Rabu, 30 September 2015

Labirin Kerja

September 30, 2015
"Fly over, Pak?"

Ada kebahagiaan tersendiri ketika menemukan angkutan kota (baca: pete-pete) usai kelamaan menunggu di tepi jalan. Malam sudah menggulung senja beberapa menit. Sembari menyebutkan tujuan, yang biasanya hanya dibalas anggukan oleh sang supir, saya melengos masuk ke dalam.

Kapan lagi saya bisa menikmati momen semacam itu? Terkadang merasai ayunan kaki di tengah kota itu hal yang mengasyikkan. Sendirian atau bersama-sama. Kalau kamu pembelajar yang baik, ada banyak kerangka hidup yang bisa kamu saksikan di kiri-kanan langkahmu.

Akan tetapi akhir-akhir ini Makassar dihinggapi rasa tak aman. Hampir setiap hari ada begal usil di jalan-jalan kota. Salah satu warkop tongkrongan saya dan teman-teman wartawan lain juga tak luput dari gerilya begal-begal muda itu. Katanya, satu anak panah sempat ditembakkan dari arah pinggir jalan. Beruntung, tak ada korban dari serangan mendadak itu.

Di atas angkutan umum pun ada banyak jenis kehidupan yang berputar layaknya roda yang menggilas jalan beraspal. Jika kondisi pete-pete sedang lengang, saya suka mengambil tempat di bagian buntut, samping jendela belakang. Saya bisa mengamati lebih banyak orang dari pojokan itu.

"Ah, kalau disana honornya berapa? Cuma 500ribu saja. Makanya saya bilang..." salah seorang wanita muda membuka cerita di depan teman wanitanya.

"Dia kerja di rumah sakit. Itupun kalau dia punya SK, baru ada honornya," lanjutnya lagi.

Saya tak menggubris keduanya, kendati telinga saya sebenarnya tetap fokus menangkap arah pembicaraannya. Di tempat sesempit itu, saya agak menjaga pandangan liar. Padahal, salah satu perempuan yang berseberangan kursi cukup manis juga. Sesekali saya mencuri pandang ke arahnya. #ehh

Perbincangan mereka seputar pekerjaan dan imbalannya. Entah kenapa, percakapan menggelinding itu mendadak membuat saya bersyukur.

Apa yang saya tuai kini nyatanya masih jauh lebih beruntung ketimbang rerata orang lain. Saya bekerja, saya memperoleh imbalan. Saya bekerja, saya bebas mengerjakan apa saja. Saya bekerja sesuai dengan keinginan.

Kenyataannya, kota-kota besar tidak banyak menjamin lapangan kerja. Perpindahan orang-orang kampung di tengah kota tak sejalan dengan perluasan lapangan kerja. Apalagi dengan dorongan penguatan dollar dimana-mana. Itu makin membuat ekonomi perusahaan dimana-mana melemah. Wajar jika pengangguran berhamburan di gemerlapnya pembangunan kota.

Begal-begal di luar sana juga sebagian besar imbas dari kurangnya lapangan kerja. Seorang teman pernah bercerita, betapa pahitnya akal saat perut kosong lantaran tak bisa bekerja menghasilkan uang. Segala cara berputar, abai pada norma hukum yang berlaku.

"Biasanya kita bakal berpikir macam-macam supaya bisa dapat uang," tuturnya.

Dulu, sewaktu belum memperoleh pekerjaan seperti sekarang, beruntung ia hanya menghabiskan waktunya bermain game. Paling tidak, ia terhindar dari hal-hal pemicu semacam ngelem, miras, atau obat-obatan terlarang. Soal menganggur, ia sudah merasainya.

Seorang teman lainnya juga punya masalah serupa. Lantaran disibukkan pikiran ingin membiayai hidupnya sendiri, ia bermaksud menanggalkan kewajibannya di organisasi. Berharap teman-temannya menjauh dan melupakan kabarnya. Padahal ia tidak seharusnya menyimpan masalah seperti itu dari teman-teman yang selalu merindukannya. Sebagian orang tak sadar, hidupnya jauh lebih terbuka dari yang selalu ditutup-tutupinya.

Akh, tentang pekerjaan dan membiayai hidup, selalu membuat orang berpikir di luar saraf logika. Antara bertahan hidup atau mempertaruhkan rasa dan budi.

Pekerjaan saya sekarang pun rasanya belum banyak memenuhi kebutuhan pribadi. Hanya saja, saya bersyukur memperoleh pekerjaan yang sejalan dengan akal sehat dan impian saya. Beberapa hal semakin terpaut lebih dekat. Beberapa yang lain, mendorong saya untuk memasang target yang lebih besar.

Pernahkah terpikir dalam kepala? Kehidupan berjalan terus-menerus. Waktu berlalu tanpa kita sadari. Masa kanak-kanak seolah-olah baru saja direnggut kemarin. Beranjak remaja dengan segala tugas dan masalahnya. Naik kelas. Lulus sekolah. Menjalani masa-masa kuliah dan membangun peradaban masa muda. Wisuda. Bekerja, menghidupi diri sendiri hingga orang-orang tersayang. Melepas status lajang ke pelaminan. Menua. Punya keturunan yang beranak-pinak lebih banyak.

Alur-alur perjalanan hidup itu seolah membuat kita enggan move on. Selepas kuliah, kita serasa ingin mengulur kembali masa-masa penuh kreativitas di kampus. Saat sudah menyibukkan diri dengan pekerjaan, saya terbawa merindukan masa berleha-leha menertawakan kekonyolan di kafe-kafe langganan. Bercerita apa saja, tanpa perlu dibebani deadline.

Penumpang perempuan bertambah di tengah jalan. Salah satunya seorang wanita yang (saya terka) bekerja di bank atau perusahaan formal lainnya. Ia duduk agak menjauh dari saya yang satu-satunya lelaki di dalam angkutan umum. Roknya yang pendek dan ketat agak ditahannya agar tak tersingkap lebih tinggi.

Terkadang kesibukan kerja memang mulai mengkotak-kotakkan waktu yang dimiliki. Semacam labirin waktu yang disumpalkan dalam keseharian saya. Hanya saja, toh, pekerjaan kini sudah menjadi "barang" yang dicari setiap orang. Kehadirannya langka. Mungkin, setiap orang juga perlu memutar otak kanannya untuk menghasilkan uang sendiri. Dengan begitu, ia bisa menjadi lumbung pekerjaan bagi orang lain yang membutuhkannya.

Beberapa orang memang puas dengan pekerjaannya. Sekadar membandingkan imbalan atau upah yang diterimanya setiap bulan. Saya sendiri? Untuk saat ini cukup saja dengan apa-yang-saya-inginkan. Karena kebahagiaan nyatanya tak bisa dihargai oleh materi...

"Kamu baru bisa dikatakan kaya jika punya sesuatu yang tak bisa dibeli dengan uang," --Anonim

--Imam Rahmanto--

Rabu, 23 September 2015

If You Know What I Do

September 23, 2015
\\\Now playing: Dialog Dini Hari - Pelangi

Kemarin dan hari ini saya agak malas mengerjakan tugas dari kantor. Wajar lah, ini sudah memasuki akhir bulan. Seperti biasa, para pekerja yang belum diganjar gaji tinggi seperti saya pasti bakal megap-megap di akhir bulan. Ditambah, untuk mobilitas liputan, saya harus bergantung pada kendaraan umum dan tebengan. Nah, makin malas keluar deh.

Saya tidak segesit biasanya. ceilahhh! Saya kini lebih mengalah kepada teman lain untuk liputan yang sama. Malas bersaing. Kalau kami meliput berita yang sama, saya serahkan saja berita itu padanya. Apalagi saya masih berpikir, "Dia lebih butuh lantaran sudah berhitung poin. Sementara saya dan teman-teman (magang) lainnya masih dikenai salary konstan tiap bulannya."

Imbasnya, saya sebenarnya bisa mencuri-curi waktu untuk bersantai. Bahkan, sedikit berleha-leha untuk beberapa hari. Toh, banyak atau sedikitnya berita tak berpengaruh pada kisaran imbalan yang akan saya terima.

Lagipula, sudah terlalu lama saya tidak menikmati suasana-suasana nyantai. Bercengkerama bersama teman. Mengamati hal-hal sekitar sedikit lebih lama. Berjalan-jalan. Merangkai logika di kepala. Sampai menunggui senja yang meredup perlahan ditelan malam.

Oiya, seminggu belakangan saya juga semakin gandrung bermain Play Station 3. Tak setiap hari sih. Hanya saat pikiran sedang "gak enak". Saya bakal mengajak seorang teman beradu tanding Pro Evolution Soccer (PES). Tentu saja dengan tim andalan Chelsea dan Manchester United. Haha...apa ini dampak menempati liputan desk olahraga ya? Ternyata namanya "cinta" bisa dipaksa juga ya...

Dan juga, saya memilih lawan (teman) yang levelnya tidak terlalu tinggi melampaui level permainan saya. Saya pernah kalah 8-0. Tapi kian hari, tren permainan saya makin meningkat. Saya sudah bisa mengimbangi permainan seorang teman yang pernah berulang-ulang mengalahkan saya. Bahkan mengalahkannya dengan skor terakhir 3-0. #Yosh!

Tahu tidak, saban mengetik berita, saya kerap "terkurung" di dalam warkop. Menimang gadget "jadul" dengan naskah yang siap dikirimkan jelang deadline. Saya tak lagi menikmati pergantian petang menjelang malam. Padahal saya selalu menantikan momen menjelang malam itu, meski sekadar mengamatinya lamat-lamat. Sambil meneguk secangkir cappuccino, pastinya.

Seperti hari ini, lantaran tidak "hunting" kemana-mana, saya memutuskan bersepeda sore. Menyusuri jalan. Sembari mengejar matahari yang hampir tenggelam di ufuk barat sana. Orang-orang mungkin abai saja dengan kilas kejinggaan yang memantul dari balik kaca jendela bangunan dan rumahnya. Anak-anak sibuk dikejar ibunya pulang ke rumah. Maghrib, katanya, tak boleh bekeliaran terlalu jauh dari rumah.

Saya sekadar ingin menikmati kembali waktu-waktu yang sempat tercerabut oleh kesibukan kini. Oiya, tak lupa saya menyelesaikan satu-dua berita sebelum menggowes sepeda ke jalanan. Paling tidak, malam ini, saya tidak muntaber ke redaksi. Muntaber: muncul tanpa berita.

Hari ini, Rabu 23 September, masih dalam suasana berlebaran Idul Adha. Sebagian orang memilih melaksanakan shalat Ied mengikuti ketentuan Muhammadiyah. Sementara yang lain lebih memilih menunggu hingga Kamis tiba. Mereka nunut dengan anjuran pemerintah, termasuk saya. Biasanya saya lebih condong ke Muhammadiyah. Tapi karena saya belum menyelesaikan puasa Arafah, maka saya ikut saja di hari Kamis.

Di satu tanah lapang yang saya temui, sembari menggowes, takbir sudah dikumandangkan dari tape recorder. Menggema hingga ke jalan raya. Beberapa orang nampaknya sedang mempersiapkan keperluan shalat Ied esok hari ya. Ah, saya lalu ingat, di tanah lapang ini saya dulu pernah berlebaran jauh dari orang tua. Lokasinya memang tak jauh dari kafe langganan.

Saya ingin mengejar cahaya yang makin memudar di depan sana. Tapi, waktu tak cukup dibagi untuk saya. Seandainya saya punya waktu libur, saya ingin mengakhiri rute bersepeda di pinggir pantai, di tepian kota. Sebenarnya saya bisa beralasan untuk absen di kantor. Hanya saja, beberapa hari kemarin saya sudah absen sekali. Hehe...mau bagaimana lagi? Saya tak bisa menolak ajakan ke bioskop. Haha...

Sekarang, saya sudah berada di depan salah satu komputer di kantor. Awak-awak redaksi sedang sibuk dengan naskah masing-masing. Redaktur sedang mengedit. Sewaktu-waktu siap meneriakkan nama reporternya. Layouter sedang fokus menata halaman untuk edisi besok. Meski sebenarnya besok waktu libur nasional, tapi media disini masih tetap tekun bekerja. Agak sepi sih. Beberapa kru telah meminta izin untuk pulang ke kampung halamannya.

Saya? Hm...tahun ini saya memutuskan tidak pulang lagi ke rumah. Saya belebaran disini saja. Waktu sehari rasanya agak sia-sia dipakai menuai rindu bersama keluarga. Biarlah saya tabung saja rindu itu. Kapan-kapan saya pecahkan kalau sudah tiba waktunya. Dalam waktu dekat, mungkin saya akan pulang kok. Saya harus mengurus KTP di kampung sana untuk keperluan administrasi di kota ini.

.....

Sudahlah. Semua cerita itu tak begitu penting.

Cuma mau bilang, selamat bertambah usia ya, kemarin. Semoga yang di"semoga"kan orang-orang yang mengenal dan menyayangimu bisa terwujud. Tuhan selalu menyayangimu dengan segala cara.



--Imam Rahmanto--

Selasa, 22 September 2015

Menguatkan Ingatan

September 22, 2015
"Menulis itu sebenarnya bagian dari mengingat,"

Kemarin, saya baru saja berbincang dengan salah seorang sastrawan asal Sulsel, Mochtar Pabottingi. Itu semacam tugas tambahan dari kantor untuk melengkapi buku biografi 100 tokoh berpengaruh di Sulsel. Sementara tugas di lapangan olahraga masih harus tetap berlanjut.

Yah, lelaki berusia 70 tahun itu memang punya daya ingatan yang sangat kuat. Ia menuliskan buku autobiografi berbau sastranya dengan modal ingatan semata. Tanpa jurnal. Termasuk pula tanpa buku harian selayaknya penulis-penulis lainnya.

"Kalau terus menulis saja, kita akan bertemu dengan ingatan-ingatan yang hilang itu. Awalnya memang ada kesalahan, tapi terus menulis (ingatan) bakal menjadi perbaikannya juga," terangnya.

Di ujung telepon sana, suara pria tua itu masih bersemangat. Nampaknya pengalaman belajar di luar negeri cukup membawa banyak hal baru bagi hidupnya. Pak Mochtar termasuk sastrawan beruntung yang pernah merasai kehidupan di negeri-negeri adikuasa. Bahkan pulau temaram senja, Hawai, juga sudah menjadi kesehariannya saat kuliah doktoral.

Yang namanya ingatan memang tak pernah bisa terhapus permanen. Ia hanya tenggelam saja di dasar labirin kepala. Menanti pemicunya untuk muncul ke permukaan. Ingatan lama hanya menunggu untuk digunakan kembali.

Mungkin hal seperti itu yang membedakan manusia dengan komputer. Secanggih-canggihnya komputer, takkan pernah bisa menyimpan memori sebanyak yang mampu dirapal kepala. Kalau ingatan di komputer dihapus, ya sudahlah, dihapus saja. Sementara kepala tak sesederhana itu.

Saya selalu percaya, tak ada yang bisa menghapus ingatan. Kalau manusia terluka, ia tetap menyimpan lukanya. Kalau manusia bahagia, ia akan memudar seiring ingatannya yang diperbaharui. Yang terjadi kemudian hanyalah soal melepaskan atau merelakan. Ikhlas. Sejauh mana manusia ingin atau enggan mengingat-ingat suka atau lukanya.

Maka menulislah untuk mengekang ingatan...

***

Lewat seminggu saya tak pulang ke "rumah" ini. Akh, maaf untuk sejenak meninggalkannya berdebu. Beberapa kesibukan sempat menggerogoti waktu luang. Akhir-akhir ini, saya tak kuat bertahan lewat separuh malam. Pun, ketika pagi menjelang, saya tak lagi bertemu dengan cahaya jingga kesunyian. Padahal saya merindukannya.

Sore ini, saya justru mendapat kesempatan lagi menatap kilas cahaya jingga di ufuk barat sana. Di depan beranda, sembari memutar lagu Banda Neira, saya tengah merasai tiap detik kerinduan menepi sunyi. Bayang-bayang kendaraan berkelebat. Suara lafaz Quran berkumandang dari corong masjid berburu. Karena sejam lagi, saya harus beranjak...

Lihat cahayanya saja. Tak usah perhatikan jemurannya. Haha... (Foto: ImamR)



--Imam Rahmanto--

Sabtu, 12 September 2015

Ya Sudah...

September 12, 2015
Saya mulai kehilangan notebook yang selama ini menemani kesibukan dan kehidupan sehari-hari. Sebenarnya, sudah dua bulan yang lalu. Saya biasanya memanfaatkan notebook itu untuk mengetik berita, mengisi blog, hingga mendesain. Kini tak lagi.

Entah karena terbiasa, atau memang dipaksa membiasakan diri, saya jadi tak merasa kehilangan apa-apa. Beberapa data yang saya butuhkan juga masih tersimpan rapi di dalam hardisk-nya. Sebagian data penting pernah saya simpan otomatis lewat aplikasi penyimpanan online. Pun, sekarang saya masih bisa mengaksesnya bebas melalui akun pribadi. Termasuk data skripsi.

Notebook adalah salah satu barang ke-Saya-ngan. Bisa dibilang, sudah menjadi salah satu identitas saya sebagai seorang-yang-aktif-menulis.

Dulu, saya membelinya atas desakan kebutuhan desain grafis dan semacamnya. Di akhir-akhir kemarin, saya malah mendapatinya kelebihan beban dan menjadi semakin lambat. Kalau menilik kebutuhan desain grafis zaman sekarang, maka ia sudah tak sanggup bersaing lagi. Mungkin lantaran ia semakin menua...

Saya begitu menyayanginya. Label yang terpasang pun diusahakan mencirikan identitas pribadi. Saya pernah iseng melabeli logo cappuccino di casing-nya. Yah, tau sendirilah, sebagaimana karakter "rumah" pribadi saya disini.

Spare-part notebook juga sudah bukan barang muasalnya lagi. Berkali-kali, notebook itu mendapat "kecelakaan". Mulai dari screen yang pecah, hardisk yang rusak, tombol "DEL" yang tak berfungsi, hingga charger rusak. Semuanya sudah diganti demi mempertahankan notebook ke-saya-ngan itu.

Akan tetapi, trouble sekarang; chipset, sudah tak terelakkan lagi. Ketimbang diganti dengan chipset yang anyar, saya berpikir bakal lebih logis jika diganti dengan notebook baru. Kelak yang lebih bermutu dan aplikatif.

Memang, saya sangat-teramat menyukai notebook pertama itu. Namun saya sadar, memperbaikinya kembali hanya akan membuang-buang uang. Bukankah lebih baik jika saya menyimpan saja kenangan tentang notebook itu, lantas menyiapkan uang untuk notebook yang baru? Mungkin notebook baru bakal menjadi hal berharga selanjutnya.

Mungkin konsep "merelakan" seperti demikian...

***

Punya barang ke-saya-ngan, tak jauh beda dengan pola hidup di dunia. Kita kerap kali menyukai sesuatu (atau seseorang) sebegitu dalamnya. Seolah-olah kita tak boleh kehilangan perasaan itu. Seolah-olah hanya satu hal itu yang mampu membuat kita hidup.

"Cuma dia yang cocok," tekan hati pada kepala.

Padahal, rentang waktu bergulir, ada banyak hal yang berganti di dunia ini. Rumah. Wajah. Lingkungan. Tanah dipijak. Pekerjaan. Teman. Perasaan.

Hanya saja, manusia terlalu fokus bertahan pada "zona nyaman" yang dimilikinya. Ia tak ingin bertaruh pada sesuatu yang belum dikenalinya. Sementara zona yang dianggapnya "nyaman" itu sudah tak senyaman realitasnya. Ia hanya memaksakan diri pada bagian itu.

Di saat merelakan notebook ke-saya-ngan, ternyata saya masih bisa melakukan hal-hal yang dulu banyak dikerjakan melalui notebook itu. Saya masih bisa menonton film (bajakan). Saya masih bisa bermedsos. Saya masih bisa menulis. Pun, masih suka mengisi "rumah" ini.

Saya hanya butuh sedikit paksaan dan kebiasaan, karena kenyataannya, konsep merelakan itu tak sebegitu mencekamnya. Ia sederhana. ^^


--Imam Rahmanto--

Senin, 07 September 2015

Dilan yang Unik

September 07, 2015
"Cinta itu indah, jika Bagimu tidak,
mungkin kamu salah milih pasangan." --Milea--

(Sumber: pidibaiq)
Pernah baca novel Dilan? Bagus, kalau sudah, artinya kamu tak perlu baca review ini lagi. Tapi kalau maksa, saya juga tidak bakal melarang.

Buku ini sukses membuat saya penasaran. Beberapa orang yang pernah membacanya selalu menanggapi positif. Mereka bahkan merekomendasikan buku karangan Pidi Baiq ini. Hanya saja, rekomendasi itu tidak diiringi dengan meminjamkan bukunya. -,-"

Nah, beberapa hari lalu, saya mendapati buku bersampul biru muda ini diantara jejeran buku di rak Rutif. Saya menjajal halaman demi halamannya. Mencoba membaca beberapa lembaran pertamanya.

Kalau kamu belum tahu dimana Rutif (Ruang Kreatif), mungkin keluyuran kamu kurang jauh, facebook-twitter-instagram-an kamu kurang bermanfaat. Kafe ini keren bagi kalian yang ingin merenda inspirasi atau menyemai ketenangan.

Sejujurnya, saya terhanyut saat awal membaca buku ini. Bukan dalam artian "baper". Buku ini justru lebih banyak membuat saya tertawa sendiri. Makanya saya kembali ke Rutif hanya untuk menghabiskan waktu lowong liputan (Sabtu) demi menamatkannya. Pun, saya sudah lama tak menamatkan bacaan keren seperti ini.

Tokoh utama, Dilan, punya kepribadian yang unik dalam mendekati seorang siswi baru di sekolahnya, Milea. (Panggil saja Lia)

Dilan bukan anak populer di sekolahnya. Bukan anak pintar. Bukan anak OSIS. Bukan anak kesayangan guru. Lelaki unik ini justru dianggap pengacau oleh sebagian guru dan teman-temannya. Ia merupakan anggota geng motor di sekolahnya. Wajar jika ia cukup ditakuti oleh sesama teman berandalannya.

Tentang tokoh Dilan ini, mungkin kamu bisa mengasosiasikannya dengan teman-teman di masa yang sama dengan kita. Anak-anak yang suka ngumpul di kantin-tak-biasa. Anak-anak yang suka menantang aturan sekolah. Anak-anak yang selalu dipanggil ke ruang BK. Anak-anak yang ketika upacara suka terlambat dan berakhir dengan dijemur di lapangan.

Kehadiran Lia di sekolahnya membuatnya jatuh cinta. Padahal Lia sendiri sudah punya pacar di sekolahnya dulu, Beni. Beranjaknya waktu, Lia dibuat penasaran dengan tingkah Dilan yang berusaha mendekatinya. Segala yang dilakukan Dilan seolah-olah membuatnya lebih istimewa, secara yang tak pernah disangka Lia.

Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah, aku sedang mengucapkan selamat tidur dari jauh. Kamu nggak akan denger. --Dilan--

Dilan adalah siswa yang unik. Di balik sikapnya yang penentang dan jagoan, ia tergolong anti-mainstream. Ada-ada saja sikapnya yang aneh bin ajaib. Caranya bertutur juga cenderung tak serius dan lebih banyak bercanda. Hal itu yang membuat Milea makin hari jatuh hati padanya.

"Aku merasa mulai senang berbicara dengannya bahkan ingin lama. Berbicara dengannya aku merasa seolah-olah bisa berbicara tentang segala sesuatu! Dan kalau aku harus jujur, aku juga merasa mulai suka kepadanya." --Milea--

Nah, saya cukup suka dengan cara bertutur buku ini. Apa adanya. Tak ada bahasa-bahasa yang syahdu apalagi mendayu-dayu. Kecuali puisi karangan Dilan. Bahasanya biasa-biasa saja, bahkan cenderung mengikuti bahasa sehari-hari. Lantaran buku ini mengambil alur cerita di Bandung, maka bahasa yang diselipkan adalah Sunda.

Sebagian teman saya justru menganggap buku ini sebagai buku pelajaran. Nah loh? Iya, buku pelajaran mendekati gadis cantik. Hahaha... Nampaknya Pidi Baiq sudah sukses memporak-porandakan rahasia para perempuan. Melalui buku ini, ia secara tak langsung membagi idenya meluluhkan hati seorang perempuan.

Akan tetapi, meskipun sebagian perempuan umumnya punya tingkat penasaran yang sangat tinggi terhadap laki-laki, seperti dalam buku ini, namun Pidi Baiq tetap menegaskan dalam buku ini:

"Ya, orang berbeda-beda. Ada yang kayak kamu. Ada yang kayak aku. Ada yang kayak mereka. Kamu ingin semua orang kayak kamu?" --Dilan--

Buku ini punya seri kedua. Saya makin penasaran ingin senyum-senyum lagi membacanya.


--Imam Rahmanto--




Selasa, 01 September 2015

Euforia

September 01, 2015
"Goaaal!! Goaaal! Goaaaalllll"

Ini bukan di acara tivi, yang komentatornya tak henti berseru ketika tim andalannya menjebloskan bola ke gawang lawan. Saya justru sedang berada diantara puluhan teman-teman pewarta yang menyaksikan langsung laga antara klub PSM menjamu Gresik United. Ribuan supporter PSM bergemuruh menyuarakan yel-yel kemenangan.

Itu gol pertama kapten kesebelasan PSM, Syamsul Haeruddin. Pacarnya Ika KDI pula. Saya sudah sering mendapati foto mesranya di akun BBM. Kalau jadi pewarta olahraga, harus kenal banyak pemain sepak bola.

Saya tak hendak bercerita jalannya pertandingan malam kemarin di stadion "neraka" Mattoanging. Semua media pasti sudah lancar bercerita. Bahkan live score pertandingan bisa diamati langsung di salah satu situs berita bola online Indonesia. Saya kebetulan bersebelahan dengan operator live score-nya saat mengamati jalannya pertandingan di tribun VIP khusus media. Cara kerja yang sederhana, tapi bayaran luar biasa.

Striker anyar PSM Ferdinand Sinaga. (Tawakal - FAJAR)
Baru pertama kalinya saya menyaksikan pertandingan resmi turnamen sepak bola semeriah itu. Di awal menempati desk olahraga, sebenarnya saya sudah mulai menjelajahi stadion kebanggaan Makassar itu. Hanya saja, Liga Ramadan kala itu sebatas turnamen antar kampung (tarkam) yang tidak menetapkan aturan-aturan ketat. Saya dan teman-teman pewarta lainnya bebas duduk di pinggir lapangan, berdampingan dengan komentator dan kepanitiaan. Kami juga tak butuh ID dari penyelenggara kala itu.

Di turnamen resmi ternyata segalanya berlaku berbeda. Kursi media sudah disediakan di atas tribun khusus, yang bisa mengamati pertandingan dengan jelas. Hanya kameramen dan fotografer yang diperbolehkan berada di sisi lapangan. Wartawan cetak maupun online hanya duduk dari atas tribun utama mengamati.

Susunan pemain (SP) disebar satu-satu kepada para pewarta. Nama beserta nomor punggungnya sudah tertera jelas di daftar itu. Jikalau ada kejadian di lapangan, kami tinggal mencocokkannya saja dengan SP di tangan.

"Itu, nomor 8 ya?"

"Ohh....itu berarti Syamsul Haeruddin,"

Saya juga merasakan yang namanya kerja keras di turnamen seperti itu. Jangan berpikir bahwa meliput turnamen sepak bola resmi seperti itu hanya mengandalkan kehadiran dan wawancara dengan pihak terkait, serupa acara seremoni.

Ternyata bukan hanya adrenalin para pemain saja yang terpacu. Kami, para pewarta juga ikut saling berkejar data di lapangan. Mata harus selalu mengamati lapangan, mencatat setiap menit kejadian di lapangan.

"Waduh. Itu si Ferdinand jatuh. Dijegal sama siapa? Itu menit ke berapa?"

"Eh, tendangan penaltinya goll. Itu menit ke berapa?"

"Wah, Iqbal dapat kartu merah. Itu menit ke berapa?"

"Pemain yang masuk gantikan Dewa siapa? Oiya, menit ke berapa (lagi)?"

Kalau saya lupa memutar stopwatch di gadget, biasanya bakal celingak-celinguk bertanya ke sekeliling. Termasuk bertanya nomor punggung pemain yang sedang jadi sorotan di lapangan.

"Beda striker sama gelandang apa sih?'

"Kok bisa offside?"

"Gelandang bertahan itu maksudnya apa sih?"

Tapi saya menghindari bertanya terkait aturan atau pengetahuan tentang bola. Saya bisa jadi pusat perhatian atau paling gawat ditimpuk botol minuman. Hahaha...tapi pengetahuan dasar semacam itu sudah berlalu dong. :P

Usai satu pertandingan, kepanitiaan penyelenggara bakal menggelar Press Conference khusus wartawan untuk informasi tambahan dari kedua tim maupun pemain. Wawancara pelatih dari kedua tim biasanya di salah satu ruangan Press Con yang memang sudah disediakan penyelenggara. Mudah tapi mencekat deadline.

Turnamen resmi seperti itu menjadi ujian terberat kami (ah, mungkin.hanya saya?). Soal bahan berita, memang bakal tumpah habis-habisan. Selain harus menulis data, meramu beritanya untuk surat kabar besok, saya juga harus menuangkannya up-to-date di media online. Kebayang ndak multitasking-nya?

"Jangan hanya terpaku di lapangan pertandingan. Karena di lapangan itu pasti sudah dilahap semua oleh televisi yang menyiarkannya," ujar seorang senior yang menjadi tandem saya.

"Cari hal-hal di luar lapangan yang menarik dan tidak didapatkan oleh media tivi itu. Sekitar tribun, sekitar ruang ganti, di luar Mattoanging, dan semacam itu," lanjutnya lagi.

Satu hal lainnya yang membuat adrenalin terpacu, ya soal deadline-nya. Pertandingan berlangsung jam 7 malam. Sementara berita harus masuk meja redaktur sebelum jam 8. Nah loh?

Beruntung, lantaran turnamen itu termasuk isu nasional, ada tambahan waktu tertentu untuk deadlinenya. Biasanya, kami juga akan mengakalinya dengan kerangka berita yang sudah lebih dulu diselesaikan. Tersisa mencocokkannya dengan kondisi lapangan dan narasumber.

Overall, saya suka dengan nuansanya. Saya belajar lebih banyak bekerja sama. Membagi tuntutan dan kemampuan. Saya belajar untuk tidak mengedepankan ego terhadap berita tertentu. Work together.

Supporter PSM. (Sumber: indosport.com)
Kendati saya bukan penggila bola, saya merasakan aura kebesarannya malam itu. Bagaimana semangat para supporter mendukung tim kesayangannya nampaknya memantik semangat saya juga untuk berjuang di lini informasi. Sesekali saya mengamati para suporter yang sangat kreatif menyuarakan yel-yel dan koreografinya.

"Seperti inilah semangat sepak bola Indonesia,"

Seandainya saja PSSI bertindak sesuai aturan. Seandainya saja Kemenpora tidak memaksakan kehendaknya. Seandainya saja tiap supporter bisa menjaga etikanya. Mungkin, sepak bola kita juga bisa berjaya, harum semerbak di kancah luar negeri. #semoga

"Ewako PSM! Ewako PSM! Ewako PSM!" gemuruh para supporter fanatik kesebelasan Ayam Jantan dari Timur.

Ternyata, benar, bahwa semangat selalu menular tanpa perantara.... ^^.


--Imam Rahmanto--