Selasa, 22 September 2015

Menguatkan Ingatan

"Menulis itu sebenarnya bagian dari mengingat,"

Kemarin, saya baru saja berbincang dengan salah seorang sastrawan asal Sulsel, Mochtar Pabottingi. Itu semacam tugas tambahan dari kantor untuk melengkapi buku biografi 100 tokoh berpengaruh di Sulsel. Sementara tugas di lapangan olahraga masih harus tetap berlanjut.

Yah, lelaki berusia 70 tahun itu memang punya daya ingatan yang sangat kuat. Ia menuliskan buku autobiografi berbau sastranya dengan modal ingatan semata. Tanpa jurnal. Termasuk pula tanpa buku harian selayaknya penulis-penulis lainnya.

"Kalau terus menulis saja, kita akan bertemu dengan ingatan-ingatan yang hilang itu. Awalnya memang ada kesalahan, tapi terus menulis (ingatan) bakal menjadi perbaikannya juga," terangnya.

Di ujung telepon sana, suara pria tua itu masih bersemangat. Nampaknya pengalaman belajar di luar negeri cukup membawa banyak hal baru bagi hidupnya. Pak Mochtar termasuk sastrawan beruntung yang pernah merasai kehidupan di negeri-negeri adikuasa. Bahkan pulau temaram senja, Hawai, juga sudah menjadi kesehariannya saat kuliah doktoral.

Yang namanya ingatan memang tak pernah bisa terhapus permanen. Ia hanya tenggelam saja di dasar labirin kepala. Menanti pemicunya untuk muncul ke permukaan. Ingatan lama hanya menunggu untuk digunakan kembali.

Mungkin hal seperti itu yang membedakan manusia dengan komputer. Secanggih-canggihnya komputer, takkan pernah bisa menyimpan memori sebanyak yang mampu dirapal kepala. Kalau ingatan di komputer dihapus, ya sudahlah, dihapus saja. Sementara kepala tak sesederhana itu.

Saya selalu percaya, tak ada yang bisa menghapus ingatan. Kalau manusia terluka, ia tetap menyimpan lukanya. Kalau manusia bahagia, ia akan memudar seiring ingatannya yang diperbaharui. Yang terjadi kemudian hanyalah soal melepaskan atau merelakan. Ikhlas. Sejauh mana manusia ingin atau enggan mengingat-ingat suka atau lukanya.

Maka menulislah untuk mengekang ingatan...

***

Lewat seminggu saya tak pulang ke "rumah" ini. Akh, maaf untuk sejenak meninggalkannya berdebu. Beberapa kesibukan sempat menggerogoti waktu luang. Akhir-akhir ini, saya tak kuat bertahan lewat separuh malam. Pun, ketika pagi menjelang, saya tak lagi bertemu dengan cahaya jingga kesunyian. Padahal saya merindukannya.

Sore ini, saya justru mendapat kesempatan lagi menatap kilas cahaya jingga di ufuk barat sana. Di depan beranda, sembari memutar lagu Banda Neira, saya tengah merasai tiap detik kerinduan menepi sunyi. Bayang-bayang kendaraan berkelebat. Suara lafaz Quran berkumandang dari corong masjid berburu. Karena sejam lagi, saya harus beranjak...

Lihat cahayanya saja. Tak usah perhatikan jemurannya. Haha... (Foto: ImamR)



--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar