Minggu, 19 Juli 2015

Lepat

Semilir angin menghembus pelan. Kontras dengan cuaca panas yang sedang menggulungnya. Daun-daun dibuatnya bergemerisik. Yang kering, terbang menjauh, berputar-putar mencari landasan jatuh. Esok hari dimakan bakteri pengurai tanah. Yang ranum, hanya melambai-lambai di atas tangkainya, enggan beranjak. Esok hari ingin berbunga, memperelok taman kecil di depan rumah.

Siang-siang begini, saya sedang berada di depan teras redaksi pers kampus. Menyendiri. Terlampau bosan menonton acara tivi yang itu-itu saja. Berita-berita juga masih tak lepas dari mudik dan Idul Fitri. Oiya, yang terbaru tentu saja tentang kerusuhan di Tolikara, Papua. Saya tak perlu ikut-ikut memanasi keadaan dengan menyebarkannya kiri-kanan.

Saya sedang meliburkan diri dari aktivitas kerja. Padahal isi BBM sudah mulai menanyakan jadwal liputan. Lebaran kemarin, saya tak pulang merengkuh kedua tangan bapak dan mamak di kampung halaman (baca: domisili). Anggap saja di "kampung halaman", lantaran saya terlahir disana, meskipun secara garis darah dan keturunan kampung halaman saya ada di Jawa. Pekerjaan sedang menuntut jauh lebih banyak dari yang disediakan keinginan. Betapa rindu tertimbun semakin banyak seperti cucian yang tak tanggung dicuci tiap minggunya.

Sementara esok hari saya sudah harus mulai bekerja lagi. Akh, tidak. Justru hari ini.

"Lebaran dimana?" tanya beberapa orang.

Sederhana saja. Saya berlebaran jauh dari orang tua. Ini bukan pertama kalinya. Saya bahkan pernah merasai lebaran yang benar-benar jauh dari orang tua. Tak terhitung jarak, karena jarak kala itu sudah dihapuskan. Wajar jikalau saya sedikitnya mampu menekan rindu untuk berkumpul bersama keluarga.

Lebaran kemarin, saya nyaris telat mengikuti ritual tahunan itu. Lewat pukul 6 baru terbangun oleh seorang teman dan buru-buru menyiapkan segala sesuatu. Saya punya tugas peliputan mengikuti shalat Ied di Masjid Raya. Jarak yang cukup jauh sebenarnya dari tempat tinggal saya di redaksi kampus.

Alhasil, saya berlebaran di dua tempat. Shalat Ied di tengah perjalanan, di Kumala. Selepas shalat, berlanjut mendengarkan khutbah di Masjid Raya. Ruas-ruas jalan ditutupi orang yang duduk menggelar koran dan sajadahnya. Motor terparkir tak jauh dari sana.

Suasana lebaran juga tak seramai di kampung. Hampir seharian saya menghabiskan waktu berlebaran di rumah. Tak kemana-mana. Mau kemana coba? Teman-teman pada mudik ke kampungnya masing-masing. Saya mencoba bersahabat saja dengan yang namanya kesunyian. Terkadang kesunyian dan kesenyapan bersahabat dengan perenungan.

Mendewasa memang terkadang memaksa untuk menahan segala bentuk kepuasan diri. Bekerja, artinya harus siap tak lagi meremaja. Kalau dulu saya bisa sepuasnya berkunjung dari rumah satu ke rumah lainnya, kini saya harus menahan keinginan itu. Saya tak lagi pulang, karena saya mencoba bekerja lebih baik. Lagipula, saya suka dengan pekerjaan ini. Saya mencintainya.

Di jejaring sosial, saya hanya bisa tersenyum-senyum melihat betapa cerianya hari lebaran. Keluarga. Teman-teman. Sahabat. Kenalan. Kalau kadung suka, saya cukup mengacungkan "jempol maya" saja di akun milik mereka. Temanya seragam: baju baru, santapan lebaran, dan maaf-maafan. Maaf.

apa kabar? betapa canggung makin menciptakan jarak diantara kita, ya? :) entah kenapa, saya selalu teringat lebaran dua tahun lalu. sendirian. tapi, serasa ramai. ada kamu, tersenyum tanpa malu, yang dirajam masa lalu. dulu. pun, jadi satu-satunya tujuan kunjungan lebaran saya. haha... 


--Imam Rahmanto--


P.s. Ramadhan kemarin, saya menguji diri sendiri. Self-challenge. Sebulan memposting tulisan-tulisan tentang Ramadhan. Setiap hari, tanpa putus. Meskipun dua-tiga kali sempat telat mengisi "rumah" ini. ASetiap orang perlu membuktikan bahwa dirinya konsisten dalam menjalani sesuatu. Komitmen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar