Rabu, 30 September 2015

Labirin Kerja

"Fly over, Pak?"

Ada kebahagiaan tersendiri ketika menemukan angkutan kota (baca: pete-pete) usai kelamaan menunggu di tepi jalan. Malam sudah menggulung senja beberapa menit. Sembari menyebutkan tujuan, yang biasanya hanya dibalas anggukan oleh sang supir, saya melengos masuk ke dalam.

Kapan lagi saya bisa menikmati momen semacam itu? Terkadang merasai ayunan kaki di tengah kota itu hal yang mengasyikkan. Sendirian atau bersama-sama. Kalau kamu pembelajar yang baik, ada banyak kerangka hidup yang bisa kamu saksikan di kiri-kanan langkahmu.

Akan tetapi akhir-akhir ini Makassar dihinggapi rasa tak aman. Hampir setiap hari ada begal usil di jalan-jalan kota. Salah satu warkop tongkrongan saya dan teman-teman wartawan lain juga tak luput dari gerilya begal-begal muda itu. Katanya, satu anak panah sempat ditembakkan dari arah pinggir jalan. Beruntung, tak ada korban dari serangan mendadak itu.

Di atas angkutan umum pun ada banyak jenis kehidupan yang berputar layaknya roda yang menggilas jalan beraspal. Jika kondisi pete-pete sedang lengang, saya suka mengambil tempat di bagian buntut, samping jendela belakang. Saya bisa mengamati lebih banyak orang dari pojokan itu.

"Ah, kalau disana honornya berapa? Cuma 500ribu saja. Makanya saya bilang..." salah seorang wanita muda membuka cerita di depan teman wanitanya.

"Dia kerja di rumah sakit. Itupun kalau dia punya SK, baru ada honornya," lanjutnya lagi.

Saya tak menggubris keduanya, kendati telinga saya sebenarnya tetap fokus menangkap arah pembicaraannya. Di tempat sesempit itu, saya agak menjaga pandangan liar. Padahal, salah satu perempuan yang berseberangan kursi cukup manis juga. Sesekali saya mencuri pandang ke arahnya. #ehh

Perbincangan mereka seputar pekerjaan dan imbalannya. Entah kenapa, percakapan menggelinding itu mendadak membuat saya bersyukur.

Apa yang saya tuai kini nyatanya masih jauh lebih beruntung ketimbang rerata orang lain. Saya bekerja, saya memperoleh imbalan. Saya bekerja, saya bebas mengerjakan apa saja. Saya bekerja sesuai dengan keinginan.

Kenyataannya, kota-kota besar tidak banyak menjamin lapangan kerja. Perpindahan orang-orang kampung di tengah kota tak sejalan dengan perluasan lapangan kerja. Apalagi dengan dorongan penguatan dollar dimana-mana. Itu makin membuat ekonomi perusahaan dimana-mana melemah. Wajar jika pengangguran berhamburan di gemerlapnya pembangunan kota.

Begal-begal di luar sana juga sebagian besar imbas dari kurangnya lapangan kerja. Seorang teman pernah bercerita, betapa pahitnya akal saat perut kosong lantaran tak bisa bekerja menghasilkan uang. Segala cara berputar, abai pada norma hukum yang berlaku.

"Biasanya kita bakal berpikir macam-macam supaya bisa dapat uang," tuturnya.

Dulu, sewaktu belum memperoleh pekerjaan seperti sekarang, beruntung ia hanya menghabiskan waktunya bermain game. Paling tidak, ia terhindar dari hal-hal pemicu semacam ngelem, miras, atau obat-obatan terlarang. Soal menganggur, ia sudah merasainya.

Seorang teman lainnya juga punya masalah serupa. Lantaran disibukkan pikiran ingin membiayai hidupnya sendiri, ia bermaksud menanggalkan kewajibannya di organisasi. Berharap teman-temannya menjauh dan melupakan kabarnya. Padahal ia tidak seharusnya menyimpan masalah seperti itu dari teman-teman yang selalu merindukannya. Sebagian orang tak sadar, hidupnya jauh lebih terbuka dari yang selalu ditutup-tutupinya.

Akh, tentang pekerjaan dan membiayai hidup, selalu membuat orang berpikir di luar saraf logika. Antara bertahan hidup atau mempertaruhkan rasa dan budi.

Pekerjaan saya sekarang pun rasanya belum banyak memenuhi kebutuhan pribadi. Hanya saja, saya bersyukur memperoleh pekerjaan yang sejalan dengan akal sehat dan impian saya. Beberapa hal semakin terpaut lebih dekat. Beberapa yang lain, mendorong saya untuk memasang target yang lebih besar.

Pernahkah terpikir dalam kepala? Kehidupan berjalan terus-menerus. Waktu berlalu tanpa kita sadari. Masa kanak-kanak seolah-olah baru saja direnggut kemarin. Beranjak remaja dengan segala tugas dan masalahnya. Naik kelas. Lulus sekolah. Menjalani masa-masa kuliah dan membangun peradaban masa muda. Wisuda. Bekerja, menghidupi diri sendiri hingga orang-orang tersayang. Melepas status lajang ke pelaminan. Menua. Punya keturunan yang beranak-pinak lebih banyak.

Alur-alur perjalanan hidup itu seolah membuat kita enggan move on. Selepas kuliah, kita serasa ingin mengulur kembali masa-masa penuh kreativitas di kampus. Saat sudah menyibukkan diri dengan pekerjaan, saya terbawa merindukan masa berleha-leha menertawakan kekonyolan di kafe-kafe langganan. Bercerita apa saja, tanpa perlu dibebani deadline.

Penumpang perempuan bertambah di tengah jalan. Salah satunya seorang wanita yang (saya terka) bekerja di bank atau perusahaan formal lainnya. Ia duduk agak menjauh dari saya yang satu-satunya lelaki di dalam angkutan umum. Roknya yang pendek dan ketat agak ditahannya agar tak tersingkap lebih tinggi.

Terkadang kesibukan kerja memang mulai mengkotak-kotakkan waktu yang dimiliki. Semacam labirin waktu yang disumpalkan dalam keseharian saya. Hanya saja, toh, pekerjaan kini sudah menjadi "barang" yang dicari setiap orang. Kehadirannya langka. Mungkin, setiap orang juga perlu memutar otak kanannya untuk menghasilkan uang sendiri. Dengan begitu, ia bisa menjadi lumbung pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkannya.

Beberapa orang memang puas dengan pekerjaannya. Sekadar membandingkan imbalan atau upah yang diterimanya setiap bulan. Saya sendiri? Untuk saat ini cukup saja dengan apa-yang-saya-inginkan. Karena kebahagiaan nyatanya tak bisa dihargai oleh materi...

"Kamu baru bisa dikatakan kaya jika punya sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang," --Anonim

--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar