Kamis, 16 Juli 2015

29# Takbir


Di luar sana, takbir mengalun bertalu-talu. Arak-arakan kegembiraan menjalar di setiap sudut kota. Semua berseru yang sama: Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illallahu allahu akbar. Allahu Akbar Wa lillah ilham.

Betapa mendamaikannya mendengarkan lantunan kegembiraan itu. Dari dalam rumah, saya mendengar suara anak-anak serempak mengalunkannya lewat pengeras masjid. Itu mengingatkan saya, ketika pada umur yang sama, juga senang bertakbir di masjid. Meriah bersama teman-teman lainnya.

Hm...mengingat yang lalu membuat saya agak melankolis begitu ya... Ini kan malam kemenangan. Seharusnya saya menyambutnya dengan gembira. Biar pun sendirian, harus dilalui pula dengan wajah gembira. Segembira penonton yang tadi sore menyaksikan pertandingan final sepak bola di stadion Mattoanging. Seaktraktif mereka yang ribut-ribut hingga memaksa panitia menunda pertandingannya lepas lebaran. Tadi, takbir kemenangan sudah mulai berkumandang tanpa hasil pemenang liga sepak bola itu.

Saya bermimpi, kelak bakal datang dari tempat yang jauh untuk pulang ke rumah. Di tengah perjalanan, saya mendengarkan takbir yang bertalu-talu. Berganti dari masjid satu ke masjid lain. Menatap jalan yang ramai arak-arakan takbir berkeliling.

Seperti terakhir kali pulang ke kampung halaman keluarga besar, Jawa, saya pertama kalinya bepergian laut sendiri. Beli karcis sendiri. Ngecek jam keberangkatan sendiri. Berkemas sendiri. Mengantri pintu kapal sendiri. Hingga memperkenalkan diri sendiri kepada "tetangga" tidur sebelah di dek kelas ekonomi kapal.

Saat itu, saya belajar untuk mencari teman seperjalanan. Karena muka saya masih unyu-unyu, seorang anak lelaki yang masih berstatus pelajar SMA menjadi teman seperjalanan saya. Ia juga mudik sendirian dan hendak ke rumah bapaknya di Jawa. Karena senasib, kami berteman dalam perjalanan. Apa kabar ya anak itu sekarang. Malah saya tak ingat lagi bagaimana rupa anak itu.

Bekerjalah jauh dari orang tua agar kamu tahu bagaimana rasanya merindukan rumah. Agar kita tahu bagaimana menghargai kebersamaan dengan keluarga.

Di linimassa, saya hanya bisa memandangi status teman-teman yang pulang ke kampung halaman masing-masing. Di jalanan, mereka beramai-ramai melaporkan lokasi dan kejadian secara langsung. Pun, sampai di rumah, masih tak lepas dari laporan ke teman-teman di dunia maya.

***

Kita mesti bersyukur, besok lebarannya kompakan. Pemerintah sudah memutuskan tak ada perselisihan waktu lebaran antara dua organisasi Islam terbesar di Indonesia. Nah, begini kan lebih baik... 

Ramadhan sudah berlalu. Siapa yang menjamin kita bakal bertemu lagi dengannya di tahun mendatang? Semoga segala amalan tahun ini lebih baik dari tahun silam.

(Sumber: google, edited)

***

.: Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin :.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar