Kamis, 29 Oktober 2015

Liburan Indie

Oktober 29, 2015
Saat ku berjalan, tanpa ragu, tanpa bimbang.....

Itu lagu terakhir yang dilantunkan penyanyinya, Endah N Rhesa, di atas panggung malam lalu. Saya menikmatinya. Semua menikmatinya. Ini lagu pertama yang saya kenal dari kedua penyanyi Indie itu lantaran penasaran dengan liriknya, ada kata "SO7"-nya. Tak ketinggalan pula liriknya menyebutkan band-band kenamaan lain.

Baru memasuki intronya, semua penonton mulai bersorak. Saya yang berada di belakang panggung segera mencari tempat strategis untuk menyaksikan aksi sepasang suami-istri itu. Rasa-rasanya, kalau Endah N Rhesa tak menyanyikan Liburan Indie, seakan ada yang kurang sedap.

Dua lagu penyela sebelumnya, diberi judul Thanks to dan Promo. Bahkan untuk lagu yang dadakan atau iseng-iseng begitu, suara Endah Widiastuti dan iringan bass Rhesa Aditya tetap memukau. Saya hanya bisa tersenyum-senyun mendengar Endah melantunkan sederet nama untuk diucapkan terima kasih.

(Foto: Awal Hidayat)

Ehem... ehem...

Yah, pertengahan malam itu, saya sedang dibebani liputan manggung artis. Sebenarnya di luar kapasitas saya sebagai pemangku desk olahraga. Akan tetapi, kehadiran duo musisi itu di kota kami sontak menarik bagian neuron terjauh dalam kepala saya. Apalagi Endah N Rhesa termasuk penyanyi keren dalam "playlist" saya.

"Setidaknya saya harus bisa menikmati musiknya live dari atas panggung," begitu pikir saya. Selain itu, sesi entertainment juga menjadi bagian tersendiri dari desk olahraga secara umum. Jadi, saya bisa mengambil bagian (tugas) di dalamnya.

Hadir di pementasan tengah malam itu, saya berasa remaja. Akh, bukan berarti saya sudah melipir tua loh ya? Saya justru merasa fresh dengan menemukan suasana-suasana baru (dan muka-muka baru). Cuma... belum dapat jodoh aja. #ehh

Beberapa anak SMA mondar-mandir di depan saya. Mulai dari panitia, peserta basket, hingga yang sekadar ingin menonton (bersama pacar) di sekitar area lapangan. Saya mengenali satu-dua orang. Di hari sebelumnya, saya sudah bertemu karena urusan liputan.

"Bisa nanti saya bertemu dengan Endah N Rhesa? Saya mau wawancara sebentar sebelum mereka mentas," pinta saya pada salah seorang panitia cewek yang mengurusi bintang tamunya.

Kata teman, gadis itu manis untuk seukuran remaja seperti dia. Apalagi kalau pakai kacamata yang sementara disangkutkan di atas kepalanya. Entah kenapa, wanita berkacamata selalu manis bagi saya.

"How do i know the truth if you didn't say so. I would understand if you trust and believe in me," 
--Blue Day

"Oh, iya. Sebentar saya tanya," ujarnya singkat bersandar di pagar venue. Hanya saja, saya sudah terlalu terpatok usia jauh sekali dengan anak-anak remaja ini.

Sekilas menyaksikan anak-anak band di belakang panggung, saya serasa ingin ikut bermain musik juga. Sayangnya, saya mempelajari gitar hanya untuk mengisi waktu luang. Suara saya masih pas-pasan buat dikomersilkan. Malah, saya juga terobsesi ingin belajar alat musik lainnya; drum.

"And I stare at the moon and hope we’ll meet there, hope we’ll meet there ‘cause I miss you? I wish you were here," 
--Wish You Were Here

Saya harus menunggu Endah N Rhesa usai manggung. Manajemennya justru menunda-nunda sampai acara selesai. Demi tugas, saya menunggu sembari menikmati pentas Endah N Rhesa, dari belakang.

"Habis manggung aja ya, Mas," ujar manajer Endah N Rhesa.

Saya hanya membalasnya tersenyum. Padahal saya ingin menikmati penampilan kedua musisi itu tanpa beban apapun usai manggung.

Agak membosankan juga menunggu artis manggung. Satu hal yang membuat saya risih untuk liputan semacam ini; menunggu. Bahkan sebagian besar artis agak tak kooperatif soal wawancara dengan wartawan. Jangan heran jika kelak menemui artis yang sangat bertolak belakang dengan aksinya di layar kaca. Saya sudah sering menemui yang seperti itu.

"Berkali-kali ku lewati jalan ini namun sekarang terasa berbeda..." 

"Mungkin perjalanan ini memakan waktu hingga kita lelah, tak sabar menunggu..."

--Seluas Harapan

Kalau dengar lagu yang satu itu, saya tiba-tiba teringat kenangan dua tahun silam. ...kulewati jalan ini, namun sekarang terasa berbeda.... Pernah berjalan di tepian sungai bersama seseorang. Pagi-pagi. Nongkrong di bangku taman sebentar. Mencari jajanan eskrim. (Ah, sudah, sudah. Saya harus menahan senyum mengingat satu kenangan ini. Bisa-bisa dikira tidak waras sama teman kantor. #deg)

Beberapa lagu Endah N Rhesa memang cukup memikat bagi anak muda. Saya suka. Meski tak semuanya, tapi lagunya cenderung memiliki lirik yang erat dengan kepala dan perasaan. Mendengar lagu indie semacam itu sangat cocok untuk waktu luang. Sambil minum cappuccino. Sambil mengamati bulan yang sedang purnama. 

(Foto: Awal Hidayat)
Kemarin, nyaris purnama saat menyimak aksi Endah N Rhesa. Saya hanya berdiri di pojok belakang panggung. Enggan bergabung bersama beberapa panitia di depan panggung. Meski begitu, saya tetap bisa menyaksikan aksi mesra Endah bersama suaminya. Tak jarang, sorang girang muncul dari penonton di depan panggung.

Saking antusiasnya, seorang teman juga memilih view dari depan panggung itu sekaligus menunaikan tugas (dadakan) motretnya (yang masih amatir).

"Saat lagu When You Love... itu, saya tak mau ketinggalan menikmatinya. Saya duduk sambil menghayatinya," aku teman saya. Akh, dia ini terlalu terbawa perasaan.

Usai manggung, saya segera menunaikan tugas. Tengah malam sudah lewat. Kami berempat mengobrol di belakang panggung. Yah, tidak seperti artis lainnya, Endah dan Rhesa tergolong ramah. Hanya saja, manajemennya yang (mungkin) terlalu protektif.

"Tiba-tiba panggilan kerjaan tak bisa diabaikan. Kami harus lakukan kembali," 
--Liburan Indie

Seperti kata Endah N Rhesa, saya pun harus kembali bekerja...

(Foto: Awal Hidayat)


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sepak Bola yang Njlimet

Oktober 24, 2015
"Itu si Muchlis. Yang nomor 27 itu Maldini. Terus Dewa yang nomor punggung 25," gumam saya dalam hati.

Perlahan, saya mulai mengenali para pemain-pemain skuat Pasukan Ramang - julukan PSM -. Bagaimana tidak, saban sore saya mesti menyambangi latihannya. Mengikuti perkembangan skuat kebanggaan masyarakat Sulsel itu mempermantap persiapan turnamen. FYI, di pertengahan November nanti ada perhelatan besar juga mempertemukan 14 klub ISL di Indonesia. Itu menjadi turnamen kedua yang digelar Mahaka sebagai salah satu operator pertandingan semenjak Liga Indonesia dibekukan.

Nyaris empat bulan saya menyelami dunia olahraga ini, khususnya dunia sepak bola. Saya mulai memahami bagaimana sepak bola membangun hubungan antar masyarakat, termasuk antara insan pelaksananya dengan masyarakat sebagai penikmatnya. Lambat laun, di kepala saya juga mulai menjalar, bagaimana peduli mengamati kisruh sepak bola yang sudah mengungkung negeri ini.

Semula, saya hanya sekadar menjalankan tugas di dunia sepak bola ini. Sebagai seorang pewarta yang baik, sudah menjadi tugas saya menyelesaikan setiap liputan yang dibebankan oleh atasan. Sebagai pewarta yang baik pula, saya wajib banyak tahu dan menggali segala hal terkait spesialisasi itu.

Waktu ternyata selalu berhasil mengubah seseorang. Mungkin, waktu pula yang mampu menanamkan cinta di hati seseorang.

Sedikit demi sedikit, perhatian saya mulai teralih ke dunia yang dulunya terasa asing. Saya banyak belajar dari interaksi dengan para pegiat olahraga kulit bundar itu. Para legenda yang awalnya sama sekali tak saya kenali. Diskusi, curhat, berbagi pengalaman menjadi lorong waktu yang mengangkat isi kepala saya untuk belajar peduli terhadap sepak bola di Indonesia.

"Sepak bola kita terlalu banyak masalah," hal yang kerap saya dengarkan di lapangan.

Saya sejatinya mengiyakan hal itu. Hati saya bergetar menyaksikan langsung euforia para suporter menyaksikan tim kesayangannya bertanding. Seperti apa tingkah mereka yang begitu "mencintai" klub-klub yang mendominasi pakaian mereka di tribun stadion. Wajar, Kalau sudah cinta, logika entah kemana.

(Sumber: google.com)
Euforia itu mengalir bersamaan dengan rutinitas saya mengamati perkembangan sepak bola. Bagaimana pun, yang namanya semangat memang selalu menemukan jalannya untuk menular. Betapa saya (dan masyarakat pecinta sepak bola) mulai merindukan sepak bola Indonesia mulai bergulir kembali. Pun, saya seolah merasa memiliki.

Akh...sejujurnya, saya belum banyak mengerti bola. Saya belum paham, kenapa Kemenpora begitu kukuh membekukan PSSI, yang katanya ditengarai banyak diisi mafia pertandingan. Saya tak habis pikir, kisruh yang terjadi antara institusi yang seharusnya berjalan beriringan itu mulai merembes ke ranah pribadi.

Katanya, Menpora sangat-amat-teramat berseberangan dengan Ketua PSSI. Katanya, dulu bermula di suatu pemilihan ketua. Tidak adakah dari keduanya yang ingin berdamai? Mengalah, bukan berarti kalah. Ini bukan lagi soal ego pribadi, melainkan kepentingan banyak orang.

Sebagai orang yang pernah mengecap dunia organisasi, saya pernah belajar menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik itu tak lagi berpikir tentang dirinya sendiri. Ia tak lagi hidup sendiri. Di kepalanya bukan lagi seputar "bagaimana dengan aku". Melainkan, ia seharusnya belajar berpikir, "bagaimana dengan mereka" yang dipimpinnya.

Bukankah orang tua kita hidup memimpin anak-anaknya tanpa pernah berpikir tentang diri sendiri? Mau beli baju, ia berpikir dulu bagaimana dengan anak-anaknya. Mau makan, mereka akan menyuruh anak-anaknya menyantap duluan. Mau bekerja, mereka tak pernah malu diolok-olok, asalkan anak-anaknya bisa makan.

Lihatlah di luar sana, para pemain sepak bola yang terpaksa "turun kasta" demi sesuap nasi. Mereka yang tergolong "artis" di lapangan sepak bola harus turun merumput di turnamen-turnamen antar kampung. Saya pertama kali menyaksikan laga para bintang ISL itu secara langsung di Liga Ramadan.

Evan Dimas (merah) saat bermain di Liga Ramadan Makassar. (Foto: Tawakkal-FAJAR)
PSSI dibekukan, berujung pada Liga Indonesia yang berhenti mendadak. Kemenpora tak lagi mengizinkan pertandingan digawangi PSSI. Alhasil, para pemain harus mencari pertandingan yang bisa memakai jasa mereka, meskipun dibayar dengan hitungan tiap laga di lapangan.

Jelang akhir bulan ini, salah satu turnamen besar di Parepare (Habibie Cup) yang mengikutsertakan klub-klub daerah juga dibanjiri para pemain bintang. Mereka menyeberang ke pelosok daerah Sulsel dengan harapan bisa dibayar mahal. Karena kompetisi di Indonesia sedang vakum, pemerintah daerah berlomba-lomba menggaet para bintang ISL itu. Di samping unsur politis, setidaknya mereka sudah berniat memberikan hiburan yang bagus bagi masyarakat.

Mau bagaimana lagi? Liga berhenti, banyak klub yang tidak lagi mengakomodasi pemainnya lantaran lowong jam pertandingan resmi. Sementara penghasilan klub, setahu saya, sebagian besar berasal dari hasil-hasil pertandingan yang digelar di Indonesia. Para sponsor baru mengalirkan dukungannya jika pertandingan berjalan dan dinikmati masyarakat.

"Klub butuh pertandingan, masyarakat butuh hiburan,"

Satu hal yang saya pahami. Ketika laga berlangsung, betapa kehidupan begitu menjalar di sekitar lapangan pertandingan. Suporter yang berseru-seru mendukung tim kesayangannya. Pedagang asongan berkeliling di sepanjang tribun. Anak-anak yang tak tahu hendak kemana diajak kakak-kakaknya menyaksikan idolanya. Para pemain yang sumringah diadang para fans-fansnya. Mereka takjub dan berdegup di tengah lapangan karena bermain dikelilingi para pendukungnya. Lapangan seolah kembali bernyawa. Ada tawa dimana-mana.

"Kami rindu geliat keramaian itu," bahasa seluruh gurat wajah para suporter dan masyarakat pecinta bola.

Saya mulai memahami, sepak bola ternyata menghidupi banyak orang. Dari rakyat kecil, hingga para petinggi yang tak tahu berterima kasih. Tengoklah di laga final Piala Presiden kemarin. Stadion Gelora Bung Karno sungguh menjadi pemandangan menakjubkan bagi masyarakat pecinta sepak bola. Itu semacam wujud kerinduan yang membuncah ke ubun-ubun. Seperti rasanya saat berjumpa seseorang yang kerap dirindukan.

Kendati tak paham pokok perkaranya, saya hanya berharap Menpora, PSSI cepat akur. Saya tak perlu menghakimi siapa yang salah. Berdamai sajalah. Jangan mengacaukan sepak bola Indonesia yang kian terpuruk. Berhentilah mengobarkan kebencian, yang mengorbankan masyarakat di nusantara.

Seharusnya segala kepentingan pribadi dipinggirkan dahulu dan duduk bersama membahas kepentingan masyarakat. Cukuplah masyarakat muak dengan panggung sandiwara perpolitikan Indonesia. Tak usah sandiwara semacam itu merembet ke ranah olahraga.

Kalau ibu pertiwi sudah bosan dimonopoli para petinggi negeri, maka ajarkanlah kami bersikap ksatria di tengah hijaunya lapangan nusantara...

Klub Persib memboyong juara pertama di Piala Presiden. (Foto: bola.com)


--Imam Rahmanto--

Selasa, 20 Oktober 2015

Ada yang Terlupa

Oktober 20, 2015
Seperti biasa, damn, saya terbangun di pertengahan jam delapan. Sudah sekian hari saya melalaikan shalat Subuh. Saya cemas, terbiasa begini kian mendekatkan saya pada hal-hal tak baik. Sungguh, mamak bilang demikian.

Di kepala, ada semacam kekangan yang ingin dilepas. Entah apa. Musabab belakangan ini terasa ganjil dalam mengerjakan sesuatu. Mungkin, bisa dibilang tak bersemangat. Iya, ada hal-hal yang nampaknya mengganggu alam bawah sadar. Mungkin, saya mesti berbuat bajik lebih banyak.

Beberapa kebiasaan memang hilang belakangan ini. Saya tak lagi meluangkan waktu sekadar membaca novel-novel ringan. Lupa rasanya duduk bersantai, membuka tiap halaman, mendengarkan musik, sembari menyorongkan segelas cappucino di bibir. 

Satu-dua novel baru bisa saya tamatkan rentang dua-tiga bulan. Salah satunya, Dilan, karya Pidi Baiq. Novel yang betul-betul ringan, dan sebenarnya tidak memuat kepala mumet membacanya. Saya sedang (susah-payah) menyelesaikan seri keduanya...

Saya mulai lupa bangun pagi. Saya tak lagi berjumpa dengannya; mentari yang mencuat malu-malu dari pucuk pegunungan atau atap-atap rumah. Angin sepoi-sepoi yang membelai wajah yang belum dibasuh sabun. Mata yang belum genap bersih dari kotoran bekas tidur semalaman, silau oleh cahaya keemasan pagi. Saya rindu rasanya.

Saya jadi lupa rasanya liburan, lupa rasanya gunung, lupa rasa-rasa pasir, lupa asin laut, lupa bentuk pohon-pohon pinus, lupa belaian angin, lupa duduk-duduk, lupa bercengkerama bersama teman, lupa tertawa, lupa memandangi muka-muka cemberut, lupa kesasar, lupa mengelabui waktu, lupa menikmati senja, hingga lupa terlepas dari perangkat komunikasi. Saya butuh planet asing yang bisa mengungsikan diri dan mengembalikan ingatan-ingatan yang hilang itu.

Suatu waktu di planet antah-berantah...

"Hei, kamu makhluk asing, darimana asalmu?"

"Aku dari planet bumi, planet yang nyaris mati karena ditenggelamkan es yang mencair di kutub utara. Katanya, gegara pemanasan global. Di salah satu lempeng benuanya, ada negara yang disesaki manusia pesakitan, yang nyaris ditenggelamkan oleh asap. Yah, aku dari negeri asap,"

"Kamu tak diperbolehkan menginjakkan kaki disini?"

"Mengapa? Aku datang dengan niat baik, mencari dunia yang sepi dari hiruk-pikuk panggung politik dan pencitraan. Asap dimana-mana, hasil pembakaran tembakau dan pohon pinus,"

"Kami tak punya persediaan napas buatmu disini,"

"Mengapa? Aku membawa persediaanku sendiri,"

"Karena itu. Kami tak ingin apa yang kamu bawa mempengaruhi budaya yang telah lama dibangun nenek moyang kami sejak tujuh ratus tahun lalu. Kami jauh dari asap, maka pergilah. Cari tempat lain,"

Seolah-olah saya lupa bagaimana merasakan waktu-waktu "tak sibuk".

Sejujurnya, pekerjaan saya tak seformal pekerjaan lainnya. Hanya saja, waktu luang yang terselap-selip membuat saya lupa bagaimana cara menyisakannya untuk orang-orang yang membutuhkan. Tak sebanyak orang yang menuntutnya.

"Hei, kapan ada waktu? Ayo kita nonton,"

"Kamu ada waktu, ndak? Ayo kita keluar main ice skating,"

"Kapan kita bisa ngobrol berdua?"

"Kapan saya bisa melunasi janji (hutang) traktiran saya?"

"Kamu ada waktu? Datanglah menjenguk bapakmu,"

Satu-satunya hal santai yang belakangan memenuhi waktu santai hanyalah permainan Pe-Es. Saya sedang mengembangkan bakat olahraga di layar kaca itu. Nyaris tiga bulan semenjak mengawal desk olahraga di media-tempat-saya-bekerja, hampir setiap malam saya meluangkan waktu sebelum beranjak istirahat. "Ayo, kita adu tanding," hampir tiap malam seorang teman menjadi "korban" pelampiasan kekalahan saya. Belajar untuk tidak jadi pengecut dengan berkali-kali kalah, bukan?

Saya juga mulai lupa rasanya hujan. Semoga Tuhan bersegera melimpahkannya di bulan ini. Kekeringan mulai mengubah sebagian orang mendekati gejala gangguan kejiwaan.

Saya jadi rindu. Rindu liburan, rindu rasanya gunung, rindu berlari-lari, rindu rasanya pasir, rindu berendam di laut, rindu pohon-pohon pinus, rindu dibelai angin, rindu duduk-duduk, rindu bercengkerama bersama teman, rindu tertawa, rindu muka-muka cemberut, rindu kesasar, rindu menghitung senja, rindu mengelabui waktu, hingga rindu hal-hal sederhana, dan rindu kamu... 

Apakah saya butuh liburan? Yah, sepertinya gemerisik daun-daun di luar sana mulai mengeja dan melafalkan nama saya...

(Sumber: pixabay.com)

 ***

Ternyata Tuhan menunjukkan jalur-Nya. Saya baru saja bertemu dengan seorang teman kampus semalam. Seangkatan dan seperjuangan di waktu kuliah. Ia sedikit lagi bakal menyelesaikan wisudanya. Saya menyodorkan bantuan seadanya. Saya juga pernah merasai detik-detik akhir masa mahasiswa sepertinya. Pun, kesulitannya.

Dalam hati, saya berpikir, mungkin Tuhan sengaja menyimpan-nyimpan sedikiy keuangan saya bulan ini. Tak biasanya pemasukan pas-pasan sebagai pewarta-magang bisa bertahan sejauh ini. Biasanya, belum genap paruh bulan, saya sudah megap-megap. Ternyata, Tuhan memang baik. Saya sedang diarahkan ke salah satu skenario semacam ini.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 10 Oktober 2015

Kerabat

Oktober 10, 2015
Seorang anak perempuan sedang bernyanyi-nyanyi kecil di samping pengemudi angkutan umum. Ia manis. Rambutnya ikal sebahu. Jaketnya dirapatkan ibunya sambil menemani sang buah hati berdendang lagu sederhana.

"Garuda Pancasila. Akulah pendukungmu. Patriot Proklamasi..."


Anak itu teramat riang di pangkuan ibunya. Saya hanya mengamati dari sisi lain di belakang supir. Sesekali menatap keluar jendela. Sesekali menyembunyikan senyum. *Duh, betapa menenangkannya melihat anak-anak kecil nan riang di tengah sumpeknya angkutan kota begini.

Hei, saya pernah seperti itu. Masa-masa kecil yang menyenangkan. Tanpa beban apa-apa. Bepergian bersama orang tua. Merajuk manja ke pelukan mamak. Meminta uang ke dompet bapak. Kalau mengilas masa-masa itu, mata kerap terasa basah. #ehh

"Berkibarlah benderaaaku.... Lambang suci gagah perwiraaaa. Di seluuuruh pantai Indoneeesia..." Lagu-lagu ini menjadi hafalan wajib di bangku TK dan SD dulu. Zaman sekarang, entah apakah masih sama.

***

Baru-baru ini, saya membesuk Pakde di rumah sakit. Sebenarnya, ia sudah sebulan lebih berobat di kota ini. Hanya jelang operasi ia baru diopname. Selebihnya, ia bisa rawat jalan. Pakde sekeluarga menginap di rumah salah seorang kerabat di perbatasan kota. Hanya agak menyulitkan bagi orang minus kendaraan seperti saya.

Saya mencoba untuk lebih dekat ke keluarga. Mengenal sebanyak mungkin kerabat yang masih hidup dan terjangkau penglihatan. Bapak selalu berpesan, "Kenal-kenal lah kerabatmu. Kau itu terlalu jauh dari keluarga." Saya hanya terdiam dan mengangguk. "Kelak, kalau bukan keluargamu sendiri, siapa lagi yang akan kau mintai pertolongan?"

Sejak dulu, saya memang agak jauh dari keluarga. Beranjak dewasa, ada banyak hal yang terpilin dan berputar di kepala saya. Something wrong or something change? Perlahan, kesadaran saya menguat. Mencocok-cocokkan segalanya dengan alur kehidupan yang saya miliki dan akan jalani. Berusaha mandiri, yang sejatinya membuat saya menjauh. Seolah tak mengingat keluarga.

Ternyata saya tak sedekat dulu dengan bapak dan mamak...

"Piye kabare, Pakde?" tanya saya ketika bertemu.

Ia tak bisa menjawab. Hanya memberi isyarat lewat gerak mulutnya. Berganti jawaban Mbokde yang mewakili dari sisinya. Selebihnya, anak lelakinya yang mengajak saya mengobrol basa-basi.

Tentang kerabat, saya lebih banyak mengenal mereka dari cerita bapak dan mamak. Kami sekeluarga teramat jarang berkunjung ke kampung nenek. Apalagi semenjak setengah badan bapak lumpuh seutuhnya. Tak bisa membawa kami kemana-mana. Bahkan sekadar mengunjungi seremoni wisuda saya dua bulan kemarin.

Khususnya kakak sulung bapak. Satu-satunya saudara yang menyaingi bapak merantau hingga ke Sulawesi Tenggara. Alhasil, mereka bisa memboyong kehidupan yang berkecukupan dari usaha membuka warung sari laut. Lebih dari apa yang bisa dicapai bapak hingga kini.

Sejujurnya, saya baru bertemu lagi dengan Pakde lebih dari sebulan lalu. Saat bapak mencemaskan kondisi saudara laki-lakinya lantaran penyakit yang mulai menggerogoti. "Kalau kamu ada waktu, sesekali kunjungilah mereka," saran bapak. Saya harus menurutinya, mengingat jejak kehidupan saya yang teramat jauh dari keakraban keluarga. Pelarian itu, dulu, sedikitnya memberikan beberapa harapan baru bagi saya.

Muka tirus kakak sepupu, baru saya kenali lagi lepas tiga tahun lamanya. Wajah adik lelakinya, menyerupai wajah ayahnya. Mungkin kecakapan rupanya memang menurun dari aura bapak dan ibunya. Adik lelaki bungsunya lagi, hampir menyamai proporsi tubuh adik perempuan saya. Seingat saya, usia mereka juga sepantaran. Kami, baru bertemu lagi rentang bertahun lamanya.

Selangkah demi selangkah, saya menjajal bertautan kembali dengan keluarga. Kian dewasa, saya mesti memahami ada hal-hal penting di jalur keluarga. Sebanyak apa pun saya menjalin persahabatan dengan orang luar, keluarga selalu menjadi tempat kembali satu-satunya. Berinteraksi dengan banyak karakter individu, mengajarkan saya untuk mengelola perasaan untuk lebih banyak bersabar. Lebih banyak berpikir positif. Mencerna semakin dalam. Hakikatnya, setiap orang selalu punya alasan untuk berbuat sesuatu, bukan?

Keluarga tak bisa disejajarkan dengan pertemanan. Ia tak sama. Tak setara. Semestinya komposisi persahabatan itu yang mengisi kedekatan dalam keluarga. Bahkan persahabatan sekali pun ada kemungkinan terputus di tengah jalan. Sementara keluarga selalu terikat oleh hubungan darah, meski diputus oleh lisan. Sekejam-kejamnya bapak memutus hubungan dengan anak, mencercanya dengan segala kata-kata kotor, pikirannya selalu tepaut pada anaknya. Benar kata pepatah, sekejam-kejamnya harimau, ia tak pernah memakan anaknya sendiri.

Kalau teman selalu menjadi tempat mencurahkan kegundahan, keluarga sejurusnya selalu mendapatkan jalurnya di segala penjuru. Toh, kemana lagi kita berpulang jika bukan pada keluarga? Dan Tuhan, tentunya...

***

Saya menutup telepon bapak yang disambungkan melalui hape Pakde. Mungkin, saking bahagia melihat keponakannya datang membesuk (meski operasinya harus ditunda), ia langsung menghubungi saudaranya di ujung telepon. Suara dari jarak delapan jam perjalanan berdengung parau dan menjejalkan banyak anjuran. Tak ketinggalan rutukan kepada dokter yang absen dan menyisakan Pakde yang berkemas hendak meninggalkan rumah sakit.

Alat komunikasi lipat itu masih di genggaman saya. Seusainya, saya mencoba mengetikkan nomor pribadi. Sejak kemarin, saya sangat sulit mendapatkan nomor handphone Pakde. Nomor yang dulu sudah tak aktif lagi. Kini saya memperoleh kesempatan menyimpan sendiri nomor terbarunya.

Seketika dengung alat komunikasi saya berbunyi. Di layarnya tertera nomor asing. #jlebb! Jantung saya berdetak. Hati saya mencelus. Pikiran saya sekelebat mengingat sesuatu tentang nomor itu.

...Nomor ini yang pernah meneror saya dengan cercaan pedas tanpa sekat kesopanan apa-apa, segala jenis kata-kata tak bajik, dulu, kala saya teramat-sangat (men)jauh dari keluarga...

Akh, sudahlah. Saya harus memaafkan, kendati jejeran pesan singkatnya masih tak lekang di ingatan.




--Imam Rahmanto--

Selasa, 06 Oktober 2015

Menyelam Dalam-dalam

Oktober 06, 2015
(Sumber: blog.lewispr.com)
"Kemarin bertemu penjahat. Hari ini bertemu pejabat. Besok ketemu pejabat yang penjahat."

Saya selalu terngiang anekdot semacam itu. Di dunia jurnalistik, mungkin hampir semua pewarta tahu maksudnya. Mereka tahu bahwa berjalan di dunia "belakang layar" harus menyiapkan bekal psikologi berganda. Nah loh?

Semakin menyelami dunia jurnalistik, saya kian belajar memahami beragam karakter individu. Ada banyak orang yang saya temui. Mereka masing-masing memiliki karakter kepribadian yang berbeda-beda. Nah, sebagai seorang pewarta, saya harus tahu menempatkan diri demi menjalin komunikasi yang baik dengan mereka.

Di lembaga kampus tempat saya mendasari pengalaman jurnalistik, LPM Profesi, saya selalu teringat dengan anjuran seorang kakak senior,

"Kalau wawancara dengan narasumber, habiskanlah waktu paling sedikit 15 menit. Kalau materi wawancaramu habis 5 menit saja, sisa waktu 10 menit bisa dipakai untuk berbincang bebas dengan narasumber. Apa pun topiknya. Toh, itu akan menjalin keakraban lebih dari sekadar hubungan wartawan-narasumber."

Di dunia yang lebih luas, saya menekuni hal semacam itu. Saya bertemu dengan berbagai macam karakter. Mulai dari yang ngotot, lemah lembut, cuek, ramah, hingga yang selalu berapi-api. Tantangan itu saban hari mengolah alur di kepala untuk membaca kepribadian orang lain, dari sekadar komentar yang dilayangkannya, hingga caranya memperlakukan wartawan.

Secara tidak langsung, para pewarta harus belajar ilmu psikologi itu. Mereka harus mendalami peran ganda di lapangan. Entah sebagai orang baik, atau orang yang seolah-olah jahat.

Anggap saja, ketika kita berkumpul bersama segerombolan preman, kita juga mesti berlaku selayaknya seorang preman. Namun bersikap seperlunya saja. Tanpa terlalu jauh berpartisipasi hal-hal buruk lainnya. Kalau bergabung dengan kalangan elit borjuis, ya sikap juga harus menunjukkan sebagai orang-orang bermartabat. "Wartawan itu tahu banyak, meski sedikit-sedikit"

Melalui pengalaman yang saban hari digeluti, wartawan semestinya kian paham bagaimana berposisi ganda. Minimal, sesuai dengan kebutuhan berita yang hendak ditulisnya.

Baru-baru ini saya diajak meliput perhelatan kualifikasi sepak bola nasional di luar Sulsel. Tak jauh. Hanya berjarak 6 jam perjalanan darat dari Makassar.

Rentang dua hari bersama para narasumber, saya jadi banyak tahu rahasia-rahasia kecil. Bahkan beberapa informasi latar belakang mulai tergali sedikit demi sedikit. Hal-hal lucu sekalipun tak ditutup-tutupi jika interaksi yang terjadi tak lagi sekadar wartawan-narasumber.

Saya memang bukan alumni jurusan psikologi. Saya justru berasal dari ilmu eksak. Akan tetapi, saya selalu menghargai pertemuan dengan orang-orang baru. Berinteraksi. Menjajal komunikasi. Bahkan, kalau perlu, ya sedikit Kepo-lah. *Bukankah itu salah satu hal menariknya? Mendapatkan informasi yang tidak banyak diketahui publik secara luas.

Dari bertemu orang-orang baru, dengan segala latar belakangnya, memberikan pemahaman untuk tidak gemar menjustifikasi. Serius. Kelak, kita akan memahami bahwa segala kejadian selalu ada akar pemicunya. Tak ada asap tanpa api.


--Imam Rahmanto--