Selasa, 07 Juli 2015

20# Membaca

Ramadhan#20 |

Ini sudah 2/3 Ramadhan. Ia berlalu tanpa menjejakkan kesulitan apapun. Kita tak tahu, Tuhan menerima ibadah sebagaimana keseharian yang dijalani. Selagi kita mereka-reka, malaikat sudah sibuk mengalikan dan melipatgandakan amalan orang yang benar-benar tawadhu pada Tuhan.

Oh, Ramadhan...

Seharusnya saya memanfaatkan waktu ini dengan membaca. Sejujurnya, saya belum menamatkan juz 1 dari Alquran. Entah bagaimana banyak hal menyulitkan saya dari sekadar menamatkan se-juz Alquran itu. Saya merasa berdosa.

Selain kitab suci, saya malah menimang-nimang beberapa bacaan novel. Seminggu lalu, saya memborongnya di toko buku berjalan. Kebetulan ada sebuah mobil boks berisi penuh buku menggelar dagangannya di depan kampus. Di kiri-kanan lokasinya, dipasangai penanda "Serba Rp10.000."

Kerinduan saya dengan membaca akhirnya sempat terbayar lunas. Meskipun bukan buku-buku terbaru. Melainkan keluaran lama. Setidaknya saya punya stok untuk mengisi perpustakaan pribadi yang sejak dulu saya idam-idamkan.

Bukan main. Kemarin saya malah lebih dulu (sibuk) menamatkan buku novel ketimbang Alquran. Ckck... Ditambah, saya sedang membaca kelanjutan sekuel novel itu.

Oke. Ingatkan saya untuk menamatkan, paling sederhana, target 2 juz saja hingga menjelang Ramadhan berakhir. #tawarmenawar _ _"

Sesulit apa sih membaca? Waktu untuk mengerjakan sesuatu itu yang sulit dialokasikan. Banyak hal yang dianggap lebih prioritas dan wajib dijalankan. Antara kedua genre membaca itu pun, saya lebih condong kepada bacaan novel. Argh, betapa berdosanya saya...

"Iqra'!" 

Kita selalu mendengarnya saat ustadz berceramah di masjid. Artinya, bacalah! Firman pertama yang diturunkan untuk Rasul terakhir umat Muslim.

Saya meyakini, membaca adalah pondasi dasar bagi kita untuk belajar. Belajar apa saja. Membaca apa saja. Hakikatnya, malaikat Tuhan menyerukan kepada Rasul untuk "membaca" di saat ia tak membawa tulisan apa-apa. Maka, "bacalah, apa yang ada di sekitarmu. Kehidupanmu. Napasmu. Jiwamu." 

Tuhan sudah menjamin, wadah segala pengetahuan dan sunnatullah terangkum dalam kitab suci. Bacalah, agar ia berlipat di bulan nan suci ini.

Ingatkan saya lagi untuk membacanya, seperti saat anak-anak dulu. Seperti ketika berdiam selepas Dhuhur di masjid dan berlomba dengan teman sebelah duduk hingga juz keberapa. Seperti ketika jelang maghrib, sembari menanti waktu berbuka puasa di rumah. Seperti ketika menanti fajar menyingsing sendirian diantara lelap keluarga di rumah. Seperti saat fardhu berakhir, menggantikan zikir yang digumamkan. Dulu...


--Imam Rahmanto--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar