Selasa, 01 September 2015

Euforia

"Goaaal!! Goaaal! Goaaaalllll"

Ini bukan di acara tivi, yang komentatornya tak henti berseru ketika tim andalannya menjebloskan bola ke gawang lawan. Saya justru sedang berada diantara puluhan teman-teman pewarta yang menyaksikan langsung laga antara klub PSM menjamu Gresik United. Ribuan supporter PSM bergemuruh menyuarakan yel-yel kemenangan.

Itu gol pertama kapten kesebelasan PSM, Syamsul Haeruddin. Pacarnya Ika KDI pula. Saya sudah sering mendapati foto mesranya di akun BBM. Kalau jadi pewarta olahraga, harus kenal banyak pemain sepak bola.

Saya tak hendak bercerita jalannya pertandingan malam kemarin di stadion "neraka" Mattoanging. Semua media pasti sudah lancar bercerita. Bahkan live score pertandingan bisa diamati langsung di salah satu situs berita bola online Indonesia. Saya kebetulan bersebelahan dengan operator live score-nya saat mengamati jalannya pertandingan di tribun VIP khusus media. Cara kerja yang sederhana, tapi bayaran luar biasa.

Striker anyar PSM Ferdinand Sinaga. (Tawakal - FAJAR)
Baru pertama kalinya saya menyaksikan pertandingan resmi turnamen sepak bola semeriah itu. Di awal menempati desk olahraga, sebenarnya saya sudah mulai menjelajahi stadion kebanggaan Makassar itu. Hanya saja, Liga Ramadan kala itu sebatas turnamen antar kampung (tarkam) yang tidak menetapkan aturan-aturan ketat. Saya dan teman-teman pewarta lainnya bebas duduk di pinggir lapangan, berdampingan dengan komentator dan kepanitiaan. Kami juga tak butuh ID dari penyelenggara kala itu.

Di turnamen resmi ternyata segalanya berlaku berbeda. Kursi media sudah disediakan di atas tribun khusus, yang bisa mengamati pertandingan dengan jelas. Hanya kameramen dan fotografer yang diperbolehkan berada di sisi lapangan. Wartawan cetak maupun online hanya duduk dari atas tribun utama mengamati.

Susunan pemain (SP) disebar satu-satu kepada para pewarta. Nama beserta nomor punggungnya sudah tertera jelas di daftar itu. Jikalau ada kejadian di lapangan, kami tinggal mencocokkannya saja dengan SP di tangan.

"Itu, nomor 8 ya?"

"Ohh....itu berarti Syamsul Haeruddin,"

Saya juga merasakan yang namanya kerja keras di turnamen seperti itu. Jangan berpikir bahwa meliput turnamen sepak bola resmi seperti itu hanya mengandalkan kehadiran dan wawancara dengan pihak terkait, serupa acara seremoni.

Ternyata bukan hanya adrenalin para pemain saja yang terpacu. Kami, para pewarta juga ikut saling berkejar data di lapangan. Mata harus selalu mengamati lapangan, mencatat setiap menit kejadian di lapangan.

"Waduh. Itu si Ferdinand jatuh. Dijegal sama siapa? Itu menit ke berapa?"

"Eh, tendangan penaltinya goll. Itu menit ke berapa?"

"Wah, Iqbal dapat kartu merah. Itu menit ke berapa?"

"Pemain yang masuk gantikan Dewa siapa? Oiya, menit ke berapa (lagi)?"

Kalau saya lupa memutar stopwatch di gadget, biasanya bakal celingak-celinguk bertanya ke sekeliling. Termasuk bertanya nomor punggung pemain yang sedang jadi sorotan di lapangan.

"Beda striker sama gelandang apa sih?'

"Kok bisa offside?"

"Gelandang bertahan itu maksudnya apa sih?"

Tapi saya menghindari bertanya terkait aturan atau pengetahuan tentang bola. Saya bisa jadi pusat perhatian atau paling gawat ditimpuk botol minuman. Hahaha...tapi pengetahuan dasar semacam itu sudah berlalu dong. :P

Usai satu pertandingan, kepanitiaan penyelenggara bakal menggelar Press Conference khusus wartawan untuk informasi tambahan dari kedua tim maupun pemain. Wawancara pelatih dari kedua tim biasanya di salah satu ruangan Press Con yang memang sudah disediakan penyelenggara. Mudah tapi mencekat deadline.

Turnamen resmi seperti itu menjadi ujian terberat kami (ah, mungkin.hanya saya?). Soal bahan berita, memang bakal tumpah habis-habisan. Selain harus menulis data, meramu beritanya untuk surat kabar besok, saya juga harus menuangkannya up-to-date di media online. Kebayang ndak multitasking-nya?

"Jangan hanya terpaku di lapangan pertandingan. Karena di lapangan itu pasti sudah dilahap semua oleh televisi yang menyiarkannya," ujar seorang senior yang menjadi tandem saya.

"Cari hal-hal di luar lapangan yang menarik dan tidak didapatkan oleh media tivi itu. Sekitar tribun, sekitar ruang ganti, di luar Mattoanging, dan semacam itu," lanjutnya lagi.

Satu hal lainnya yang membuat adrenalin terpacu, ya soal deadline-nya. Pertandingan berlangsung jam 7 malam. Sementara berita harus masuk meja redaktur sebelum jam 8. Nah loh?

Beruntung, lantaran turnamen itu termasuk isu nasional, ada tambahan waktu tertentu untuk deadlinenya. Biasanya, kami juga akan mengakalinya dengan kerangka berita yang sudah lebih dulu diselesaikan. Tersisa mencocokkannya dengan kondisi lapangan dan narasumber.

Overall, saya suka dengan nuansanya. Saya belajar lebih banyak bekerja sama. Membagi tuntutan dan kemampuan. Saya belajar untuk tidak mengedepankan ego terhadap berita tertentu. Work together.

Supporter PSM. (Sumber: indosport.com)
Kendati saya bukan penggila bola, saya merasakan aura kebesarannya malam itu. Bagaimana semangat para supporter mendukung tim kesayangannya nampaknya memantik semangat saya juga untuk berjuang di lini informasi. Sesekali saya mengamati para suporter yang sangat kreatif menyuarakan yel-yel dan koreografinya.

"Seperti inilah semangat sepak bola Indonesia,"

Seandainya saja PSSI bertindak sesuai aturan. Seandainya saja Kemenpora tidak memaksakan kehendaknya. Seandainya saja tiap supporter bisa menjaga etikanya. Mungkin, sepak bola kita juga bisa berjaya, harum semerbak di kancah luar negeri. #semoga

"Ewako PSM! Ewako PSM! Ewako PSM!" gemuruh para supporter fanatik kesebelasan Ayam Jantan dari Timur.

Ternyata, benar, bahwa semangat selalu menular tanpa perantara.... ^^.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar