuma kan saya sudah jauh-jauh enam jam beerkendara dari Makassar - rumah hanya untuk selembar KTP jikalau harus mundur sebelum mencoba? Saya hanya mengangguk-angguk disertai "Oohhh" panjang mendengarkan penjelasan lelaki berperawakan ustadz itu.

Saya berangkat cukup pagi untuk mengantisipasi kalau-kalau ada antrean panjang para pengurus dokumen lainnya. Sayangnya, di ibukota sana pun, saya masih harus mencari-cari lokasi Disdukcapil yang belum pernah saya kunjungi seumur saya berstatus sebagai penduduk Kabupaten Enrekang. Di kepala saya, kata "nyasar" sudah menjadi semacam mantra untuk berani bertanya. *Akh, ini gara-gara ide Prof. Rhenald Kasali lagi.

Kenyataannya, saya menemukan kantor itu lebih cepat dari dugaan. Tak sulit menemukannya. Lokasinya hanya bersebelahan dengan Pasar Sentral di Kabupaten Enrekang.

***

Kini, saya sudah bisa menikmati kartu kependudukan yang baru. Tak tanggung-tanggung, jenis pekerjaan yang tertera di KTP adalah "wartawan". Yah, bangga juga rasanya sudah punya pekerjaan sesuai dengan keinginan dan kekinian. Hahahaha.....

Maaf ya, bapak. Biarpun saya disarankan atau dipaksa jadi Pe-En-Es, saya lebih memilih mengikuti kata hati. Karena sejatinya saya ingin berbahagia dengan pilihan saya sendiri.
Ternyata, apa yang saya takutkan tidak banyak terjadi. Pembuatan kartu kependudukan itu cukup singkat. Setelah mengajukan Kartu Keluarga dan Surat Pengantar, perekaman wajah, mata, dan sidik jari langsung dilakukan.

"Katanya sekitar tiga minggu ya baru selesai kartunya, mbak?" tanya saya penasaran.

Wanita muda yang memandu perekaman saya hanya menanggapinya tersenyum dan membalas, "Ndak kok. Nanti silakan dicek sebelum waktu istirahat. Biasanya sudah bisa diambil."

Padahal waktu istirahat masih dua-tiga jam lagi. Mau menunggu di kantor itu, pasti agak membosankan. Mau menunggu di rumah teman, saya tak punya kenalan siapa-siapa di kota Enrekang ini. Alhasil, di kepala saya terlintas satu tempat alternatif, yang juga selama ini membuat saya penasaran: perpustakaan kota.

Di tempat itulah saya menghabiskan waktu "menunggu" dengan buku-buku bacaan apa-adanya. Buku 168 Jam Dalam Sandera, dari Meutya Hafid, wartawati yang pernah disandera saat konflik pemilihan presiden di Irak jadi selingan sekaligus membangkitkan rasa penasaran terhadap ceritanya. Oke, list bacaan saya berikutnya adalah buku itu. Namun entah bagaimana memperoleh buku keluaran lama itu.

***

Saya belajar, untuk urusan administrasi semacam itu tak perlu jadi momok. Saya membuktikan segalanya bisa diselesaikan sesuai perkiraan. Apa yang ditakutkan justru melenceng dan menjadi bayang-bayang semata. Keesokan harinya, saya sudah bisa mengambil e-KTP seperti yang dijanjikan para petugasnya. Lengkap beserta label pekerjaan barunya yang tak-lagi-pelajar-atau-mahasiswa.

Selama apa yang dilakukan benar-benar berdasar kemauan dan kesungguhan, percayalah, alam selalu berkonspirasi membuka jalan. Oiya, seperti kata Prof. Rhenald Kasali kepada mahasiswa-mahasiswanya yang bakal mengurus paspor:


 "If you really want to do something, you'll find a way. If you don't, you'll find an excuse,"


--Imam Rahmanto--

Jumat, 27 November 2015

Medan Story#4

November 27, 2015
....sambungan dari sebelumnya

"Oiya, si Malin Kundang juga berasal dari sini, ya?"

"Ah, bukan. Malin itu asalnya dari Minang sana, Bang, Sumatera Barat,"

Ah, iya. Saya gelagapan baru ingat, legenda asal Sumatera Utara yang dikisahkan turun-temurun di buku Bahasa Indonesia jaman SD dulu adalah Danau Toba.

***

Berkunjung ke Medan, tak lengkap rasanya jika tak mencoba salah satu objek wisata andalannya. Akan tetapi, banyak orang (termasuk saya) yang salah kaprah menyangka wisata Danau Toba hanya berhitung sepelemparan batu dari ibukota provinsinya.

"Jarak kesana, kalau hitungan jam sekitar 4 jam, Bang,"

Saya sendiri baru menyadari, bertanya tentang "dimana-Danau-Toba" itu kepada orang Medan, sama halnya dengan bertanya "dimana-Tana-Toraja" kepada orang Makassar. Keduanya punya kasus yang serupa; menyangka objek wisata andalan berdempetan dengan ibukota provinsinya. #tepokjidat

Kalau dipikir-pikir, jarak sejauh itu sangat sayang dihabiskan di sisa sehari bermukim di kota Medan. Total delapan jam bakal habis di perjalanan. Sementara, waktu sebanyak itu sebenarnya bisa dihabiskan dengan mengunjungi tempat-tempat "fresh" lainnya di kota Medan. Mungkin seperti, kota bangunan tua Kesawan, Kampung India, atau Istana Maimun, yang saban hari selalu kami lewati.

"Tapi anak-anak (atlet) banyak yang mau kesana. Bos-bos juga sudah menyetujui," ucap seorang kawan saya lagi. Kalau sudah suara mayoritas, saya mau apa lagi?

Untuk berjaga-jaga, saya mencoba mengontak satu-dua orang teman dari Medan. Yah, saya (kami) punya kenalan dari anak-anak lembaga pers kampus dulu. Dengan harapan, ada yang bisa membantu saya "melarikan diri" dari wisata ke Danau Toba.

Salah seorang teman perempuan sebenarnya sudah mengiyakan bakal mengantar saya berkeliling tempat-tempat menarik di kota Medan. Jaraknya rumahnya, kata perempuan manis itu, hanya 45 menit dari hotel kami menginap. Sayangnya, jelang keberangkatan ke Danau Toba, jalur komunikasi dengannya terputus sama sekali. Sehari setelahnya, saya baru dikabari bahwa hapenya ketinggalan saat ia mengunjungi kerabat ke Berastagi.

Ya sudah... Berangkatlah saya dengan segala bayangan tempat menarik lainnya di kota Medan (yang saya sesali tak dikunjungi sedari awal) berputar-putar di kepala.

***

Sebagai tamu dari tuan rumah penyelenggara kegiatan, transportasi kami cukup dipermudah. Dua bus pariwisata mengantarkan kami ke empat jam perjalanan ke depan. Sudah malang akan menghabiskan 4 jam yang cukup lowong, kamera pinjaman pun tak bisa terpakai. "Lantas, apa yang bisa saya perbuat dengan kamera hape segini?" gerutu saya dalam hati sembari mematut-matut hape-yang-sungguh-malang.

Saya tak ingat betul, lokasi-lokasi mana saja yang sempat kami lalui. Di kepala saya hanya teringat jelas bagaimana guide kami, bernama Pak Robin, menjelaskan satu-dua-banyak hal terkait Medan hingga Sumatera Utara.

"Kalau Horas, itu salam umumnya di Medan. Nah, nanti kalau di Toba atau (Kabupaten) Karo, mereka tidak mengenal sapaan semacam itu. Mereka lebih akrab dengan sapaan khasnya, 'Mejuah-juah'", jelas pemandu kami yang kelihatan berusia kepala empat itu.

"Mejuah-juah!"

Ia juga menjelaskan perihal lima cabang suku Batak yang asli. Diantaranya seperti Batak Karo, Batak Fakfak, Batak Simalemun, Batak Toba, hingga Batak Mandailing. Dari lima "akar" batak itulah, suku-suku Batak lain beranak-pinak dengan masing-masing marga kebanggaannya.

Pemaparan yang menarik. Hal-hal baru memang selalu mengundang banyak tanya. Lumrahnya, beberapa penumpang di dalam bus bergantian bertanya tentang,

"Kalau marga Simorangkir, itu Batak apa?"

"Itu agama apa? Islam atau Kristen?"

dan berlanjut beberapa pertanyaan yang sama, hanya label "marga"nya dan "religi"nya saja yang berbeda karena dilontarkan penumpang berbeda.

Hampir lupa, di Medan (atau Sumut) penduduk mayoritas memang beragama Kristen. Tak heran, di sepanjang jalan kota, warung-warung makan saling berlomba memperdagangkan BPK. Di baliho-baliho warung tercantum dengan gamblangnya, "Menyediakan BPK".

BPK atau Babi Panggang Karo adalah makanan favorit warga Medan. Tak ada yang tak mengenali satu jenis makanan berbahan dasar daging ini. Bahkan, disajikan dalam dua varian, B1 (babi) dan B2 (anjing). Tentu saja, bagi pengunjung yang beragama Islam dilarang keras mengonsumsi makanan ini.

"Begitulah di Medan ini. Makanya tak perlu heran banyak anjing juga berkeliaran. Tapi ada cerita lucunya,"

"Coba perhatikan, setiap anjing yang berkeliaran di area pemukiman pasti ekornya berdiri tegak. Tapi, coba saja kalau lewat di depan warung BPK,ekornya malah turun sambil nunduk-nunduk," ujar Pak Robin yang disambut tawa seluruh penumpang setelah mereka sempat sejenak berpikir.

Memasuki Sibolangit, suhu udara bisa mencapai 20 derajat celcius. Kalau dibanding-bandingkan, suhunya lebih dingin daripada alam Malino di Sulawesi Selatan. Tetapi, saya justru menyukai suhu sedingin itu. Di kota kami, Makassar, polusi sudah berjamur dengan cuaca panas yang tak kunjung mendatangkan hujan. Gerah. Kapan-kapan, untuk berjalan-jalan, saya lebih memilih tempat tujuan bersuhu sejuk atau dingin.

Di daerah pegunungan ini masih terasa nuansa asrinya. Meski bus kami harus menanjak dan berbelok, kami disuguhi pemandangan yang sedikitnya tertutup kabut. Kalau tak salah, dari lokasi itu, kami juga bisa menyaksikan Gunung Sinabung yang hingga kini masih aktif.

Karena masih kental dengan pegunungan, mata air juga cukup melimpah di Sibolangit. Banyak penduduk yang memanfaatkan air pegunungan untuk kehidupan sehari-hari. Bahkan, salah satu produk air kemasan Aq*a juga mendirikan salah satu pabrik besarnya disini. Kami sempat disuguhi pemandangan betapa besarnya pabrik yang menampung mata air untuk dikomersilkan itu.

"Di sekitar sini, banyak truk-truk yang juga singgah untuk mencuci mobil. Gratis dan melimpah soalnya, Bang. Sebagian besar malah mendistribusikan air-air bersih dari pegunungan sini," jelas pemandu kami. Mata saya mematut pemandangan truk-truk terparkir di pinggir jalan yang ditingkapi terpal di masing-masing baknya.

Nampaknya Sibolangit memang menyimpan banyak cerita. Sayangnya, ini hanya perjalanan "sekadar lewat" kami. Masih ada sekira dua jam mencapai Danau Toba, oh ya lebih tepatnya Taman Simalem Resort...


--Imam Rahmanto--

Minggu, 22 November 2015

Separuh Hati Perempuan

November 22, 2015
Tuhan Maha membolak-balikkan hati manusia. Sementara manusia tak pernah bisa mengubah masa lalunya. Lantas? Yah, karena keduanya selalu punya kaitan yang tak terelakkan, antara perasaan dan masa lalu.


***

Ini tentang perempuan. Tentang mereka yang kerap saya temui masih menjunjung masa lalu di kepalanya. Mereka seolah tak terbebani dengan senyum-senyum sumringahnya. Terkadang tawa lepasnya adalah beban yang menekan terlampau padat. Bukankah beban perasaan cenderung lebih menyiksa ketimbang beban pikiran?

Sebulan lalu, saya dan beberapa orang bertemu. Bercerita segala hal. Yah, saya lebih menyukai bercerita bukan-soal-pekerjaan saat duduk di beranda kafe atau menghadapi segelas minuman hangat. Pekerjaan seharian sudah terlalu padat untuk diisi lagi dengan pikiran-pikiran semacam itu.

Sebagaimana saya mengenal teman yang satu ini, ia masih menyimpan rapat seorang lelaki yang tak lagi bersamanya. Lelaki yang dulu sangat diidamkannya, diintip diam-diam, hingga akhirnya mereka menjalin hubungan yang harus kandas. Entah karena apa.

"Saya tak bisa melupakannya. Mau bagaimana lagi? Ndak tau kenapa begitu," kata seorang sahabat.

Hingga kini, ia masih sulit menyukai lelaki lain. Atau entahlah. Mungkin juga sudah pernah ada lelaki lain yang mengutarakan perasaaan padanya. Hanya saja, kepalanya masih rentan dengan lelaki "terbaik"nya itu.

Tetiba, ingatan saya dibawa ke masa  saya menjumpai perempuan serupa. Saat dimana saya mencoba menyelami kehidupan perempuan yang masih menjunjung kenangan di pelupuk matanya. Tak jarang, air mata mengalir dari ujung kelopaknya seiring ingatan yang lepas satu-satu tentang lelakinya.

Seberapa kerasnya saya mencoba menjadi orang baru bagi perempuan itu, ia tetap menyimpan memori tentang orang tersayangnya. Akan tetapi, saya terlanjur egois "memaksakan" seorang perempuan untuk menutup masa lalunya. Padahal, mengingat masa lalunya bukan berarti ingin kembali bersama lelakinya. Mungkin, ia hanya rindu. Itu saja.

Seorang teman lainnya, dua malam lalu, juga bercerita tentang seorang teman perempuan kami yang sudah melepas masa lajangnya. Ia sudah menikah dan kini hidup berbahagia dengan kekasih semasa kuliahnya itu.

"Kau tahu seperti apa sehari menjelang akad pernikahannya dilangsungkan? Saya ikut menangis dibuatnya," ujar teman itu bercerita mengenai sahabatnya.

Sahabatnya itu, katanya, masih menyebut-nyebut lelaki (baca: mantan pacar semasa SMA-nya) lain. Ia bercerita banyak tentang lelaki itu di hadapan teman saya sembari berurai air mata. Ia tak mampu membendung masa lalunya yang meluncur bagai air bah.

Lelaki yang disebutkannya itu juga sahabat saya. Beberapa malam lalu kami sempat berkumpul kembali lantaran dipanggil oleh Bunda yang sedang berada di kota ini. Bunda sedang mengantarkan adik-adik SMA yang hendak mengikuti lomba di kota ini. Pun, saya masih senang meledek-ledeknya dengan perempuan yang pernah menjadi kekasihnya di masa SMA itu.

"Ia sudah menikah, lantas kamu kapan? Menyelesaikan sarjanamu saja belum," yang hanya bisa disambut senyum mesam-mesem olehnya.

Akan tetapi, toh semua itu hanya pelengkap cerita masa sekarangnya. Lelaki itu, kini juga sudah punya kekasih. Sementara perempuannya (teman kami itu), juga sudah melangsungkan pernikahannya. Ingatannya hanya sekadar luapan kenangan yang ingin dibawa kembali, bukan dirasai kembali.

Jikalaupun kami berkumpul kembali, diantara keduanya tak ada lagi perasaan ingin menjalin hubungan seperti dulu. Meski masing-masing sebenarnya mengakui, masa itulah yang terindah. Namun kita sejatinya bukan hidup di masa lalu, kan?

"Just beause the past didn't turn out likke you wanted it to, doesn't mean your future can't be better than you ever imagined,"

***

Tentang masa lalu itu, perempuan memang kerap terlalu rapat menyimpannya. Jikalau perempuan sudah menyayangi seseorang yang teramat berkesan baginya, entah yang pertama atau ke sekian, ia sejatinya memang sudah siap melepas separuh hatinya. Dan diserahkannya separuh hati itu kepada lelaki yang istimewa menurutnya.

Separuh hati perempuan itu akan dibawa pergi kemana pun lelaki meninggalkannya. Seketika itu, perempuan mesti menyadari bahwa lelaki itu bakal memenuhi ingatannya setiap waktu. Ketika berpisah, kalau tak baik, maka separuh hati itu masih akan terbawa-bawa.

Ketika perempuan tak meminta hatinya kembali, secara baik-baik, seumur hidup ia akan terbebani masa lalunya dengan lelaki itu. Separuh hati itu menjadi semacam penghubung tak kasat mata kenangannya dengan lelaki itu.

Saya menyadari, perempuan-perempuan yang masih menjunjung masa lalunya itu bukan berarti ingin kembali bersama lelakinya. Mereka hanya teringat, terbayang-bayang, atau sekadar rindu. Bagaimana tidak, separuh hatinya masih pergi bersama lelakinya. Ada semacam ikatan "rindu" yang semestinya ingin diselesaikan agar tak melukai terlalu jauh.

Kelak, ketika kamu bertemu perempuan yang separuh hatinya juga masih direngkuh lelaki lain, jangan kecewa. Biarkan ia. Pahami. Bantu ia melewati masa sulit itu, sembari tetap mengingatkan, engkau hanya akan hidup untuk masa depannya.



--Imam Rahmanto--

Selasa, 17 November 2015

Paspor dari Profesor

November 17, 2015
Belakangan ini, menyelesaikan satu buku bacaan saja sangat susah. Saya harus mencari-cari (hingga mencuri-curi) waktu demi menamatkan satu buku yang sudah menetap di kepala. Ada beberapa buku yang mengantri dan ingin dibaca sekaligus.

***

(Foto: ImamR)

"Life is negotiable," --Rhenald Kasali                                                                                   

Kemarin, saya baru saja menyelesaikan satu buku yang telah lama saya incar-incar. Saya justru menemukannya di kota lain, Medan. Itu lantaran di kota Makassar, Gramedia selalu kehabisan stock setiap kali saya mengecek dua mall besar disana.

Pernah mendengar buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor? Kalau belum, maka cari dan bacalah! Saya teramat-sangat merekomendasikannya.

Buku yang ditelurkan lewat pemikiran "self driving" seorang dosen nyentrik Universitas Indonesia (UI) ini sungguh mencerahkan. Yah, sekaligus membuat saya menggebu-gebu ingin membuat paspor! Ya, passport! Tanpanya, saya takkan pernah bisa menginjakkan kaki ke luar negeri.

Gara-gara membaca tulisannya pula, saya terdorong membaca tulisannya yang lain.

Buku setebal 328 halaman ini dirangkum oleh J.S Khairen, yang berisi kumpulan kisah perjalanan 30 mahasiswa "nyasar" di luar negeri. Sebenarnya, mereka tidak benar-benar kesasar dalam artian sesungguhnya. Akan tetapi, tugas dari "pemikiran unik" Prof. Rhenald Kasali di kelasnya lah yang memaksa mereka berpetualang sendirian ke luar negeri.

Negara yang berbeda, kisah yang berbeda. Semua bermula dari kelas sang Profesor dengan mata kuliah Sang Profesor, Pemasaran Internasional (Pemintal). Setiap mahasiswa diwajibkan memilih salah satu negara tujuan observasi.

Negara yang dituju tak boleh berbahasa melayu dan bahasa Indonesia, semisal Malaysia, Singapura, atau Brunei. Satu orang pun tak boleh memilih negara yang sama dengan teman-teman lainnya. Ditambah lagi, mereka harus pergi seorang diri ke negara tujuannya, tanpa keluarga, sanak saudara, atau teman.

"Uang untuk beli tiketnya bagaimana, Pak?"

Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari.uang. Begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin. --Rhenald Kasali

Dan bertebaranlah para mahasiswa kampus UI itu di pilihan negaranya masing-masing. Berbekal pengalaman dan Bahasa Inggris seadanya...

Buku dua seri ini membuktikan bahwa perjalanan keluar negeri memang bisa dilakukan seorang diri meski berbekal kenekatan. Uang, mungkin jadi pilihan ke sekian dari beberapa kendala yang menghadang. "If you really want to do something, you'll find a way. If you don't, you'll find an excuse," Jim Rohn said.

Saya punya seorang teman yang sudah pernah melakukan perjalanan serupa seorang diri. Biaya perjalanannya ia tabung dari hasil kerja setahun sebagai Barista di salah satu kafe franchise. Hasilnya? Lebih sebulan ia berpetualang ke beberapa negara di Asia; Malaysia, Thailand, Filipina, hingga China. Meskipun sebenarnya, kata dia, masih melenceng dari target awal perencanaannya.

Bahkan, salah satu mahasiswa yang berkisah di dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor itu, Delinda, pernah saya temui di kampus UI. Di kepala saya masih jelas tertampung nama perempuan kecil yang menjadi L.O (pemandu) kami dalam event Journalist Days, nyaris 3 tahun silam. Seperti diceritakannya, ia sukses menginjakkan kaki di negara impiannya, Korea Selatan.

Saya sungguh suka dengan pemikiran Prof. Rhenald Kasali. Ia termasuk dosen yang suka berpikir "out of the box". Tugas di kelasnya tak melulu soal paper, soal, atau bacaan. Ia justru menunjukkan praktek langsung menjalani kehidupan, termasuk saat memberikan tugas membuat paspor kepada semua mahasiswanya. Seandainya semua dosen di kampus saya juga begitu...

Meski buku ini tak ditulis langsung olehnya, buku ini menjadi bagian dari penerapan self driving yang kerap disampaikannya kepada mahasiswa. Seperti saat membaca pengantar Pak Rhenald di awal membuka buku ini, saya ikut tertampar. Itu juga bagian terpentingnya.

Cerita-cerita yang menarik tentu menjadi suguhan buku ini. Banyak hal unik yang terjadi di negeri orang. Mulai dari bagaimana beradaptasi soal bahasa, mencari lokasi lewat peta, memanfaatkan transportasi yang tersedia, hingga cerita-cerita berkesan saat berteman dengan penduduk lokal. Semua cerita disajikan dengan gaya bahasa masing-masing penulisnya. Wajar, jikalau membaca buku tidak akan habis dalam sekali seruput cappuccino.

"Kita pergi jauh untuk menyadari dimana rumah kita yang sebenarnya." --hal.21             

***

Duh, Pak Rhenald, gara-gara pemikiran-pemikiran Anda yang unik, saya jadi tergoda ingin berbincang banyak hal dengan Anda. Kelak, mari kita bertemu sekadar mengobrol ringan di kedai kopi langganan Anda. Mungkin, tak jauh dari kampus tempat Anda mengajarkan "self driving". ^^

Saya juga suka sampul bukunya. Selanjutnya, cerita siap dilanjutkan ke buku keduanya. (Foto: ImamR)


--Imam Rahmanto--

Minggu, 15 November 2015

Medan Story#3

November 15, 2015
*Sambungan dari sebelumnya

Hidup di kota orang, nyatanya bisa membuat saya bangun lebih awal. Kasur empuk justru membuat kualitas tidur makin baik. Padahal saya agak cemas tidur di tempat yang kelewat nyaman. Khawatir terlalu menikmati tidur dan abai di awal waktu.

Di hotel kami menginap, sarapan sudah menjadi pelayanan sepaket tiap hari. Tinggal turun 16 tingkat dari kamar di lantai 17. Untuk pertama kalinya, saya mendapati prasmanan ala hotel berbintang lima. Yah, mau makan apa saja, semua sudah tersedia. Mulai dari nasi, hingga cemilan kue atau roti. Tak ketinggalan minuman hangat di pagi hari.

Naris kehilangan momen menyeruput cappuccino. Tahu sendiri, kan? Kalau tidak menikmatinya pagi-pagi atau malam, terasa ada yang kurang dalam hidup saya. #sadaap. Beruntung, saya masih bisa mendapatkannya di minimarket seberang hotel. Apalagi di dalam kamar juga sudah tersedia teko pemanasnya.

Oiya, kamar hotel 1710 dihuni saya dan dua orang karyawan dari Production House (PH) yang disewa perusahaan untuk mendokumentasikan acara dan mengolah video teaser. Lantaran berlabel mewah, kamar mandi pun sudah berlabel mewah seperti di film-film. Mau nangis di bawah pancuran? Bisa. Mau berendam sambil luluran? Bisa.

Saya bertemu dengan banyak orang di ruang makan. Atlet dari kontingen Pelindo lainnya juga ikut meramaikan tiap sarapan pagi. Sebenarnya, saya masih belum banyak mengenal para atlet dan petinggi di lingkup kontingen kami. Keakraban saya bermula dari kontingen futsal, yang memang selalu saya ikuti perkembangannya sebelum berangkat ke Medan. Akan tetapi, di beberapa hari ke depan, saya tak canggung lagi berinteraksi dengan mereka. Beberapa orang bahkan sangat akrab.

Pagi-pagi benar saya harus mengikuti pelaksanaan masing-masing cabang olahraga (cabor). Itu berlangsung hampir empat hari. Saya menjelajah dari satu cabor ke cabor lain. Pun, lokasinya masing-masing berjauhan.

"Kita sengaja buat berjauhan, Bang. Biar pegawai-pegawai Pelindo yang belum pernah main ke Medan bisa rasakan suasananya, keliling-keliling kota," ujar salah seorang panitia.

Sayangnya, kendaraan tak memadai untuk bisa mencapai semua lokasi itu. Harus memilih satu diantara cabor yang bertanding nyaris bersamaan. Lagipula, dalam pelaporan event seperti ini, saya hanya perlu melaporkan secara keseluruhan, umumnya perolehan medali dan perkembangannya.

Universitas Negeri Medan (Unimed) termasuk salah satu venue pembukaan Porseni tersebut. Disana, tiap kontingen akan menampilkan parade defile-nya. Kalau tak tahu apa yang dimaksud defile, itu semacam parade perkenalan masing-masing kontingen. Biasanya dimeriahkan dengan yel-yel maupun tarian. Salah satunya, kontingen Pelindo IV yang memadukan kultur budaya tiap wilayah yang diwakilinya.

Kampus Unimed tergolong luas. Lokasinya agak menjorok di tengah kota. Berbeda dengan kampus Universitas Sumatera Utara (USU), yang berada di pinggiran kota. Ibarat keduanya seperti UNM dan Unhas di kota Makassar.

Sayang beribu sayang, di Medan, saya tak punya banyak waktu santai. Event berlangsung hingga petang. Waktu berjalan-jalan hanya bisa dicuri di sela waktu istirahat pertandingan. Malam hari sebenarnya bisa jadi waktu yang strategis. Hanya saja, saya masih belum berani mengambil langkah terlalu jauh sendirian disana. Saya masih harus menghubungi satu-satu kenalan yang ada di Medan.

"Kita mau jalan-jalan juga tidak ada kendaraan. Tak tahu arah pula," ujar salah seorang teman dari kontingen. Kesempatan cuci mata hanya ada di sekitar Cambridge Mall, yang bersisian langsung dengan hotel.

Dan sialnya, kamera (pinjaman) DSLR yang saya bawa harus kehabisan daya di hari pertama. Parahnya lagi, saya tak membawa chargernya. Diantara beberapa fotografer (humas) yang saya temui di hotel, tak satu pun yang punya charger dengan tipe baterai serupa. #duhh pening pala Abang



--Imam Rahmanto--

*Kesempatan menuliskan ini juga seyogyanya sejak kepulangan saya seminggu lalu. Tetapi, tahulah, saya agak kesulitan menyorongkan waktu bagi diri sendiri. Ada yang hilang; waktu.

Minggu, 08 November 2015

Medan Story#2

November 08, 2015
...sambungan dari Di Tanah Melayu Deli


"Disini, ada satu kendaraan yang berbahaya,"

Ridha, salah seorang pemandu mencoba mengambil perhatian kami yang sebagian masih dilanda jetlag. "Apa itu?" salah seorang penasaran bertanya.

"Becak gitu," sembari tangannya menunjuk keluar jendela bus, "kalau udah jalan di tengah kota, hanya Tuhan dan supirnya yang tahu kapan dia berhenti (mendadak)."

Penumpang seisi bus tertawa. Saya pernah mendengar lelucon serupa. Di kota kami, lelucon itu diutarakan untuk mobil angkutan umum, pete-pete. Salah satu kendaraan penyebab kemacetan kota, kendati membawa ragam kehidupan di dalamnya.

Ah ya, sedari meninggalkan bandara, saya melihat ada banyak kendaraan beroda tiga serupa becak berlalu-lalang di jalan-jalan kota. Jumlahnya bersaing dengan mobil angkutan umum. Dilihat sepintas, kendaraan itu mirip dengan angkutan khas di kota kami, becak motor a.k.a Bentor. Akan tetapi, ada yang berbeda dari bentuknya.

Becak mesin, khas Medan. (Foto: ImamR)
Di Medan, ternyata orang-orang mengenalnya dengan sebutan becak. Kata teman saya, ada dua ragam becak; becak mesin dan becak dayung. Di kota ini, bahasa Melayu masih kental dipakai dalam keseharian. Serupa kendaraan mobil yang disebut "kereta" oleh orang-orang Melayu.

Becak Mesin, masih serumpun dengan bentor di Makassar. Pun, penggunaannya tak banyak berbeda. Hanya modelnya saja yang cukup "aman" bagi penumpang. Itu lantaran kemudi supir dengan motornya berada di sebelah kanan ruang penumpang.

"Ini justru lebih safety dari bentor ya. Di Makassar, kalau ada apa-apa, justru penumpang yang jadi tameng di depan supirnya," tukas salah seorang teman saya.

Becak dayung? Hanya berbeda dari kendaraan pengangkutnya, sepeda. Di Medan, mendayung artinya sama dengan mengayuh pedal sepeda. Saya sempat salah mengartikannya sebagai mendayung di atas permukaan air, tak jauh dari perahu.

Saya tak lepas mengamati kendaraan khas kota itu. Justru, kendaraan tradisional sangat jarang melintas di jalan-jalan kota. Saya berpikir, nampaknya, becak-sepeda memang tak populer di kota ini.

Di samping modelnya yang lebih sederhana, motor yang dipakai sebagai "gandengan"nya juga bukanlah motor-motor keluaran terbaru. Sebagian besar justru memanfaatkan motor "laki" keluaran lama seperti GL-Pro, CB, dan sejenisnya. "Makanya, mungkin biaya ngebuatnya jauh lebih murah ya?" sambung teman saya lagi.

Keramaian kota Medan nyaris tak jauh berbeda dengan kota Makassar. Lalu lalang kendaraan tiap menitnya. Kemacetan di jam-jam sibuk. Gedung-gedung tinggi yang menjulang. Pasar dan mall yang terpisah di setiap kepadatan. Para pengemis yang masih bertahan satu-dua di lampu merah.

Akan tetapi, dari sisi estetika, saya cukup menyukai kota Batak ini. Kendati banyak tergusur dari para keluarga Tionghoa (keturunan China), pemerintah masih kukuh mempertahankan beberapa bangunan kolonialnya. Di beberapa ruas jalan, saya melihat beberapa bangunan milik pemerintah (bahkan swasta) yang dipugar tanpa meninggalkan nilai sejarahnya.

Gedung-gedung tinggi juga menjamur lebih banyak di Medan. Kota kami masih kalah banyak. Tetapi, itu mungkin hanya sementara, lantaran kota kami juga sedang giat-giatnya membangun gedung perhotelan hingga apartemen. Sebentar lagi, ketika Center Point of Indonesia (CPI) prakarsa Ciputra selesai dibangun di tepian Losari, Makassar bakal menjadi kota ramai hingar-bingar. Saya secepatnya harus mencari kedamaian dan perjalanan baru di luar kota.

Di kota kami, bangunan-bangunan tua mulai diruntuhkan. Berganti usia dengan kemegahan tatanan kota. Penglihatan makin sempit. Ruang makin menipis. Pantai kian terkikis. Kami harus berlomba-lomba menghirup udara segar yang dicemari polusi tak bersuara.

Mungkin, satu-dua bangunan tetap dipertahankan pemerintah. Hanya yang berlatar sebagai objek wisata, seperti benteng atau museum. If you know what i mean. Pemerintah kami terlalu sibuk membangun tatanan kota dunia tanpa peduli bangunan-bangunan yang mengingatkannya pada sejarah. Di tengah slogan andalan yang selalu bernuansa etnis daerah, bangunan-bangunan mewah dipugar tanpa henti.

Sungguh, di tanah Batak ini, kultur budaya dan estetika tempo doeloe-nya masih cukup menggiurkan bagi sebagian isi kepala saya. Mungkin, di suatu waktu nanti, menjadi pembuka jalan untuk kembali mengunjunginya...

***

Saya bersama rombongan atlet dilabuhkan di hotel berbintang lima. Jangan tanya seberapa tinggi gedungnya. Apalagi pelayanan kamarnya. Semua ada di tingkatan zona modernisasi. Untuk orang-orang sekelas saya, banyak hal-hal mewah yang masih luput di kepala.

Hanya berselang beberapa jam kedatangan, beberapa manajer cabang olahraga (cabor) harus mengikuti technical meeting Porseni, yang bakal dibuka besok. Sebagian orang memutuskan berisitirahat di kamar masing-masing. Tersisa saya, yang di saat-saat akhir baru mendapatkan kamar di lantai 17.

"Kamu ikut saya," ujar salah seorang pria saat bertemu saya di depan lift. Ia terlihat sibuk mondar-mandir kesana-kemari. Ia juga termasuk rombongan kami.

Awalnya, saya mengira dia salah satu petinggi perusahaan. Kelak, saya baru tahu bahwa ia merupakan pemilik PH (Production House) yang disewa perusahaan untuk mendokumentasikan event dua tahunan ini. Yah, termasuk karena ia dan seorang anggotanya berbagi kamar yang sama dengan saya.

Sembari mengecek GPS gadget, mengamati peta kota, mencari satu-dua tempat menarik dekat hotel, saya tertidur pulas di atas kasur hotel yang tak pernah saya rasai selama hidup di kost-kostan.




--Imam Rahmanto--


*Saya baru tahu, ternyata hari ini diperingati sebagai Hari Capuccino Dunia. Mari bersulang!!

Rabu, 04 November 2015

Di Tanah Melayu Medali

November 04, 2015
 
(Foto: Imam R)

Horas!

Selamat datang di kota Medan.

Seperti mimpi saja ketika menginjakkan kaki di Bandara Kuala Namu. Perjalanan nyaris sembilan jam sudah bertemu hulunya. Sebuah kota yang dikenal dengan julukan Melayu Deli. Horas!

Sejatinya, perjalanan Makassar - Medan hanya menghabiskan waktu sekira empat jam. Akan tetapi, pesawat mesti transit dahulu di ibukota negara, Jakarta. Terkadang mampir di bandara itu bisa menghabiskan waktu hingga empat jam lamanya.

Gak apa-apa sudah. Saya tetap excited bisa tiba di kota Medan dengan selamat sentosa, hanya kekurangan barang bawaan. Kepala masih pusing gegara jetlag harus ditambahi "bonus" deadline berita yang meminta segera dikerjakan. Selisih waktu sejam antara Medan dan Makassar memaksa saya memenuhi tuntutan yang lebih cepat. Mengetik berita di dalam kendaraan yang sedang melaju, jadi pening pala aku...

***

Dua hari sebelumnya...

Medan seolah tak pernah masuk dalam daftar kota "wanna go" di kepala saya. Kendati menyaksikan beberapa teman pernah kesana, bercerita satu-dua bagiannya, saya tak begitu tergiur merancang perjalanan kesana. Dalam benak saya, kota itu sudah terpatok sebagai "tak-jauh-beda-dengan-Makassar". Saya jauh tertarik ke Kota Pelajar, Yogyakarta.

Tuhan memang selalu bekerja tak terduga.

"Oke, kamu berangkat ya. Sudah dipesankan tiket. Butuh surat atau tidak?" tanya suara dari seberang telepon.

Saya sedang duduk sendirian menyelesaikan satu-dua berita di tepian Lapangan Karebosi. Sesekali melirik orang-orang yang terobsesi menurunkan berat badannya. Otomatis, jantung saya berdetak tak biasanya, hidung saya sudah kembang kempis, bibir saya tak henti menyunggingkan senyum.

Saya sudah lama mengenal orang di ujung telepon itu. Diawali liputan perdana saya untuk perusahaannya, yang sementara menggelar turnamen olahraga. Dari hasil menggali informasi, mereka sedang menyiapkan bertandang di acara olahraga yang lebih besar di Medan.

Di dunia sekarang, saya belajar untuk lebih banyak mengenal orang lain. Lebih banyak berinteraksi. Menantang hingga mencoba hal-hal baru. Menyatukan semuanya dalam sebuah hubungan pertemanan. Yah, bagi saya (selalu), tak ada yang namanya rekan kerja. Otak kita sudah terlampau sumpek dengan istilah serba formal seperti itu. Apa susahnya kita menyebut semua orang sebagai teman kita?

"Siap, Pak. Nantilah saya coba tanya orang di kantor dulu. Apa butuh surat atau tidak," jawab saya segera.

"Jangan lupa besok ya pelepasannya," balasnya lagi.

Ajakan liputan keluar kota itu nyaris membuat saya melompat kegirangan. Saya hendak mengabarkannya kepada redaktur, yang sejak awal sudah mewanti-wanti untuk membangun dan menindaklanjuti hubungan dengan perusahaan itu.

Sedari awal, saya tetap memancang target ke kota itu. Tak ada salahnya memasang banyak target dalam list wanna go saya. Itu semacam doa tak kasat maya yang selalu memaksa sya berusaha melebihi batas kemampuan yang dimiliki.

Bagaimanapun, saya memang punya impian bisa mengunjungi banyak tempat. Selagi muda, mengunjungi kota-selain-Makassar adalah hal wajib. Go anywhere, know anyone...

***

Sehari sebelumnya...

"Besok ikut juga, kan?" tanyanya usai pelepasan kontingennya di halaman kantor perusahaannya. Pelepasan itu dihadiri langsung Direktur Personalia dan SDM-nya.

"Iya, Pak. Berangkat jam berapa?"

"Pagi-pagi, jam 7 kumpul di bandara,"

#jlebb. Saya punya kebiasaan bangun lewat dari jam itu. Entah kenapa semenjak dibebani desk olahraga, ritme pagi saya mulai terganggu. Tapi kelak, di kota Melayu Deli, ritme bangun lebih pagi saya kembali seperti sedia kala.

"Oke, Pak," tanpa tahu, saya harus mengakali apa bangun pagi nanti. Tetapi harus bangun pagi! Ini demi kemaslahatan saya...

"Tapi, saya butuh suratnya. Bisa, kan?" tanya saya lagi.

"Bisa. bisa. Atau saya kirimkan lewat email saja ya nanti?"

"Oke deh, Pak,"

***

Hm, namanya hal-hal baru memang selalu menawarkan kesegaran tertentu. Pikiran seolah terputar kembali menyisakan ruang untuk pengalaman-pengalaman baru. Bonus: teman-teman baru pastinya.

Buktinya, di bandara, saya bisa hadir lebih awal. Beberapa orang yang saya titipkan pesan untuk membangunkan di pagi hari ternyata tidak lebih mujarab dari usaha saya sendiri. Entah bagaimana prosesnya, kepala saya terparkir saja di pagi keberangkatan itu.  Itu seolah ada kekuatan (atau luapan perasaan gembira) yang berkata lewat alam bawah sadar saya, "Ayo, sudah saatnya bangun pagi!"

Dari bandara terbesar kedua di Indonesia, perjalanan kami menghabiskan waktu selama hampir dua jam. Sepanjang perjalanan, mata saya tak henti mengamati bangunan kota. Jalan. Gedung-gedung megah. Kios. Rambu-rambu. Poster. Baliho. Perempuan manis.

Sepintas, suasananya tak jauh beda dengan kota Makassar. Keramaiannya nyaris serupa. Hanya logat bahasanya saja yang berbeda. Pun, gedung-gedungnya, lebih menawarkan banyak kemegahan. Termasuk hotel tempat saya menginap, megah, menyatu dengan salah satu pusat perbelanjaan.

Walau begitu, saya tetap percaya bakal menemukan hal berbeda disini, di kota Melayu Deli...

Sekali lagi, percayalah, Tuhan memang selalu bekerja dengan cara yang terduga.

...to be continued

Merekalah para atlet dan manajer kontingen Pelindo IV, yang bakal menjaditeman-teman baru di kota orang. (Foto: ImamR)


--Imam Rahmanto--


*Saat menuliskan postingan ini, saya baru saja menyelesaikan sarapan di hotel. Saya dan teman-teman sedang bersiap ke lapangan pertandingan futsal.