Sabtu, 22 Agustus 2015

Multi-writing

"Kapan lagi kutulis untukmu tulisan-tulisan indahku yang dulu..." --Jikustik, Puisi


Beberapa hari kemarin, saya mendapati seorang teman kembali menjajaki tulisannya. Semacam "anak yang hilang". Akh, saya sudah seringkali menjumpai "anak-anak hilang" seperti itu.

Padahal, saya selalu senang melihat orang-orang yang mau berusaha meramaikan pikirannya dengan mengolah tulisan dari dasar hatinya. Mereka yang berusaha melampaui batas diri atas alasan-alasan tertentu. Karena kita hidup di dunia, kerap kali banyak bicara, tanpa mau banyak berbuat. Terlalu banyak kata "Seandainya...."

Bagi saya, tulisan-tulisan kecil yang rutin dituangkan lebih bermanfaat ketimbang tulisan-tulisan berat yang hanya sekali meledak. Tahukah, pun dalam agama saya, Tuhan juga lebih menyukai amalan sunat yang dikerjakan rutin dan disiplin.

"Kamu sekarang kerja apa, Im?"

"Wartawan, Mbokde,"

Meski saya menjawabnya dengan penuh percaya diri, namun sebagian orang akan melanjutkan pertanyaan lebih jauh, "Itu pekerjaan seperti apa?"  

Di kepala orang awam memang hanya terpatri guru, dokter, perawat, tentara, polisi, hingga hal paling umum: Pe-En-Es. Mereka mungkin tak habis pikir, ngetak-ngetik di hape bisa jadi uang. Hahahaha....

Menulis sih memang tak ada habisnya. Apalagi jika sudah berhadapan dengan pekerjaan yang mengandalkan keahlian menulis. Dibenturkan dengan batas tertentu. Dituntut oleh orang-orang berwenang khusus.

Mungkin saya harus mengakui, beberapa hari belakangan saya juga masih suka menunda-nunda beberapa pikiran dan ide yang tertambat di kepala. Saya harus menyesalinya. Target hobi saya masih terlampaui oleh tuntutan pekerjaan yang tiap hari menjelma di lapangan.

Pekerjaan saya cukup padat sebagai seorang pewarta. Akan tetapi, saya selalu abai menyalahkannya atas absennya beberapa ide di kepala. Toh, pekerjaan saya hari ini masih tak jauh-jauh dari menulis. Saya menikmatinya. Saban hari berhadapan dengan fakta-fakat olahraga yang mesti digubah menjadi santapan pagi para kaum kapitalis. Saya harus menyebut apa lagi orang-orang yang setiap pagi menggelar korannya sembari duduk menyesap kopi di beranda rumah?

Menyambangi setiap kejadian atau kabar olahraga terkadang mulai mengikis genre tulisan saya yang agak halus. Di desk saya, tulisan harus tajam dan menggunakan kosa kata ala olahraga. Kosa kata baru yang banyak menyusup di kepala akhir-akhir ini. Istilah-istilah yang justru memutar-balikkan kepala saya. Pada intinya, tulisan tidak boleh mendayu-dayu hingga mendekati jenis berita feature.

Pernah suatu kali saya berinisiatif hendak melaporkan konvoi kemerdekaan komunitas pecinta klub sepak bola dalam bentuk feature. Kalau kamu tak mengerti feature, maka belajarlah mulai sekarang "mencari". Hasilnya, malah diubah menjadi berita biasa. Hahaha....

Kebiasaan menulis di desk olahraga sebenarnya membuat saya kehilangan beberapa gaya menulis. Sejujurnya, saya tak lagi terbiasa dengan bahasa yang melankolis - kata teman. Terlalu banyak menggarap berita juga mempengaruhi saya untuk menulis tanpa basa-basi. To the point!

Nah, kenyataannya, saya justru merindukan gaya menulis itu. Sebagai bentuk pelepasan rindu itu, wajar jika saya selalu mencuri-curi waktu menulis di "rumah" ini.

Di warkop, usai menyelesaikan target berita. Di kantor, di sela-sela menunggu panggilan redaktur. Di sekretariat lembaga pers kampus, di tengah obrolan teman. Atau malah di tengah-tengah rapat redaksi.

Dengan menulis seperti ini, saya merasa "lepas". Saya tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu. Maka nikmat mana lagi yang saya dustakan? Karena menulis itu, bukan persoalan ada waktu atau tidak. Ini soal, sekali lagi saya harus mengatakan, kemauan dan konsistensi...

Saya suka dengan kata Pongky (coba pula dengar versi Endah 'n Rhesa) dalam lagunya, Untuk Dikenang:

"Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan. Mungkin akan kau lupakan atau untuk dikenang..." 

Karena memang sejatinya saya menulis agar bisa dikenang, minimal oleh diri sendiri.


Jauh abad, Tuhan sudah mengingatkan dan bersumpah demi masa (waktu), bahwa manusia sesungguhnya adalah kerugian. Yah, khittahnya, Tuhan tahu bahwa kelak manusia akan selalu menyalahkan waktu atas kelalaiannya.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar