Senin, 07 September 2015

Dilan yang Unik

"Cinta itu indah, jika Bagimu tidak,
mungkin kamu salah milih pasangan." --Milea--

(Sumber: pidibaiq)
Pernah baca novel Dilan? Bagus, kalau sudah, artinya kamu tak perlu baca review ini lagi. Tapi kalau maksa, saya juga tidak bakal melarang.

Buku ini sukses membuat saya penasaran. Beberapa orang yang pernah membacanya selalu menanggapi positif. Mereka bahkan merekomendasikan buku karangan Pidi Baiq ini. Hanya saja, rekomendasi itu tidak diiringi dengan meminjamkan bukunya. -,-"

Nah, beberapa hari lalu, saya mendapati buku bersampul biru muda ini diantara jejeran buku di rak Rutif. Saya menjajal halaman demi halamannya. Mencoba membaca beberapa lembaran pertamanya.

Kalau kamu belum tahu dimana Rutif (Ruang Kreatif), mungkin keluyuran kamu kurang jauh, facebook-twitter-instagram-an kamu kurang bermanfaat. Kafe ini keren bagi kalian yang ingin merenda inspirasi atau menyemai ketenangan.

Sejujurnya, saya terhanyut saat awal membaca buku ini. Bukan dalam artian "baper". Buku ini justru lebih banyak membuat saya tertawa sendiri. Makanya saya kembali ke Rutif hanya untuk menghabiskan waktu lowong liputan (Sabtu) demi menamatkannya. Pun, saya sudah lama tak menamatkan bacaan keren seperti ini.

Tokoh utama, Dilan, punya kepribadian yang unik dalam mendekati seorang siswi baru di sekolahnya, Milea. (Panggil saja Lia)

Dilan bukan anak populer di sekolahnya. Bukan anak pintar. Bukan anak OSIS. Bukan anak kesayangan guru. Lelaki unik ini justru dianggap pengacau oleh sebagian guru dan teman-temannya. Ia merupakan anggota geng motor di sekolahnya. Wajar jika ia cukup ditakuti oleh sesama teman berandalannya.

Tentang tokoh Dilan ini, mungkin kamu bisa mengasosiasikannya dengan teman-teman di masa yang sama dengan kita. Anak-anak yang suka ngumpul di kantin-tak-biasa. Anak-anak yang suka menantang aturan sekolah. Anak-anak yang selalu dipanggil ke ruang BK. Anak-anak yang ketika upacara suka terlambat dan berakhir dengan dijemur di lapangan.

Kehadiran Lia di sekolahnya membuatnya jatuh cinta. Padahal Lia sendiri sudah punya pacar di sekolahnya dulu, Beni. Beranjaknya waktu, Lia dibuat penasaran dengan tingkah Dilan yang berusaha mendekatinya. Segala yang dilakukan Dilan seolah-olah membuatnya lebih istimewa, secara yang tak pernah disangka Lia.

Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu nggak akan denger. --Dilan--

Dilan adalah siswa yang unik. Di balik sikapnya yang penentang dan jagoan, ia tergolong anti-mainstream. Ada-ada saja sikapnya yang aneh bin ajaib. Caranya bertutur juga cenderung tak serius dan lebih banyak bercanda. Hal itu yang membuat Milea makin hari jatuh hati padanya.

"Aku merasa mulai senang berbicara dengannya bahkan ingin lama. Berbicara dengannya aku merasa seolah-olah bisa berbicara tentang segala sesuatu! Dan kalau aku harus jujur, aku juga merasa mulai suka kepadanya." --Milea--

Nah, saya cukup suka dengan cara bertutur buku ini. Apa adanya. Tak ada bahasa-bahasa yang syahdu apalagi mendayu-dayu. Kecuali puisi karangan Dilan. Bahasanya biasa-biasa saja, bahkan cenderung mengikuti bahasa sehari-hari. Lantaran buku ini mengambil alur cerita di Bandung, maka bahasa yang diselipkan adalah Sunda.

Sebagian teman saya justru menganggap buku ini sebagai buku pelajaran. Nah loh? Iya, buku pelajaran mendekati gadis cantik. Hahaha... Nampaknya Pidi Baiq sudah sukses memporak-porandakan rahasia para perempuan. Melalui buku ini, ia secara tak langsung membagi idenya meluluhkan hati seorang perempuan.

Akan tetapi, meskipun sebagian perempuan umumnya punya tingkat penasaran yang sangat tinggi terhadap laki-laki, seperti dalam buku ini, namun Pidi Baiq tetap menegaskan dalam buku ini:

"Ya, orang berbeda-beda. Ada yang kayak kamu. Ada yang kayak aku. Ada yang kayak mereka. Kamu ingin semua orang kayak kamu?" --Dilan--

Buku ini punya seri kedua. Saya makin penasaran ingin senyum-senyum lagi membacanya.


--Imam Rahmanto--




Tidak ada komentar:

Posting Komentar