Senin, 31 Agustus 2015

Musik dan Puisi




Now playing: Nasadira - Selamat Tinggal (Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)

Saya sedang menyukai lagu yang nemu di stream Soundcloud itu. Musikalisasi puisi dari Chairil Anwar. Meski saya sebenarnya bukan pecinta puisi, tapi mendengar instrumen dan tekanan nada dari vokalnya membuat saya merenung-renung sendiri.

Oh ya, saya memang bukan penggemar puisi. Beberapa puisi bagi saya bahkan tak masuk di akal. Maksudnya, ya, tak bisa dimengerti begitu. Maknanya tergantung dari cara membaca si penyampainya. Kalau pembaca menuturkannya biasa-biasa saja, puisinya bakal jadi biasa-biasa saja.

Di sekolah dasar dulu, saya punya seorang teman yang pandai membaca puisi. Ia biasa didapuk mewakili sekolah di lomba tingkat kecamatan sampai kabupaten. Kendati kerap diledek teman-teman karena sikap kemayunya, ia punya kekuatan vokal yang baik dalam berpuisi. Kalau teman satu ini sudah mulai beraksi di atas panggung, ia bakal meledak-ledak menghayati isi syairnya.


Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

...............
...............

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda *


Puisi dari Toto Sudarto Bachtiar itu dibacanya dengan suara lantang sekaligus menantang. Semua anak SD sezaman saya pasti mengenal baik, bahkan, menghafal bait-bait awal puisi itu. Lantaran selalu dibaca saat Agustusan. Apalagi mengandung kata "sayang" yang berhasil mengundang seluruh riuh rendah para pendengarnya.

Akan tetapi, semakin saya memasuki fase sosialisasi dengan pelbagai macam orang, ternyata membaca puisi itu tidak perlu meledak-ledak. Di beberapa pentas komunitas, saya banyak bertemu orang-orang yang membaca puisi datar dan rata. Entah ia saking menjiwainya, atau memang cara membacanya saja seperti itu. "Ternyata cara baca puisi itu tidak susah ya," wajar ketika saya menemukan teman-teman berkomentar seperti itu.

Sebagai pembaca, saya hanya berpikir estetika puisi dari rangkaian katanya yang bermakna. Jika kata-katanya menjunjung tinggi sastra namun tak mudah dimengerti, ah saya jadi semakin bingung membacanya.

Untuk musikalisasi puisi atau puisi musikal, saya menganggapnya berbeda. Perbedaan keduanya cukup jelas. Musikalisasi puisi, artinya puisi yang digubah menjadi sebuah lagu. Sementara puisi musikal, artinya puisui yang dibacakan dengan iringan instrumen tanpa melagukannya..

Saya lebih senang mendengar instrumen dan, mungkin, penjiwaan puisinya. Ketimbang membaca buku puisi yang berlapis-lapis halaman, saya lebih suka mendengar orang lain yang membacakannya untuk saya. Hahahaha....

***

Saya harus mengakhiri tulisan singkat ini. Siap untuk menghadapi hari yang melelahkan. Salah satu turnamen pramusim Indonesia sudah mulai bergulir kemarin. Hari ini, grup Makassar juga bakal dimulai. Dan...parahnya, tuan rumah bertanding malam hari. Sebagai pewarta media cetak, itu alamat buruk lantaran deadline yang mepet. Argh. Apalagi saya tergolong "anak baru" dalam dunia olahraga sepak bola. Semangat sajalah...


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar