Kamis, 09 Juli 2015

22# Berapa

Ramadhan#22 |

"Tarwihmu sudah berapa?"

Saya kerap kali mendengar pertanyaan seperti itu dari teman-teman sebaya. Dimana-mana, Ramadan, kami cenderung bertukar tanya yang serupa. Menjajal sejauh mana kita menyikapi Ramadan yang nyaris melenggang pergi. Ditanya begitu, saya juga hendak melengos pergi.

"Tarwihmu sudah berapa?" Akh, saya segan menjawabnya. Saya nampaknya perlu bercermin, sejauh mana menyikapi Ramadan ini.

Kenyataannya, jamaah di masjid sudah mulai surut. Anak-anak sudah bosan melempar petasan. Kantuk semakin banyak mendera. Saya juga kerap dihantui perasaan satu ini. Ibu-ibu mulai menghitung takjil sebagai kue lebaran. Para pegawai menanti Tunjangan Hari Raya, di saat para jomblo menanti Tunangan Hari Raya.

"Puasamu ada berapa?"

Kalau satu ini adalah hal tabu untuk ditinggalkan. Seburuk-buruknya iman, rukun Islam jangan ikut dirusak.

Seburuk apa pun kondisi kota dalam menaungi orang berpuasa, saya takkan pernah mengabaikan salah satu rukun puasa ini. Orang-orang kota terlalu mudah melakukan "pembenaran" atas perilakunya yang tak berpuasa. Saya banyak menemukan "yang-tak-berpuasa" di lokasi peliputan saya; olahraga.

"Lebaranmu tanggal berapa?"

Bahkan, umat Islam "lurus" pun masih terbagi dalam 2 garis utama di Indonesia. Kita siap-siap lagi mendebar rasa melihat para pimpinan pemerintahan menakar alasan atas penentuan lebaran nanti. Di awal Ramadhan, umat Muslim sudah menyatu dalam satu tanggal yang sama. Lantas, apa pula yang harus menjembatani perbedaan di akhir Ramadan? Ya sudahlah, orang Indonesia memang paling pandai mencari alasan.

Untuk saat ini, saya lebih senang ditanyai, "Kapan wisuda?" Toh, saya akan menjawabnya sembari tersenyum sumringah? Di bulan puasa ini, karena senyum adalah sedekah, maka pahalanya akan berlipat-lipat hingga 700 tingkatan.


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar