Senin, 31 Agustus 2015

Musik dan Puisi

Agustus 31, 2015



Now playing: Nasadira - Selamat Tinggal (Musikalisasi Puisi Chairil Anwar)

Saya sedang menyukai lagu yang nemu di stream Soundcloud itu. Musikalisasi puisi dari Chairil Anwar. Meski saya sebenarnya bukan pecinta puisi, tapi mendengar instrumen dan tekanan nada dari vokalnya membuat saya merenung-renung sendiri.

Oh ya, saya memang bukan penggemar puisi. Beberapa puisi bagi saya bahkan tak masuk di akal. Maksudnya, ya, tak bisa dimengerti begitu. Maknanya tergantung dari cara membaca si penyampainya. Kalau pembaca menuturkannya biasa-biasa saja, puisinya bakal jadi biasa-biasa saja.

Di sekolah dasar dulu, saya punya seorang teman yang pandai membaca puisi. Ia biasa didapuk mewakili sekolah di lomba tingkat kecamatan sampai kabupaten. Kendati kerap diledek teman-teman karena sikap kemayunya, ia punya kekuatan vokal yang baik dalam berpuisi. Kalau teman satu ini sudah mulai beraksi di atas panggung, ia bakal meledak-ledak menghayati isi syairnya.


Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

...............
...............

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda *


Puisi dari Toto Sudarto Bachtiar itu dibacanya dengan suara lantang sekaligus menantang. Semua anak SD sezaman saya pasti mengenal baik, bahkan, menghafal bait-bait awal puisi itu. Lantaran selalu dibaca saat Agustusan. Apalagi mengandung kata "sayang" yang berhasil mengundang seluruh riuh rendah para pendengarnya.

Akan tetapi, semakin saya memasuki fase sosialisasi dengan pelbagai macam orang, ternyata membaca puisi itu tidak perlu meledak-ledak. Di beberapa pentas komunitas, saya banyak bertemu orang-orang yang membaca puisi datar dan rata. Entah ia saking menjiwainya, atau memang cara membacanya saja seperti itu. "Ternyata cara baca puisi itu tidak susah ya," wajar ketika saya menemukan teman-teman berkomentar seperti itu.

Sebagai pembaca, saya hanya berpikir estetika puisi dari rangkaian katanya yang bermakna. Jika kata-katanya menjunjung tinggi sastra namun tak mudah dimengerti, ah saya jadi semakin bingung membacanya.

Untuk musikalisasi puisi atau puisi musikal, saya menganggapnya berbeda. Perbedaan keduanya cukup jelas. Musikalisasi puisi, artinya puisi yang digubah menjadi sebuah lagu. Sementara puisi musikal, artinya puisui yang dibacakan dengan iringan instrumen tanpa melagukannya..

Saya lebih senang mendengar instrumen dan, mungkin, penjiwaan puisinya. Ketimbang membaca buku puisi yang berlapis-lapis halaman, saya lebih suka mendengar orang lain yang membacakannya untuk saya. Hahahaha....

***

Saya harus mengakhiri tulisan singkat ini. Siap untuk menghadapi hari yang melelahkan. Salah satu turnamen pramusim Indonesia sudah mulai bergulir kemarin. Hari ini, grup Makassar juga bakal dimulai. Dan...parahnya, tuan rumah bertanding malam hari. Sebagai pewarta media cetak, itu alamat buruk lantaran deadline yang mepet. Argh. Apalagi saya tergolong "anak baru" dalam dunia olahraga sepak bola. Semangat sajalah...


--Imam Rahmanto--

Jumat, 28 Agustus 2015

Jalan Terus

Agustus 28, 2015
Hanya ingin berterima kasih pada segala hal yang berlaku dalam hidup saya. Melalui banyak kejadian, saya diajak banyak berterima kasih. Mensyukuri banyak-banyak, tanpa perlu meminta banyak. Ah ya, ketika jatuh, bersedih juga tak perlu banyak-banyak. Tertawa saja banyak-banyak.

Baru-baru ini, seseorang bertanya pada saya, "Apa kamu pernah merasa gagal?" terasa daleeem banget

Sebenarnya jawabannya klise. Pernah. Dari lubuk hatinya, tentu ia juga tahu jawaban sebenarnya.

Siapa sih di dunia ini yang tak pernah menimang kegagalan? Bahkan manusia paling sempurna teladan umat seperti Nabi Muhammrad Saw juga pernah merasa gagal dalam hidupnya. Salah satunya lantaran tidak mampu mengajak pamannya, Abu Thalib memeluk agama Islam.

Kemarin, saya baru merasakan satu kegagalan kecil. Salah satu berita yang saya buat dikomplain oleh narasumber bersangkutan. Saya disemprot pagi-pagi lewat telepon. Dia yang merupakan petinggi klub sepak bola Makassar merasa keberatan dengan komentarnya yang saya comot. Yah, saya pasrah saja di seberang panggilan teleponnya. Diam.sembari mendengarkan.

Beberapa jam berikutnya, berlanjut dengan narasumber pada berita yang sama. Apa yang disampaikannya nyaris serupa dengan yang sebelumnya menelepon saya. #parah ya? Sepertinya, karakter pemilihan berita saya masih terbawa-bawa dari kampus; suka mencari-cari masalah dan membuat orang lain bertentangan. Hahahaha....

Sontak, mood saya berubah. Hampir setengah hari itu, saya jadi malas mengerjakan apa-apa. Apalagi dengan kantong yang tersisa hanya disangkuti recehan. Mengenaskan!

Saya merasa "gagal" menjadi pewarta yang baik. Bad mood terbawa-bawa. Perasaan sedih justru terkonversi ke arah kejengkelan. Hahaha...

Tapi, toh, kenyataannya hal-hal kecil bisa membalikkan semua perasaan. Kalau mau berusaha, selalu ada jalan.

Hanya gara-gara melanjutkan wawancara ke salah satu narasumber, mood saya kembali terbangun. Padahal perbincangan hanya seputar berita yang saya butuhkan. Tak ada topik lain yang agak menghibur. Sekadar tertawa (memaksa) menanggapi beberapa pernyataan narasumber.

Kini, kalau saya mengingat-ingat kembali kejadian pagi itu, saya justru tersenyum-senyum sendiri. Saya bahkan bangga menceritakannya dengan tertawa-tawa. Saya menganggap lucu saja kejadian seperti itu. Unik sekaligus menantang. Hahaha...

Kalian pasti tahu rasanya bercerita kisah yang lurus-lurus saja dengan kisah yang penuh kesialan atau kegagalan. That's feel so different!

Di balik beberapa kesalahan.itu, perlahan saya mulai menikmati bertugas di lini olahraga. Ada banyak orang baik dan menyenangkan. Saya merasakan keakraban dengan para narasumber. Sebagian besar malah atlet-atlet sepak bola yang sudah dikenal namanya.

Nama-nama seperti Assegaf Razak, Budiarjo Thalib, Budiman Buswir, Syamsuddin Batola, Herman Rante, Yusrifar Jafar, Syarif Lili, Syamsul Haeruddin agak biasa-biasa saja bagi saya. Namun ternyata saya tak menyadari, mereka lah yang pernah menjadi bintang di zamannya. Tak ada penggemar sepak bola yang tak tahu kiprahnya. Lah, saya baru mempelajarinya sedikit demi sedikit.

On my doodle.
Kendati demikian, kegagalan itu selalu ada. Ia membayang-bayangi setiap orang. Setiap orang sudah punya jatahnya. Kata bapak Mario Teguh, selagi muda habiskan jatah kegagalan itu. Tak perlu merasa sedih ketika gagal. Apalagi terpuruk seburuk-buruknya. Berhentilah mendramatisasi hati kita sampai-sampai terkena sindrom "baper". #ehh

Serius. Dalam kehidupan ini, selalu berlaku "Mestakung". Bahasa kerennya "The Law of Attraction". Aksi = Reaksi.

Jika seseorang bersedih, secara tak langsung akan muncul banyak kondisi alam yang mendukungnya semakin bersedih. Karena ia secara sadar menginginkannya. Makin terlarut. Semacam konspirasi abstrak dari semesta.

Akan tetapi, cobalah tersenyum. Menginginkan sesuatu yang menyenangkan. Alam pun akan berkonspirasi menghadirkan sesuatu yang menyenangkan itu. Kita menjadikannya tujuan bawah sadar dalam kepala.

Secara logika, memang tak masuk akal. Tapi, secara alamiah, saya selalu mempercayainya. #Aduh, pembahasan mulai berat. Setop. Setop!

Manusiawi kok jika kita melampiaskan kesedihan dengan bermacam-macam cara. Mau menangis. Meraung-raung. Menyendiri. Berteriak sekencang-kencangnya. Duduk di pojokan bermandikan shower. Makan sebanyakn-banyaknya. Melempar piring. Pecahkan saja gelasnya biar ramai, biar mengaduh sampai gaduh!

Tapi, terkadang kita malah tak menyadari, sebenarnya Tuhan menyediakan kisah yang lebih indah kalau kita mau melanjutkan langkah. Kata adagium yang akhir-akhir ini saya temukan, "boleh lelah, asal jangan menyerah". Bukankah manisnya hidup akan didapatkan setelah lelah berjuang?

Saya selalu suka anak kecil. Jikalau bersedih, tak jarang meraung-raung. Tapi selepas itu, ia akan kembali melakukan segala hal yang disukainya. Lepas. Tanpa beban apa-apa. Kita seyogyanya banyak belajar dari mereka. (Sembari mengamati anak-anak SD yang berlarian menyeberang jalan pulang dari sekolah)

***

Dalam film Forrest Gump, saya mengenal filosofi dari seorang "idiot" Gump bahwa

“Life is like a box of chocolate , you never know what you get”

...atau film Strawberry Surprise-nya Acha Septriasa yang bilang,

"Cinta seperti sekotak stroberi, tidak pernah bisa ditebak." 

Karena kita tidak tahu akan dapat buah yang masam atau yang manis.

Sementara, sedari kecil, saya lebih mengenal filosofi jajanan "Cabut-cabutaan". Kalau gagal, di kertas muncul petuah bijak, "Anda belum beruntung. Silakan coba lagi!"

Seperti itu pula hidup yang kita jalani. :)

***

Pukul 17.11

Saya tengah menikmati waktu deadline di tengah keramaian warkop yang saban hari jadi tongkrongan anak-anak pewarta Olahraga. Lalu-lalang kendaraan begitu jelas terdengar di luar sana. Jaraknya hanya sepelemparan batu. Senja masih malu-malu melampaui teriknya matahari.

Teman dari media lain, masing-masing sibuk dengan olahan berita di gadgetnya. Saya, malah mengetik hal tak jelas seperti ini. Hahaha...yang namanya hobi, yaelah, tak butuh banyak alasan untuk dilakukan. Lagipula, saya sudah menyelesaikan satu berita saya.


--Imam Rahmanto--

Senin, 24 Agustus 2015

Iringan Hidup yang Mengelabui Waktu

Agustus 24, 2015
Kalian tahu kematian? Ia dekat sekali. Teramat dekat. Tak lebih dari sejengkal jari dari kepala.

Tuhan nampaknya sedang gencar memperingatkan manusia bebal. Berita duka sambar-menyambar kesadaran saya beberapa hari terakhir. Yah, benar-benar melesak ke dalam bawah sadar untuk dimaknai secara mendasar.

Pekan lalu, saya mendapati seorang pelatih kesebelasan Arema Cronus, Suharno, menghembuskan napas terakhirnya. Usai membina pasukannya latihan, ia tetiba terkena serangan jantung. Di tepian lapangan, ia mungkin menyaksikan langit untuk terakhir kalinya.

Bagi orang, mungkin itu hal biasa saja. Tidak seperti artis Olga Syahputra yang dielu-elukan penggemarnya. Tak banyak yang mengenal namanya. Mungkin hanya pemain dan pegiat sepak bola saja yang tahu Suharno.

Akan tetapi, kematiannya itu justru menggetarkan satu titik ruang di kepala saya. Meski tak punya kedekatan apa pun - hanya karena bertemu satu titik wawasan Olahraga -, saya agak terhenyak. Hal itu menegaskan, kematian memang bisa datang kapan saja.

Persis siang ini, saya menerima kabar tak menyenangkan lagi. Siapa menyangka, ternyata kematian begitu cepat menemui salah seorang teman saya di kantor. Tanpa pamit atau permisi. Beberapa kabar hari ini yang menyumpal media sosial membuat saya harus merenung lama. Saya bahkan tak mampu hadir dengan teman-teman lain berjejal di rumah sakit mengantar ke peristirahatan terakhir. Malam ini, ia telah sampai di kampung halaman. Tenang. Esok, ia akan benar-benar tiba di rumah tempat pulang terakhir.

Seorang teman yang baru sekira 4 bulan berkenalan dengan dunianya di jurnalistik. Pun, dengan saya, yang pertama kali berbincang dengannya di sela tugas peliputan kantor walikota.

"Kerja seperti ini, kenapa mau?"

"Ya daripada nganggur. Kakak saya dapat info dari temannya, yang wartawan disini. Katanya terbuka pendaftaran. Makanya saya coba saja," ujarnya.

Ia bercerita tentang salah seorang senior wanita yang merupakan teman baik kakaknya.

Padahal ia merupakan alumni Fakultas Hukum UMI setahun lalu. Usianya dua tahun lebih tua dari saya. Katanya, ia sedang mencari-cari kesempatan untuk bisa meneruskan pendidikannya sebagai calon pengacara.

Dialah Surialang. Pertama kali bertemu dengannya, saya harus memastikan pelafalan namanya dengan benar. Bagaimana tidak, orang-orang bakal terpedaya mengeja namanya sebagai Suryalam. Seperti berita pertama yang saya baca hari ini.

Kami sering bercanda dengannya. Mm...mungkin lebih tepatnya mengusili dengan sejumlah candaan. Saya kadang terlampau usil menjawil-jawil kepalanya. Akan tetapi hanya dibalasnya dengan senyuman dan sedikit teguran kaku darinya. Kalau ingin debat, coba saja padanya. Ia tak bakal berhenti jika perbincangan itu sudah menjurus terkait agama.

Lantas kami semua mengenalnya sebagai orang yang taat beragama. Ia memang mengaku sebagai anak Hizbut Tahrir. Wajar jikalau ia beberapa kali diplot pada peliputan bernuansa Islami, kendati harus melenceng dari desk-nya bersama saya di Olahraga (Sportif). Seperti pada liputan terakhirnya ini...... ia diperbantukan menangani halaman khusus terkait Jemaah Haji.

Saya masih ingat, betapa ia merasa dekat dengan cita-citanya naik haji saat diplot disana. "Semoga dengan tugas baru ini semakin mendekatkan saya ke tanah suci" salah satu kata yang bergeming di kepala saya saat menjelajah timeline di BBM beberapa waktu lalu. Sejujurnya, saya terngiang-ngiang dengan kata itu. Serupa pesan tersirat yang diusung ke langit.

Dan atas pekerjaan pilihannya itu, Tuhan memilihkannya jalan gugur yang indah. Betapa kematian memang tak pernah memberi aba-aba...

***

Orang-orang mengusap mata yang berkaca-kaca. Teman-teman menangis. Keluarga meratap tak rela melepas kepergian selamanya. Sanak-saudara mengantar dengan batu berat dijejal dalam jantung. Tangan-tangan gemetaran mengusung keranda yang menyisakan senyum terakhir di raut wajah. Kumandang takbir bergantian membisiki telinga. Salam perpisahan tak pernah terulur dan terukur. Hilang. Begitu saja.

Sadarkah kita, kematian tak pernah memandang kasta dan rasa? Setiap orang punya peluang yang sama bertemu dengan-Nya. Dalam aturan Matematis, peluang antara hidup dan mati itu sebatas 50:50. Tak ada angka pasti yang mampu mengukur sejauh apa lagi usia kita bakal berakhir.

Ada orang-orang yang kondisinya sudah tak bisa lagi bangun dari tempat tidur. Ada orang yang tak mampu lagi hidup tanpa bantuan alat medis. Ada orang yang saban hari berobat ke rumah sakit untuk memperpanjang umur. Ada para korban yang kehabisan stok darah. Ada lelaki tua yang siap menyambut Malaikat Israil. Akan tetapi, siapa yang menyangka, ternyata Tuhan bisa memutar waktu hidup mereka lebih lama dibanding orang-orang yang sehat sepanjang waktu.

Satu rahasia Tuhan itu adalah tentang kematian. Tak ada ilmuwan untuk mengukur jaraknya dari depan mata. Tak ada paranormal yang bisa memastikan ketepatan ramalan kematiannya. Karena kematian adalah ketakutan.

Satu hal yang pasti, bahwa kematian akan selalu bersisian jalan dengan hidup kita. Seperti Munkar dan Nakir yang tak pernah lepas ikatannya pada manusia.

Selamat berbahagia, kawan. Jika hidup terlampau singkat untukmu, biar Tuhan yang merangkul senyummu di ujung jalan-Nya...


Seorang lelaki yang berada tepat di bawah alfabet "A", mengacungkan dua jarinya, seperti kami (anak desk Sportif)
biasa memanggilnya: Alang.  Selamat jalan.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 22 Agustus 2015

Multi-writing

Agustus 22, 2015
"Kapan lagi kutulis untukmu tulisan-tulisan indahku yang dulu..." --Jikustik, Puisi


Beberapa hari kemarin, saya mendapati seorang teman kembali menjajaki tulisannya. Semacam "anak yang hilang". Akh, saya sudah seringkali menjumpai "anak-anak hilang" seperti itu.

Padahal, saya selalu senang melihat orang-orang yang mau berusaha meramaikan pikirannya dengan mengolah tulisan dari dasar hatinya. Mereka yang berusaha melampaui batas diri atas alasan-alasan tertentu. Karena kita hidup di dunia, kerap kali banyak bicara, tanpa mau banyak berbuat. Terlalu banyak kata "Seandainya...."

Bagi saya, tulisan-tulisan kecil yang rutin dituangkan lebih bermanfaat ketimbang tulisan-tulisan berat yang hanya sekali meledak. Tahukah, pun dalam agama saya, Tuhan juga lebih menyukai amalan sunat yang dikerjakan rutin dan disiplin.

"Kamu sekarang kerja apa, Im?"

"Wartawan, Mbokde,"

Meski saya menjawabnya dengan penuh percaya diri, namun sebagian orang akan melanjutkan pertanyaan lebih jauh, "Itu pekerjaan seperti apa?"  

Di kepala orang awam memang hanya terpatri guru, dokter, perawat, tentara, polisi, hingga hal paling umum: Pe-En-Es. Mereka mungkin tak habis pikir, ngetak-ngetik di hape bisa jadi uang. Hahahaha....

Menulis sih memang tak ada habisnya. Apalagi jika sudah berhadapan dengan pekerjaan yang mengandalkan keahlian menulis. Dibenturkan dengan batas tertentu. Dituntut oleh orang-orang berwenang khusus.

Mungkin saya harus mengakui, beberapa hari belakangan saya juga masih suka menunda-nunda beberapa pikiran dan ide yang tertambat di kepala. Saya harus menyesalinya. Target hobi saya masih terlampaui oleh tuntutan pekerjaan yang tiap hari menjelma di lapangan.

Pekerjaan saya cukup padat sebagai seorang pewarta. Akan tetapi, saya selalu abai menyalahkannya atas absennya beberapa ide di kepala. Toh, pekerjaan saya hari ini masih tak jauh-jauh dari menulis. Saya menikmatinya. Saban hari berhadapan dengan fakta-fakat olahraga yang mesti digubah menjadi santapan pagi para kaum kapitalis. Saya harus menyebut apa lagi orang-orang yang setiap pagi menggelar korannya sembari duduk menyesap kopi di beranda rumah?

Menyambangi setiap kejadian atau kabar olahraga terkadang mulai mengikis genre tulisan saya yang agak halus. Di desk saya, tulisan harus tajam dan menggunakan kosa kata ala olahraga. Kosa kata baru yang banyak menyusup di kepala akhir-akhir ini. Istilah-istilah yang justru memutar-balikkan kepala saya. Pada intinya, tulisan tidak boleh mendayu-dayu hingga mendekati jenis berita feature.

Pernah suatu kali saya berinisiatif hendak melaporkan konvoi kemerdekaan komunitas pecinta klub sepak bola dalam bentuk feature. Kalau kamu tak mengerti feature, maka belajarlah mulai sekarang "mencari". Hasilnya, malah diubah menjadi berita biasa. Hahaha....

Kebiasaan menulis di desk olahraga sebenarnya membuat saya kehilangan beberapa gaya menulis. Sejujurnya, saya tak lagi terbiasa dengan bahasa yang melankolis - kata teman. Terlalu banyak menggarap berita juga mempengaruhi saya untuk menulis tanpa basa-basi. To the point!

Nah, kenyataannya, saya justru merindukan gaya menulis itu. Sebagai bentuk pelepasan rindu itu, wajar jika saya selalu mencuri-curi waktu menulis di "rumah" ini.

Di warkop, usai menyelesaikan target berita. Di kantor, di sela-sela menunggu panggilan redaktur. Di sekretariat lembaga pers kampus, di tengah obrolan teman. Atau malah di tengah-tengah rapat redaksi.

Dengan menulis seperti ini, saya merasa "lepas". Saya tidak terikat oleh aturan-aturan tertentu. Maka nikmat mana lagi yang saya dustakan? Karena menulis itu, bukan persoalan ada waktu atau tidak. Ini soal, sekali lagi saya harus mengatakan, kemauan dan konsistensi...

Saya suka dengan kata Pongky (coba pula dengar versi Endah 'n Rhesa) dalam lagunya, Untuk Dikenang:

"Tulisan dariku ini mencoba mengabadikan. Mungkin akan kau lupakan atau untuk dikenang..." 

Karena memang sejatinya saya menulis agar bisa dikenang, minimal oleh diri sendiri.


Jauh abad, Tuhan sudah mengingatkan dan bersumpah demi masa (waktu), bahwa manusia sesungguhnya adalah kerugian. Yah, khittahnya, Tuhan tahu bahwa kelak manusia akan selalu menyalahkan waktu atas kelalaiannya.


--Imam Rahmanto--

Minggu, 16 Agustus 2015

Perempuan Polos

Agustus 16, 2015
Berjalanlah Kehidupan

"Ma', maunya kalau saya menikah di usia berapa?"

Saya tetiba menodong Mamak dengan pertanyaan terencana itu. Perempuan yang telah melahirkan saya itu, beberapa waktu lalu sedang berada di Makassar. Ia hendak menyaksikan anak pertamanya dikukuhkan sebagai seorang sarjana. Bapak dan adik saya tidak nimbrung. Bapak masih belum bisa kemana-mana lantaran Paraplegia yang menggerogotinya.

"Sembarang kamu lah," seperti biasa, Mamak yang sederhana. Hanya tersenyum-senyum kikuk mendengar pertanyaan anaknya. Dari lubuk hatinya, ia tahu, anaknya sudah mampu berpikir sendiri tanpa perlu didikte lagi.

Mamak saya masih belum berubah. Ia masih sepolos dulu. Masih menjadi perempuan yang sederhana. Terlalu sederhana. Ia tak mampu berpikir muluk-muluk lantaran hanya lulusan sekolah dasar. Beberapa tahun terlewat, ia menerima pinangan dari lelaki yang juga hanya berbekal ijazah SMK, bapak.

"Bapakmu dulu ngelamar cuma dengan seperangkat alat shalat dan Alquran. Uang 5ribu maharnya malah dipakai lagi buat rokok," Mamak pernah berkisah.

Terkadang, Mamak seperti seorang anak kecil. Tak tahu banyak tentang hal di dunia ini. Butuh penjelasan lebih banyak namun sederhana. Bahkan, untuk berkomunikasi, orang sekitarnya harus berbicara lebih sederhana agar maksudnya tersampaikan. Berbeda jika bahasa komunikasinya disampaikan dalam bahasa Jawa.

Kurang pahamnya Mamak dalam beberapa hal tak jarang membuat bapak geram. Apalagi jika bapak gagal memberitahu Mamak tentang sesuatu. Dulu, semasa kecil, saya kerap mendengar Mamak dibentak bapak hanya gara-gara kesalahan kecil. Mamak hanya diam saja. Ingin menggerutu, justru bapak tambah naik darah.

Saya tak habis pikir, bagaimana bapak bisa memilih Mamak sebagai istrinya. Mamak bukan tergolong perempuan cantik. Kepandaiannya juga malah di bawah rata-rata. Soal baca-tulis, pun Mamak bukan perempuan yang pantas diadu.

Mamak juga tidak seperti ibu-ibu kebanyakan. Ibu yang bisa menjadi tempat berbagi curahan hati anaknya. Ibu yang tahu bagaimana keresahan anak perempuannya. Mamak tak punya jiwa semacam itu. Kedekatan dengan anaknya justru datar.

Akan tetapi...

Saya belajar banyak dari seorang perempuan polos yang rela membawa saya menjejak di bumi ini. Kata pamrih yang tak pernah terlintas di benaknya. Kata sayang yang tak pernah tandas oleh waktu.

Hingga kini saya justru masih "gagal paham" tentang kekuatan kasih sayang yang dipegang Mamak. Oh, mungkin bukan. Hubungan suami-istri seperti itu justru tidak semata-mata didasari cinta, melainkan komitmen. Kondisi keluarga kami tak pernah membuatnya hendak lari dan menjauh dari suaminya. Di saat terpuruk pun, Mamak tetap mendampingi laki-laki yang kerap mengecewakannya di masa lalu.

Saya menyaksikan sendiri. Momen dimana Mamak begitu sabarnya merawat bapak. Kondisi yang seharusnya membuat orang resah, justru membuatnya semakin merasa dibutuhkan. Ia semakin merasa berbakti sebagai seorang istri. Sedikit pun Mamak tak pernah mengeluh atau bercerita keluh kesahnya pada siapa pun, bahkan kepada saya.

Kini, Mamak adalah tulang punggung keluarga. Tak ada yang mengalahkan semangatnya. Ialah satu-satunya perempuan di keluarga kami yang dengan ikhlas belajar membuat kue untuk dijajakan di pasar. Perempuan yang tak pernah mengeluh menggantikan suaminya yang terpaksa terbaring di rumah.

"Kemarin, aku juga mulai jual onde-onde kecil," kisah Mamak.

Betapa momen hari Kemerdekaan RI seperti itu adalah yang paling dinantikannya. Bagaimana tidak, di kampung, orang-orang ramai memeriahkan jalanan dengan gerak jalan dan parade. Di lapangan, orang berlomba dengan segala jenis permainan. Anak-anak kerap kehausan diterpa matahari kemarau panjang.

"Aku mesti siap-siap jualan, Cung. Belum nggodok cendolnya. Belum masak santannya," ujar Mamak.

Ia ingin cepat-cepat pulang usai melihat anaknya di-wisuda. Rutin tiap tahun, Mamak akan berjualan di pinggir jalan menunggui dagangan es telernya ludes oleh keramaian. Bapak di rumah juga harus dirawat.

Dari Mamak, saya belajar tentang makna penerimaan. Bagaimana menghargai setiap waktu bersama keluarga. Bagaimana ikhlas melobi keadaan. Mamak selalu tahu Tuhan tak pernah tidur memilin setiap inci doanya.

"Kamu sudah shalat, Im?" kata-kata yang tak luput dari kepala.

***

Mak, kini anakmu sudah menuntaskan satu kewajibannya. Berkat doamu, ia juga sedang di ambang menggantikan peran bapak. Agar Mamak tak perlu lagi bekerja terlalu keras, memaksakan setiap peluh mengucur deras.

Pendidikan lain untuk anakmu yang kau idamkan, tak mesti ia tunaikan. Ia belajar banyak darimu, menerima keadaan untuk lantas memutarnya demi mengelabui waktu.

--Imam Rahmanto--

Jumat, 14 Agustus 2015

Peka dong ya?

Agustus 14, 2015
Percakapan tadi siang di beranda rumah.

"Ciee....sandal baru! Ciee!"

Seorang teman baru-baru membeli sandal jepit (swal**w) baru. Berhubung sandal itu mau dipakainya Jumatan.

"Haha....tunggu-tunggu mi. Dua hari itu sudah hilang ndak ditau kemana," balas teman lainnya.

"Mau kusimpan baik-baik setelah kupake," balas si pemilik sandal baru meyakinkan.

"Hahaha....kalau disini, dijaga bagaimana pun sandal begitu, pasti bakal hilang. Biasanya kalau kau jaga sekali, trus kalau sudah lupa simpannya, pasti bakal hilang," saya menambahkan hipotesis teman di depan saya.

"Iya... Seperti perempuan, kalau dijagai sekali, tiba-tiba lepas dari kita, bikin sakit," celetuk salah seorang teman di samping.

#jlebb #hening. Pandangan beralih ke teman saya

Kami serentak tertawa. Ia hanya tersenyum malu-malu, sembari menyadari bahwa dirinya memang sedang "baper" a.k.a bawa perasaan. Mungkin, penyakitnya semingguan terakhir ada kaitan dengan sikapnya itu. Hahaha....nah, ini jelas baper. Banget.

***

Baper, istilah gaul yang  ter"distorsi" zaman sekarang. Anak-anak muda mungkin terhubung dengan media-media tivi zaman kini. Pokoknya apa pun istilah gaul yang dipakai anak muda zaman sekarang, salahkan tivi! Hidup zaman kartun Minggu! Istilah ini banyak dipakai untuk menunjukkan sesuatu yang menyentuh langsung perasaan. Sederhananya, perasaan seseorang terlalu peka terjadap sesuatu.

Pada dasarnya, bagi saya, baper itu hal manusiawi. Kita hidup tidak monoton, karena punya perasaan. Kita menikmati ciptaan Tuhan, ya pakai perasaan juga. Bahkan, dalam aturan hukum yang berlaku, ada tingkatan moral yang mesti diperhitungkan dalam menegakkannya. Moral itu berhubungan dengan perasaan manusia sebagai ciptaan Tuhan loh.

"Ah, baper deh!"

Yang menjadi persoalan kemudian jika seseorang terlalu (terlalu) peka dengan perasaannya sendiri. Sedikit-sedikit dikenai candaan, tersinggung. Sedikit-sedikit diledek, tersinggung lagi. Kata teman saya, dia itu orangnya baper-an.

Contohnya juga, orang yang baru saja putus dari pacarnya. Sedikit-sedikit, baper. Sedikit-sedikit, baper. Seolah-olah apa pun yang ada di dunia ini dikaitkan dengan masa lalu bersama pacarnya. Ini juga yang bikin eneg.

"Hei, aku ketemu sama si A loh tadi di Mall,"

   "Dia, dia itu..... hiks...hiks...." baper pun beraksi

"Eh, eh, aku punya gelang baru deh,"

   "Gelang, dulu dia pernah ngasih aku gelang," nangis...

"Oiya, ayo jalan-jalan ke pasar yuk,"

   "Aku dulu sering diajak jalan-jalan ke pasar," nangis lagi...

"Aku mau ke kamar mandi deh,"

   "Aku dulu sering dimandiin..." nangis menjadi-jadi

Nah loh? Nyampur galau.

Hal lainnya lagi, ketika seseorang suka mengaitkan perasaan dengan pekerjaan profesionalnya. That's wrong! Padahal pekerjaan profesional seharusnya dipisahkan dengan hal-hal yang seharusnya berkaitan dengan kepala saja. Sebisa mungkin, porsinya diperkecil.

Saya pernah punya pengalaman demikian. Lantaran terlalu fokus perasaan pada orang lain - biasa kalau sedang kasmaran -, pekerjaan profesional jadi terbengkalai. Terkadang, saya menyangkal kalau pekerjaan itu ada hubungannya dengan kehidupan pribadi itu. Akan tetapi, lama-kelamaan, saya menyadari, bagaimana pun saya memberi sekat pada kehidupan pribadi, ia tetap akan menelusup dalam aktivitas pekerjaan saya. Masalah akan timbul saat saya tak mampu mengatur porsi yang tepat bagi keduanya; perasaan dan pikiran/ profesionalitas.

Telak, alhasil saya pernah kalah oleh perasaan sendiri...

Nah, di dunia kerja profesional pun berlaku hal serupa. Saya mengenal salah seorang pemain sepak bola profesional yang saat ini sedang kasmaran dengan pasangan barunya. Masih sebatas pacaran. Mereka baru berencana menikah tahun depan. Akan tetapi, semua gelagatnya di media sosial betul-betul seperti lelaki yang baru saja mendapati masa kasmarannya.

"Yang bahaya itu kalau pas masa-masa mau pertandingan, trus mereka ada masalah. Bisa hancur semua rencana tim," tutur salah seorang senior. Saya membenarkan.

Orang-orang biasanya bakal menyangkal hingga menggaransi bahwa kehidupan pribadinya takkan pernah melukai pekerjaannya. Padahal, mereka tak pernah tahu bahwa perasaan itu punya aura yang kuat untuk mengendalikan pikiran seseorang.

Pernah dengar, kan, anekdot "cinta bisa memberi kekuatan, cinta bisa merubuhkan segalanya"? Itu bukan anekdot biasa. Karena sejatinya, perasaan memang punya daya yang betul-betul membalikkan segala akal dan pikiran manusia. Tak jarang kita dibuat "bodoh" oleh perasaan yang meluap-luap. Orang-orang ingin berlaku gila demi menuruti perasaannya sendiri. About feeling, nothing impossible!

Yah, tak bisa dipungkiri, masalah "hati" kerap kali mencabik-cabik isi kepala. Kita biasanya dianjurkan untuk mengendalikan hati lewat pikiran. Hanya saja, yang terjadi justru sebaliknya. Hati mengendalikan kepala. #fiuhh

Nah, baper... ya seperti itu. Jika porsinya masih standar, masih manusiawi. Kalau sudah sangat melebih-lebihkan, aduh terlaluuu. Hahaha....

Seperti di atas, kalau Anda mengerti maksud saya. Hahaha...


--Imam Rahmanto--

Selasa, 11 Agustus 2015

Rapor Dewasa

Agustus 11, 2015
Jelang tiga hari, saya akan menjumpai seremoni besar-besaran. Entah saya harus menandainya seperti apa. Bagi kebanyakan orang, itu adalah satu dari sekian hal istimewa dalam hidupnya. Tak pelak, acara besar rutin dianggarkan di tengah keluarga mengundang para handai taulan dan seluruh kerabat.

Sejujurnya bagi saya, acara itu hanya formalitas belaka. Seriously. Jika bukan karena orang tua, saya lebih memilih untuk mengabaikannya. Toh, hanya upacara-pidato-penanda yang digelar 2-3 jam lamanya. Selebihnya, kita harus kembali sadar ke dunia nyata bahwa; saya masih punya kehidupan lebih panjang untuk diurusi.

"Acaranya jadinya kapan? Kamu bagaimana? Kamu harus pulang jemput mamakmu. Dia mau lihat,"

Beberapa hari belakangan, bapak sering menelepon. Ia hendak mengatur rencana tentang acara itu. Saya mengerti, sebagai orang tua, mungkin ini salah satu momen terpenting baginya. Anak yang dibiayainya lebih 4 tahun untuk kuliah akhirnya bisa menimang toganya. Akh, sementara saya tak ingin memusingkan gelar kesarjanaan itu. Nothing special about that.

Dulu, saat pengumuman kenaikan kelas, mamak selalu menyempatkan hadir di sekolah. Mamak bisa berbangga mendengar anaknya dipanggil dengan ranking tertinggi. Selalu terulang. Senyum sumringah tak lepas dari wajahnya. Semua pandangan orang tua murid pun takjub tertuju padanya.

"Waduh, mbak, selamat ya anaknya," wali kelas selalu menyalami demikian.

Saya tak cukup tahu untuk momentum satu ini. Seperti apa mamak bakal menyambut nama anaknya. Ah, tidak. Seingat saya, acara yang melibatkan ribuan alumni ini hanya diperpanjang oleh pidato rektor ditambah dengan penyebutan nama lulusan terbaik. Saya tidak punya ekspektasi tinggi-tinggi atas nama saya. Cukup dengan pakaian seragam kebanggaan yang bakal diabadikan mamak dalam foto bersamanya.

Saya tak peduli lagi soal nilai tinggi itu. Sejak kemarin, saya sudah menjelahahi dunia yang sebenarnya. Saya jadi banyak mengenal implisit tak kasat mata yang diabaikan dunia formal.

Bahwa kehidupan tak sekadar mempertaruhkan gelar dan IPK tertinggi. Dunia sesungguhnya, adalah dunia belajar tertinggi. Kau takkan pernah tahu seberapa tinggi indeks prestasi kita di mata Tuhan. Hanya saja, Rasulullah sudah menandaskan, nilai kita bisa diukur dari sejauh mana kehadiran kita berguna untuk orang lain.

Lepas momen besar itu, saya cukup memberitahu bapak dan mamak,

"Saya sekarang selesai. Bapak dan mamak tak perlu lagi khawatir,"

Saya ingin belajar menekuni kehidupan. Toh jauh hari, bapak sudah mengiyakannya. Apa yang menjadi pekerjaan saya sekarang sudah cukup membahagiakan. Saya menikmatinya. Saya akan tetap menyandangnya hingga Tuhan memberikan kesempatan lain mencicipi kehidupan-kehidupan baru.

Yah, sejatinya, saya hanya tinggal menekan tombol "Speed Up" untuk menyelami kehidupan yang sebenarnya. Kampus kehidupan, yang nilainya tak luput dari kehidupan sosial bermasyarakat.

***

Hari ini saya kehilangan salah satu barang keSAYAngan. Laptop yang sudah nyaris mencapai umur 2 (atau bahkan 3 tahun - saya lupa) itu tidak lagi bisa ditolong. Kata tukang reparasi, chipsetnya yang rusak. Ketimbang memperbaikinya, lebih baik menggantinya dengan yang baru. Sungguh, saya betul-betul kehilangannya.



--Imam Rahmanto--

Selasa, 04 Agustus 2015

32# Selepas Itu

Agustus 04, 2015
"Hei, bagaimana dengan pacarmu? Artinya kamu menduakan pacarmu dong?"

"Ah, kamu kalau ke rumah pasti mau ketemu dia. Halah....nanti saya pertemukan deh,"

Anak-anak Baru Gede sedang riuh berdebat di atas mobil pete-pete. Mereka saling menertawai satu sama lain. Membahas hal yang remeh-temeh hingga yang tidak pantas diperbincangkan anak di bawah umur, semisal: pacaran. Ah, anak zaman sekarang terlalu berkiblat dengan tivi jaman modern.

Saya bukannya terganggu, malah diam-diam menikmati perbincangan itu. Obrolan dari anak-anak yang masih bebas menentukan jalan masa depannya. Lucu, meskipun tak jarang membuat saya mengelus dalam diam.

Angkutan umum yang saya tumpangi harus berputar dari jalur resminya. Ia terpaksa mengantarkan seorang penumpang ke daerah pemukiman pinggir kota. Berlawanan dengannya, saya harus melipir ke pinggir stadion, seperti biasa, bertemu dengan teman lain dan bersiap mengolah bahan liputan.

Sementara itu, 6 orang siswi (seingat saya) itu salah naik angkutan. Keluar dari sekolah mereka tadi, seharusnya mereka mengambil jalur ke arah tujuannya di terminal di ujung kota. Bukan sebaliknya. Mau tak mau, sang supir tetap mengangkut mereka demi mendapat sejumlah rupiah dari sekelompok ABG itu. Ia mengiyakan saja trayeknya, dan kemudian langsung berputar balik seusai mengantarkan saya tepat di depan stadion.

Ada yang menyenangkan mendengar perbincangan antar-siswi itu. Sembari tersenyum-senyum sendiri, saya menyimak perbincangannya. Hiburan tersendiri dari pengapnya kota Makassar.

"Oiya di, saya baru lupa!"

"Lupa? Ingat keleuss!" jawab yang lainnya membenarkan yang disambut tawa serentak. Plesetan yang baru saya dengar.

"Itu loh yang di grup itu, ada kicker, bagaimana itu......," pembicaraan yang juga saya tak mengerti arahnya.

"Oh...kickers itu yang di iklan wafer,"

"Snickers!" disambut dengan tawa lagi. Riuh di atas mobil.

"Oi, ini bukan kelas. Jangan ribut begitu," tegur seorang lainnya. Tapi tetap saja keramaian itu berjalan melintas kota.

***

Tiga jam sebelumnya...

Siang ini, saya baru saja berkunjung ke kampus. Meniti sisa-sisa kehidupan dari kampus. Saya ingin menyibak aromanya, yang mungkin tak lagi dibaui oleh teman-teman saya. Ah, kami, generasi yang mulai terlupa. Sepi.

Sebuah undangan mendarat di tangan saat saya menanyakannya pada pegawai kampus. Yah, undangan ini yang bakal mengakhiri kisah saya di kampus. Setelah sekian lama, saya bakal tak berjumpa lagi dengan kesibukan mengejar SKS. Kampus juga bakal tertinggalkan dari ingatan. Hanya tersisa keping-kepingnya saja yang terbenam jauh...mungkin jauh sekali.

Kata teman, "Oiya, telepon saya saja ya kalau kau mau ambil punyamu."

Lantaran bosan menunggui kantor dharmawanita buka, saya menitipkan nota pembayaran padanya. Nota itu untuk ditebuskan pada sebuah pakaian formal terakhir penanda kelulusan saya. Ia menelepon sebagai pertanda sudah mendapatkannya. Oiya, semoga teman saya itu juga secepatnya menemui ujian akhirnya.

Kini, di mata saya, kampus sudah sepi. Tak lagi seramai dulu. Pelan-pelan, saya menyadari, keramaian adalah perihal hadirnya orang-orang yang dikenal dan mengenal kita. Selalu berlaku dua arah.

***

Berhitung hari, saya akan melepas gelar sebagai mahasiswa. Sebenarnya sudah sejak beberapa bulan lalu saat saya diyudisiumkan. Namun seremoninya baru akan berlangsung dalam waktu dekat ini.

Hal itu otomatis menjadi penanda saya bakal meninggalkan waktu-waktu muda menjalani "sekolah" formal. Saya akan menanggalkan sifat-sifat kekanakan yang tak dibutuhkan lagi. Seharusnya saya sudah mendewasa satu level lebih jauh lagi. Iya, seharusnya...

Saya akan merindukan saat berkumpul dengan teman sekolah, belajar kelompok, bergosip tentang "siapa-suka-siapa", bercerita guru paling killer, pergi bareng, hang-out bareng, pulang bareng, atau semua pekerjaan dan kegembiraan yang dilakukan ramai-ramai.

Di dunia yang berbeda, semuanya juga ikut berubah. Kalau dulu kita yang selalu berharap dipenuhi kebutuhannya, maka kini kita lah yang bakal memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau dulu kita yang selalu dikuatkan keluarga, maka kita berganti menjadi penguat keluarga. Semua bakal berubah, tak lagi seperti saat kita umur belasan dan masih bebas merapal kiasan tak penting.

Masa kita menghadapi dunia di luar "pagar" pendidikan tak lagi sama. Kita akan dihadapkan pada momen yang lebih kompleks. Kita tak bisa lagi sekadar tertawa tanpa alasan seperti yang kerap kita lakukan di masa sekolah. Seperti anak-anak perempuan yang saya temui di angkutan kota itu. Segala hal mulai butuh alasan. Tertawa; apa yang kau tertawakan?

Suatu hari kelak, kita akan merindukan masa-masa bebas itu.

Saya mendapati seorang teman yang malam ini sedang membutuhkan pelukan dari ibunya. A hug. Ia merindukannya. Sementara ia sadar, kehidupannya tak lagi seperti anak kecil dulu. Mungkin, sewaktu kecil ia banyak mendapat "big hug" dari ibunya. Rengkuhan lembut menyembuhkan segala luka.

Lantas, kita kemudian sadar, waktu terus berjalan. Dalam persepsi keterbatasan manusia, ia melaju. Dalam kekuasaan Tuhan, waktu justru berhitung mundur. Masa kecil mulai menghilang selepas sekolah, selepas kuliah, selepasnya lagi, selepasnya lagi, selepasnya lagi, hingga jiwa kita yang terlepas dari dunia ini.


--Imam Rahmanto--

Sabtu, 01 Agustus 2015

Membaharukan

Agustus 01, 2015

"Kapan terakhir kalinya kamu melakukan sesuatu untuk pertama kalinya?"  (Sumber: LifeStyle Updated)
"Semenjak di desk itu, kau semakin paham berbicara tentang bola,"

Komentar yang kerap kali saya temui di setiap kesempatan berjumpa denga teman-teman. Ya, saya hampir lupa. Teman-teman mengenal saya lebih dari sekadar apa yang terlihat oleh mata. Kita mengenal lewat getaran hati. Sadaaap...

Saya masih ingat bagaimana "kudet"seorang Imam Rahmanto mengenai salah satu olahraga itu. Saya takkan terlupa bagaimana redaktur menghakimi saya atas bahasa "tendangan sembarang" yang kini jadi slogan teman-teman meledek saya. Saya selalu ingat, bagaimana saya harus mencari-cari kosa kata yang tepat untuk kalimat-kelimat pertandingan olahraga. Hingga saat waktu harus diputar diantara keriuhan percakapan kami, teman saya paling senang bercerita,

"Memulai tulisannya di liputan olahraga dulu, dia membuka setiap halaman olahraga koran-koran di depannya. Dia mengetiknya sambil tak lepas memandangi kalimat-kalimat ala laporan olahraga,"

"Dulu dia sampai bertanya, beda striker dengan gelandang apa ya?"

Kalau mengingat-ingat waktu sebulan kemarin itu, saya jadi geli sendiri. Saya serasa ingin menertawakan diri saya sendiri. Aduh, tapi saya tidak boleh tertawa terlalu lebar. Nanti gigi saya yang patah kelihatan. _ _"

***

Belajar adalah kewajiban setiap orang. Bukankah hadits maupun ayat suci mewajibkan setiap manusia untuk menuntut ilmu? Tak ada batasan dalam mencari ilmu apa yang hendak dicapai. Selama ia tetap pada kodrat kebaikan dan bermanfaat bagi sesama manusia. Tidak, bahkan jika memungkinkan, ilmu itu mesti bermanfaat bagi seluruh makhluk hidup.

Saya harus mengakui, pikiran-pikiran di kepala saya kini lebih membuka wawasannya terkait olahraga mendunia itu. Meski saya bukan salah satu fanatiknya, pikiran saya tak luput mencernanya. Diantara sekian ratus hal yang tak ingin saya temui, ternyata saya dipatok berada pada salah satunya. Akan tetapi, kita harus selalu percaya, Tuhan tak pernah salah mengatur skenarionya, bukan?

Saya harus mengakui, mencoba hal-hal baru memang lebih menantang. Wajar ketika saya menolak tawaran redaktur yang hendak "memudahkan" saya dengan memindahkan ke desk lain, yang menurutnya mungkin lebih saya pahami. Saya mencoba memaksa diri untuk melewati batasan kemampuan (yang sebenarnya salah disimulasikan kepala) yang saya miliki. Saya menikmatinya.

Belajar dari bagian terkecil memang cukup menyenangkan. Bahkan, orang-orang yang mempelajari sesuatu dari "nol" kerap tak bisa menyangkal ilmu yang bakal diadaptasinya. Seperti yang selalu dikatakan dosen saya, belajar adalah dari "tidak tahu" menjadi "tahu". From nothing to something. Kalau hidup hanya sekadar mengejar sesuatu hal yang sudah "diketahui", hidup takkan berbuah "hidup", pengalaman takkan melahirkan keterampilan. Mencoba hal-hal baru memang selalu lebih menyenangkan dan meng-upgrade isi kepala. Belajarlah dari itu.

Tak perlu mematok kadar kebencian terhadap sesuatu. Terkadang sesuatu yang kita benci justru menjadi hal paling menyenangkan untuk jalan hidup kita.

Kita menjalani hidup adalah untuk selalu belajar. Memperkaya ingatan dengan sesuatu yang bermanfaat. Menjajal pengalaman dengan hal-hal baru. Karena belajar; from nothing to something; adalah tugas kita dari buaian sampai liang lahat.

***

Tuhan itu sutradara yang baik bagi semua orang. Tak ada yang menyamai rentetan skenario yang telah dibuatnya. Dari hal paling kecil, hingga hal paling kompleks sekali pun telah diperhitungkan dalam skala dan kadar yang kita sendiri tak mampu mencernanya. Seharusnya kita sadar.


--Imam Rahmanto--