Jumat, 28 Agustus 2015

Jalan Terus

Hanya ingin berterima kasih pada segala hal yang berlaku dalam hidup saya. Melalui banyak kejadian, saya diajak banyak berterima kasih. Mensyukuri banyak-banyak, tanpa perlu meminta banyak. Ah ya, ketika jatuh, bersedih juga tak perlu banyak-banyak. Tertawa saja banyak-banyak.

Baru-baru ini, seseorang bertanya pada saya, "Apa kamu pernah merasa gagal?" terasa daleeem banget

Sebenarnya jawabannya klise. Pernah. Dari lubuk hatinya, tentu ia juga tahu jawaban sebenarnya.

Siapa sih di dunia ini yang tak pernah menimang kegagalan? Bahkan manusia paling sempurna teladan umat seperti Nabi Muhammrad Saw juga pernah merasa gagal dalam hidupnya. Salah satunya lantaran tidak mampu mengajak pamannya, Abu Thalib memeluk agama Islam.

Kemarin, saya baru merasakan satu kegagalan kecil. Salah satu berita yang saya buat dikomplain oleh narasumber bersangkutan. Saya disemprot pagi-pagi lewat telepon. Dia yang merupakan petinggi klub sepak bola Makassar merasa keberatan dengan komentarnya yang saya comot. Yah, saya pasrah saja di seberang panggilan teleponnya. Diam.sembari mendengarkan.

Beberapa jam berikutnya, berlanjut dengan narasumber pada berita yang sama. Apa yang disampaikannya nyaris serupa dengan yang sebelumnya menelepon saya. #parah ya? Sepertinya, karakter pemilihan berita saya masih terbawa-bawa dari kampus; suka mencari-cari masalah dan membuat orang lain bertentangan. Hahahaha....

Sontak, mood saya berubah. Hampir setengah hari itu, saya jadi malas mengerjakan apa-apa. Apalagi dengan kantong yang tersisa hanya disangkuti recehan. Mengenaskan!

Saya merasa "gagal" menjadi pewarta yang baik. Bad mood terbawa-bawa. Perasaan sedih justru terkonversi ke arah kejengkelan. Hahaha...

Tapi, toh, kenyataannya hal-hal kecil bisa membalikkan semua perasaan. Kalau mau berusaha, selalu ada jalan.

Hanya gara-gara melanjutkan wawancara ke salah satu narasumber, mood saya kembali terbangun. Padahal perbincangan hanya seputar berita yang saya butuhkan. Tak ada topik lain yang agak menghibur. Sekadar tertawa (memaksa) menanggapi beberapa pernyataan narasumber.

Kini, kalau saya mengingat-ingat kembali kejadian pagi itu, saya justru tersenyum-senyum sendiri. Saya bahkan bangga menceritakannya dengan tertawa-tawa. Saya menganggap lucu saja kejadian seperti itu. Unik sekaligus menantang. Hahaha...

Kalian pasti tahu rasanya bercerita kisah yang lurus-lurus saja dengan kisah yang penuh kesialan atau kegagalan. That's feel so different!

Di balik beberapa kesalahan.itu, perlahan saya mulai menikmati bertugas di lini olahraga. Ada banyak orang baik dan menyenangkan. Saya merasakan keakraban dengan para narasumber. Sebagian besar malah atlet-atlet sepak bola yang sudah dikenal namanya.

Nama-nama seperti Assegaf Razak, Budiarjo Thalib, Budiman Buswir, Syamsuddin Batola, Herman Rante, Yusrifar Jafar, Syarif Lili, Syamsul Haeruddin agak biasa-biasa saja bagi saya. Namun ternyata saya tak menyadari, mereka lah yang pernah menjadi bintang di zamannya. Tak ada penggemar sepak bola yang tak tahu kiprahnya. Lah, saya baru mempelajarinya sedikit demi sedikit.

On my doodle.
Kendati demikian, kegagalan itu selalu ada. Ia membayang-bayangi setiap orang. Setiap orang sudah punya jatahnya. Kata bapak Mario Teguh, selagi muda habiskan jatah kegagalan itu. Tak perlu merasa sedih ketika gagal. Apalagi terpuruk seburuk-buruknya. Berhentilah mendramatisasi hati kita sampai-sampai terkena sindrom "baper". #ehh

Serius. Dalam kehidupan ini, selalu berlaku "Mestakung". Bahasa kerennya "The Law of Attraction". Aksi = Reaksi.

Jika seseorang bersedih, secara tak langsung akan muncul banyak kondisi alam yang mendukungnya semakin bersedih. Karena ia secara sadar menginginkannya. Makin terlarut. Semacam konspirasi abstrak dari semesta.

Akan tetapi, cobalah tersenyum. Menginginkan sesuatu yang menyenangkan. Alam pun akan berkonspirasi menghadirkan sesuatu yang menyenangkan itu. Kita menjadikannya tujuan bawah sadar dalam kepala.

Secara logika, memang tak masuk akal. Tapi, secara alamiah, saya selalu mempercayainya. #Aduh, pembahasan mulai berat. Setop. Setop!

Manusiawi kok jika kita melampiaskan kesedihan dengan bermacam-macam cara. Mau menangis. Meraung-raung. Menyendiri. Berteriak sekencang-kencangnya. Duduk di pojokan bermandikan shower. Makan sebanyakn-banyaknya. Melempar piring. Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh!

Tapi, terkadang kita malah tak menyadari, sebenarnya Tuhan menyediakan kisah yang lebih indah kalau kita mau melanjutkan langkah. Kata adagium yang akhir-akhir ini saya temukan, "boleh lelah, asal jangan menyerah". Bukankah manisnya hidup akan didapatkan setelah lelah berjuang?

Saya selalu suka anak kecil. Jikalau bersedih, tak jarang meraung-raung. Tapi selepas itu, ia akan kembali melakukan segala hal yang disukainya. Lepas. Tanpa beban apa-apa. Kita seyogyanya banyak belajar dari mereka. (Sembari mengamati anak-anak SD yang berlarian menyeberang jalan pulang dari sekolah)

***

Dalam film Forrest Gump, saya mengenal filosofi dari seorang "idiot" Gump bahwa

“Life is like a box of chocolate , you never know what you get”

...atau film Strawberry Surprise-nya Acha Septriasa yang bilang,

"Cinta seperti sekotak stroberi, tidak pernah bisa ditebak." 

Karena kita tidak tahu akan dapat buah yang masam atau yang manis.

Sementara, sedari kecil, saya lebih mengenal filosofi jajanan "Cabut-cabutaan". Kalau gagal, di kertas muncul petuah bijak, "Anda belum beruntung. Silakan coba lagi!"

Seperti itu pula hidup yang kita jalani. :)

***

Pukul 17.11

Saya tengah menikmati waktu deadline di tengah keramaian warkop yang saban hari jadi tongkrongan anak-anak pewarta Olahraga. Lalu-lalang kendaraan begitu jelas terdengar di luar sana. Jaraknya hanya sepelemparan batu. Senja masih malu-malu melampaui teriknya matahari.

Teman dari media lain, masing-masing sibuk dengan olahan berita di gadgetnya. Saya, malah mengetik hal tak jelas seperti ini. Hahaha...yang namanya hobi, yaelah, tak butuh banyak alasan untuk dilakukan. Lagipula, saya sudah menyelesaikan satu berita saya.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar